Ahmad Yani: Perbedaan revisi

416 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
Menolak 19 perubahan teks terakhir dan mengembalikan revisi 9998128 oleh Bennylin
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-Karir +Karier))
(Menolak 19 perubahan teks terakhir dan mengembalikan revisi 9998128 oleh Bennylin)
{{For|politikus dari [[Partai Persatuan Pembangunan]] (PPP)|Ahmad Yani (politikus)}}
{{Infobox Officeholder
|honorific-prefix =
[[Jenderal]] [[TNI]] [[Anumerta]] '''Ahmad Yani''' (juga dieja '''Achmad Yani'''; {{lahirmati|[[Kabupaten Purworejo|Purworejo]], [[Jawa Tengah]]|19|6|1922|[[Lubang Buaya]], [[Jakarta]]|1|10|1965}}) adalah komandan [[Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat]], dan dibunuh oleh anggota [[Gerakan 30 September]] saat mencoba untuk menculik dia dari rumahnya.
 
== Kehidupan awal ==
Ahmad Yani lahir di Jenar, [[Purworejo]], [[Jawa Tengah]] pada tanggal 19 Juni 1922 di keluarga Wongsoredjo, keluarga yang bekerja di sebuah pabrik [[gula]] yang dijalankan oleh pemilik Belanda.<ref>{{cite book|last= Yani|first= Amelia|title= Achmad Yani: Tumbal Revolusi|year= 2007|publisher = Galang Press|location= Jakarta|language= Indonesian|isbn=978-979-23-9992-9|pages= 42}}</ref> Pada tahun 1927, Yani pindah dengan keluarganya ke [[Batavia]], di mana ayahnya kini bekerja untuk General Belanda. Di Batavia, Yani bekerja jalan melalui pendidikan dasar dan menengah. Pada tahun 1940, Yani meninggalkan sekolah tinggi untuk menjalani wajib militer di tentara [[Hindia Belanda]] pemerintah kolonial. Ia belajar topografi militer di [[Kota Malang|Malang]], [[Jawa Timur]], tetapi pendidikan ini terganggu oleh kedatangan pasukan [[Sejarah Nusantara (1942-1945)|Jepang]] pada tahun 1942. Pada saat yang sama, Yani dan keluarganya pindah kembali ke Jawa Tengah.
 
Pada tahun 1943, ia bergabung dengan tentara yang disponsori Jepang [[Pembela Tanah Air|Peta (Pembela Tanah Air)]], dan menjalani pelatihan lebih lanjut di [[Kota Magelang|Magelang]]. Setelah menyelesaikan pelatihan ini, Yani meminta untuk dilatih sebagai komandan peleton Peta dan dipindahkan ke [[Kota Bogor|Bogor]], [[Jawa Barat]] untuk menerima pelatihan. Setelah selesai, ia dikirim kembali ke [[Kota Magelang|Magelang]] sebagai instruktur.
 
== Karier dengan Militer Indonesia militer==
[[BerkasImage:Yani1958.jpg|leftfight|thumb|Kolonel Yani memimpin briefing pada {{death date and age|1958|4|12|1922|6|19}} selama "Operasi Agustus 17'']]
Setelah [[Proklamasi Kemerdekaan Indonesia|Kemerdekaan]] Yani bergabung dengan tentara republik yang masih muda dan berjuang melawan Belanda. Selama bulan-bulan pertama setelah Deklarasi Kemerdekaan, Yani membentuk batalion dengan dirinya sebagai Komandan dan memimpin kepada kemenangan melawan [[Britania Raya|Inggris]] di Magelang.<ref>{{cite book|last= Yani|first= Amelia|title= Achmad Yani: Tumbal Revolusi|year= 2007|publisher = Galang Press|location= Jakarta|language= Indonesian|isbn=978-979-23-9992-9|pages= 62}}</ref> Yani kemudian diikuti ini dengan berhasil mempertahankan Magelang melawan Belanda ketika ia mencoba untuk mengambil alih kota, mendapat julukan "Juruselamat Magelang". Sorot lain yang menonjol karier Yani selama periode ini adalah serangkaian serangan gerilya yang diluncurkan pada awal 1949 untuk mengalihkan perhatian Belanda sementara Letnan Kolonel [[Soeharto]] dipersiapkan untuk Serangan Umum 1 Maret yang diarahkan pada [[Kota Yogyakarta|Yogyakarta]].
 
