Christiaan Snouck Hurgronje: Perbedaan revisi

22 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
k
Robot: Perubahan kosmetika
k (minor cosmetic change)
k (Robot: Perubahan kosmetika)
Kesuksesannya dalam [[Perang Aceh]] membuatnya mendapatkan pengaruh dalam membentuk kebijakan pemerintahan kolonial sepanjang sisa keberadannya di Hindia Belanda, namun seiring dengan sarannya yang kurang diimplementasikan, ia memutuskan kembali ke Belanda pada 1906 Kembali di Belanda Snouck melanjutkan karier akademis yang sukses.
 
== Latar belakang ==
Ketika koloni [[Hindia Belanda]] (sekarang: Indonesia) didirikan pada tahun 1800, agama monoteistik dominan bagi sebagian besar masyarakat adat di Hindia Nusantara yang adalah [[Islam]]. Karena sinkretisme agama yang kuat, bentuk Islam dicampur dengan unsur-unsur dari agama yang lebih tua. Pedagang Arab dan peziarah haji yang kembali dari Mekkah, banyak dinyatakan interpretasi Islam yang lebih ortodoks. Hal ini menyebabkan munculnya varian ketat dari Islam dengan sebutan 'santri' dengan muslim yang lainnya disebut "abangan".<ref name="inghist.nl">Knaap, G.J. “Godsdienstpolitiek in Nederlands-Indië, in het bijzonder ten aanzien van de Islam, 1816–1942” Ongoing academic research project (ING, Institute for Dutch History, 2010) Online: [http://www.inghist.nl/Onderzoek/Projecten/GodsdienstpolitiekInNederlands-indie1816-1942]</ref>
[[FileBerkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Moskee TMnr 10016675.jpg|thumb|upright|Masjid di [[Hindia Belanda]], 1900.]]
 
Kebanyakan gereja-gereja Kristen berpegang pada pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial. Protestan dan Katolik misi menunjukkan interpretasi dalam mengikuti strategi pemerintah, tapi tetap menikmati otonomi yang cukup. Selain itu kolonialisme Belanda tidak pernah didasarkan pada kefanatikan agama. Namun selama abad ke-19 misionaris Kristen menjadi semakin aktif, secara teratur mengarah ke bentrokan atau gesekan, antara Kristen dan Islam dan antara denominasi Kristen yang berbeda.<ref name="inghist.nl"/>
Hubungan antara pemerintah dan Islam dalam keadaan tidak nyaman. Kekuatan kolonial Belanda menggunakan prinsip pemisahan gereja dan negara dan ingin tetap netral dalam urusan agama. Namun yang sama pentingnya adalah keinginan untuk menjaga perdamaian dan ketertiban yang mana Islam adalah sumber awal inspirasi untuk memberontak melawan pemerintahan kolonial. Motif sosial dan politik terkait dengan keinginan agama berulang kali meledak menjadi kerusuhan dan perang seperti [[Perang Padri]](1821-1837) dan [[Perang Aceh]] (1873-1904) di [[Sumatera]].<ref name="inghist.nl"/>
 
== Kehidupan di Hindia Belanda ==
[[FileBerkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Mekkagangers uit Aceh met twee Wakils in het Nederlandse Consulaat in Jeddah TMnr 10001259.jpg|thumb|upright|Peziarah dari [[Aceh]] dalam perjalanan mereka ke Mekah. Gambar diambil oleh '' 'Snouck Hurgronje' '' di Konsulat Belanda di [[Jeddah]], 1884.]]
Pada 1871, Gubernur Jenderal kolonial mengandalkan sebuah penasihat untuk urusan adat untuk mengelola ketegangan ini. Karena keahliannya dalam bahasa Arab dan Islam, Prof.Dr. Snouck Hurgronje bertugas dalam kapasitas ini antara 1889 dan 1905. Nasihatnya keseluruhan adalah untuk campur tangan sesedikit mungkin dalam urusan agama dan memungkinkan kebebasan optimal terhadap agama. Hanya manifestasi politik Islam itu yang harus dilawan. Meskipun sarannya dilaksanakan dan dipandu kebijakan kolonial pada tahun-tahun mendatang, munculnya [[Sarekat Islam]] pada tahun 1912 menjadi kemunculan partai politik Hindia pertama yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam.<ref name="inghist.nl"/>
 
