Buka menu utama

Perubahan

77 bita dihapus, 3 tahun yang lalu
k
minor cosmetic change
'''Ateisme''' adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan [[Tuhan]] dan [[Dewa|dewa-dewi]]<ref>{{cite encyclopedia |first=William L. |last=Rowe |authorlink=William L. Rowe |encyclopedia=[[Routledge Encyclopedia of Philosophy]] |title=Atheism |year=1998 |editor=Edward Craig}}
</ref> ataupun penolakan terhadap teisme.<ref>{{cite encyclopedia |first=Kai |last=Nielsen |authorlink=Kai Nielsen |encyclopedia=[[Encyclopædia Britannica]] |title=Atheism |url=http://www.britannica.com/EBchecked/topic/40634/atheism |year=2009 |accessdate=2007-04-28}} "Atheism, in general, the critique and denial of metaphysical beliefs in God or spiritual beings.... a more adequate characterization of atheism consists in the more complex claim that to be an atheist is to be someone who rejects belief in God for [reasons that depend] on how God is being conceived."</ref><ref>{{cite encyclopedia |title=Atheism |first=Paul |last=Edwards |authorlink=Paul Edwards (philosopher)|publisher=Collier-MacMillan |year=1967 |encyclopedia=[[Encyclopedia of Philosophy|The Encyclopedia of Philosophy]] |volume=Vol. 1 |page=175 |quote=On our definition, an 'atheist' is a person who rejects belief in God, regardless of whether or not his reason for the rejection is the claim that 'God exists' expresses a false proposition. People frequently adopt an attitude of rejection toward a position for reasons other than that it is a false proposition. It is common among contemporary philosophers, and indeed it was not uncommon in earlier centuries, to reject positions on the ground that they are meaningless. Sometimes, too, a theory is rejected on such grounds as that it is sterile or redundant or capricious, and there are many other considerations which in certain contexts are generally agreed to constitute good grounds for rejecting an assertion.}}
</ref> Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan [[dewa]] atau [[Tuhan]].<ref>Artikel pendek [[religioustolerance.org]] pada [http://www.religioustolerance.org/atheist4.htm Definitions of the term "Atheism"] menyatakan bahwa tidak ada konsensus mengenai definisi istilah ateisme. [[Simon Blackburn]] pada [[The Oxford Dictionary of Philosophy]]: "''Atheism. Either the lack of belief in a god, or the belief that there is none''".</ref><ref>{{cite book |url=http://www.ditext.com/runes/a.html |title=Dictionary of Philosophy |first=Dagobert D.(editor) |last=Runes |authorlink=Dagobert D. Runes |year=1942 edition |publisher=Littlefield, Adams & Co. Philosophical Library |location=New Jersey |isbn=0064634612 |accessdate=2010-02-01 |quote=(a) the belief that there is no God; (b) Some philosophers have been called "atheistic" because they have not held to a belief in a personal God. Atheism in this sense means "not theistic". The former meaning of the term is a literal rendering. The latter meaning is a less rigorous use of the term though widely current in the history of thought}}</ref>
 
Istilah ''ateisme'' berasal dari Bahasa Yunani {{lang|grc|[[:wikt:ἄθεος|ἄθεος]]}} (''átheos''), yang secara [[peyoratif]] digunakan untuk merujuk pada siapapun yang kepercayaannya bertentangan dengan [[agama]]/kepercayaan yang sudah mapan di lingkungannya. Dengan menyebarnya [[pemikiran bebas]], [[skeptisisme ilmiah]], dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasi untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada tuhan. Orang yang pertama kali mengaku sebagai "ateis" muncul pada abad ke-18. Pada zaman sekarang, sekitar 2,3% populasi dunia mengaku sebagai ateis, manakala 11,9% mengaku sebagai [[nonteisme|nonteis]].<ref name="Britannica demographics"/> Sekitar 65% orang Jepang mengaku sebagai ateis, [[agnostik]], ataupun orang yang tak beragama; dan sekitar 48%-nya di Rusia.<ref name=Zuckerman/> Persentase komunitas tersebut di Uni Eropa berkisar antara 6% (Italia) sampai dengan 85% (Swedia).<ref name=Zuckerman>Zuckerman, Phil. [http://www.adherents.com/largecom/com_atheist.html "Atheism: Contemporary Rates and Patterns"], ''The Cambridge Companion to Atheism'', ed. by Michael Martin, Cambridge University Press: Cambridge, 2005.</ref>
Banyak ateis bersikap skeptis kepada keberadaan fenomena paranormal karena kurangnya bukti empiris. Yang lain memberikan argumen dengan dasar filosofis, sosial, atau sejarah.
 