Setelah [[Proklamasi Kemerdekaan Indonesia|Kemerdekaan]] Yani bergabung dengan tentara republik yang masih muda dan berjuang melawan Belanda. Selama bulan-bulan pertama setelah Deklarasi Kemerdekaan, Yani membentuk batalion dengan dirinya sebagai Komandan dan memimpin kepada kemenangan melawan [[Britania Raya|Inggris]] di Magelang.<ref>{{cite book|last= Yani|first= Amelia|title= Achmad Yani: Tumbal Revolusi|year= 2007|publisher = Galang Press|location= Jakarta|language= Indonesian|isbn=978-979-23-9992-9|pages= 62}}</ref> Yani kemudian diikuti ini dengan berhasil mempertahankan Magelang melawan Belanda ketika ia mencoba untuk mengambil alih kota, mendapat julukan "Juruselamat Magelang". Sorot lain yang menonjol karier Yani selama periode ini adalah serangkaian serangan gerilya yang diluncurkan pada awal 1949 untuk mengalihkan perhatian Belanda sementara Letnan Kolonel [[Soeharto]] dipersiapkan untuk Serangan Umum 1 Maret yang diarahkan pada [[Kota Yogyakarta|Yogyakarta]].
Setelah Kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda, Yani dipindahkan ke [[Kota Tegal|Tegal]], [[Jawa Tengah]]. Pada tahun 1952, ia dipanggil kembali beraksi untuk melawan [[Negara Islam Indonesia|Darul Islam]], sebuah kelompok pemberontak yang berusaha untuk mendirikan sebuah teokrasi di Indonesia. Untuk menghadapi kelompok pemberontak ini, Yani membentuk sebuah kelompok pasukan khusus yang disebut'' The Banteng Raiders''. Keputusan untuk memanggil Yani dividen dibayar dan selama 3 tahun ke depan, pasukan Darul Islam di [[Jawa Tengah]] menderita satu kekalahan demi satu.<ref>{{cite book|last= Yani|first= Amelia|title= Achmad Yani: Tumbal Revolusi|year= 2007|publisher = Galang Press|location= Jakarta|language= Indonesian|isbn=978-979-23-9992-9|pages= 68}}</ref>
 
Setelah Kemerdekaan Indonesia diakui oleh Belanda, Yani dipindahkan ke [[Kota Tegal|Tegal]], [[Jawa Tengah]]. Pada tahun 1952, ia dipanggil kembali beraksi untuk melawan [[Negara Islam Indonesia|Darul Islam]], sebuah kelompok pemberontak yang berusaha untuk mendirikan sebuah teokrasi di Indonesia. Untuk menghadapi kelompok pemberontak ini, Yani membentuk sebuah kelompok pasukan khusus yang disebut'' The Banteng Raiders''. Keputusan untuk memanggil Yani dividen dibayar dan selama 3 tahun ke depan, pasukan Darul Islam di [[Jawa Tengah]] menderita satu kekalahan demi satu.<ref>{{cite book|last= Yani|first= Amelia|title= Achmad Yani: Tumbal Revolusi|year= 2007|publisher = Galang Press|location= Jakarta|language= Indonesian|isbn=978-979-23-9992-9|pages= 68}}</ref>
 
