Paten: Perbedaan revisi

15 bita dihapus ,  5 tahun yang lalu
k
tidy up, replaced: kokoh → kukuh, subyek → subjek, mengijinkan → mengizinkan, removed stub tag
k (ejaan, replaced: praktek → praktik)
k (tidy up, replaced: kokoh → kukuh, subyek → subjek, mengijinkan → mengizinkan, removed stub tag)
Kebenaran matematika, termasuk yang tidak dapat dipatenkan. ''Software'' yang menerapkan algoritma juga tidak dapat dipatenkan kecuali terdapat aplikasi praktis (di [[Amerika Serikat]]) atau efek teknikalnya (di Eropa).
 
Saat ini, masalah [[paten perangkat lunak]] (dan juga metode bisnis) masih merupakan subjek yang sangat kontroversial. Amerika Serikat dalam beberapa kasus hukum di sana, mengijinkanmengizinkan paten untuk ''software'' dan metode bisnis, sementara di Eropa, ''software'' dianggap tidak bisa dipatenkan, meski beberapa invensi yang menggunakan ''software'' masih tetap dapat dipatenkan.
 
Paten dapat berhubungan dengan zat alamiah (misalnya zat yang ditemukan di hutan rimba) dan juga obat-obatan, teknik penanganan medis dan juga [[sekuensing asam nukleat|sekuens genetik]], termasuk juga subjek yang kontroversial. Di berbagai negara, terdapat perbedaan dalam menangani subjek yang berkaitan dengan hal ini. Misalnya, di Amerika Serikat, metode bedah dapat dipatenkan, namun hak paten ini mendapat pertentangan dalam praktiknya. Mengingat sesuai prinsip sumpah Hipokrates (Hippocratic Oath), dokter wajib membagi pengalaman dan keahliannya secara bebas kepada koleganya. Sehingga pada tahun 1994, The American Medical Association (AMA) House of Delegates mengajukan nota keberatan terhadap aplikasi paten ini.
Untuk paten untuk diberi, itu akan menerima efek hukum, permohonan jelas harus memenuhi syarat hukum berhubungan ke [[patentability]]. Apabila [[patent penggunaan]] sudah berasah, kebanyakan kantor paten memeriksa permohonan untuk memenuhi dengan undang-undang [[Patentability]] yang relevan. Jika permohonan tidak memenuhi syarat, penolakan biasanya dikembalikan kepada pelamar atau agen pematen mereka, yang bisa menanggapi keberatan untuk mencoba mengatasi mereka dan mendapatkan dana bantuan paten.
 
Setelah diberi paten, ianya subyeksubjek di kebanyakan negara untuk biaya maintenance, secara umum diperbaharui setiap tahun, AS yang menjadi pengecualian penting.
Dalam Egbert v. Lippmann,104 U. S. 333 (1881) (the "korset kasus"), Mahkamah Agung Amerika Serikat memperkokohmemperkukuh keputusan bahwa seorang penemu yang sudah "benar-benar memikirkan hak-haknya selama sebelas tahun" dengan tidak melamar paten tidak bisa mendapatkan sesuatu paten pada waktu itu. Keputusan ini ditetapkan sebagai aturan 35. yang menghalang seorang penemu dari mendapatkan paten jika penemuan sudah di '''guna oleh publik selama lebih dari satu tahun''' sebelum memohon paten.
 
Syarat hasil temuan yang akan dipatenkan di Indonesia adalah baru (belum pernah diungkapkan sebelumnya), mengandung langkah inventif (tidak dapat diduga sebelumnya), dan dapat diterapkan dalam industri. Jangka waktu perlindungan untuk paten ‘biasa’ adalah 20 tahun, sementara paten sederhana adalah 10 tahun. Paten tidak dapat diperpanjang. Untuk memastikan teknologi yang diteliti belum dipatenkan oleh pihak lain dan layak dipatenkan, dapat dilakukan penelusuran dokumen paten.
* {{id}} [http://www.ambadar.com/ Konsultan Hak Kekayaan Intelektual di Indonesia (Indonesia)]
*{{id}} [http://www.kesimpulan.com/2011/10/pengadilan-eropa-larang-paten-sel-induk.html ''News KeSimpulan.com'' - Pengadilan Eropa Larang Paten Sel Induk Embrionik Manusia]
 
 
{{hki-stub}}
110.443

suntingan