Buka menu utama

Perubahan

2 bita dihapus, 3 tahun yang lalu
k
Robot: Perubahan kosmetika
'''Dari istri yang lain, seorang putri Bendesa Mas di Desa Tegeh Tabanan, lahir 2 orang putra :'''
 
'''1. Kiyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori bukan Kuri )'''. Merupakan Putra kandung dari Arya Kenceng yang beribu dari desa Tegeh di Tabanan( bukan putra Dalem yang diberikan kepada Arya Kenceng, menurut babad versi Benculuk Tegeh Kori / http://bali.stitidharma.org/babad-arya-tegeh-kuri/ ), Dia membangun Kerajaan di Badung, diselatan kuburan Badung ( Tegal ) dengan nama '''Puri Tegeh Kori''' ( sekarang bernama Gria Jro Agung Tegal ),dialah yang mengangkat Kyai Pucangan ( Kyai Notor wandira yang notabenanya putra dari Sri Megada Natha ) menjadi putra ketiga dia dengan nama Kyai Nyoman Tegeh yang kemudian menurunkan kerajaan Badung seperti : Puri Pemecutan ,Puri Kesiman, Puri jambe , Puri Denpasar . Karena ada konflik di intern keluarga maka dia meninggalkan puri di Tegal dan pindah ke Kapal. Di Kapal sempat membuat mrajan dengan nama "Mrajan Mayun " yang sama dengan nama mrajan sewaktu di Tegal, dan odalannya sama yaitu pada saat "Pagerwesi". Dari sana para putra berpencar mencari tempat. Kini pretisentananya ( keturunannya ) berada di Puri Agung Tegal Tamu, Batubulan, Gianyar dan Jero Gelgel di Mengwitani( Badung), Jro Tegeh di Malkangin Tabanan , Jro Penarungan di Sumerta , Jro Batubelig di Kuta. Dan dalam babad perjalanan Kiyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori ) tidak pernah membuat istana di Benculuk atau sekarang di sebut Tonja apalagi sampai membangun mrajan Kawitan di Tonja. Di Puri Tegeh Kori dia berkuasa sampai generasi ke empat.<ref>Lontar-Lontar Kuno dan Raja Purana di Puri Agung Tegal Tamu</ref>
 
Adapun putra -putra dari Arya Kenceng Tegeh Kori IV adalah :
== II. '''Sri Magada Nata / Arya Yasan / Sirarya Ngurah Tabanan I, Raja Tabanan II ''' ==
 
Dia diutus oleh Dalem ( Raja Bali ) ke [[Majapahit]] untuk menyelidiki terhentinya komunikasi dengan Dalem. Setelah sampai di Majapahit, dia sangat terkejut, menyaksikan keadaan kerajaan yang kacau balau, karena pengaruh Agama Islam mulai masuk. Dia kembali ke Pucangan ( Bali ), setelah sampai di Pucangan, dia sangat kecewa, karena adik perempuannya yang bernama Nyai Luh Tegeh Kori dikawinkan dengan Kiayi Asak dari Kapal oleh Dalem, tanpa sepengetahuan dan persetujuan dia. Karena sangat kecewa dia meletakan jabatan dan sebagai raja diserahkan pada putranya Sirarya Ngurah Langwang. Selanjutnya dia menjalani kehidupan rohani di Kubon Tingguh dan kawin lagi dengan putri dari Ki Bendesa Pucangan, yang kemudian melahirkan putra laki-laki yang bernama Ki Gusti Ketut Pucangan atau Sirarya Notor Wandira, yang mana selanjutnya Sirarya Notor Wandira yang kemudian di peras oleh pamannya sendiri yaitu Kyai Tegeh ( Arya Kenceng Tegeh Kori yang berpuri di tegal badung dengan nama Puri tegeh kori bukan Benculuk Tegeh Kori ) dan berubah nama menjadi Kyai Nyoman Tegeh menjadi Raja Badung dan menurunkan pratisentana ( keturunan ) Arya Kenceng di Badung seperti :Puri Pemecutan,Puri kesiman <dsb ,dan yang paling terakhir adalah Puri Denpasar
 
Sri Megada Nata mempunyai putera :
** 8. I Gst Gede Rurung Gerih
** 9. Gst Gede Pande Cengeb
** 10. I Gusti Ketut Branjingan
** 11. I Gusti Gede Branjingan
 