Pada Desember 1955, Yani berangkat ke [[Amerika Serikat]] untuk belajar di Komando dan Staf Umum College, Fort Leavenworth, Texas. Kembali pada tahun 1956, Yani dipindahkan ke Markas Besar Angkatan Darat di [[Daerah Khusus Ibukota Jakarta|Jakarta]] di mana ia menjadi anggota staf Umum untuk [[Abdul Haris Nasution]]. Di Markas Besar Angkatan Darat, Yani menjabat sebagai Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Darat sebelum menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat untuk Organisasi dan Kepegawaian.
Pada bulan Agustus tahun 1958, ia memerintahkan'' Operasi 17 Agustus'' terhadap [[Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia]] pemberontak di Sumatera Barat. Pasukannya berhasil merebut kembali [[Kota Padang|Padang]] dan [[Kota Bukittinggi|Bukittinggi]], dan keberhasilan ini menyebabkan ia dipromosikan menjadi wakil kepala Angkatan Darat ke-2 staf pada 1 September 1962, dan kemudian Kepala Angkatan Darat stafnya pada 13 November 1963 (otomatis menjadi anggota kabinet), menggantikan Jenderal [[Abdul Haris Nasution|Nasution]].
 
== Akhir Hayat hayat==
[[Berkas:Yani Home.jpg|thumb|upright|Plak menandai tempat ketika Yani jatuh setelah ditembak oleh anggota [[Gerakan 30 September]] - mantan rumahnya sekarang menjadi museum. Perhatikan lubang peluru di pintu.]]
Sebagai Presiden, [[Soekarno]] bergerak lebih dekat ke [[Partai Komunis Indonesia]] (PKI) di awal 60-an. Yani yang sangat anti-komunis, menjadi sangat waspada terhadap PKI, terutama setelah partai ini menyatakan dukungannya terhadap pembentukan'' kekuatan kelima'' (selain ketiga angkatan bersenjata dan polisi) dan Sukarno mencoba untuk memaksakan ''[[Nasakom]]'' (Nasionalisme-Agama-Komunisme) sebagai doktrin di militer. Keduanya, Yani dan Nasution menunda-nunda ketika diperintahkan oleh Soekarno pada tanggal 31 Mei 1965 mempersiapkan rencana untuk mempersenjatai rakyat.
 
Sebagai Presiden, [[Soekarno]] bergerak lebih dekat ke [[Partai Komunis Indonesia]] (PKI) di awal 60-an. Yani yang sangat anti-komunis, menjadi sangat waspada terhadap PKI, terutama setelah partai ini menyatakan dukungannya terhadap pembentukan'' kekuatan kelima'' (selain ketigakeempat angkatan bersenjata dan polisi) dan Sukarno mencoba untuk memaksakanmemaksakannya ''[[Nasakom]]'' (Nasionalisme-Agama-Komunisme) sebagai doktrin di militer. Keduanya, Yani dan Nasution menunda-nunda ketika diperintahkan oleh Soekarno pada tanggal 31 Mei 1965 mempersiapkan rencana untuk mempersenjatai rakyat.
Pada dini hari 1 Oktober 1965, [[Gerakan 30 September]] mencoba untuk menculik tujuh anggota staf umum Angkatan Darat. Sebuah tim dari sekitar 200 orang mengepung rumah Yani di Jalan Latuharhary No. 6 di pinggiran Jakarta [[Menteng, Jakarta Pusat]]. Biasanya Yani memiliki sebelas tentara menjaga rumahnya. Istrinya kemudian melaporkan bahwa seminggu sebelumnya tambahan enam orang ditugaskan kepadanya. Orang-orang ini berasal dari komando Kolonel Latief, yang kemudian diketahui adalah salah satu tokoh utama dalam komplotan Gerakan 30 September. Menurut istri Yani, orang-orang tambahan tersebut tidak muncul untuk bertugas pada malam itu. Yani dan anak-anaknya sedang tidur di rumahnya sementara istrinya keluar merayakan ulang tahunnya bersama sekelompok teman-teman dan kerabat. Dia kemudian menceritakan bahwa saat ia pergi dari rumah sekitar pukul 23.00, ia melihat seseorang duduk di seberang jalan seakan menjaga rumah di bawah pengawas. Dia tidak berpikir apa-apa pada saat itu, tetapi setelah peristiwa pagi itu ia bertanya-tanya berbeda. Juga, dari sekitar jam 9 pada malam 30 September ada sejumlah panggilan telepon ke rumah pada interval, yang ketika menjawab akan bertemu dengan keheningan atau suara akan bertanya apa waktu itu. Panggilan terus sampai sekitar 01.00 dan Mrs Yani mengatakan dia memiliki firasat sesuatu yang salah malam itu.<ref>Hughes (2002), pp. 42-47</ref>
 
