Buka menu utama

Perubahan

6 bita ditambahkan, 3 tahun yang lalu
k
Robot: Perubahan kosmetika
{{ethnic group|
|group=Suku Dayak Ngaju
|image=[[FileBerkas:Dayak_Ngaju_Warrior_by_W.T._Gordon_1857.jpg|thumb|250px|Profil Dayak Ngaju 1857]]
|poptime=kurang lebih '''400.000'''.
|popplace=[[Kalimantan Tengah]]: '''324.504'''.<ref>Sumber: Badan Pusat Statistik - Sensus Penduduk Tahun 2000</ref>
'''Suku Dayak Ngaju (Biaju)''' adalah suku asli di [[Kalimantan Tengah]]. Suku Ngaju secara administratif merupakan suku baru yang muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 18,02% dari penduduk Kalimantan Tengah, sebelumnya suku Ngaju tergabung ke dalam suku Dayak dalam sensus 1930.<ref>[http://books.google.co.id/books?id=oLVTKSefAtIC&lpg=PA173&dq=suku%20sampit&pg=PA174#v=onepage&q=suku%20sampit&f=true {{id}} Riwanto Tirtosudarmo, Mencari Indonesia: demografi-politik pasca-Soeharto, Yayasan Obor Indonesia, 2007, ISBN 979-799-083-4, 9789797990831]</ref>
 
== Etimologis ==
Ngaju berarti udik.<ref><span style="font-size:11.0pt;line-height:
115%;font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;mso-ansi-language:#0021;mso-fareast-language:
IN;mso-bidi-language:AR-SA" lang="id">Nila Riwut. 2003 Tjilik Riwut. [[Manaser Panatau Tatu Hiang]].</span></ref> Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan.
 
Orang Dayak Ngaju yang kita kenal sekarang, dalam literatur-literatur pada masa-masa awal disebut dengan Biaju. Terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras 1968: 336). Menurut [[Hikayat Banjar]], [[Sungai Kahayan]] dan Kapuas sekarang ini disebut dengan nama sungai Biaju yaitu Batang Biaju Basar, dan Batang Biaju Kecil. Orang yang mendiaminya disebut Orang Biaju Basar dan Orang Biaju Kacil. Sedangkan sungai Murong (Kapuas-Murong) sekarang ini disebut dengan nama Batang Petak (lihat Ras 1968: 314). Pulau Petak yang merupakan tempat tinggal orang Ngaju disebut Biaju (Ras 1968: 408, 449).<ref>[http://markomahin.blogspot.com/2013/03/biaju-ngaju-dan-dayak-ngaju-orang-dayak.html Biaju, Ngaju dan Dayak Ngaju], Marko Mahin</ref>
 
Terminologi Biaju tidaklah berasal dari orang Dayak Ngaju tetapi berasal dari bahasa orang Bakumpai yang secara ontologis merupakan bentuk kolokial dari '''bi''' dan '''aju''' yang artinya ”dari hulu” atau ”dari udik”. Karena itu, di wilayah aliran sungai Barito, dimana banyak orang Bakumpai, orang Dayak Ngaju
disebut dengan Biaju (lihat Schärer 1963: 1), yang artinya orang yang berdiam di dan dari bagian hulu sungai (Riwut 1958: 208). Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Melayu Banjar untuk menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. Istilah ini kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt 1880, Beckman 1718).<ref>[http://markomahin.blogspot.com/2013/03/biaju-ngaju-dan-dayak-ngaju-orang-dayak.html Biaju, Ngaju dan Dayak Ngaju], Marko Mahin</ref>
 
