Buka menu utama

Perubahan

265 bita ditambahkan, 11 tahun yang lalu
edit
Akhir kehidupan [[Letnan Satu|Lettu.]] '''Doel Arif''' pun tidak pernah terpublikasikan secara jelas. Sebagai komandan Pasukan [[Pasopati]] yang menjadi operator G 30 S[[G30S]], ia adalah tokoh kunci. Ia bertanggung jawab terhadap operasi penculikan [[Jenderal|jenderal-jenderal]] pimpinan [[Angkatan Darat|AD]]. Tapi Lettu. Doel Arief, yang ditangani langsung oleh [[Ali Moertopo]], hilang bak ditelan bumi. Bentuk hukuman apa yang diberikan Ali Moertopo bagi Doel Arief? Mungkin saja ia langsung eksekusi, seperti halnya [[Dipa Nusantara Aidit|D. N. Aidit]] oleh [[Kolonel]] [[Yasir Hadibroto]]. Atau, bukan tidak mungkin, ketidakjelasan Lettu. Doel Arief lebih mirip dengan misteri tentang [[Sjam Kamaruzzaman]].
 
Kalau dilihat secara [[holistik]] -dengan asumsi bahwa G 30 SG30S betul-betul merupakan [[skenario]] [[kudeta-]] peran Doel Arief tidak begitu penting. Setidaknya, ia hanyalah [[pion]] yang dimainkan para elit diatasnya. Perannya hanya sebagai pelaksana untuk menculik para jenderal. Namun kalau diasumsikan bahwa G 30 SG30S merupakan skenario [[jenius]] untuk menabrakkan [[PKI]]] dan AD guna memunculkan konstelasi [[politik]] baru di Indonesia, maka Lettu Doel Arief adalah saksi kunci yang harus dibungkam. Terlalu banyak yang diketahui Lettu Doel Arief sehingga harus di jaga kerahasiannya.
Dari berbagai sumber yang ada dapat disusun rekonstruksi sebagai berikut. Sjam mendisain gerakan yang dirancang untuk dilakukan Untung. Namun, ada pihak ketiga yang memanfaatkan Lettu Doel Arief untuk mengacaukan gerakan. Kalau semula tidak ada perintah bunuh terhadap para jenderal, tetapi oleh Doel Arief (selaku komandan Pasukan Pasopati), diberikan instruksi "tangkap hidup atau mati". Akhirnya gerakan menjadi kacau balau.
Sulit untuk menyimpulkan. Perkembangan yang terjadi sungguh-sungguh rumit. Lettu Doel Arief bergabung bersama Pelda Djahurub dalam operasi di rumah Nasution. Tetapi ternyata operasi itu gagal. Nasution lolos. Bahkan Pierre Tendean dan Karel Sasuit Tubun (pengawal di rumah Leimena) menjadi korban. Operasi penculikan di rumah Nasution itu sendiri sama sekali tidak elegan. Sebab dari awal sudah memancing keributan; yang berarti membuka kemungkinan untuk gagal.
Dari berbagai sumber yang ada dapat disusun rekonstruksi sebagai berikut. Sjam mendisain gerakan yang dirancang untuk dilakukan Untung[[Oentoeng]]. Namun, ada pihak ketiga yang memanfaatkan Lettu Doel Arief untuk mengacaukan gerakan. Kalau semula tidak ada perintah bunuh terhadap para jenderal, tetapi oleh Doel Arief (selaku komandan Pasukan Pasopati), diberikan instruksi "tangkap hidup atau mati". Akhirnya gerakan menjadi kacau balau.
Menurut keterangan yang diperoleh dari pengadilan Gathut Soekresno, sebetulnya diperoleh petunjuk tentang Doel Arief. Ketika ditanya Hakim apa tindakan yang diambil Gathut (selalu petugas pengamanan basis di Halim, di bawah komando Mayor Soedjono) setelah jenderal-jenderal itu dibawa ke Lubang Buaya, Gathut menjawab:
 