Pada kebudayaan Barat, ateis seringkali diasumsikan sebagai tak beragama ([[ireligius]]).<ref name=cline-buddhism>{{cite web | last = Cline | first = Austin | title = Buddhism and Atheism | url = http://atheism.about.com/b/a/220595.htm | accessdate = 2006-10-21 | year = 2005 | publisher = [[about.com]]}}</ref> Beberapa aliran [[Agama Buddha]] tidak pernah menyebutkan istilah '[[Tuhan dalam agama Buddha|Tuhan]]' dalam berbagai upacara ritual, namun dalam Agama Buddha konsep ketuhanan yang dimaksud mempergunakan istilah [[Nirwana|Nibbana]].<ref>{{cite web|url=http://www.samaggi-phala.or.id/naskahdamma_dtl.php?id=1003&multi=T&hal=0|title= Ceramah Bhikkhu Uttamo - Ketuhanan dalam agama Buddha|accessdate=2010-08-18|publisher=Samaggi Phala}}</ref> Karenanya agama ini sering disebut agama ateistik.<ref>{{cite book |last=Kedar |first=Nath Tiwari |year=1997 |title=Comparative Religion |publisher=[[Motilal Banarsidass]] |id=ISBN 81-208-0293-4 |pages=hal. 50}}</ref> Walaupun banyak dari yang mendefinisikan dirinya sebagai ateis cenderung kepada filosofi sekuler seperti [[humanisme]],<ref>Honderich, Ted (Ed.) (1995). "Humanism". ''The Oxford Companion to Philosophy''. Oxford University Press. p 376. ISBN 0-19-866132-0.</ref> [[rasionalisme]], dan [[Naturalisme (seni rupa)|naturalisme]],<ref>Fales, Evan. "Naturalism and Physicalism", in {{harvnb|Martin|2007|pp=122–131}}.</ref> tidak ada ideologi atau perilaku spesifik yang dijunjung oleh semua ateis.<ref>{{harvnb|Baggini|2003|pp=3–4}}.</ref>
{{TOClimit|limit=3}}
 
[[Berkas:Ephesians 2,12 - Greek atheos.jpg|thumb|left|Kata Yunani {{lang|grc|αθεοι}} (''atheoi''), seperti yang tampak pada [[Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus]] di papirus abad ke-3.]]
 
Pada zaman [[Yunani Kuno]], kata sifat ''atheos'' (''{{lang|grc|[[:wikt:ἄθεος|ἄθεος]]}}'', berasal dari awalan ἀ- + ''{{lang|grc|[[:wikt:θεός|θεός]]}}'' "tuhan") berarti "tak bertuhan". Kata ini mulai merujuk pada penolakan tuhan yang disengajakan dan aktif pada abad ke-5 SM, dengan definisi "memutuskan hubungan dengan tuhan/dewa" atau "menolak tuhan/dewa". Terjemahan modern pada teks-teks klasik kadang-kadang menerjemahkan {{transl|grc|atheos}} sebagai "ateistik". Sebagai nomina abstrak, terdapat pula ''{{lang|grc|[[:wikt:ἀθεότης|ἀθεότης]]}}'' ({{transl|grc|atheotēs}}), yang berarti "ateisme". [[Cicero]] mentransliterasi kata Yunani tersebut ke dalam [[bahasa Latin]] ''{{lang|la|[[:wikt:atheos#Latin|atheos]]}}''. Istilah ini sering digunakan pada perdebatan antara umat [[Gereja perdana|Kristen awal]] dengan para pengikut agama Yunani Kuno (Helenis), yang mana masing-masing pihak menyebut satu sama lainnya sebagai ateis secara peyoratif.<ref name=drachmann>{{cite book |last=Drachmann |first=A. B. |title=Atheism in Pagan Antiquity |publisher=Chicago: Ares Publishers |year=1977 ("sebuah cetakan ulang yang tidak berubah dari versi tahun 1922") |isbn=0-89005-201-8 |quote = Atheism and atheist are words formed from Greek roots and with Greek derivative endings. Nevertheless they are not Greek; their formation is not consonant with Greek usage. In Greek they said ''{{transl |grc |atheos}}'' and ''{{transl |grc |atheotēs}}''; to these the English words ungodly and ungodliness correspond rather closely. In exactly the same way as ungodly, ''{{transl |grc |atheos}}'' was used as an expression of severe censure and moral condemnation; this use is an old one, and the oldest that can be traced. Not till later do we find it employed to denote a certain philosophical creed. }}</ref>
 
