Ksatrian Instituut: Perbedaan antara revisi

27 bita dihapus ,  6 tahun yang lalu
k
→‎Sejarah: minor cosmetic change
k (penambahan url)
k (→‎Sejarah: minor cosmetic change)
 
E.F.E. Douwes Dekker, bekas pemimpin ''[[Indische Partij]]'', setelah pulang dari pengasingan di Belanda tahun [[1922]] kemudian berusaha untuk melamar sebagai guru pada sekolah rendah partikelir pimpinan Ny. H.E. Mayer-Elenbaas di Jln. Kebon Kelapa No. 17, Bandung. Hal tersebut dilaporkan oleh Residen Priangan kepada Gubernur Jenderal saat itu, Mr. Dr. [[Dirk Fock]], dimana salah satu keberatannya ialah karena suami Ny. Mayer tercatat seorang komunis. Namun Gubernur Jenderal mengatakan bahwa "lebih baik kepada orang-orang yang sedang gelisah seperti Douwes Dekker diberi kesempatan kerja tetap bagi penghidupannya daripada ia, karena dihalangi kesempatannya, akan lebih condong untuk rakyat".<ref>Surat Gubernur Jenderal tertanggal 15 Januari 1923 no. 3 A x Geheim, ''dalam'' {{cite book
| last = Poesponegoro
| first = Marwati Djoened
| coauthors = Nugroho Notosusanto
| title = Sejarah Nasional Indonesia V
| publisher = [[Balai Pustaka]]
| date = 2008
| pages = hlm. 288
| month =
| isbn = 979-407-411-X }}
</ref> Douwes Dekker kemudian mulai mengajar di sana sejak September 1922.
 
Tahun 1923, nama sekolah berubah menjadi ''Preanger Instituut van de Vereeniging Volksonderwijs'' (Institut Priangan dari Perkumpulan Pengajaran Rakyat), dan Douwes Dekker menjabat sebagai kepala untuk [[MULO]]<ref name=Poes>{{cite book
| last = Poesponegoro
| first = Marwati Djoened
| coauthors = Nugroho Notosusanto
| title = Sejarah Nasional Indonesia V
| publisher = [[Balai Pustaka]]
| date = 2008
| pages = hlm. 288
| month =
| isbn = 979-407-411-X }}</ref> (setingkat SMP). Sejak November 1924, lembaga pendidikan tersebut diubahnya menjadi sebuah yayasan yang bernama ''Ksatrian Instituut'', yang kadang-kadang juga disebut ''Ksatrian School''. Selain di Bandung, sekolah rendah Ksatrian Instituut juga dibuka di [[Ciwidey]] dan [[Cianjur]], dan terbuka bagi orang-orang pribumi Indonesia serta keturunan Tionghoa dan Indo. Pada tahun [[1932]], Ksatrian Instituut mendirikan ''Moderne Middelbare Handels School'' (Sekolah Menengah Dagang Moderen), yaitu suatu sekolah pendidikan menengah.<ref name=Poes/>
 
Ksatrian Instituut juga menerbitkan majalah murid dan orang tua, ''De Ksatria'',<ref>''De Ksatria'', "Maanblad van de leeringen van alle Ksatrian Scholen en hun Ouders". Redaktur: R.M. Hoedojo Hoeksamadiman. Oplag 2.000 eksemplar, ''dalam'' {{cite book
| last = Poesponegoro
| first = Marwati Djoened
| coauthors = Nugroho Notosusanto
| title = Sejarah Nasional Indonesia V
| publisher = [[Balai Pustaka]]
| date = 2008
| pages = hlm. 288
| month =
| isbn = 979-407-411-X }}</ref> yang berisi berita sekolah, alat penghubung antar murid, dan berita nasional dan internasional penting lainnya.
 
Douwes Dekker yang berencana untuk mengirimkan para tamatan Ksatrian Instituut ke [[Jepang]], pada Januari [[1941]] ditangkap di [[Ngawi]], [[Jawa Timur]], oleh pemerintah Hindia Belanda yang menuduhnya sebagai mata-mata. Sejak saat itu Douwes Dekker tidak lagi dapat terlibat aktif mengelola Ksatrian Instituut, karena mengalami hukuman penjara dan pengasingan yang berpindah-pindah, yaitu di Suriname, Belanda, [[Yogyakarta]], dan [[Prapat]], sehingga meninggalnya pada tahun [[1950]].<ref>{{Citation
3.401.587

suntingan