S. Bagio: Perbedaan revisi

435 bita dihapus ,  13 tahun yang lalu
(+info)
Ia satu-satunya anak lelaki keluarga Siswo Soewarno. Sejak kecil, si bungsu ini sering ditinggal ayahnya, Asisten Wedana Sumbang, Purwokerto, Jawa Tengah. Saat Bagio berusia 12 tahun, ibunya meninggal. Untuk mengusir sepinya, ia menghibur diri dengan keluyuran.
 
Di kelas VI SD, Drajat (yang belakangan juga jadi pelawak), mengajaknya main sandiwara. Perannya sebagai barang dalam karung yang dibawa Drajat di kereta api. ''Apa ini?'' tanya kondektur sambil menendang karung. ''Beras, Pak,'' kata Bagio dari dalam karung. Penonton geli dan semakin terbahak-bahak melihat ulah Bagio yang polos. ''Saya sangat ketakutan, penonton malah tertawa,'' cerita Bagio kemudian. Untung, ayahnya, yang dikira sedang turne tetapi ternyata ikut menonton, tidak marah. ''Pokoknya, kamu jadi apa saja, asal jangan tanggung-tanggung,'' kata Bagio menirukan pesan sang ayah.
 
Di Yogyakarta pula, Bagio berhasil memenangkan kejuaraan melawak, bersama Eddy Sud dan Iskak, yang selalu menempati urutan di bawahnya. Ini menentukan jalan hidupnya kemudian, meski ia terpaksa meninggalkan kuliahnya di FH UGM.Sesudah bergabung dan berpisah enam kali, kelompok lawak yang awet dan akrab dengan Bagio justru Darto Helm, Diran, dan Sol Saleh -- yang sejak 1983 memisahkan diri.
37.381

suntingan