Buka menu utama

Perubahan

5 bita dihapus ,  3 tahun yang lalu
k
minor cosmetic change
 
''Ateisme'' pertama kali digunakan untuk merujuk pada "kepercayaan tersendiri" pada akhir abad ke-18 di Eropa, utamanya merujuk pada ketidakpercayaan pada Tuhan monoteis.<ref name="adevism">In part because of its wide use in monotheistic Western society, ''atheism'' is usually described as "disbelief in God", rather than more generally as "disbelief in deities". A clear distinction is rarely drawn in modern writings between these two definitions, but some archaic uses of ''atheism'' encompassed only disbelief in the singular God, not in [[polytheism|polytheistic]] deities. It is on this basis that the obsolete term ''[[adevism]]'' was coined in the late 19th century to describe an absence of belief in plural deities. {{cite journal |author=Britannica |title=Atheonism | journal = [[Encyclopædia Britannica]] | edition = 11th Edition |year=1911}}</ref> Pada abad ke-20, [[globalisasi]] memperluas definisi istilah ini untuk merujuk pada "ketidakpercayaan pada semua tuhan/dewa", walaupun adalah masih umum untuk merujuk ateisme sebagai "ketidakpercayaan pada Tuhan (monoteis)".<ref name="martin">Martin, Michael. ''[http://books.google.com/books?vid=ISBN0521842700 The Cambridge Companion to Atheism]''. Cambridge University Press. 2006. ISBN 0-521-84270-0.</ref> Akhir-akhir ini, terdapat suatu desakan di dalam kelompok filosofi tertentu untuk mendefinisikan ulang ''ateisme'' sebagai "ketiadaan kepercayaan pada dewa/dewi", daripada ateisme sebagai kepercayaan itu sendiri. Definisi ini sangat populer di antara komunitas ateis, walaupun penggunaannya masih sangat terbatas.<ref name="martin"/><ref>{{cite web |last=Cline |first=Austin |title=What Is the Definition of Atheism? |url=http://atheism.about.com/od/definitionofatheism/a/definition.htm |accessdate=2006-10-21 | year
= 2006 |publisher=[[about.com]]}}</ref><ref>{{cite book |last=Flew |first=Antony | authorlink = Antony Flew |title=God, Freedom, and Immortality: A Critical Analysis |publisher=Buffalo, NY: Prometheus |year=1984 |isbn=0-87975-127-4}}</ref>
<!-- Ateisme bukanlah percaya bahwa Tuhan tidak ada melainkan tidak percaya bahwa Tuhan ada. Dengan kata lain, ateisme bukan merupakan kepercayaan atau keyakinan melainkan sistem ketidakpercayaan atau ketidakyakinan. Ateisme bukan merupakan suatu agama, tidak memiliki ajaran resmi selayaknya agama pada umumnya. Ateisme juga bukan sebuah pemikiran anti-agama dan anti-tuhan namun sering kali dikacaukan dengan [[Antiteisme]] yang merupakan suatu pemikiran anti-agama atau anti-tuhan. Ateisme bukanlah agama karena tidak punya ajaran tertentu, tidak punya kitab suci tertentu, dan tidak juga menyembah apa pun.
 
Definisi ateisme juga bervariasi dalam halnya sejauh mana seseorang harus mengambil posisi mengenai gagasan keberadaan tuhan untuk dianggap sebagai ateis. Ateisme kadang-kadang didefinisikan secara luas untuk meliputi ketiadaan kepercayaan akan keberadaan tuhan/dewa. Definisi yang luas ini akan memasukkan orang-orang yang tidak memiliki konsep teisme sebagai ateis.
 
Pada tahun 1772, [[Baron d'Holbach]] mengatakan bahwa "Semua anak-anak dilahirkan sebagai ateis, karena mereka tidak tahu akan Tuhan."<ref>{{cite book |last=d'Holbach |first=P. H. T. | authorlink = Baron d'Holbach |title=Good Sense |url=http://www.gutenberg.org/etext/7319 |accessdate=27-10-2006 |year=1772}}</ref> [[George H. Smith]] (1979) juga menyugestikan bahwa: "Orang yang tidak kenal dengan teisme adalah ateis karena ia tidak percaya pada tuhan. Kategori ini juga akan memasukkan anak dengan kapasitas konseptual untuk mengerti isu-isu yang terlibat, tapi masih tidak sadar akan isu-isu tersebut (''sebagai ateis''). Fakta bahwa anak ini tidak percaya pada tuhan membuatnya pantas disebut ateis."<ref>{{harvnb|Smith|1979|p=14}}.</ref> Smith menciptakan istilah ''ateisme implisit'' untuk merujuk pada "ketiadaan kepercayaan teistik tanpa penolakan yang secara sadar dilakukan" dan ''ateisme eksplisit'' untuk merujuk pada definisi ketidakpercayaan yang dilakukan secara sadar.
 
