Penguasa monarki: Perbedaan revisi

5.820 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
(Added {{original research}} tag to article (TW))
'''Penguasa monarki''' ({{lang-en|monarch}}) adalah seorang [[kepala negara]] yang jabatannya biasanya diwariskan dan memerintah seumur hidup atau hingga ia turun tahta. Sebuah negara yang dipimpin seorang penguasa monarki disebut [[monarki]]. Kata ini berasal dari [[bahasa Yunani]] ''monos archein'', artinya "satu pemerintah". Saat ini gelar penguasa monarki di beberapa negara tidak memiliki arti politik karena negara itu telah berubah menjadi [[republik]], namun tetap diwariskan.
 
Gelar penguasa monarki memiliki beberapa tingkatan sesuai dengan adat dan tradisi di setiap wilayah. Beberapa gelar untuk penguasa monarki memiliki versi laki-laki dan perempuan di suatu wilayah sebagaimana di Eropa, tapi tidak membedakan jenis kelamin di tempat lain, seperti di Asia Timur. Dengan kedudukannya yang strategis di antara dua benua dan dua samudera, kawasan Indonesia mengadopsi banyak gelar untuk penguasa monarki dari berbagai kebudayaan dan tradisi, seperti dari India, Islam, atau bahkan Eropa, yang tiap gelarnya memiliki makna masing-masing.
Gelar penguasa monarki memiliki versi laki-laki dan perempuan, kecuali [[Paus (Katolik Roma)|Paus]]. Di antaranya adalah [[raja]] dan [[ratu]], [[pangeran]] dan [[putri]], dan lain-lain. Versi wanita digunakan tidak hanya untuk penguasa monarki wanita, tapi juga untuk istri dari penguasa monarki pria ([[ratu]] merujuk pada penguasa monarki wanita sementara [[permaisuri]] merujuk pada istri penguasa monarki pria).
 
== Gelar penguasa monarki ==
 
=== Paus ===
'''[[Paus (Katolik Roma)|Paus]]''' (bahasa Latin: ''papa'', bahasa Inggris: ''pope'') adalah gelar bagi Uskup Roma dan pemimpin Gereja Katolik dunia.<ref name="section880">{{cite web|url=http://www.vatican.va/archive/ENG0015/_P2A.HTM#PZ|work=[[Catechism of the Catholic Church]]|title= Christ's Faithful - Hierarchy, Laity, Consecrated Life: The episcopal college and its head, the Pope|publisher=Libreria Editrice Vaticana|location=Vatican City|year=1993|accessdate=14 April 2013}}</ref> Gelar ini diturunkan dari [[bahasa Yunani]] πάππας ''pappas''<ref>{{cite web|url=http://education.yahoo.com/reference/dictionary/entry/pope |title=American Heritage Dictionary of the English Language |publisher=Education.yahoo.com |accessdate=11 August 2010}}</ref>, yang berarti Bapa. Berdasarkan ''Annuario Pontificio'', gelar ini telah digunakan sejak tahun 33 M oleh [[Simon Petrus|Petrus]] hingga sekarang. Walaupun normalnya dipegang oleh satu orang dalam satu masa, pada kenyataannya, gelar paus ini beberapa kali diklaim lebih dari satu orang pada satu masa pada rentang abad ketiga sampai kelima belas masehi. Mereka yang mengklaim gelar ini dan menjadi lawan bagi paus yang sah dijuluki "[[Anti-Paus|anti-paus]]."<ref>"One who opposes the legitimately elected bishop of Rome, endeavours to secure the papal throne, and to some degree succeeds materially in the attempt" ([http://www.britannica.com/EBchecked/topic/28501/antipope Encyclopædia Britannica: ''Antipope'']).</ref> Walaupun bukan dianggap paus yang sah, para anti-paus ini didukung oleh kekuatan besar, baik dari beberapa kardinal maupun penguasa monarki Eropa. Walaupun paus di abad modern lebih terkesan pada pemimpin agama semata, sejarah membuktikan bahwa paus juga memiliki kekuatan politik yang besar di abad pertengahan, di masa saat nilai gerejawi menyentuh seluruh segi kehidupan masyarakat Eropa Kristen.
 