Pada dini hari 1 Oktober 1965, [[Gerakan 30 September]] mencoba untuk menculik tujuh anggota staf umum Angkatan Darat. Sebuah tim dari sekitar 200 orang mengepung rumah Yani di Jalan LatuharharyLatuhahary No. 6 di pinggiran Jakarta [[Menteng, Jakarta Pusat]]. Biasanya Yani memiliki sebelas tentara menjaga rumahnya. Istrinya kemudian melaporkan bahwa seminggu sebelumnya tambahan enam orang ditugaskan kepadanya. Orang-orang ini berasal dari komando Kolonel Latief, yang kemudian diketahui Yani, adalah salah satu tokohkomplotan utama dalam komplotan Gerakan 30 September. Menurut istri Yani, orang-orang tambahan tersebut tidak muncul untuk bertugas pada malam itu. Yani dan anak-anaknya sedang tidur di rumahnya sementara istrinya keluar merayakan ulang tahunnya bersama sekelompok teman-teman dan kerabat. Dia kemudian menceritakan bahwa saat ia pergi dari rumah sekitar pukul 23.00, ia melihat seseorang duduk di seberang jalan seakan menjaga rumah di bawah pengawas. Dia tidak berpikir apa-apa pada saat itu, tetapi setelah peristiwa pagi itu ia bertanya-tanya berbeda. Juga, dari sekitar jam 9 pada malam 30 September ada sejumlah panggilan telepon ke rumah pada interval, yang ketika menjawab akan bertemu dengan keheningan atau suara akan bertanya apa waktu itu. Panggilan terus sampai sekitar 01.00 dan Mrs Yani mengatakan dia memiliki firasat sesuatu yang salah malam itu.<ref>Hughes (2002), pp. 42-47</ref>
Yani menghabiskan malam dengan beberapa pertemuan, pukul 7 malam ia menerima seorang kolonel dari KOTI, Komando Operasi Tertinggi. Jenderal [[Basuki Rahmat]], komandan divisi di [[Jawa Timur]], kemudian tiba dari markasnya di [[Kota Surabaya|Surabaya]]. Basuki datang ke Jakarta untuk melaporkan kepada Yani pada keprihatinan tentang meningkatnya aktivitas komunis di Jawa Timur. Memuji laporannya, Yani memintanya untuk menemaninya ke pertemuan keesokan harinya dengan Presiden untuk menyampaikan laporannya.<ref>Hughes (2002), pp. 44-45</ref>
 
Yani menghabiskan malam dengan beberapa pertemuan, pukul 7 malam ia menerima seorang kolonel dari KOTI, Komando Operasi Tertinggi. JenderalJendral [[Basuki Rahmat]], komandan divisi di [[Jawa Timur]], kemudian tiba dari markasnya di [[Kota Surabaya|Surabaya]]. Basuki datang ke Jakarta untuk melaporkan kepada Yani pada keprihatinan tentang meningkatnya aktivitas komunis di Jawa Timur. Memuji laporannya, Yani memintanya untuk menemaninya ke pertemuan keesokan harinya dengan Presiden untuk menyampaikan laporannya.<ref>Hughes (2002), pp. 44-45</ref>
 