''Ateisme'' pertama kali digunakan untuk merujuk pada "kepercayaan tersendiri" pada akhir abad ke-18 di Eropa, utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis.<ref name="adevism">In part because of its wide use in monotheistic Western society, ''atheism'' is usually described as "disbelief in God", rather than more generally as "disbelief in deities". A clear distinction is rarely drawn in modern writings between these two definitions, but some archaic uses of ''atheism'' encompassed only disbelief in the singular God, not in [[polytheism|polytheistic]] deities. It is on this basis that the obsolete term ''[[adevism]]'' was coined in the late 19th century to describe an absence of belief in plural deities. {{cite journal |author=Britannica |title=Atheonism | journal = [[Encyclopædia Britannica]] | edition = 11th Edition |year=1911}}</ref> Pada abad ke-20, [[globalisasi]] memperluas definisi istilah ini untuk merujuk pada "ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa", walaupun adalah masih umum untuk merujuk ateisme sebagai "ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)".<ref name="martin">Martin, Michael. ''[http://books.google.com/books?vid=ISBN0521842700 The Cambridge Companion to Atheism]''. Cambridge University Press. 2006. ISBN 0-521-84270-0.</ref> Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ''ateisme'' sebagai "ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi", daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas.<ref name="martin"/><ref>{{cite web |last=Cline |first=Austin |title=What Is the Definition of Atheism? |url=http://atheism.about.com/od/definitionofatheism/a/definition.htm |accessdate=2006-10-21 | year
= 2006 |publisher=[[about.com]]}}</ref><ref>{{cite book |last=Flew |first=Antony |authorlink = Antony Flew |title=God, Freedom, and Immortality: A Critical Analysis |publisher=Buffalo, NY: Prometheus |year=1984 |isbn=0-87975-127-4}}</ref>
<!-- Ateisme bukanlah percaya bahwa Tuhan tidak ada melainkan tidak percaya bahwa Tuhan ada. Dengan kata lain, ateisme bukan merupakan kepercayaan atau keyakinan melainkan sistem ketidakpercayaan atau ketidakyakinan. Ateisme bukan merupakan suatu agama, tidak memiliki ajaran resmi selayaknya agama pada umumnya. Ateisme juga bukan sebuah pemikiran anti-agama dan anti-tuhan namun sering kali dikacaukan dengan [[Antiteisme]] yang merupakan suatu pemikiran anti-agama atau anti-tuhan. Ateisme bukanlah agama karena tidak punya ajaran tertentu, tidak punya kitab suci tertentu, dan tidak juga menyembah apa pun.
 
Definisi ateisme juga bervariasi dalam halnya sejauh mana seseorang harus mengambil posisi mengenai gagasan keberadaan tuhan untuk dianggap sebagai ateis. Ateisme kadang-kadang didefinisikan secara luas untuk meliputi ketiadaan kepercayaan akan keberadaan tuhan/dewa. Definisi yang luas ini akan memasukkan orang-orang yang tidak memiliki konsep teisme sebagai ateis.
 