Menurut '''Afdeeling Dajaklandeen''' (Afdeling Tanah-tanah Dayak 1898-1902)<ref>{{en}} (2009){{cite web|url=http://www.indonesianhistory.info/map/borneo1902.html?zoomview=1|title=Administrative divisions in Dutch Borneo, 1902|publisher=Robert Cribb|date= |work= Digital Atlas of Indonesian History|accessdate=1 August 2011}}</ref><ref>{{en}} (2007){{cite web|url=http://www.indonesianhistory.info/map/borneosubdist1902.html?zoomview=1|title=Administrative divisions in Dutch and British Borneo, 1902|publisher=Robert Cribb|date= |work= Digital Atlas of Indonesian History|accessdate=1 August 2011}}</ref> atau '''Tanah Biaju''' (sebelum 1826) adalah bekas sebuah afdeling dalam Karesidenan Selatan dan Timur Borneo yang ditetapkan dalam Staatblad tahun 1898 no.178.
Pada tahun 1855, daerah ini dinamakan ''De afdeeling groote en kleine Dayak''.<ref>{{nl}} {{cite book|pages=241 |url=http://books.google.co.id/books?id=0GM-AAAAcAAJ&dq=tanah-koessan&pg=PA241#v=onepage&q&f=false |title=Bydragen tot de kennis van verschillende overzeesche landen, volken, enz|volume=1|author=J. B. J Van Doren|publisher=J. D. Sybrandi|year=1860}}</ref><ref>[http://www.indonesianhistory.info/map/borneo1879.html Administrative sub-divisions in Dutch Borneo, ca 1879 ]</ref>
Sesuai Staatblad tahun 1898 no. 178 bahwa Afdeeling Dajaklandeen, dengan ibukota Kwala Kapoeas (Kuala Kapuas) terdiri ditrik-distrik :
* [[Groote Dajak (Dayak Besar) terbagi lagi dalam onderdistrik-onderdistrik :]]
** [[Boven Kapoeas (Kapuas Hulu)]]
 
== Rumpun Suku Dayak Ngaju ==
[[FileBerkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van een getatoeëerde Ot Danum Dajak man uit het Kahajan gebied van Midden-Borneo. TMnr 60046429.jpg|thumb|200px|right|Oloh Ngaju-OtDanum bertutang dari daerah Kahayan 1898]]
Berdasarkan daerah aliran sungai, Biaju terbagi menjadi:
* [[Batang Biaju Besar]] - Sungai Biaju besar
 
Berdasarkan rumpun bahasa, suku Dayak Ngaju (Biaju) terbagi menjadi<ref>{{en}} [http://epress.anu.edu.au/austronesians/austronesians/mobile_devices/ch04.html Chapter 4. Borneo as a Cross-Roads for Comparative Austronesian Linguistics]</ref>
* [[Suku Dayak Ngaju]] (Ngaju Kapuas)
* [[Suku Dayak Kahayan]] (Ngaju Kahayan)
* [[Suku Dayak Katingan]] (Ngaju Katingan)
* [[Suku Dayak Mendawai]] (Kalimantan Tengah)
* [[Suku Dayak Bakumpai]] (Kalimantan Selatan)
* [[Suku Dayak Mengkatip]] (Kalimantan Tengah)
* [[Suku Dayak Berangas]] (Kalimantan Selatan), tahun 2010 dinyatakan punah beserta bahasanya karena melebur ke dalam ''mainstream'' [[suku Banjar|orang Banjar Kuala]]
Tentang leluhur asal usul Dayak Ngaju dapat ditelusuri dari tulisan-tulisan sejarah tentang orang Dayak Ngaju. Dalam sejarahnya leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian Selatan, tepatnya di Cina Barat Laut berbatasan dengan Vietnam sekarang. Mereka bermigrasi secara besar-besaran dari daratan Asia (Provinsi Yunan, Cina Selatan) sekitar 3000-1500 SM.
 