Dalam kebudayaan Barat, pandangan bahwa anak-anak dilahirkan sebagai ateis merupakan pemikiran yang baru. Sebelum abad ke-18, keberadaan Tuhan diterima secara sangat luas sedemikiannya keberadaan ateisme yang benar-benar tidak percaya akan Tuhan itu dipertanyakan keberadaannya. Hal ini disebut ''theistic innatism'' (pembawaan lahir teistik), yakni suatu nosi bahwa semua orang percaya pada Tuhan dari lahir. Pandangan ini memiliki konotasi bahwa para ateis hanyalah menyangkal diri sendiri.<ref>{{cite book |last=Cudworth |first=Ralph | authorlink = Ralph Cudworth |title=The True Intellectual System of the Universe: the first part, wherein all the reason and philosophy of atheism is confuted and its impossibility demonstrated |year=1678}}</ref> Terdapat pula sebuah posisi yang mengklaim bahwa ateis akan dengan cepat percaya pada Tuhan pada saat krisis, bahwa ateis percaya pada tuhan pada saat [[Kematian|meninggal dunia]], ataupun bahwa "tidak ada ateis dalam lubang perlindungan perang (''no atheists in foxholes'')."<ref>Lihat : {{cite web|url=http://www.lds-mormon.com/atheist.shtml|title=Atheists call for church head to retract slur|date=1996-09-03|accessdate=2008-07-02}}</ref> Beberapa pendukung pandangan ini mengklaim bahwa keuntungan antropologis agama membuat manusia dapat mengatasi keadaan susah lebih baik.<!--(cf.[[opium of the people]] Karl Marx, Contribution to the Critique
of Hegel's Philosophy of Right, Deutsch-Französische Jahrbücher
February, 1844)--> Beberapa ateis menitikberatkan fakta bahwa terdapat banyak contoh yang membuktikan sebaliknya, di antaranya contoh-contoh "ateis yang benar-benar berada di lubang perlindungan perang."<ref>{{cite web |last=Lowder |first=Jeffery Jay |year=1997 |title=Atheism and Society |url=http://www.infidels.org/library/modern/jeff_lowder/society.html |accessdate=10-01-2007 }}.</ref>
== Ateisme, agama, dan moralitas ==
[[Berkas:Lightmatter buddha3.jpg|thumb|left|Karena [[Tuhan dalam agama Buddha|ketiadaan]] [[Tuhan]] pencipta, [[Agama Buddha]] umumnya dideskripsikan sebagai nonteis.]]
Walaupun orang yang mengaku sebagai ateis biasanya diasumsikan tak beragama, beberapa sekte agama tertentu pula ada yang menolak keberadaan dewa pencipta yang personal.<ref name="winston2">{{cite book |last=Winston |first=Robert (Ed.) |title=Human |publisher=New York: DK Publishing, Inc |year=2004 |isbn=0-7566-1901-7 |pages=hal. 299 | quote=Nonbelief has existed for centuries. For example, Buddhism and Jainism have been called atheistic religions because they do not advocate belief in gods.}}</ref> Pada akhir-akhir ini, aliran-aliran keagamaan tertentu juga telah menarik banyak penganut yang secara terbuka ateis, seperti misalnya Yahudi ateis atau Yahudi humanis<ref>{{cite web |url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/judaism/subdivisions/humanistic.shtml |title=Humanistic Judaism |date=2006-07-20 |accessdate=2006-10-25 |publisher=[[BBC]]}}</ref><ref>{{cite journal |last=Levin |first=S. |year=1995 | month = May |title=Jewish Atheism | journal = New Humanist | volume = 110 | issue = 2 |pages=13–15}}</ref> dan Kristen ateis.<ref>{{cite web |url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/atheism/types/christianatheism.shtml |title=Christian Atheism |date=2006-05-17 |accessdate=2006-10-25 |publisher=[[BBC]]}}</ref><ref>{{cite book |last=Altizer |first=Thomas J. J. | authorlink = Thomas J. J. Altizer |title=The Gospel of Christian Atheism |url=http://www.religion-online.org/showbook.asp?title=523 |accessdate=2006-10-27 |year=1967 |publisher=London: Collins |pages=102–103}}</ref><ref>{{cite journal |last=Lyas |first=Colin |year=1970 | month = January |title=On the Coherence of Christian Atheism | journal = Philosophy: the Journal of the Royal Institute of Philosophy | volume = 45 | issue = 171 |pages=1–19}}</ref>
 
Dikarenakan artian paling kaku ateisme positif tidak memerlukan kepercayaan spesifik apapun di luar ketidakpercayaan pada dewa/tuhan, ateis dapat memiliki kepercayaan spiritual apapun. Untuk alasan yang sama pula, para ateis dapat berpegang pada berbagai kepercayaan etis, mulai dari [[universalisme moral]] [[humanisme]], yang berpandangan bahwa nilai-nilai moral haruslah diterapkan secara konsisten kepada seluruh manusia, sampai dengan [[nihilisme moral]], yang berpendapat bahwa moralitas adalah hal yang tak berarti.<ref>{{harvnb|Smith|1979|pp=21-22}}.</ref>
2.121.570

suntingan