Bercita-cita untuk mereformasi kebijakan kolonial Belanda, Snouck pindah ke Hindia Belanda pada tahun 1889. Snouck awalnya ditunjuk sebagai peneliti pendidikan Islam di Buitenzorg dan profesor bahasa Arab di [[Batavia]] pada tahun 1890. Meskipun pada awalnya ia tidak diizinkan untuk mengunjungi Aceh di Sumatera, ia menolak tawaran untuk kembali ke Eropa dari [[Universitas Leiden]] dan [[Universitas Cambridge]]. Pada tahun 1890 ia menikah dengan putri seorang bangsawan pribumi di [[Ciamis]], [[Jawa Barat]]. Karena kontroversi ini disebabkan di Belanda, Snouck menyebut pernikahan ini sebagai "kesempatan ilmiah" untuk mempelajari dan menganalisis upacara pernikahan Islam. Empat anak telah lahir dari pernikahan ini.
 
Antara 1891-1892, Snouck yang saat itu telah fasih berbahasa Aceh, Melayu dan Jawa akhirnya pergi ke Aceh yang hancur oleh Perang Aceh yang berkepanjangan. Dia masih terus berkorespondensi dengan ulama-ulama Serambi Mekkah. Jabatan lektornya dilepas pada pertengahan Oktober 1887. Proposal penelitian kepada Gubernur Jenderal segera diajukan pada 9 Februari 1888. Niatnya didukung penuh oleh Direktur Pendidikan Agama dan Perindustrian (PAP), juga Menteri Urusan Negeri Jajahan. Proposal pun berjalan tanpa penghalang. Di bawah nama "Haji Abdul Ghaffar", ia membangun sebuah hubungan kepercayaan dengan unsur agama penduduk di wilayah ini. Dalam laporan tentang situasi agama-politik di Aceh, Snouck sangat menentang penggunaan taktik teror militer terhadap rakyat Aceh dan sebaliknya menganjurkan spionase terorganisir sistematis dan memenangkan dukungan dari elit aristokrat. Namun Ia melakukan dengan mengidentifikasi sarjana radikal Muslim (Ulama) yang akan menyerah dengan menunjukkan kekuatan.<ref>Van Koningsveld, P.S. ''Snouck Hurgronje alias Abdoel Ghaffar: enige historisch-kritische kanttekeningen'', (Leiden, 1982)</ref>
 
Selama tujuh bulan Snouck berada di Aceh, sejak 8 Juli 1891 dia dibantu beberapa orang pelayannya. Baru pada 23 Mei 1892, Snouck mengajukan ''Atjeh Verslag'', laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasihat strategi kemiliteran Snouck. Sebagian besar ''Atjeh Verslag'' kemudian diterbitkan dalam ''De Atjeher'' dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894. Dalam Atjeh Verslag-lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya.
Pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Snouck terpaksa membalikkan metode dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata. Ini menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh. Snouck pula yang menyatakan bahwa takluknya kesultanan Aceh, bukan berarti seluruh Aceh takluk. Di tahun yang sama, Snouck menikahi wanita pribumi lain dan memiliki seorang putra pada tahun 1905. Kecewa dengan kebijakan kolonial, ia kembali ke Belanda tahun depan untuk melanjutkan karier akademis yang sukses.<ref>Van Koningsveld, P.S. ''Snouck Hurgronje's ''"Izhaar oel-Islam"'': een veronachtzaamd aspect van de koloniale geschiedenis'', (Leiden, 1982)</ref>
 
== Tahun terakhir ==
[[FileBerkas:Snouck2.jpg|thumb|Makam Snouck Hurgronje di Leiden]]
Kembali di Belanda Snouck diterima beberapa profesor di Universitas Leiden, termasuk bahasa Arab, bahasa Aceh dan pendidikan Islam. Dia terus menghasilkan banyak studi akademis yang rumit dan menjadi otoritas internasional pada semua hal yang berkaitan dengan dunia Arab dan agama Islam. Saran ahli tentang isu-isu mendesak sering dicari oleh negara-negara Eropa lainnya dan banyak karyanya sudah diterjemahkan ke bahasa Jerman, Perancis dan Inggris. Pada tahun 1925 ia bahkan menawarkan guru besar di Mesir Universitas Nasional bergengsi di Kairo, universitas utama di Timur Tengah. Pada tahun 1927 ia mengundurkan diri sebagai Rektor magnificus dan profesor, tapi tetap aktif sebagai penasihat hingga kematiannya di Leiden pada 1936.<ref name="Drewes, G.W.J. 1936">Drewes, G.W.J.''"Snouck Hurgronje, Christiaan (1857–1936)", in "Biografisch Woordenboek van Nederland."'' by Gabriels, A.J.C.M. (Publisher: ING, Institute for Dutch History, The Hague, 2008) Online: [http://www.inghist.nl/Onderzoek/Projecten/BWN/lemmata/bwn3/bwn2/snouckc]</ref>
 
