Penguasa monarki: Perbedaan revisi

13.315 bita ditambahkan ,  3 tahun yang lalu
Penjelasan lebih mendetail mengenai gelar-gelar pemimpin monarki, baik yang di dalam maupun di luar Indonesia
(Penjelasan lebih mendetail mengenai gelar-gelar pemimpin monarki, baik yang di dalam maupun di luar Indonesia)
Gelar penguasa monarki memiliki versi laki-laki dan perempuan, kecuali [[Paus (Katolik Roma)|Paus]]. Di antaranya adalah [[raja]] dan [[ratu]], [[pangeran]] dan [[putri]], dan lain-lain. Versi wanita digunakan tidak hanya untuk penguasa monarki wanita, tapi juga untuk istri dari penguasa monarki pria ([[ratu]] merujuk pada penguasa monarki wanita sementara [[permaisuri]] merujuk pada istri penguasa monarki pria).
 
== Gelar penguasaPenguasa monarkiMonarki ==
Terdapat beberapa gelar yang dikenal di Indonesia yang disandang bagi penguasa monarki, seperti raja, kaisar, maharaja, paus, khalifah, dan sultan, walaupun beberapa di antaranya tidak pernah disandang secara resmi oleh pemimpin monarki di Indonesia. Beberapa gelar memiliki makna masing-masing.
 
=== Raja ===
Gelar penguasa monarki bagi pasangan laki-laki dan perempuan dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
'''Raja''' adalah gelar penguasa monarki yang paling umum digunakan di Indonesia. Gelar ini diturunkan dari [[Bahasa Sanskerta|bahasa Sansekerta]] राजा ''rājā-'' dan mulai digunakan penguasa monarki di Indonesia seiring menguatnya pengaruh Hindu Budha dari India. Monarki yang berada di bawah pimpinannya disebut dengan kerajaan.
{| class="wikitable"
 
|-
Gelar yang setara dari raja untuk wanita adalah '''ratu'''. Ratu dapat disandang oleh seorang wanita yang memimpin kerajaan, ataupun istri dari raja. Pada mulanya, gelar ini digunakan sebagai penguasa monarki di Indonesia. Namun seiring masuknya pengaruh Hindu dan Budha di Indonesia, gelar ini terdesak penggunaannya oleh raja, dan ratu menjadi gelar yang khusus diperuntukkan untuk wanita. Walaupun begitu, peggunaan gelar ratu tak sepenuhnya bergeser menjadi feminim. Keraton, istilah yang sering merujuk pada istana di Jawa, berasal dari kata "ke-ratu-an" yang bermakna tempat tinggal ratu. Beberapa cerita dan hikayat juga masih mempertahankan kedudukan ratu sebagai gelar yang dipegang oleh pria, seperti cerita berjudul ''Petruk dadi Ratu'' (Petruk menjadi Ratu), padahal Petruk sendiri adalah tokoh berjenis kelamin pria. ''Ratu Adil'', istilah yang diperuntukkan bagi pemimpin yang kelak akan membawa kedamaian di dunia di akhir zaman juga merujuk kepada seorang pria.
! Laki-laki !! Perempuan
 
|-
|=== Kaisar || Kaisarina/Permaisuri===
'''Kaisar''' termasuk gelar bagi penguasa monarki yang dikenal di Indonesia, walau tidak digunakan secara resmi pada para pemimpin monarki di Indonesia. Gelar ini mulanya berawal dari [[Caesar (gelar)|''Caesar'']], nama marga dari [[Julius Caesar]], yang kemudian digunakan menjadi sebuah gelar bagi penguasa Romawi. Gelar ini kemudian diadaptasi dalam berbagai bahasa, seperti "Kaiser" di Jerman dan "Tsar" di Rusia. Gelar yang setara untuk wanita adalah '''kaisarina'''. Monarki yang berada di bawah pimpinannya disebut kekaisaran atau imperium.
|-
 
| Emirat ||
Gelar lain yang setara dengan kaisar adalah '''maharaja''' yang diturunkan dari [[Bahasa Sanskerta|bahasa Sansekerta]] महाराज ''maharaja''. Gelar yang setara untuk wanita dari maharaja adalah '''maharani'''.
|-
 
