Penduduk asli Taiwan: Perbedaan revisi

1.406 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Selama berabad-abad, penduduk asli Taiwan mengalami persaingan ekonomi dan konflik militer dengan serangkaian bangsa penjajah. Kebijakan pemerintah yang tersentralisasi dirancang untuk mengedepankan [[peralihan bahasa]] dan [[asimilasi budaya]], serta kontak berkelanjutan dengan para penjajah melalui perdagangan, pernikahan silang dan proses persilangan budaya lainnya, yang menghasilkan beragam tingkat [[kematian bahasa]] dan hilangnya [[identitas kebudayaan]] asli. Contohnya, sekitar 26 bahasa yang diketahui dari penduduk asli Taiwan (yang secara kolektif disebut sebagai [[rumpun bahasa Formosa]], sekitar sepuluh bahasa diantaranya adalah [[bahasa punah]], lima [[bahasa hampir mati]]<ref>{{Harvcol|Zeitoun|Yu|2005|pp=167}}</ref> dan beberapa bahasa [[bahasa terancam|terancam]]. Bahasa-bahasa tersebut merupakan signifikansi sejarah yang unik, sejak sebagian besar [[linguistik sejarah|linguis sejarah]] menganggap Taiwan sebagai tempat asal keluarga bahasa [[rumpun bahasa Austronesia|Austronesia]].<ref>{{Harvcol|Blust|1999}}</ref>
 
=== MasaPeriode Eropa (1623–1662){{anchor|Periode Eropa}}===
 
Masih sungguh banyak sumber-sumber dari arsip kolonial Dunia Barat yang pernah menjajah Taiwan antara tahun [[1623]]-[[1662]], ketika orang Belanda memiliki jajahan di Taiwan barat-daya (1624-1662 – dengan markas besar dekat kota Tainan masa kini) dan orang Spanyol memiliki jajahan di Taiwan utara (1626-1642 – dengan markas besar di kota yang sekarang disebut Keelung).
====Di bawah kekuasaan Belanda====
{{Main article|Taiwan di bawah kekuasaan Belanda}}
[[Berkas:Gospel of St. Matthew in Formosan.jpg|upright|thumb|left|Paragraf pembuka [[Injil Matius]] dalam format paralel dwi-bahasa, dari paruh pertama abad ke-17, dalam bahasa [[bahasa Belanda|Belanda]] dan Sinckan. Ortografi tersebut merupakan sebuah pelopor dari [[manuskrip Sinckan|penulisan Sinckan]], sebuah jenis kontrak tanah yang ditulis oleh penduduk asli dataran rendah suku Sinkan antara paruh akhir abad ke-17 dan paruh pertama abad ke-19. ([[William Campbell (misionaris)|Campbell]] & [[Daniel Gravius|Gravius]] (1888). ''The Gospel of St. Matthew in Formosan'')]]
Pada periode Eropa (1623–1662), para prajurit dan pedagang mewakili [[Perusahaan Hindia Timur Belanda]] membuat sebuah koloni di barat daya Taiwan (1624–1662) yang sekarang dekat [[Kota Tainan]]. Koloni tersebut mendirikan sebuah pangkalan [[Asia]] untuk [[perdagangan triangular]] antara perusahaan tersebut, [[Dinasti Qing]] dan [[Jepang]], dengan harapan bersaing dengan aliansi dagang Portugis dan Spanyol. Spanyol juga mendirikan sebuah koloni di utara Taiwan (1626–1642) yang sekarang berada di [[Keelung]]. Namun, pengaruh Spanyol mengalir hampir dari awal, sehingga pada akhir 1630an, mereka me arjm sebagian besar pasukan mereka.<ref>{{Harvcol|Andrade|2005|p=296 ''2n''}}</ref> Setelah mereka diusir dari Taiwan oleh sebuah padukan kombinasi penduduk asli dan Belanda pada 1642, Spanyol "memiliki dampak kecil bagi sejarah Taiwan".<ref>{{Harvcol|Gold|1986|pp=10–11}}</ref> Pengaruh Belanda jauh lebih menonjol: menyebar ke barat daya dan utara pulau tersebut, mereka mengeluarkan sistem pajak dan mendirikan sekolah-sekolah dan gereja-gereja di beberapa desa.
 
Sumber terbaik ialah yang sumber [[VOC]] (Perusahaan Hindia Timur Belanda). Sumber ini menunjukkan bahwa kala itu [[Belanda]] tiba pada [[1624]] di pelabuhan Tayouan ([[Anping, Tainan|Anping]]). Lalu wakil dari desa yang paling dekat—semua di antaranya ialah penutur bahasa Siraya—pergi ke benteng Belanda untuk meminta tanda persahabatan. Kaum Belanda pun menyetujui segala permintaan mereka.