 
== Keluarga ==
Snouck Hurgronje menikah 4 kali. Yang pertama adalah dengan seorang wanita di Jeddah. Pada tahun [[1890]], ia menikah dengan Sangkana, puteri Raden Haji Mohammad Taik, [[penghulu]] di [[Kabupaten Ciamis|Ciamis]] dan dikaruniai 4 orang anak. Sayang, pada tahun [[1896]], saat mengandung anak ke-5, Sangkana [[keguguran]] dan meninggal bersama bayi yang dikandungnya.
 
Tak sampai 2 tahun kemudian, Snouck Hurgronje menikah lagi. Kali ini dengan Siti Sadiah, puteri Kalipah Apo, wakil penghulu di [[Kota Bandung|Bandung]]. Dari pernikahan itu mereka dikarunai seorang anak bernama Raden Joesoef. Namun setelah itu, Snouck Hugronje dipanggil pulang ke Belanda. Raden Joesoef sendiri memiliki 11 orang anak. Yang paling sulung adalah [[Eddy Joesoef]], pemain bulu tangkis yang pada tahun [[1958]] berhasil merebut [[Piala Thomas]] di [[Singapura]].
Pemain sepak bola Belanda, [[Albert Snouck Hurgronje]], adalah keponakan Christiaan Snouck Hurgronje dari adik sepupunya Antony Emile Snouck Hurgronje.
 
== Sumber ==
[[FileBerkas:Leids Universiteits Fonds.jpg|thumb|200px|right|''Christiaan Snouck Hurgronje Home'' yang diwariskan ke [[Universitas Leiden]]]]
Data utama pada studi Snouck Hurgonje dan kebijakan kolonial yang berkaitan dengan Islam yang tersedia di arsip 'Departemen Koloni' dikelola oleh 'Arsip Nasional' di [[Den Haag]]. Arsip mencakup semua keputusan oleh gubernur jenderal, semua laporan surat Menteri Koloni, dan semua hukum dan peraturan pemerintah. Selain itu data yang tersedia di Arsip Nasional Indonesia di Jakarta dan di '''Royal Institute of Southeast Asian Studies dan Karibia' (KITLV}''di [[Leiden]] dan Perpustakaan Universitas Leiden.<ref name="inghist.nl"/>
 
''The Leiden University Fund''(Belanda: ''Leids Universiteits Fonds'') didedikasikan untuk reformasi universitas yang terletak di 'Snouck Hurgronjehuis', dimana rumah Snouck disumbangkan ke Universitas.
 
== Galeri ==
<gallery>
Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Mekkagangers uit Palembang in het Nederlands Consulaat in Jeddah Saoedi Arabië TMnr 10001257.jpg|Peziarah Muslim dari [[Palembang]], [[Sumatra]] saat perjalanannya di [[Mekkah]]. Dipotret oleh ''Snouck Hurgronje'' di Konsultan Belanda di [[Jeddah]], 1884.
* [[Daniel van der Meulen]]
 
== Karya ==
 
* {{cite book |title=Mekka |location=Haag |publisher=Nijhoff |year=1889 }}. [http://books.google.com/books?id=SjtbAAAAQAAJ v.2]
 
== Referensi ==
 
=== Catatan dan kutipan ===
{{reflist|2}}
 
=== Bibliografi ===
 
* Ibrahim, Alfian. "Aceh and the Perang Sabil." ''Indonesian Heritage: Early Modern History''. Vol. 3, ed. Anthony Reid, Sian Jay and T. Durairajoo. Singapore: Editions Didier Millet, 2001. 132-133
 
{{lifetime|1857|1936|Snouck Hurgronje, Christiaan}}
 
[[Kategori:Tokoh keturunan Perancis]]
[[Kategori:Penjelajah Belanda]]
110.443

suntingan