| Tsar || Tsarina
Banyak dari masyarakat yang menyamakan penggunaan gelar raja dan kaisar, baik dalam percakapan maupun dalam penerjemahan gelar asing. Pada kenyataannya, kedua gelar ini memiliki tingkatan yang berbeda. Kaisar dan maharaja memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari raja. Kaisar adalah pemimpin dari sebuah monarki yang besar dan mendominasi suatu kawasan yang luas, berbeda dengan raja yang memimpin monarki yang kekuasaannya lebih kecil pengaruh dan wilayahnya. Dalam beberapa kasus, beberapa raja dapat menjadi bawahan kaisar, baik secara langsung maupun sebagai wilayah protektorat, sebagaimana yang terjadi antara Kerajaan Joseon dan Kekaisaran China. Di kawasan Nusantara, monarki yang sering dianggap sampai tingkatan kekaisaran adalah Majapahit.
|-
 
| Khalifah || -
Penggunaan gelar ratu juga sering ditujukan untuk merujuk pada istri kaisar, yang pada kenyataannya juga kurang tepat, karena ratu berada pada tingkat kerajaan, sedangkan kaisar berada pada tingkatan kekaisaran.
|-
 
| Maharaja || Maharatu
=== Paus ===
|-
'''[[Paus (Katolik Roma)|Paus]]''' (bahasa Latin: ''papa'', bahasa Inggris: ''pope'') adalah gelar bagi Uskup Roma dan pemimpin Gereja Katolik dunia. Gelar ini diturunkan dari [[bahasa Yunani]] πάππας ''pappas'', yang berarti Bapa. Berdasarkan ''Annuario Pontificio'', gelar ini telah digunakan sejak tahun 33 M oleh [[Simon Petrus|Petrus]] hingga sekarang. Walaupun normalnya dipegang oleh satu orang dalam satu masa, pada kenyataannya, gelar paus ini beberapa kali diklaim lebih dari satu orang pada satu masa pada rentang abad ketiga sampai kelima belas masehi. Mereka yang mengklaim gelar ini dan menjadi lawan bagi paus yang sah dijuluki "[[Anti-Paus|anti-paus]]." Walaupun bukan dianggap paus yang sah, para anti-paus ini didukung oleh kekuatan besar, baik dari beberapa kardinal maupun penguasa monarki Eropa. Walaupun paus di abad modern lebih terkesan pada pemimpin agama semata, sejarah membuktikan bahwa paus juga memiliki kekuatan politik yang besar di abad pertengahan, di masa saat nilai gerejawi menyentuh seluruh segi kehidupan masyarakat Eropa Kristen.
| Sultan || Sultanah/Permaisuri
 
|-
Tidak ada gelar resmi yang setara untuk wanita dari paus, lantaran tidak diperkenankannya wanita menempati kedudukan ini. Walaupun begitu, beberapa bahasa di Eropa memiliki bentuk wanita dari gelar paus (misal ''popess'' dalam bahasa Inggris) karena keterkaitannya dengan legenda [[Paus Yohana]], seorang wanita yang menjadi paus. Banyak sejarawan yang menilai bahwa Paus Yohanna tak lebih dari sebagai tokoh khayalan yang muncul sebagai sebuah satir anti-kepausan.
| Raja<ref name="Verhandelingen"/> || Ratu<sup>1</sup>/Permaisuri<sup>2</sup>
 
|-
|=== Khalifah || -===
| Amir/[[Panembahan]]<ref name="eysinga"/> || Ratu
'''[[Khalifah]]''' ([[bahasa Arab]]: خَليفة‎‎ ''khalīfah'') adalah gelar bagi penerus Nabi Muhammad dan pemimpin umat Islam di seluruh dunia. Gelar ini pertama kali disandang oleh [[Abu Bakar Ash-Shiddiq|Abu Bakar]] pada tahun 632 M dan terakhir kali oleh [[Abdul Mejid II]] pada 3 Maret 1924 M. Wilayah kepemimpinan khalifah disebut kekhalifahan atau khilafah (bahasa Arab: خِلافة‎‎ ''khilāfah''). Pada awal penggunaannya, khalifah berperan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan bagi negara Islam yang sangat luas, mirip dengan kaisar yang memimpin sebuah kekaisaran raksasa. Namun di masa pertengahan saat dinasti Abbasiyah menyandang gelar ini, khalifah lebih bermakna sebagai kepala negara dan pemerintahan tiap daerah diserahkan kepada para sultan. Setelah hancurnya Baghdad oleh serbuan Mongol pada tahun 1258 M, khalifah lebih bermakna simbol pemersatu umat Islam dan hanya memiliki kekuatan politik yang terbatas. Sebagai catatan, para pemimpin Turki Utsmani memiliki kekuatan politik yang besar karena kedudukan mereka sebagai sultan dan kaisar, bukan sebagai khalifah.
|-
 