Pada tahun 1772, [[Baron d'Holbach]] mengatakan bahwa "Semua anak-anak dilahirkan sebagai ateis, karena mereka tidak tahu akan Tuhan."<ref>{{cite book |last=d'Holbach |first=P. H. T. |authorlink = Baron d'Holbach |title=Good Sense |url=http://www.gutenberg.org/etext/7319 |accessdate=27-10-2006 |year=1772}}</ref> [[George H. Smith]] (1979) juga menyugestikan bahwa: "Orang yang tidak kenal dengan teisme adalah ateis karena ia tidak percaya pada tuhan. Kategori ini juga akan memasukkan anak dengan kapasitas konseptual untuk mengerti isu-isu yang terlibat, tapi masih tidak sadar akan isu-isu tersebut (''sebagai ateis''). Fakta bahwa anak ini tidak percaya pada tuhan membuatnya pantas disebut ateis."<ref>{{harvnb|Smith|1979|p=14}}.</ref> Smith menciptakan istilah ''ateisme implisit'' untuk merujuk pada "ketiadaan kepercayaan teistik tanpa penolakan yang secara sadar dilakukan" dan ''ateisme eksplisit'' untuk merujuk pada definisi ketidakpercayaan yang dilakukan secara sadar.
 
Dalam kebudayaan Barat, pandangan bahwa anak-anak dilahirkan sebagai ateis merupakan pemikiran yang baru. Sebelum abad ke-18, keberadaan Tuhan diterima secara sangat luas sedemikiannya keberadaan ateisme yang benar-benar tidak percaya akan Tuhan itu dipertanyakan keberadaannya. Hal ini disebut ''theistic innatism'' (pembawaan lahir teistik), yakni suatu nosi bahwa semua orang percaya pada Tuhan dari lahir. Pandangan ini memiliki konotasi bahwa para ateis hanyalah menyangkal diri sendiri.<ref>{{cite book |last=Cudworth |first=Ralph |authorlink = Ralph Cudworth |title=The True Intellectual System of the Universe: the first part, wherein all the reason and philosophy of atheism is confuted and its impossibility demonstrated |year=1678}}</ref> Terdapat pula sebuah posisi yang mengklaim bahwa ateis akan dengan cepat percaya pada Tuhan pada saat krisis, bahwa ateis percaya pada tuhan pada saat [[Kematian|meninggal dunia]], ataupun bahwa "tidak ada ateis dalam lubang perlindungan perang (''no atheists in foxholes'')."<ref>Lihat : {{cite web|url=http://www.lds-mormon.com/atheist.shtml|title=Atheists call for church head to retract slur|date=1996-09-03|accessdate=2008-07-02}}</ref> Beberapa pendukung pandangan ini mengklaim bahwa keuntungan antropologis agama membuat manusia dapat mengatasi keadaan susah lebih baik.<!--(cf.[[opium of the people]] Karl Marx, Contribution to the Critique
of Hegel's Philosophy of Right, Deutsch-Französische Jahrbücher
February, 1844)--> Beberapa ateis menitikberatkan fakta bahwa terdapat banyak contoh yang membuktikan sebaliknya, di antaranya contoh-contoh "ateis yang benar-benar berada di lubang perlindungan perang."<ref>{{cite web |last=Lowder |first=Jeffery Jay |year=1997 |title=Atheism and Society |url=http://www.infidels.org/library/modern/jeff_lowder/society.html |accessdate=10-01-2007 }}.</ref>
Para filsuf seperti [[Antony Flew]],<ref name="presumption">Flew, Antony. "The Presumption of Atheism". ''The Presumption of Atheism and other Philosophical Essays on God, Freedom, and Immortality''. New York: Barnes and Noble, 1976. pp 14ff.</ref> [[Michael Martin (filsuf)|Michael Martin]],<ref name="martin"/> dan [[William L. Rowe]]<ref name="RoweRoutledge">Rowe, William L. "Atheism". ''Routledge Encyclopedia of Philosophy''. Edward Craig (editor). Routledge: Juni 1998. ISBN 0-415-18706-0. 530-534.</ref> membedakan antara ateisme kuat (positif) dengan ateisme lemah (negatif). Ateisme kuat adalah penegasan bahwa tuhan tidak ada, sedangkan ateisme lemah meliputi seluruh bentuk ajaran nonteisme lainnya. Menurut kategorisasi ini, siapapun yang bukan teis dapatlah ateis yang lemah ataupun kuat.<ref>{{cite web |last=Cline |first=Austin |title=Strong Atheism vs. Weak Atheism: What's the Difference? |url=http://atheism.about.com/od/atheismquestions/a/strong_weak.htm |accessdate=2006-10-21 |year=2006 |publisher=[[about.com]]}}</ref> Istilah ''lemah'' dan ''kuat'' ini merupakan istilah baru; namun istilah yang setara seperti ateisme ''negatif'' dan ''positif'' telah digunakan dalam berbagai literatur-literatur filosofi<ref name="presumption"/> dan apologetika Katolik (dalam artian yang sedikit berbeda).<ref>{{cite journal |url=http://www.nd.edu/Departments/Maritain/jm3303.htm |title=On the Meaning of Contemporary Atheism |journal=The Review of Politics |first=Jacques |last=Maritain |year=1949 |month=Juli |volume=11 |issue=3 |pages=267–280}}</ref> Menggunakan batasan ateisme ini, kebanyakan [[agnostisisme|agnostik]] adalah ateis lemah.
 
