Penduduk asli Taiwan: Perbedaan revisi

1.045 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
Orang pribumi tanah datar sebagian besar tinggal di tempat desa sedenter yang dikelilingi dengan tembok pertahanan [[bambu]]. Desa-desa di Taiwan selatan lebih banyak didiami daripada lokasi lain. Beberapa desa mendukung penduduk sebanyak 1.500 orang, yang dikelilingi dengan desa-desa satelit yang lebih kecil.<ref>{{Harvcol|Kang|2003|pp=111–17}}</ref> Desa-des [[Suku Siraya|Siraya]] misalkan dibangun tempat tinggal yang terbuat dari lalang dan bambu, dan berada pada ketinggian 2 meter dari atas tanah pada tiang-tiang, dengan masing-masing rumah tangga mempunyai gudang untuk hewan ternak. Menara pengawasan ditempatkan di desa untuk bisa mengawasi keluar dan memberikan peringatan jika ada kelompok [[pengayau]] datang dari suku-suku pegunungan. Mereka mempunyai konsep kepemilikan komunal, dengan rangkaian lingkaran konsentris sekitar masing-masing desa. Lingkaran paling dalam dipakai sebagai tempat berkebun dan menanam buah-buahan yang disusul dengan lingkaran tanah kosong di sekeliling ini. Lingkaran kedua dipergunakan untuk menanam tanaman sayur-sayuran dan bahan untuk penggunaan eksklusif suku. Lingkaran ketiga dipakai hanya untuk berburu dan merupakan ruang rusa bagi penggunaan suku. Konsep administrasi perdesaan tanah datar dimasukkan secara menonjol dalam kepemerintahan Qing Taiwan kelak. Suku tanah datar memburu rusa berbintik-bintik dan [[muntjak]], namun mereka juga bercocok tani tanaman ''millet''. Gula dan padi ditanam juga, tetapi kebanyakan untuk dibuat minuman beralkohol.<ref>{{Harvcol|Shepherd|1993|pp=29–34}}</ref>
 
Banyak suku tanah datar merupakan masyarakat [[matriarkhalmatrilineal]]. Laki-laki menikah ke dalam keluarga seorang wanita setelah masa pra-pernikahan di mana wanita bebas menolak sejumlah laki-laki semau si wanita. Sampai kedatangan [[Gereja Reformasi Belanda]], pasangan menikah jika mereka sudah menginjak usia 30-an dan sudah tidak mampu mengerjakan pekerjaan berat lagi.<ref>{{Harvcol|Shepherd|1995|pp=61–5}}</ref> Hampir semua suku di Taiwan memiliki pembagian jenis pekerjaan menurut jenis kelamin. Wanita melakukan pekerjaan jahit-menjahit, masakan dan bertani, sedangkan laki-laki memburu dan mempersiapkan diri untuk mengayau. Laporan awal bangsa Eropa sering menyebutkan kaum pria malas, namun mereka tidak mempertimbangkan keuntungan pembagian kerja ini. Kaum wanita sering ditemukan memegang jabatan sebagai Pendeta atau yang memiliki hak berhubungan dengan Dewata dan dunia supranatural.
 
Selama berabad-abad, penduduk asli Taiwan mengalami persaingan ekonomi dan konflik militer dengan serangkaian bangsa penjajah. Kebijakan pemerintah yang tersentralisasi dirancang untuk mengedepankan [[peralihan bahasa]] dan [[asimilasi budaya]], serta kontak berkelanjutan dengan para penjajah melalui perdagangan, pernikahan silang dan proses persilangan budaya lainnya, yang menghasilkan beragam tingkat [[kematian bahasa]] dan hilangnya [[identitas kebudayaan]] asli. Contohnya, sekitar 26 bahasa yang diketahui dari penduduk asli Taiwan (yang secara kolektif disebut sebagai [[rumpun bahasa Formosa]], sekitar sepuluh bahasa diantaranya adalah [[bahasa punah]], lima [[bahasa hampir mati]]<ref>{{Harvcol|Zeitoun|Yu|2005|pp=167}}</ref> dan beberapa bahasa [[bahasa terancam|terancam]]. Bahasa-bahasa tersebut merupakan signifikansi sejarah yang unik, sejak sebagian besar [[linguistik sejarah|linguis sejarah]] menganggap Taiwan sebagai tempat asal keluarga bahasa [[rumpun bahasa Austronesia|Austronesia]].<ref>{{Harvcol|Blust|1999}}</ref>
 
=== Masa Eropa ===