| [[Pangeran Ratu]]<ref name="eysinga">[http://books.google.co.id/books?id=59tK1hnwdqkC&dq=Padoeka%20Ratoe%20Iman%20Oeddin&pg=PA176#v=onepage&q=Padoeka%20Ratoe%20Iman%20Oeddin&f=false {{nl}} Philippus Pieter Roorda van Eysinga, Handboek der land- en volkenkunde, geschiedtaal-, aardrijks- en staatkunde von Nederlandsch Indie, 1841]</ref> || Ratu
Normalnya, hanya ada satu khalifah dalam satu masa. Tetapi nyatanya, sebagaimana paus, gelar khalifah juga beberapa kali diklaim oleh lebih dari satu pihak. Pada abad kesepuluh, gelar ini diklaim oleh tiga pihak: [[Kekhalifahan Abbasiyah|Dinasti Abbasiyah]] yang berpusat di Baghdad; [[Kekhalifahan Fatimiyah|Dinasti Fathimiyyah]] yang berpusat di Kairo, Mesir; dan [[Kekhalifahan Umayyah|Dinasti Umayyah]] yang berpusat di Kordoba, Spanyol.
|-
 
| [[Pangeran Adipati]]|| Ratu
Semenjak kejatuhan kekhalifahan pada tahun 1924, tidak ada pihak yang diakui oleh semua dunia Islam sebagai khalifah sampai saat ini, walaupun upaya mengembalikan kekhalifahan terus berlanjut oleh berbagai pihak. Dalam gelar resminya, Sultan Yogyakarta juga menyandang gelar khalifah, tetapi makna khalifah di sini lebih kepada "kepanjangan tangan khalifah di tanah Jawa", dan bukan dalam artian pemimpin bagi seluruh dunia Islam.
|-
 
| Pangeran<ref name="Verhandelingen">[http://books.google.co.id/books?id=c6AAAAAAMAAJ&dq=Pangeran%20Abdul%20Khadir%2C%20uit%20het%20vorstelijk%20huis%20van%20Bandjermassin.&pg=PA352#v=onepage&q=Pangeran%20Abdul%20Khadir,%20uit%20het%20vorstelijk%20huis%20van%20Bandjermassin.&f=false {{nl}} Verhandelingen en berigten betrekkelijk het zeewezen en de zeevaartkunde, Volume 13, 1853]</ref> || Putri
Khalifah tidak memiliki gelar yang setara untuk wanita, karena tidak diperkenankannya wanita menempati kedudukan ini.
|}
 
Keterangan:
=== Sultan ===
* <sup>1</sup> (jika penguasa monarki adalah sang istri)
'''[[Sultan]]''' adalah gelar bagi penguasa monarki Muslim yang memerintah monarki Islam. Gelar ini diturunkan dari [[bahasa Arab]] سلطان, ''sulthaan'' yang berarti "penguasa" dan "kekuatan". Monarki yang dipimpin oleh seorang sultan disebut kesultanan. Penggunaan gelar ini berkembang di Nusantara seiring semakin meningkatnya kekuatan politik kaum Muslim di Nusantara.
* <sup>2</sup> (jika penguasa monarki adalah sang suami)
 
Gelar yang setara untuk wanita adalah '''sultanah'''. Penggunaan gelar sultanah ini berbeda-beda di tiap kawasan. Sultanah bisa bermakna sultan wanita, atau seorang wanita yang memimpin kesultanan, dan hal ini pernah digunakan pada masa Kesultanan Aceh. Walaupun begitu, tidak setiap wanita yang memimpin kesultanan menyandang gelar sultanah. Shajar al-Durr misalnya, tetap menyandang gelar sultan sebagaimana laki-laki saat dia naik tahta memimpin Mesir pada tanggal 2 Mei 1250 M.
 
