Tagab Obang: Perbedaan revisi

2 bita dihapus ,  3 tahun yang lalu
k
tidy up
k (+perbaiki)
k (tidy up)
 
'''Tagab Obang''' adalah seorang [[tokoh]] [[pejuang]] [[perlawanan]] [[rakyat]] terhadap kekuasaan Belanda dalam [[Perang Banjar]] di [[Distrik Margasari|daerah Margasari]] ([[Kabupaten Tapin]]) [[Kalimantan Selatan]].
 
Pada saat itu sedang memuncaknya perlawanan rakyat Banjar. Seluruh wilayah Kesultanan Banjar bergolak melawan Belanda. Belanda kemudian mengeluarkan [[pengumuman]] penghapusan Kesultanan Banjar tertanggal [[11 Juni]] [[1860]] yang ditanda tangani oleh Residen Surakarta [[Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen]] yang merangkap Komisaris Pemerintahan Belanda untuk Afdeling Selatan dan Timur Borneo. Sejak itu Belanda seolah-olah menyelesaikan persoalan dalam negerinya sendiri bukan berhadapan dengan suatu bangsa yang berperang mengembalikan kemerdekaan bangsanya. Sejak itu Belanda mulai mengatur aparat pemerintahannya di daerah-daerah Kesultanan Banjar.
 
Daerah-daerah yang telah dikuasai Belanda ditetapkan Kepala-Kepala Distrik baru. Salah satu distrik yang baru dikuasai itu adalah di [[distrik Margasari]]. Kepala Distrik Margasari waktu itu ialah '''Kiai Jaya Di Pura'''. Kiai (wedana) ini banyak membantu perjuangan rakyat dengan cara membantu bahan makanan dan juga informasi tentang aktivitas serdadu Belanda.
 
Akhirnya sikap Kiai Jaya Di Pura yang pro perjuangan rakyat ini diketahui Belanda sehingga dia diganti sebagai [[Kiai]] (wedana) dengan Kiai baru yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap Belanda. Pada tanggal [[14 Desember]] [[1861]] dilakukan timbang terima jabatan Kiai [[Distrik Margasari|Margasari]] dengan [[Kiai]] (wedana) baru Kiai Sri Kedaton. Pada tanggal 14 Desember 1861 Controleur Fuijck datang ke daerah Margasari dikawal 5 orang serdadu. Pada malam hari tanggal [[16 Desember]] [[1861]], Controleur Fuijck dan pengawalnya dibunuh dan rumahnya dibakar.
 
Mendengar berita yang menyedihkan ini Residen [[Gustave Marie Verspijck]] mengirim Letnan Croes dengan 20 orang serdadu ke daerah Margasari. Letnan Croes mengejar pembunuh dengan menggunakan 5 buah ''jukung'' (perahu) ke Sungai Jaya anak Sungai Negara. Mereka berangkat pukul 11.00 siang. Para pejuang dibawah pimpinan Tagab Obang sudah menunggu di sungai sempit itu. Letnan Croes disergap para pejuang dengan cara tiba-tiba dan terjadilah pergumulan di dalam perahu dan di sekitar [[sungai]] sempit itu. Tiga jam kemudian perahu itu kembali dengan membawa mayat Letnan Croes dan 14 orang serdadunya yang telah menjadi mayat, 8 orang di antaranya [[orang Eropa]]. [[Letnan]] Croes terkulai tangannya kena parang bungkul dan kemudian ditombak dengan ''serapang'' (trisula). Berita duka ini disampaikan kepada Residen [[Gustave Verspijck]] yang sedang bergembira karena kemenangannya menghancurkan perjuangan rakyat Banjar yang ketika itu berada di rumah Asisten Residen di Martapura. Residen Verspijck segera kembali ke [[Kota Banjarmasin|Banjarmasin]] dan memerintahkan kapal perang ''Boni'' dan ''Celebes'' mengejar para [[pembunuh]] tersebut.
110.443

suntingan