Manakala [[Michael Martin (filsuf)|Martin]], menegaskan bahwa [[agnostisisme]] memiliki bawaan ateisme lemah,<ref name="martin"/> kebanyakan agnostik memandang pandangan mereka berbeda dari ateisme, yang mereka liat ateisme sama saja tidak benarnya dengan teisme.<ref>{{cite book |first=Anthony |last=Kenny |authorlink=Anthony Kenny |title=What I believe |chapter=Why I Am Not an Atheist |publisher=Continuum |isbn=0-8264-8971-0 |quote=The true default position is neither theism nor atheism, but agnosticism … a claim to knowledge needs to be substantiated; ignorance need only be confessed. |year=2006}}</ref> Ketidaktercapaian pengetahuan yang diperlukan untuk membuktikan atau membantah keberadaan tuhan/dewa kadang-kadang dilihat sebagai indikasi bahwa ateisme memerlukan sebuah lompatan [[Keyakinan dan kepercayaan|kepercayaan]]. Respon ateis terhadap argumen ini adalah bahwa dalil-dalil [[agama|keagamaan]] yang tak terbukti seharusnyalah pantas mendapatkan ketidakpercayaan yang sama sebagaimana ketidakpercayaan pada dalil-dalil tak terbukti ''lainnya'',<ref>{{harvnb|Baggini|2003|pp=30–34}}. "Who seriously claims we should say 'I neither believe nor disbelieve that the Pope is a robot', or 'As to whether or not eating this piece of chocolate will turn me into an elephant I am completely agnostic'. In the absence of any good reasons to believe these outlandish claims, we rightly disbelieve them, we don't just suspend judgement."</ref> dan bahwa ketidakterbuktian keberadaan tuhan tidak mengimplikasikan bahwa probabilitas keberadaan tuhan sama dengan probabilitas ketiadaan tuhan.<ref>{{harvnb|Baggini|2003|p=22}}. "A lack of proof is no grounds for the suspension of belief. This is because when we have a lack of absolute proof we can still have overwhelming evidence or one explanation which is far superior to the alternatives."</ref> Filsuf Skotlandia [[J. J. C. Smart]] bahkan berargumen bahwa "kadang-kadang seseorang yang benar-benar ateis dapat menyebut dirinya sebagai seorang agnostik karena generalisasi [[skeptisisme filosofis]] tak beralasan yang akan menghalangi kita dari berkata kita tahu apapun, kecuali mungkin kebenaran matematika dan logika formal."<ref name="stanford">{{cite web |url=http://plato.stanford.edu/entries/atheism-agnosticism/ |title=Atheism and Agnosticism |first=J.C.C. |last=Smart |date=2004-03-09 |publisher=Stanford Encyclopedia of Philosophy |accessdate=2007-04-12}}</ref> Karenanya, beberapa penulis ateis populer seperti [[Richard Dawkins]] memilih untuk membedakan posisi teis, agnostik, dan ateis sebagai spektrum probabilitas terhadap pernyataan "Tuhan ada" (''spektrum probabilitas teistik'').<ref>Cudworth, Ralph. The true intellectual system of the universe. 1678. Dawkins, Richard. The God Delusion. Bantam Books: 2006, hal. 50. (ISBN 0-618-68000-4)</ref>
 
