Penguasa monarki: Perbedaan revisi

10 bita dihapus ,  3 tahun yang lalu
 
==Gelar Ganda==
Pada keberjalanannya, banyak sekali penguasa monarki yang menyandang lebih dari satu gelar dikarenakan berbagai alasan. Penguasa Turki Utsmani misalnya, menyandang beberapa gelar, di antaranya sultan, han, padishah, dan khalifah, yang kesemuanya memiliki makna masing-masing. Gelar "sultan" menunjukkan bahwa pemimpin Utsmani menyatakan diri sebagai penguasa Muslim atas monarki Muslim yang sah, "han" (pelafalan Turki untuk "khan") merupakan legitimasi pemimpin Utsmani sebagai pewaris atas moyangnya dari Asia Tengah,<ref name=":0">{{Cite book|title = The Imperial Harem: Women and Sovereignty in the Ottoman Empire|last = Peirce|first = Leslie P.|publisher = Oxford University Press, Inc.|year = 1993|isbn = 0-19-507673-7|location = New York|pages = }}</ref> "padishah" ({{lang|ota-Arab|پادشاه}}, gelar untuk kaisar dalam bahasa Persia) yang menunjukkan tingkatan Utsmani yang setara dengan kekaisaran, bukan kerajaan semata, dan khalifah yang menunjukkan bahwa pemimpin Utsmani adalah pemimpin bagi seluruh dunia Islam.
 
Beberapa penguasa monarki di Eropa juga memiliki gelar rangkap yang sifatnya berbeda tingkatan. Dalam Kekaisaran Romawi Suci, sebuah kekaisaran yang terdiri dari kumpulan kerajaan dan kadipaten, sang kaisar, selain menjadi pemimpin seluruh kekaisaran, juga menjadi raja atau adipati di salah satu wilayah Kekaisaran Romawi Suci. Di masa kolonial, penguasa monarki di beberapa negara seperti Inggris Raya, memiliki gelar rangkap sebagai raja (''king'') atau ratu (''queen'') sekaligus kaisar (''emperor'') atau kaisarina (''empress''), menandakan bahwa sang penguasa menjadi raja-ratu di sebuah wilayah dan menjadi kaisar-kaisarina di wilayah lain. Saat Inggris Raya menjadikan India sebagai salah satu wilayah kekuasaannya, Victoria sebagai Ratu Inggris Raya (''Queen of the United Kingdom'') saat itu juga dinyatakan sebagai Kaisarina India (''Empress of India'').