Sultanah juga dapat digunakan sebagai gelar bagi istri sultan, sebagaimana yang digunakan pada Kesultanan Mesir yang berdiri pada 1914 sampai 1922 M. Akan tetapi, penggunaan gelar sultanah sebagai istri sultan tidak dikenal di kawasan Nusantara (Indonesia). Banyak kesultanan di kawasan Nusantara menggunakan gelar permaisuri atau ratu untuk istri sultan.
 
Berbeda dengan raja dan kaisar, gelar sultan tidak terikat dengan sebuah tingkatan tertentu (kecuali berada di bawah khalifah, baik secara hierarkis maupun simbolis). Sultan bisa setara dengan kaisar, sebagaimana Kesultanan Seljuk Raya dan Kesultanan Utsmani, dapat juga setara dengan raja, sebagaimana banyak kesultanan di Nusantara, atau hanya sebatas negara bagian, sebagaimana yang telah digunakan pada beberapa negara bagian di Malaysia, tergantung besarnya pengaruh dan wilayah tiap kesultanan. Digunakan tidaknya gelar sultan tidak merujuk pada perbedaan tingkatan monarki sebagaimana raja dan kaisar, tetapi lebih kepada perbedaan ideologi yang disandang. Penyandang gelar sultan bermakna bahwa dia adalah seorang Muslim yang memerintah monarki Islam.
 
== Gelar di Luar Indonesia ==
Di luar Indonesia, gelar pemimpin monarki sangat beragam dan masing-masing kawasan memiliki tingkatannya sendiri-sendiri.
 
=== Benua Eropa ===
Benua Eropa memiliki berbagai tingkatan kebangsawanan dan kepemimpinan monarki yang beberapa di antaranya masih bertahan hingga kini. Dua tingkatan tertinggi itu adalah kekaisaran dan kerajaan.
 
==== Kerajaan di Eropa ====
Di benua Eropa, para raja menyandang berbagai macam gelar yang diturunkan dari akar bahasa yang berbeda-beda.
* ''King'', gelar yang digunakan bagi Raja Inggris, diturunkan dari bahasa Inggris kuno ''cyning'', diturunkan dari bahasa Jerman ''*kuningaz'' yang kurang lebih bermakna "putra bangsa." Monarki yang dipimpin seorang ''king'' disebut ''kingdom'', setara dengan kerajaan dalam bahasa Indonesia. Gelar bagi beberapa raja lain di Eropa, seperti ''konge'' di Norwegia dan Denmark, ''konung'' di Swedia juga diturunkan dari akar bahasa yang sama.
* ''Rex'', gelar raja dalam bahasa Latin yang berarti "penguasa." Beberapa kerajaan di Eropa menggunakan turunan dari istilah ini, seperti ''rey'' di Spanyol dan ''roi'' di Prancis.
Gelar-gelar ini memiliki bentuk yang setara untuk wanita, yang bisa bermakna wanita yang menjadi pemimpin monarki atau istri dari pemimpin monarki pria.
* ''Queen'', gelar yang digunakan bagi Ratu atau Permaisuri Inggris, diturunkan dari bahasa Jerman ''*kwoeniz'', atau ''*kwenon'', yang bermakna "istri." Mulanya gelar ini diperuntukkan bagi istri dari ''king''. Tetapi di masa-masa berikutnya saat wanita duduk di tahta, mereka juga menyandang gelar ''queen'' saat berkuasa.
* ''Regina'', bentuk wanita dari ''rex''. Beberapa ratu atau permaisuri di Eropa juga menyandang turunan dari gelar ini dalam bahasa masing-masing saat menjabat.
Dalam sandi kerajaan yang digunakan sebagai monogram inisial dari penguasa monarki di Inggris, mereka menggunakan inisial dengan bahasa Latin, meskipun gelar itu tidak digunakan dalam keseharian. Inisial dari ''Queen'' Elizabeth II adalah EIIR yang bermakna ''Elizabeth II Regina''.
 
