Kota Tanjungpinang: Perbedaan revisi

25 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
Bismillahhirrahmannirrahim... Tolonglah hamba ya allah
(Bismillahhirrahmannirrahim... Tolonglah hamba ya allah)
Tag: menghilangkan referensi
|}
 
[[Suku Melayu]] merupakan penduduk asli dan kelompok suku bangsa yang dominan di Tanjungpinang. Disamping itu terdapat pula [[Sukujuga Bugis]], [[Suku Minang]], [[Suku Laut|Orang Laut]] dan [[Tionghoa-Indonesia|Tionghoa]] yang sudah ratusan tahun berbaur dengan Suku Melayu dan menjadi pendudukwarga tetapnegara semenjak zaman [[Kesultanan Johor-Riau]] dan ''ResidentieKaresidenan Riouw''.<ref>Long, Nicholas J., Being Malay in Indonesia: Histories, Hopes and Citizenship in the Riau Archipelago, National University of Singapore, 2013</ref> Suku Bugis awalnya menetap di Kampung Bugis dan Suku Tionghoa banyak menempatimenetap di Jalan Merdeka dan Pagar BatuSenggarang. Setelah masa kemerdekaan, Suku Jawa dan Suku Minang mulai ramai mendatangi Tanjungpinang. Dimanasejak orangtahun Minang1960, sebagiandan besarpada menempatiawalnya pemukimanbanyak menetap di sekitarkampung pasar<ref>Novendra, Novjawa., PerananTanjungpinang Orangmulai Minangdibanjiri Dalampendatang Perekonomiandari Kotasumatera Administratifbarat Tanjungdan Pinang,sumatera Depdikbud,utara 1999</ref>,semenjak sedangkanditunjuk Sukumenjadi Jawaibukota banyakprovinsi yangkepulauan bermukim di Kampung Jawa.riau
 
[[Bahasa]] yang digunakan di Tanjung Pinang adalah [[Bahasa Melayu]] klasik. Bahasa Melayu di kota ini hampir sama dengan Bahasa Melayu yang digunakan di Singapura, begitu juga dengan logat melayu yang hidup di Tanjungpinang. Sejak zaman pemerintahan Kesultanan Riau Lingga, Tanjungpinang sudah menjadi pusat budaya Melayu bersama Singapura. [[Bahasa Tiochiu]] dan [[Bahasa Hokkien|Hokkien]] juga banyak digunakan oleh Suku Tionghoa di Kota Tanjungpinang.
[[Berkas:RIAU WEB.jpg|thumb|Perkampungan nelayan di Senggarang]]
 
Pengguna anonim