Menurut Tetek Tatum leluhur orang Dayak Ngaju merupakan ciptaan langsung Ranying Hatalla Langit, yang ditugaskan untuk menjaga bumi dan isinya agar tidak rusak. Dan Leluhur Dayak Ngaju diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan Palangka Bulau (Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yang suci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan Ancak atau Kalangkang) diturunkan dari langit ke dalam dunia ini di empat tempat berturut-turut melalui Palangka Bulau, yaitu:<ref>Nila Riwut. 2003 Tjilik Riwut. Manaser Panatau Tatu Hiang.</ref>
# '''[[Tantan Puruk Pamatuan]]''' di perhuluan [[Sungai Kahayan]] dan [[sungai Barito]], [[Kalimantan Tengah]], maka inilah seorang manusia yang pertama yang menjadi datuknya orang-[[orang Dayak]] yang diturunkan di '''Tantan Puruk Pamatuan''', yang diberi nama oleh '''Ranying''' (Tuhan YME) : '''Antang Bajela Bulau''' atau '''Tunggul Garing Janjahunan Laut'''. Dari Antang Bajela Bulau maka terciptalah dua orang laki-laki yang gagah perkasa yang menteng ureh mamut bernama '''Lambung''' atau '''Maharaja Bunu''' dan '''Lanting''' atau '''Maharaja Sangen'''.
# '''[[Tantan Liang Mangan Puruk Kaminting]]''' (Bukit Kaminting), [[Kalimantan Tengah]] oleh '''Ranying''' (Tuhan YME) terciptalah seorang yang maha sakti, bernama '''Kerangkang Amban Penyang''' atau '''Maharaja Sangiang'''.
 
==Kepercayaan & Kebudayaan<ref><span class="reference-text"><span style="font-size:11.0pt;line-height: 115%;font-family:&quot;Calibri&quot;,&quot;sans-serif&quot;;mso-fareast-font-family:&quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-theme-font:minor-fareast;mso-ansi-language:#0021;mso-fareast-language: IN;mso-bidi-language:AR-SA" lang="id">Nila Riwut. 2003 Tjilik Riwut. Manaser Panatau Tatu </span></span>Hiang.</ref>==
'''Kaharingan''' adalah [[kepercayaan]] tradisional [[suku Dayak]] di [[Kalimantan Tengah]], ketika agama lain belum memasuki Kalimantan.<ref name="Politik dan postkolonialitas di Indonesia">{{en}}{{cite book|first=A. Budi| last=Susanto | coauthors= | title=''[http://books.google.co.id/books?id=hl-5ZE620VIC&lpg=PA264&dq=kayu%20tangi&pg=PA262#v=onepage&q=kayu%20tangi&f=false Politik dan postkolonialitas di Indonesia]'' | publisher=Kanisius | year=2003 | isbn=9789792108507}}ISBN 979-21-0850-5</ref> <ref>[http://books.google.co.id/books?id=kFqf1tqosvAC&lpg=PR37&dq=kaharingan&pg=PR37#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} Fr. Wahono Nitiprawiro, Moh. Sholeh Isre, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS), Teologi pembebasan: sejarah, metode, praksis, dan isinya, PT LKiS Pelangi Aksara, 2000 ISBN 979-8966-85-6, 9789798966859]</ref> Istilah Kaharingan artinya tumbuh atau hidup, seperti dalam istilah ''danum kaharingan'' (air kehidupan),<ref>[http://books.google.co.id/books?id=rTiifZ-SlaEC&lpg=PA139&dq=kaharingan&pg=PA139#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} Fridolin Ukur, Tuaiannya sungguh banyak: sejarah Gereja Kalimantan Evanggelis sejak tahun 1835, BPK Gunung Mulia, 2000 ISBN 979-9290-58-9, 9789799290588]</ref> maksudnya agama suku atau kepercayaan terhadap [[Tuhan Yang Maha Esa]] (''Ranying''), yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Kalimantan. Pemerintah [[Indonesia]] mewajibkan penduduk dan warganegara untuk menganut salah satu [[agama]] yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia. Oleh sebab itu, kepercayaan Kaharingan dan religi suku yang lainnya seperti [[Tollotang]] (Hindu Tollotang) pada [[suku Bugis]], dimasukkan dalam kategori [[agama]] [[Hindu]] sejak 20 April 1980,<ref>[http://books.google.co.id/books?id=QyXg_GDYCdMC&lpg=PA244&dq=kaharingan&pg=PA244#v=onepage&q=kaharingan&f=true {{id}} A. Budi Susanto, Masihkah Indonesia, Kanisius, 2007 ISBN 979-21-1657-5, 9789792116571]</ref>, mengingat adanya persamaan dalam penggunaan sarana kehidupan dalam melaksanakan ritual untuk korban (sesaji) yang dalam agama Hindu disebut ''[[Yadnya]]''. Jadi mempunyai tujuan yang sama untuk mencapai [[Tuhan Yang Maha Esa]], hanya berbeda kemasannya. Tuhan Yang Maha Esa dalam istilah agama Kaharingan disebut ''Ranying''.
 