Tidak ada gelar resmi yang setara untuk wanita dari paus, lantaran tidak diperkenankannya wanita menempati kedudukan ini. Walaupun begitu, beberapa bahasa di Eropa memiliki bentuk wanita dari gelar paus (misal ''popess'' dalam bahasa Inggris) karena keterkaitannya dengan legenda [[Paus Yohana]], seorang wanita yang menjadi paus. Banyak sejarawan yang menilai bahwa Paus Yohanna tak lebih dari sebagai tokoh khayalan yang muncul sebagai sebuah satir anti-kepausan.
 
=== Khalifah ===
'''[[Khalifah]]''' ([[bahasa Arab]]: خَليفة‎‎ ''khalīfah'') adalah gelar bagi penerus Nabi Muhammad dan pemimpin umat Islam di seluruh dunia.<ref name=":0">{{Cite journal|url = |title = Caliph, caliphate|last = Kadi|first = Wadad|date = 2013|journal = The Princeton Encyclopedia of Islamic Political Thought|doi = |pmid = |access-date = |last2 = Shahin|first2 = Aram A.|pages = 81–86}}</ref> Gelar ini pertama kali disandang oleh [[Abu Bakar Ash-Shiddiq|Abu Bakar]] pada tahun 632 M dan terakhir kali oleh [[Abdul Mejid II]] pada 3 Maret 1924 M. Wilayah kepemimpinan khalifah disebut kekhalifahan atau khilafah (bahasa Arab: خِلافة‎‎ ''khilāfah''). Pada awal penggunaannya, khalifah berperan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan bagi negara Islam yang sangat luas, mirip dengan kaisar yang memimpin sebuah kekaisaran raksasa. Namun di masa pertengahan saat dinasti Abbasiyah menyandang gelar ini, khalifah lebih bermakna sebagai kepala negara dan pemerintahan tiap daerah diserahkan kepada para sultan. Setelah hancurnya Baghdad oleh serbuan Mongol pada tahun 1258 M, khalifah lebih bermakna simbol pemersatu umat Islam dan hanya memiliki kekuatan politik yang terbatas. Sebagai catatan, para pemimpin Turki Utsmani memiliki kekuatan politik yang besar karena kedudukan mereka sebagai sultan dan kaisar, bukan sebagai khalifah.
 
Normalnya, hanya ada satu khalifah dalam satu masa. Tetapi nyatanya, sebagaimana paus, gelar khalifah juga beberapa kali diklaim oleh lebih dari satu pihak. Pada abad kesepuluh, gelar ini diklaim oleh tiga pihak: [[Kekhalifahan Abbasiyah|Dinasti Abbasiyah]] yang berpusat di Baghdad; [[Kekhalifahan Fatimiyah|Dinasti Fathimiyyah]] yang berpusat di Kairo, Mesir; dan [[Kekhalifahan Umayyah|Dinasti Umayyah]] yang berpusat di Kordoba, Spanyol.
'''[[Sultan]]''' adalah gelar bagi penguasa monarki Muslim yang memerintah monarki Islam. Gelar ini diturunkan dari [[bahasa Arab]] سلطان, ''sulthaan'' yang berarti "penguasa" dan "kekuatan". Monarki yang dipimpin oleh seorang sultan disebut kesultanan. Penggunaan gelar ini berkembang di Nusantara seiring semakin meningkatnya kekuatan politik kaum Muslim di Nusantara.
 
