Sarung: Perbedaan antara revisi

16 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
 
===Sarung dan zaman perjuangan===
Pada zaman penjajahan Belanda, sarung identik dengan perjuangan melawan budaya barat yang dibawa para penjajah. Kaum santri merupakan masyarakat yang paling konsisten menggunakan sarung, sedangkan kaum nasionalis abangan hampir meninggalkan sarung. Sikap konsisten penggunaan sarung juga dijalankan oleh salah seorang pejuang yaitu [[KH [[Abdul Wahab ChasbullahHasbullah]], seorang tokoh penting di [[Nahdhatul Ulama]] (NU). Suatu ketika, KH [[Abdul Wahab Hasbullah]] pernah diundang Presiden Soekarno. Protokol kepresidenan memintanya untuk berpakaian lengkap dengan jas dan dasi. Namun, saat menghadiri upacara kenegaraan, ia datang menggunakan jas tetapi bawahannya sarung. Padahal biasanya orang mengenakan jas dilengkapi dengan celana panjang. Sebagai seorang pejuang yang sudah berkali-kali terjun langsung bertempur melawan penjajah Belanda dan Jepang, Abdul Wahab tetap konsisten menggunakan sarung sebagai simbol perlawanannya terhadap budaya Barat. Ia ingin menunjukkan harkat dan martabat bangsanya di hadapan para penjajah.<ref>http://www.apakabardunia.com/2013/07/asal-muasal-kain-sarung.html</ref>
 
==Motif sarung==