Kaharingan ini pertama kali diperkenalkan oleh [[Tjilik Riwut]] tahun 1944, saat ia menjabat Residen [[Sampit]] yang berkedudukan di [[Banjarmasin]]. Tahun 1945, pendudukan Jepang mengajukan Kaharingan sebagai penyebutan agama Dayak. Sementara pada masa Orde Baru, para penganutnya berintegrasi dengan Hindu, menjadi Hindu Kaharingan. Pemilihan integrasi ke Hindu ini bukan karena kesamaan ritualnya. Tapi dikarenakan Hindu adalah agama tertua di Kalimantan.
Pada masa lampau masyarakat Dayak Ngaju memiliki susunan dan tingkatan strata sosial dalam masyarakatnya yaitu:
* [[Kepala Kampung]], yang dimasa kolonial tugasnya hanya melaksanakan perintah pegawai kolonial, dengan tugas utama menarik pajak dan mendayung perahu bagi para pegawai kolonial, apabila mengunjungi kampung lain, mengakibatkan terjadinya perbedaan kelas dalam masyarakat. Ada kaum bangsawan dan ada orang-orang pantan.
* [[Orang-orang Pantan]], adalah penduduk asli yang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari diusahakan sendiri. Kewajiban mereka mematuhi perintah pimpinan, serta wajib menyediakan tenaga sukarela apabila dibutuhkan pimpinan. Disini jelas nasib mereka banyak tergantung kepada kepribadian pimpinan mereka.
* [[Orang-orang Merdeka]] adalah keluarga jauh para Kepala Kampung. Mereka dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun tetap harus menyediakan tenaga secara sukarela apabila dibutuhkan oleh pimpinan demi kepentingan umum.
* [[Orang-orang Jipen]], adalah golongan budak. Para Jipen sama sekali tidak memiliki harta benda, seluruh kebutuhan hidupnya disediakan oleh majikannya. Para Kepala Kampung, orang-orang merdeka, orang-orang pantan diizinkan mempunyai jipen. Jipen berasal dari orang-orang yang kalah perang dan tak sanggup melunasi hutang-hutangnya. Apabila para jipen telah sanggup melunasi utangnya, maka kemerdekaan akan mereka peroleh. Akan tetapi bila hingga akhir hayat utang belum mampu mereka lunasi, maka anak keturunannya akan tetap menjadi jipen, yang biasa disebut "utus jipen", sampai utang yang ada dilunasi.
* [[Orang-orang Tamuei]] atau Orang Asing, mereka bukan penduduk asli.
 
== Tokoh Dayak Ngaju ==
* [[Mustain Billah dari Banjar|Raja Maruhum]], Raja Banjar Islam ke-4.
* [[Nyai Undang]], Ratu Kuta Baguh, Kerajaan Tanjung Pematang Sawang
* [[Agustin Teras Narang]], Gubernur Kalteng & Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN).
 
== Lagu Daerah Dayak Ngaju ==
* [http://www.youtube.com/watch?v=ICCEzsqvnrI&feature=related sinta takalupe lunuk]
* [http://www.youtube.com/watch?v=O_uL2fZSdNw&feature=related Karungut: Kal-Teng Membangun]
* [http://books.google.co.id/books?id=q6zWZgnEp0QC&lpg=PA27&dq=dayak%20dosan&pg=PA27#v=onepage&q=dayak%20dosan&f=false Yang Mahakasih (Lagu Rohani)]
 
== Referensi ==
{{reflist}}
 
== Pranala luar ==
* [http://books.google.co.id/books?id=zrMWAQAAIAAJ&dq=Banjermasing&pg=PA278#v=onepage&q&f=false Madjalah ilmu alam untuk Indonesia. Indonesian journal for ..., Volume 23-24 Oleh Perhimpunan Ilmu Alam Indonesia]
* [http://humabetang.web.id Situs Informasi Dayak & Kalimantan]
110.443

suntingan