Gelar yang setara untuk wanita adalah '''sultanah'''. Penggunaan gelar sultanah ini berbeda-beda di tiap kawasan. Sultanah bisa bermakna sultan wanita, atau seorang wanita yang memimpin kesultanan, dan hal ini pernah digunakan pada masa Kesultanan Aceh. Walaupun begitu, tidak setiap wanita yang memimpin kesultanan menyandang gelar sultanah. Shajar al-Durr misalnya, tetap menyandang gelar sultan sebagaimana laki-laki saat dia naik tahta memimpin Mesir pada tanggal 2 Mei 1250 M.<ref>{{cite book |editor1-last=Holt |editor1-first=P. M. |editor2-last=Lambton |editor2-first=Ann K. S. |editor2-link=Ann Lambton |editor3-last=Lewis |editor3-first=Bernard |editor3-link=Bernard Lewis |title=The Cambridge History of Islam |url=http://books.google.com/books?id=4AuJvd2Tyt8C&pg=PA210 |accessdate=2010-03-01 |year=1977 |publisher=Cambridge University Press |isbn=978-0-521-29135-4 |oclc=3549123 |page=210}}</ref>
 
Sultanah juga dapat digunakan sebagai gelar bagi istri sultan, sebagaimana yang digunakan pada Kesultanan Mesir yang berdiri pada 1914 sampai 1922 M.<ref>{{cite journal |last=Rizk |first=Yunan Labib |date=13–19 April 2006 |title=A palace wedding |journal=[[Al-Ahram Weekly]] |issue=790 |url=http://weekly.ahram.org.eg/2006/790/chrncls.htm |accessdate=2010-02-27 |quote=... Britain granted the rulers among the family the title of sultan, a naming that was also applied to their wives.}}</ref> Akan tetapi, penggunaan gelar sultanah sebagai istri sultan tidak dikenal di kawasan Nusantara (Indonesia). Banyak kesultanan di kawasan Nusantara menggunakan gelar permaisuri atau ratu untuk istri sultan.
 
Berbeda dengan raja dan kaisar, gelar sultan tidak terikat dengan sebuah tingkatan tertentu (kecuali berada di bawah khalifah, baik secara hierarkis maupun simbolis). Sultan bisa setara dengan kaisar, sebagaimana Kesultanan Seljuk Raya dan Kesultanan Utsmani, dapat juga setara dengan raja, sebagaimana banyak kesultanan di Nusantara, atau hanya sebatas negara bagian, sebagaimana yang telah digunakan pada beberapa negara bagian di Malaysia, tergantung besarnya pengaruh dan wilayah tiap kesultanan. Digunakan tidaknya gelar sultan tidak merujuk pada perbedaan tingkatan monarki sebagaimana raja dan kaisar, tetapi lebih kepada perbedaan ideologi yang disandang. Penyandang gelar sultan bermakna bahwa dia adalah seorang Muslim yang memerintah monarki Islam.
 
==== Kekaisaran di Eropa ====
Beberapa gelar di Eropa yang tingkatannya lebih tinggi dari raja dan setara dengan kaisar.
* ''Imperator'', gelar kaisar dalam bahasa Latin yang bermakna komandan. Bentuk wanitanya adalah ''imperatrix''. Turunan dari gelar ini digunakan oleh banyak kaisar di Eropa seperti ''empereür'' di Prancis pada masa Napoleon dan ''emperor'' (''empress'' bagi wanita) di Inggris. Pemimpin Rusia juga mengadopsi gelar ''imperator'' untuk laki-laki dan ''imperatritsa'' untuk wanita secara resmi sejak tahun 1721, menggantikan gelar ''tsar'' dan ''tsaritsa''. Monarki yang dipimpin seorang ''emperor'' atau ''empress'' disebut ''empire'', atau kekaisaran.
* ''Caesar'', gelar yang diturunkan dari nama Julius Caesar. Gelar ini diadaptasi ke dalam banyak bahasa di dunia, seperti bahasa Jerman (''kaiser'' untuk pria dan ''kaiserin'' untuk wanita), bahasa Rusia (Царь, ''tsar'' dan Царица, ''tsaritsa''), bahasa Arab (''qays'r'' قيصر), bahasa Ibrani (''kesár''‎‎ קיסר dan ''kesarít'' קיסרית), bahasa Turki (''kayser''), bahasa Indonesia (kaisar dan kaisarina), dan masih banyak lagi.
* ''Basileus'' (bahasa Yunani: βασιλεύς) adalah gelar dalam bahasa Yunani yang memiliki beberapa arti yang secara luas diartikan sebagai "raja" atau "kaisar". Gelar ini digunakan juga oleh Kaisar Romawi Timur (Bizantium). Bentuk wanita dari gelar ini adalah ''Basilissa'' (Βασίλισσα), ''Basileia'' (Βασίλεια), ''Basilis'' (Βασιλίς), atau ''Basilinna'' (Βασιλίννα).
 