== Dasar pemikiran ==
|doi =
|id=
|isbn= |format=PDF}}</ref>
 
Sebuah surat yang dipublikasi di ''[[Nature]]'' pada tahun 1998 melaporkan sebuah survei bahwa kepercayaan pada tuhan personal ataupun kehidupan setelah mati berada dalam posisi terendah di antara para anggota [[Akademi Sains Nasional Amerika Serikat]], hanya 7,0% anggota yang percaya pada tuhan personal, dibandingkan dengan lebih dari 85% masyarakat AS secara umumnya.<ref>{{cite journal |title=Correspondence: Leading scientists still reject God |last=Larson |first=Edward J. |coauthors=Larry Witham |year=1998 |journal=Nature |volume=394 |issue= 6691 |pages=313 |doi=10.1038/28478}} Available at [http://www.stephenjaygould.org/ctrl/news/file002.html StephenJayGould.org], Stephen Jay Gould archive. Diakses pada [[17 Desember]] [[2006]].</ref> Pada tahun yang sama pula, [[Frank Sulloway]] dari [[Institut Teknologi Massachusetts]] dan [[Michael Shermer]] dari [[California State University]] melakukan sebuah kajian yang menemukan bahwa pada sampel survei mereka yang terdiri dari orang dewasa AS yang "dipercayai" (12% Ph.D dan 62% lulusan perguruan tinggi), 64%-nya percaya pada Tuhan, dan terdapat sebuah [[korelasi]] yang mengindikasikan menurunnya tingkat kepercayaan seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan.<ref>{{cite book
== Ateisme, agama, dan moralitas ==
[[Berkas:Lightmatter buddha3.jpg|thumb|left|Karena [[Tuhan dalam agama Buddha|ketiadaan]] [[Tuhan]] pencipta, [[Agama Buddha]] umumnya dideskripsikan sebagai nonteis.]]
Walaupun orang yang mengaku sebagai ateis biasanya diasumsikan tak beragama, beberapa sekte agama tertentu pula ada yang menolak keberadaan dewa pencipta yang personal.<ref name="winston2">{{cite book |last=Winston |first=Robert (Ed.) |title=Human |publisher=New York: DK Publishing, Inc |year=2004 |isbn=0-7566-1901-7 |pages=hal. 299 |quote=Nonbelief has existed for centuries. For example, Buddhism and Jainism have been called atheistic religions because they do not advocate belief in gods.}}</ref> Pada akhir-akhir ini, aliran-aliran keagamaan tertentu juga telah menarik banyak penganut yang secara terbuka ateis, seperti misalnya Yahudi ateis atau Yahudi humanis<ref>{{cite web |url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/judaism/subdivisions/humanistic.shtml |title=Humanistic Judaism |date=2006-07-20 |accessdate=2006-10-25 |publisher=[[BBC]]}}</ref><ref>{{cite journal |last=Levin |first=S. |year=1995 | month = May |title=Jewish Atheism | journal = New Humanist | volume = 110 | issue = 2 |pages=13–15}}</ref> dan Kristen ateis.<ref>{{cite web |url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/atheism/types/christianatheism.shtml |title=Christian Atheism |date=2006-05-17 |accessdate=2006-10-25 |publisher=[[BBC]]}}</ref><ref>{{cite book |last=Altizer |first=Thomas J. J. |authorlink = Thomas J. J. Altizer |title=The Gospel of Christian Atheism |url=http://www.religion-online.org/showbook.asp?title=523 |accessdate=2006-10-27 |year=1967 |publisher=London: Collins |pages=102–103}}</ref><ref>{{cite journal |last=Lyas |first=Colin |year=1970 | month = January |title=On the Coherence of Christian Atheism | journal = Philosophy: the Journal of the Royal Institute of Philosophy | volume = 45 | issue = 171 |pages=1–19}}</ref>
 
Dikarenakan artian paling kaku ateisme positif tidak memerlukan kepercayaan spesifik apapun di luar ketidakpercayaan pada dewa/tuhan, ateis dapat memiliki kepercayaan spiritual apapun. Untuk alasan yang sama pula, para ateis dapat berpegang pada berbagai kepercayaan etis, mulai dari [[universalisme moral]] [[humanisme]], yang berpandangan bahwa nilai-nilai moral haruslah diterapkan secara konsisten kepada seluruh manusia, sampai dengan [[nihilisme moral]], yang berpendapat bahwa moralitas adalah hal yang tak berarti.<ref>{{harvnb|Smith|1979|pp=21-22}}.</ref>
2.121.570

suntingan