Ketika para penculik datang ke rumah Yani dan mengatakan kepadanya bahwa ia akan dibawa ke hadapan presiden, ia meminta waktu untuk mandi dan berganti pakaian. Ketika penculik menolak ia menjadi marah, menampar salah satu prajurit penculik, dan mencoba untuk menutup pintu depan rumahnya. Salah satu penculik kemudian melepaskan tembakan, membunuhnya secara spontan. Tubuhnya dibawa ke [[Lubang Buaya]] di pinggiran Jakarta dan bersama-sama dengan orang-orang dari jenderal yang dibunuh lainnya, disembunyikan di sebuah sumur bekas.
Tubuh Yani, dan orang-orang korban lainnya, diangkat pada tanggal 4 Oktober, dan semua diberi pemakaman kenegaraan pada hari berikutnya, sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di [[Kalibata]]. Pada hari yang sama, Yani dan rekan-rekannya resmi dinyatakan Pahlawan'' dari Revolusi'' dengan Keputusan Presiden Nomor 111/KOTI/1965 dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta dari [[Letnan Jenderal]] untuk bintang ke-4 [[umum]] ([[Bahasa Indonesia|Indonesia]]:''Jenderal Anumerta'').
 
Ibu Yani dan anak-anaknya pindah dari rumah setelah kematian Yani. Ibu Yani membantu membuat bekas rumah mereka ke Museum publik yang berdiri sebagian besar seperti itu pada Oktober 1965, termasuk lubang peluru di pintu dan dinding, dan dengan perabot rumah itu waktu itu. Saat ini, banyak kota di Indonesia memiliki jalan dinamai Yani. Selain itu namanya diabadikan untuk [[Bandar Udara Internasional Achmad Yani]] di Semarang, dan [[Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Ahmad Yani]] di [[Daerah Istimewa Yogyakarta|Yogyakarta]].
 
== Pendidikan ==
* [[HIS]] (setingkat SD) Bogor, tamat tahun [[1935]]
* [[MULO]] (setingkat SMP) kelas B Afd. Bogor, tamat tahun [[1938]]
* [[AMS]] (setingkat SMU) bagian B Afd. Jakarta, berhenti tahun [[1940]]
* Pendidikan militer pada Dinas Topografi Militer di [[Malang]]
* Pendidikan Heiho di [[Magelang]]
* [[PETA]] (Tentara Pembela Tanah Air) di Bogor
* Command and General Staff College di Fort Leaven Worth, [[Kansas]], [[Amerika Serikat]], tahun [[1955]]
* Special Warfare Course di [[Inggris]], tahun [[1956]]
 
== CatatanBintang Kehormatan ==
[[Berkas:Ahmad Yani 1966 Indonesia stamp.jpg|thumb|Perangko Ahmad Yani keluaran tahun 1966]]
{{reflist}}
* Bintang RI Kelas II
* Bintang Sakti
* Bintang Gerilya
* Bintang Sewindu Kemerdekaan I dan II
* Satyalancana Kesetyaan VII, XVI
* Satyalancana G: O.M. I dan VI
* Satyalancana Sapta Marga ([[PRRI]])
* Satyalancana Irian Barat ([[Trikora]])
* Ordenon Narodne Armije II Reda Yugoslavia ([[1958]]) dan lain-lain
 
== Referensi ==
* {{citebook|title=Achmad Yani. Prajurit Patriot Sejati|publisher=Dinas Sejarah Angkatan Darat|location=Bandung|year=2013|id=ISBN 978-602-7847846-60303-6}}
* {{citebook|title=Gerakan 30 September Pelaku, Pahlawan dan Petualang|first=Julius|last=Pour|publisher=Kompas Media Nusantara|location=Jakarta|year=2010}}
 
{{kotak mulai}}
* {{citebook|title=Achmad Yani. Prajurit Patriot Sejati|publisher=Dinas Sejarah Angkatan Darat|location=Bandung|year=2013|id=ISBN 978-602-784-603-6}}
{{S-mil}}
* {{citebook|title=Gerakan 30 September Pelaku, Pahlawan dan Petualang|first=Julius|last=Pour|publisher=Kompas Media Nusantara|location=Jakarta|year=2010}}
{{kotak suksesi|jabatan=[[Kepala Staf TNI Angkatan Darat]]|pendahulu=[[Abdul Harris Nasution]]|pengganti=[[Pranoto Reksosamodra]]|tahun=1962-1965}}
{{kotak selesai}}
 
{{Pahlawan Revolusi}}