Gelar untuk penguasa monarki di Eropa memiliki versi laki-laki dan perempuan. Gelar untuk wanita (seperti ''queen'' dan ''empress'' dalam bahasa Inggris) biasanya memiliki makna ganda, yaitu sebagai penguasa monarki wanita atau sebagai istri penguasa monarki pria. Dalam beberapa kasus, hal ini menimbulkan kebingungan karena persamaan gelar yang disandang. Tetapi di masa belakangan, gelar-gelar tadi diberi imbuhan tidak resmi untuk membedakannya. Imbuhan ''regnant'' (menjadi ''queen regnant'' dan ''empress regnant'') menandakan bahwa wanita yang penyandang gelar tersebut adalah penguasa monarki dan imbuhan ''consort'' (menjadi ''queen consort'' dan ''empress consort'') menyatakan bahwa dia hanyalah istri dari penguasa monarki pria.
 
=== Asia Timur ===
Salah satu gelar paling tinggi yang pernah digunakan di kawasan Asia Timur adalah ''huángdì'' (aksara China: 皇帝) yang diterjemahkan dengan kaisar, mengungguli gelar lain seperti ''wang'' (aksara China: 王) atau raja. Gelar ini digunakan sejak sejak penyatuan Dinasti Qin pada tahun 221 SM hingga dibubarkannya monarki pada tahun 1912 M. Gelar ini pertama kali disandangoleh Kaisar [[Ying Zheng]] danhingga terakhirdibubarkannya kalimonarki disandangpada olehtahun Kaisar12 Februari 1912 dengan [[Puyi]] padasebagai 12kaisar Februari 1912terakhir. BerbedaGelar denganini gelartidak di Barat yang membedakan berdasarmemandang jenis kelamin, yangberbeda memungkinkan terjadinya kebingungan lantaran kesamaandengan gelar antaradi pemimpin monarki wanita dan istri dari pemimpin monarki pria, gelar ini tidak memandang jenis kelaminBarat. [[Wu Zetian]] sebagai satu-satunya wanita yang menjadi kaisarina sepanjang 24.000 tahun sejarah China juga menyandang gelar ''huángdì'' sebagaimana para pria saat naik tahta, bukannya ''huanghou'' (皇后) yang merupakan gelar untuk permaisuri kaisar.
 
Pemimpin Jepang menyandang gelar ''tennō'' (天皇) yang kerap juga disejajarkan dengan kaisar dan gelar ini masih digunakan sampai sekarang, walaupun kedudukan kaisar sekarang lebih kepada lambang pemersatu belaka. Para wanita yang pernah duduk di tahta juga menyandang gelar ini, bukannya ''kōgō'' (皇后) yang merupakan gelar bagi permaisuri kaisar.
 
Di semenanjung Korea, para pemimpinnya kebanyakan setara dengan tingkatan raja. Salah satu gelar yang disandang Raja Korea adalah ''wang'' ([[hanja]]: 王, aksara [[hangeul]]: 왕). Para wanita yang naik ke tahta juga menyandang gelar ini atau ''yeowang'' ([[hanja]]: 女王, aksara [[hangeul]]: 여왕, secara harfiah bermakna "raja wanita". setara dengan ratu dalam bahasa Indonesia), bukannya menyandang gelar ''wangbi'' (hangeul: 왕비) yang diperuntukkan bagi permaisuri raja. Saat Gojong mengakhiri masa Kerajaan Joseon dan menyatakan berdirinya Kekaisaran Korea pada 1897 M, dia menyandang gelar ''hwangje'' (hanja: 皇帝, hangeul: 황제) yang berarti kaisar, menyatakan dirinya setara dengan Kaisar China.
 
