Buka menu utama

Perubahan

15 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
Orang yang pertama kali menyadur ''X<sup>w</sup>adāynāmag'' ke dalam bentuk syair adalah [[Abu-Mansur Daqiqi]], seorang rekan sezaman Firdausi, penyair istana di masa kekuasaan [[Dinasti Samaniyah]], yang menemui ajalnya secara mengenaskan sewaktu baru merampungkan 1.000 bait. Bait-bait yang meriwayatkan kemunculan nabi [[Zoroaster]] ini kelak dimasukkan Firdausi ke dalam karyanya, disertai pengakuan perihal penggubah aslinya. Gaya penulisan ''Syahnameh'' menunjukkan ciri khas yang terdapat dalam sastra tulisan maupun sastra lisan. Sebagian pihak berpendapat bahwa Firdausi juga menggunakan kumpulan ''nask'' ajaran Zoroaster, misalnya ''[[Čihrdād]]'' yang kini hilang, sebagai sumber bagi karyanya.
 
Banyak sumber [[Aksara Pahlavi|Pahlavi]] lain yang digunakan dalam penggubahan wiracarita ini, terutama [[Kārnāmag-ī Ardaxšīr-ī Pābagān]], yang aslinya ditulis pada zaman Sassaniyah akhir serta berisi catatan-catatan tentang bagaimana [[Ardashir I|Ardasyir I]] meraih kekuasaan, dan karena kecocokannya dengan fakta sejarah, diduga sangat akurat. Selain itu, kitab ini ditulis dalam bahasa Farsi pertengahan akhir yang adalah leluhur langsung dari [[Bahasa Persia|bahasa Farsi moderen]]. DenganOleh demikiankarena itu, sebagian besar kronik sejarah yang termaktub dalam ''Syahnameh'' didasarkan pada wiracarita ini. danMenurut [[Zabihollah Safa]], pada kenyataannya memang ada berbagai kalimat dan perkataankata-kata yang dapat dipadankan antara dua kitab ini menurut [[Zabihollah Safa]].<ref>{{cite book|last=Safa|first=Zabihollah|title=Hamase-sarâ’i dar Iran, Tehran 1945|year=2000}}</ref>
 
Menurut salah satu catatan dari sumber-sumber itu, seorang Persia bernama Dehqan yang berkarya di lingkungan istana Raja [[Khosrau I|Anusyiruwān-e-dādgar]] telah menulis sebuah kitab padat dalam bentuk prosa, yang dikenal sebagai ''Khoday Nameh''. Setelah keruntuhan [[Kekaisaran Sassaniyah|Kekaisaran Iran]], ''Khoday Nameh'' jatuh ke tangan Raja [[Ya'qub-i Laith Saffari|Yaqub Lais]] dan kelak ke tangan Raja [[Nuh I|Nuh]] dari [[Dinasti Samaniyah]] yang menitahkan si penyair Daqiqi untuk melengkapinya, namun Daqiqi kemudian tewas dibunuh budaknya. Firdausi mendapatkan kitab itu melalui seorang sahabatnya.
20.718

suntingan