==== Kekaisaran di Eropa ====
Beberapa gelar di Eropa yang setara dengan kaisar.
* ''Imperator'', gelar kaisar dalam bahasa Latin yang bermakna komandan. Bentuk wanitanya adalah ''imperatrix''. Turunan dari gelar ini digunakan oleh banyak kaisar di Eropa seperti ''empereür'' di Prancis pada masa Napoleon dan ''emperor'' (''empress'' bagi wanita) di Inggris. Pemimpin Rusia juga mengadopsi gelar ''imperator'' untuk laki-laki dan ''imperatritsa'' untuk wanita secara resmi sejak tahun 1721, menggantikan gelar ''tsar'' dan ''tsaritsa''. Monarki yang dipimpin seorang ''emperor'' atau ''empress'' disebut ''empire'', atau kekaisaran.
* ''Caesar'', gelar yang diturunkan dari nama Julius Caesar. Gelar ini diadaptasi ke dalam banyak bahasa di dunia, seperti bahasa Jerman (''kaiser'' untuk pria dan ''kaiserin'' untuk wanita), bahasa Rusia (Царь, ''tsar'' dan Царица, ''tsaritsa''), bahasa Arab (''qays'r'' قيصر), bahasa Ibrani (''kesár''‎‎ קיסר dan ''kesarít'' קיסרית), bahasa Turki (''kayser''), bahasa Indonesia (kaisar dan kaisarina), dan masih banyak lagi.
* ''Basileus'' (bahasa Yunani: βασιλεύς) adalah gelar dalam bahasa Yunani yang memiliki beberapa arti yang secara luas diartikan sebagai "raja" atau "kaisar". Gelar ini digunakan juga oleh Kaisar Romawi Timur (Bizantium). Bentuk wanita dari gelar ini adalah ''Basilissa'' (Βασίλισσα), ''Basileia'' (Βασίλεια), ''Basilis'' (Βασιλίς), atau ''Basilinna'' (Βασιλίννα).
 
=== Asia Timur ===
Salah satu gelar paling tinggi yang pernah digunakan di kawasan Asia Timur adalah ''huángdì'' (aksara China: 皇帝) yang diterjemahkan dengan kaisar, mengungguli gelar lain seperti ''wang'' (aksara China: 王) atau raja. Gelar ini digunakan sejak sejak penyatuan Dinasti Qin pada tahun 221 SM hingga dibubarkannya monarki pada tahun 1912 M. Gelar ini pertama kali disandang Kaisar [[Ying Zheng]] dan terakhir kali disandang oleh Kaisar [[Puyi]] pada 12 Februari 1912. Berbeda dengan gelar di Barat yang membedakan berdasar jenis kelamin, yang memungkinkan terjadinya kebingungan lantaran kesamaan gelar antara pemimpin monarki wanita dan istri dari pemimpin monarki pria, gelar ini tidak memandang jenis kelamin. [[Wu Zetian]] sebagai satu-satunya wanita yang menjadi kaisarina sepanjang 2.000 tahun sejarah China juga menyandang gelar ''huángdì'' sebagaimana para pria saat naik tahta, bukannya ''huanghou'' (皇后) yang merupakan gelar untuk permaisuri kaisar.
 
Pemimpin Jepang menyandang gelar ''tennō'' (天皇) yang kerap juga disejajarkan dengan kaisar dan gelar ini masih digunakan sampai sekarang, walaupun kedudukan kaisar sekarang lebih kepada lambang pemersatu belaka. Para wanita yang pernah duduk di tahta juga menyandang gelar ini, bukannya ''kōgō'' (皇后) yang merupakan gelar bagi permaisuri kaisar.
 
Di semenanjung Korea, para pemimpinnya kebanyakan setara dengan tingkatan raja. Salah satu gelar yang disandang Raja Korea adalah ''wang'' ([[hanja]]: 王, aksara [[hangeul]]: 왕). Para wanita yang naik ke tahta juga menyandang gelar ini atau ''yeowang'' ([[hanja]]: 女王, aksara [[hangeul]]: 여왕, secara harfiah bermakna "raja wanita". setara dengan ratu dalam bahasa Indonesia), bukannya menyandang gelar ''wangbi'' (hangeul: 왕비) yang diperuntukkan bagi permaisuri raja. Saat Gojong mengakhiri masa Kerajaan Joseon dan menyatakan berdirinya Kekaisaran Korea pada 1897 M, dia menyandang gelar ''hwangje'' (hanja: 皇帝, hangeul: 황제) yang berarti kaisar, menyatakan dirinya setara dengan Kaisar China.
 
==Catatan kaki==