"Doel Arief memaksa meminta saya supaya dibereskan saja. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, kemudian saya menulis surat kepada Mas Jono (maksud-nya, Mayor Udara Soedjono), yang disampaikan per kurir yang bunyinya ialah bagaimana mengenai para jenderal yang sudah ada di Lubang Buaya, ter-utama yang masih hidup. Oleh karena waktu itu kami dalam keadaan gugup, maka kami suruhkan kurir untuk membawa surat sampai kedua kali untuk minta keputusan Mas Jono, yang pada waktu itu berada di PENAS (gedung penas). Lagipula oleh karena Saudara Doel Arief waktu itu mengulangi lagi permintaannya, memaksa-maksa dan membentak-bentak, maka kami jawab kami belum mengerti bagaimana saya harus perbuat, karena ketentuan harus datang dari Mas Jono.”
Sulit untuk menyimpulkan. Perkembangan yang terjadi sungguh-sungguh rumit. Lettu Doel Arief bergabung bersama Pelda Djahurub dalam operasi di rumah [[Abdul Harris Nasution|A.H. Nasution]]. Tetapi ternyata operasi itu gagal. Nasution lolos. Bahkan [[Pierre Tendean]] dan [[Karel Sasuit Tubun]] (pengawal di rumah [[Leimena]]) menjadi korban. Operasi penculikan di rumah Nasution itu sendiri sama sekali tidak elegan. Sebab dari awal sudah memancing keributan; yang berarti membuka kemungkinan untuk gagal.
"Mula-mula kita sepakati para jenderal itu dihadapkan kepada Presiden/Panglima Tertinggi Bung Karno di Istana. Pelaksanaannya oleh Resimen Cakrabirawa yang dikomandoi Letkol Untung. Komando pelaksananya Letnan Doel Arief. Tanpa sepe-ngetahuan Brigjen Supardjo dan saya sendiri, Sdr. Sjam ikut Letkol Untung. Kami baru tahu setelah selesai pelaksanaan atas laporan Letnan Doel Arief. Saya dan Brigjen Supardjo kaget. "Kenapa sampai mati?" tanya Pak Pardjo. Letnan Doel Arief menjawab bahwa Sjam menginstruksikan bahwa bila mengalami kesulitan mengha-dapi para jenderal, diambil saja hidup atau mati. Mereka melaksanakan perintah Sjam karena tahu bahwa Sjam duduk dalam pimpinan intel Cakrabirawa."
 
Lettu. Doel Arief yang konon dikabarkan sering mengikuti apat-rapat penting dewan revolusi harus dibungkam secara paksa agar semua skenario tentan G 30 S tidak terkuak secara nyata.
Menurut keterangan yang diperoleh dari pengadilan [[Gathut Soekresno]], sebetulnya diperoleh petunjuk tentang Doel Arief. Ketika ditanya [[Hakim]] apa tindakan yang diambil Gathut (selalu petugas pengamanan basis di [[Halim]], di bawah komando [[Mayor]] [[Soedjono]]) setelah jenderal-jenderal itu dibawa ke Lubang Buaya, Gathut menjawab:
"Doel Arief memaksa meminta saya supaya dibereskan saja. Saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat, kemudian saya menulis surat kepada Mas Jono (maksud-nya, [[Mayor Udara]] [[Soedjono]]), yang disampaikan per kurir yang bunyinya ialah bagaimana mengenai para jenderal yang sudah ada di Lubang Buaya, ter-utamaterutama yang masih hidup. Oleh karena waktu itu kami dalam keadaan gugup, maka kami suruhkan kurir untuk membawa surat sampai kedua kali untuk minta keputusan Mas Jono, yang pada waktu itu berada di PENAS (gedung penas). Lagipula oleh karena Saudara Doel Arief waktu itu mengulangi lagi permintaannya, memaksa-maksa dan membentak-bentak, maka kami jawab kami belum mengerti bagaimana saya harus perbuat, karena ketentuan harus datang dari Mas Jono.”
 
"Mula-mula kita sepakati para jenderal itu dihadapkan kepada Presiden/Panglima Tertinggi Bung Karno di Istana. Pelaksanaannya oleh Resimen Cakrabirawa yang dikomandoi [[Letnan Kolonel|Letkol.]] UntungOentoeng. Komando pelaksananya Letnan Doel Arief. Tanpa sepe-ngetahuan Brigjen Supardjo dan saya sendiri, Sdr.Saudara Sjam ikut Letkol UntungOentoeng. Kami baru tahu setelah selesai pelaksanaan atas laporan Letnan Doel Arief. Saya dan [[Brigadir Jenderal|Brigjen.]] [[Supardjo]] kaget. "Kenapa sampai mati?" tanya Pak Pardjo. Letnan Doel Arief menjawab bahwa Sjam menginstruksikan bahwa bila mengalami kesulitan mengha-dapi para jenderal, diambil saja hidup atau mati. Mereka melaksanakan perintah Sjam karena tahu bahwa Sjam duduk dalam pimpinan [[intel]] [[Cakrabirawa]]."
Lettu. Doel Arief yang konon dikabarkan sering mengikuti apat-rapat penting dewan revolusi harus dibungkam secara paksa agar semua skenario tentantentang G 30 SG30S tidak terkuak secara nyata.
 
{{DEFAULTSORT:Arif, Doel}}
13.372

suntingan