9. Ni Gusti Luh Kukuh
*** 3. I Gst Ngr Gede Subagja (alm,menikah dengan Sagung Putra) melahirkan
**** 1. I Gusti Ngurah Agung (Alm, menikah dgn R R D G Kartika Rini) melahirkan
***** 1.A A Sg Ratna Kartika
***** 2.A A Ngr Panji Astika
***** 3. A A Sg Lely Lestari
***** 4. A A Ngr Panji Astika
**** 2. I Gusti Ngurah Bagus Danendra
**** 3. A A Sagung Mirah Widyawati(menikah dengan I Gst Ngr Bagus Grya Negara)
* 3. Ni Sagung Made.
Keturunan dia sekarang tinggal di Puri Dangin Tabanan , yang dibangun lagi, setelah datang dari Lombok, yang mana lokasi purinya tidak dibekas area Puri Dangin Tabanan dulu yang telah dihancurkan Belanda. Yang kemudian selanjutnya menurunkan keluarga-keluarga di '''Puri Dangin Tabanan''' dan '''Puri Dangin Tabanan di Jegu''' sekarang.<ref name="ReferenceA"/>
 
== XXII. '''Cokorda Ngurah Ketut, Raja Tabanan ke XXII (1929-1939)<ref>List of monarchs of Bali (http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_monarchs_of_Bali)</ref>''' ==
Pada Tahun 1906, Terjadi Perang Puputan Badung dimana Raja Denpasar I Gusti Ngurah Made Denpasar dan Raja Pemecutan beserta pembesar pembesar kerajaan tewas dalam perang Puputan Badung, Menyusul kemudian Ida Ratu Singasana Tabanan I Gusti Ngurah Rai Perang (yang juga bergelar I Gusti Ngurah Agung Tabanan) yang Nuek Raga di puri Denpasar Badung disertai Putra Mahkota Tabanan I Gusti Ngurah Gede Pegeg yang tewas dengan jalan meminum sari. Puri Singasana Tabanan kemudian dijarah dan dihancurkan oleh serdadu Belanda. Putri putri Raja di Puri Singasana, Sagung Ayu Oka dan Sagung Ayu Putu, kemudian berpindah ke Puri Anom , dimana tahun 1910 Sagung Ayu Putu menikah dengan I Gusti Ngurah Anom, bertempat di Puri Anom saren Taman (sekarang disebut Puri Anom Saren Kawuh) dan Sagung Ayu Oka menikah dengan Arthur Maurits Cramer, seorang Klerk Kontrolir berkebangsaan Belanda pada tahun 1912.
Putra Putra Raja di Puri Dangin dan saudara dekat Raja di Puri Mecutan dan Puri Denpasar kemudian diasingkan ke Lombok. Puri Dangin, Puri Denpasar, Puri Mecutan dan lainnya kemudian di ratakan dengan tanah.
 
10 Tahun kemudian mereka semua dikembalikan ke Tabanan. Belanda kemudian membentuk suatu daerah otonomi yang dipimpin oleh seorang Self Bestur, daerah otonomi ini disesuaikan dengan pembagian kerajaan-kerajaan sebelumnya. Untuk Tabanan dan Badung Self Bestur diberi gelar Ida Cokorda, Gianyar Ida Anak Agung dan sebagainya. Dalam rangka memilih Kepala Pemerintahaan di Tabanan, Belanda juga mencari dan menerima saran-saran dari beberapa Puri / Jero yang sebelumnya ada dalam struktur kerajaan, tentang bagaimana tatacara memilih seorang raja di Tabanan sebelumnya. Setelah mempertimbangkannya, Pada tanggal 8 Juli 1929, diputuskan oleh pemerintah Belanda, sebagai Kepala / Bestuurder Pemerintahan Tabanan dipilih '''I Gusti Ngurah Ketut''', putra I Gusti Ngurah Putu ( putra Sirarya Ngurah Agung Tabanan, Raja Tabanan ke XX ) dari Puri Mecutan. [[Berkas:Foto041.jpg|thumb|350px|Pura Batur Kawitan Ida Betara Arya Kenceng di Puri Agung Tabanan]] '''Selanjutnya Dia membangun kembali Puri beserta Pura Batur Kawitan Betara Arya Kenceng ( Piodalan pada hari Wrespati/Kamis Umanis Dungulan )''' di area bekas letak Puri Agung Tabanan yang telah dihancurkan Belanda. Karena adanya keterbatasan saat itu, luas area yang digunakan dan jumlah bangunan adat yang didirikan tidak seperti yang semula.
433.213

suntingan