==Gelar Ganda==
Pada keberjalanannya, banyak sekali penguasa monarki yang menyandang lebih dari satu gelar dikarenakan berbagai alasan. Penguasa Turki Utsmani misalnya, menyandang beberapa gelar, di antaranya sultan, han, padishah, dan khalifah, yang kesemuanya memiliki makna masing-masing. Gelar "sultan" menunjukkan bahwa pemimpin Utsmani menyatakan diri sebagai penguasa Muslim atas monarki Muslim yang sah, "han" (pelafalan Turki untuk "khan") merupakan legitimasi pemimpin Utsmani sebagai pewaris atas moyangnya dari Asia Tengah,<ref name=":0">{{Cite book|title = The Imperial Harem: Women and Sovereignty in the Ottoman Empire|last = Peirce|first = Leslie P.|publisher = Oxford University Press, Inc.|year = 1993|isbn = 0-19-507673-7|location = New York|pages = }}</ref> "padishah" ({{lang|ota-Arab|پادشاه}}, gelar untuk kaisar dalam bahasa Persia) yang menunjukkan tingkatan Utsmani yang setara dengan kekaisaran, bukan kerajaan semata, dan khalifah yang menunjukkan bahwa pemimpin Utsmani adalah pemimpin bagi seluruh dunia Islam.
 
Beberapa penguasa monarki di Eropa juga memiliki gelar rangkap yang sifatnya berbeda tingkatan. Dalam Kekaisaran Romawi Suci, sebuah kekaisaran yang terdiri dari kumpulan kerajaan dan kadipaten, sang kaisar, selain menjadi pemimpin seluruh kekaisaran, juga menjadi raja atau adipati di salah satu wilayah Kekaisaran Romawi Suci. Di masa kolonial, penguasa monarki di beberapa negara seperti Inggris Raya, memiliki gelar rangkap sebagai raja (''king'') atau ratu (''queen'') sekaligus kaisar (''emperor'') atau kaisarina (''empress''), menandakan bahwa sang penguasa menjadi raja-ratu di sebuah wilayah dan menjadi kaisar-kaisarina di wilayah lain. Saat Inggris Raya menjadikan India sebagai salah satu wilayah kekuasaannya, Victoria sebagai Ratu Inggris Raya (''Queen of the United Kingdom'') saat itu juga dinyatakan sebagai Kaisarina India (''Empress of India'').
 
== Tinjauan ==
Beberapa gelar yang sangat terikat dengan monarki adalah permaisuri dan ibu suri. Permaisuri bukanlah gelar bagi penguasa monarki, tapi gelar untuk istri (istri utama dalam sistem poligami) dari pemimpin monarki pria, baik itu raja, kaisar, atau sultan. Gelar ini berasal dari bahasa Tamil பரமேஸ்வரி (paramēsvari), dari bahasa Sansekerta परमेश्वरी (parameśvarī). Sebagaimana permaisuri, ibu suri juga bukanlah gelar penguasa monarki, tetapi gelar bagi ibunda penguasa monarki. Gelar ini juga dapat digunakan untuk permaisuri yang telah menjanda. Belum diketahui jelas asal-usul dari gelar ini. Pada masa belakangan, ibu suri juga kerap disebut dengan ibu ratu, mungkin berasal dari terjemahan harfiah dari kata ''queen mother'', gelar bagi ibu suri di Inggris Raya.
 
Gelar untuk penguasa monarki wanita (seperti ratu dan maharani) biasanya juga digunakan untuk istri penguasa monarki pria, menjadikannya memiliki makna ganda, sebagaimana gelar untuk wanita di Eropa. Penggunaan gelar permaisuri ini menjadi salah satu cara menghilangkan keambiguan gelar. Di sisi lain, gelar penguasa monarki di Indonesia juga memiliki versi laki-laki dan perempuan, berbeda dengan gelar penguasa monarki seperti di Asia Timur yang tidak memerhatikan perbedaan jenis kelamin. Hal ini menunjukkan kayanya kosatakata gelar di Indonesia.
 
==Referensi==