Leonardus Benyamin Moerdani: Perbedaan revisi

k
tidy up, replaced: ijin → izin
k (→‎Daftar pustaka: minor cosmetic change)
k (tidy up, replaced: ijin → izin)
Pada tahun 1975, Moerdani menjadi sangat terlibat dengan masalah [[dekolonisasi]] [[Timor Timur]]. Pada bulan Agustus 1975, Moerdani mulai mengirimkan tentara Indonesia dengan kedok relawan untuk mulai menyusup ke Timor Timur.{{sfn|Pour|2007|p=163}} Situasi diintensifkan pada tanggal 28 November 1975 ketika [[Fretilin]] memproklamasikan kemerdekaan Timor Timur. Operasi intelijen berhenti dan operasi militer, [[Operasi Seroja]] dimulai sebagai gantinya. Meskipun operasi itu bukan sebuah operasi intelijen, Moerdani terus terlibat, kali ini sebagai perencana invasi. Metodenya dalam merencanakan invasi memicu kemarahan dari rekan-rekan karena dilakukan tanpa sepengetahuan perwira komando tinggi, seperti Wakil Panglima ABRI [[Surono Reksodimedjo]] dan Pangkostrad [[Leo Lopulisa]] yang seharusnya terlibat dalam proses perencanaan.<ref>[http://web.archive.org/web/20080605005857/http://www.hamline.edu/apakabar/basisdata/1994/05/28/0018.html Area Studies: East Timor (r)]</ref>
 
Pada 28 Maret 1981, [[Garuda Indonesia Penerbangan 206]], yang seharusnya terbang dari Jakarta ke Medan dibajak. Berita itu tiba ketika Moerdani di [[Ambon]] di mana ia menghadiri pertemuan Pemimpin ABRI bersama Panglima ABRI [[M. Jusuf]]. Moerdani segera meninggalkan pertemuan itu untuk pergi ke Jakarta dan mempersiapkan untuk mengambil tindakan, pesawat yang dibajak telah mendarat di [[Bandara Don Mueang]], [[Bangkok]]. Moerdani bertemu dengan Soeharto dan atas ijinizin Presiden ia menggunakan kekuatan dalam upaya untuk membebaskan para sandera; dasar pemikirannya adalah bahwa para pembajak seharusnya tidak diperbolehkan untuk mengintimidasi pilot pesawat untuk terbang ke negara-negara lain.{{sfn|Pour|2007|p=213}}
 
Didampingi oleh pasukan dari [[Kopassandha]], sebelumnya bernama RPKAD, Moerdani berangkat ke Thailand. Meskipun rencananya mengalami beberapa hambatan, terutama dari Pemerintah Thailand, pada akhirnya kesepakatan terjadi untuk mengambil tindakan militer. Pada pagi hari tanggal 31 Maret 1981, Moerdani secara pribadi memimpin pasukan Kopassandha menyerbu pesawat, mengambil kembali kendali itu, dan menyelamatkan para sandera.
 
=== Peristiwa Tanjung Priok ===
Latar belakang Moerdani yang Katolik akan mencuat ke permukaan pada tahun 1984 ketika bersama-sama dengan Panglima Kodam V/Jaya, [[Try Sutrisno]], memerintahkan untuk menggunakan [[Peristiwa Tanjung Priok|tindakan keras terhadap demonstran Islam]] di [[Tanjung Priok]], Jakarta yang mengakibatkan kematian. Moerdani mengklaim bahwa para demonstran telah terprovokasi dan tidak bisa dikendalikan secara damai dan sebagai hasilnya ia memerintahkan tindakan keras.{{sfn|Pour|2007|p=264}} Moerdani bersikeras bahwa dia tidak pernah ingin menganiaya [[Muslim]] dan melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah Muslim di seluruh Jawa untuk meningkatkan citranya dengan Muslim.
 
Sebagai [[Panglima ABRI]], Moerdani bisa dibilang sebagai orang paling kuat kedua secara [[de facto]] dalam aspek sosial dan politik di Republik Indonesia saat itu, setelah [[Soeharto]].
 
=== Menteri Pertahanan dan Keamanan ===
Meskipun ada upaya untuk menggagalkan Sudharmono, Soeharto tidak menurunkan Moerdani dan menunjuknya sebagai [[Menteri Pertahanan dan Keamanan]]. Namun, Moerdani kehilangan sebagian dari kekuasaannya pada bulan September 1988 dengan dibubarkannya [[Kopkamtib]].
 
Selama masa jabatannya sebagai Menteri, Moerdani dituduh merencanakan [[kudeta]] terhadap Soeharto.<ref>{{cite web
 
{{Normdaten}}
 
{{DEFAULTSORT:Moerdani, Leonardus Benyamin}}
 
[[Kategori:Panglima TNI]]
[[Kategori:Tokoh intelijen Indonesia]]
[[Kategori:Tokoh Katolik Indonesia]]
[[Kategori:Pangkopkamtib]]
[[Kategori:Eropa-Indonesia]]
[[Kategori:Belanda-Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Pertahanan Indonesia]]
[[Kategori:Tokoh dari Blora]]
 
<!--<sup>[2]</sup> Moerdani mulai mengangkat senjata sebagai [[Tentara Pelajar]] saat masih 14 tahun. Sebagai anak muda yang belum berpengalaman, beliau nyaris tewas dua kali saat pletonnya diserang dari sisi dan saat melarikan diri di Sekarpace. Dua kakaknya juga turut berjuang, salah satunya menjadi pasukan pengawal [[Slamet Rijadi]].
-->
 
{{DEFAULTSORT:Moerdani, Leonardus Benyamin}}
 
[[Kategori:Panglima TNI]]
 
[[Kategori:Tokoh intelijen Indonesia]]
 
[[Kategori:Tokoh Katolik Indonesia]]
[[Kategori:Pangkopkamtib]]
[[Kategori:Eropa-Indonesia]]
[[Kategori:Belanda-Indonesia]]
[[Kategori:Menteri Pertahanan Indonesia]]
[[Kategori:Tokoh dari Blora]]
[[Kategori:Tokoh Orde Baru]]
[[Kategori:Underbouw Orde Baru]]
110.443

suntingan