Buka menu utama

Perubahan

20 bita ditambahkan, 11 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Dari berbagai sumber yang ada dapat disusun rekonstruksi sebagai berikut. Sjam mendisain gerakan yang dirancang untuk dilakukan [[Oentoeng]]. Namun, ada pihak ketiga yang memanfaatkan Lettu Doel Arief untuk mengacaukan gerakan. Kalau semula tidak ada perintah bunuh terhadap para jenderal, tetapi oleh Doel Arief (selaku komandan Pasukan Pasopati), diberikan instruksi "tangkap hidup atau mati". Akhirnya gerakan menjadi kacau balau.
 
Sulit untuk menyimpulkan. Perkembangan yang terjadi sungguh-sungguh rumit. Lettu Doel Arief bergabung bersama Pelda Djahurub dalam operasi di rumah [[Abdul Harris Nasution|A.H. Nasution]]. Tetapi ternyata operasi itu gagal. Nasution lolos. Bahkan [[Pierre Tendean]] dan [[Karel SasuitSatsuit Tubun]] (pengawal di rumah [[Johannes Leimena|J Leimena]]) menjadi korban. Operasi penculikan di rumah Nasution itu sendiri sama sekali tidak elegan. Sebab dari awal sudah memancing keributan yang berarti membuka kemungkinan untuk gagal.
 
Menurut keterangan yang diperoleh dari pengadilan [[Gathut Soekresno]], sebetulnya diperoleh petunjuk tentang Doel Arief. Ketika ditanya [[Hakim]] apa tindakan yang diambil Gathut (selalu petugas pengamanan basis di [[Halim]], di bawah komando [[Mayor]] [[Soedjono]]) setelah jenderal-jenderal itu dibawa ke Lubang Buaya, Gathut menjawab:
13.372

suntingan