Hamengkubuwana I: Perbedaan revisi

Tidak ada perubahan ukuran ,  4 tahun yang lalu
k
cosmetic changes, replaced: nasehat → nasihat (7)
k (Robot: Perubahan kosmetika)
k (cosmetic changes, replaced: nasehat → nasihat (7))
[[Paku Buwono IV]] mengambil langkah konfrontatif dengan Yogyakarta dengan tidak mau mencabut nama "Mangkubumi" untuk saudaranya.Memang dalam [[Perjanjian Giyanti]] tidak diatur secara permanen soal suksesi Kasultanan Yogyakarta, sehingga sikap konfrontatif [[Paku Buwono IV]] ini dapat dimengerti bahwa penguasa Surakarta memahami tanggung Jawab Kerajaan.
 
Sikap konfrontatif [[Paku Buwono IV]] ini beriring dengan munculnya penasehatpenasihat penasehatpenasihat spiritual yang beraliran keagamaan dan ini yang meresahkan [[VOC]] dan dua penguasa lainnya, karena ancaman perang yang meluluh lantahkan Jawa bisa terulang kembali.
 
Pada tahun [[1790]] Hamengkubuwana I dan [[Mangkunegara I]] (alias [[Mas Said]]) kembali bekerja sama untuk pertama kalinya sejak zaman pemberontakan dulu. Mereka bersama [[VOC]] bergerak mengepung [[Pakubuwana IV]] di [[Surakarta]] karena [[Paku Buwono IV]] memiliki penasehatpenasihat penasehatpenasihat Spiritual yang membuat khawatir [[VOC]]. [[Pakubuwana IV]] akhirnya menyerah untuk membiarkan penasehatpenasihat penasehatpenasihat spiritualnya dibubarkan oleh [[VOC]].Ini adalah kerja sama dalam kepentingan yang sama yaitu mencegah bersatunya penasehatpenasihat spiritual dengan golongan Ningrat yang merupakan ancaman potensial pemberontakan kembali.
 
Hamengkubuwana I pernah berupaya agar putranya dikawinkan dengan putri [[Paku Buwono III]] raja [[Surakarta]] dengan tujuan untuk bersatunya kembali Mataram namun gagal. [[Pakubuwana IV]] yang merupakan waris dari [[Paku Buwono III]] lahir untuk menggantikan ayahnya.
110.443

suntingan