Buka menu utama

Perubahan

497 bita dihapus ,  3 tahun yang lalu
k
ejaan, replaced: obyek → objek, nampaknya → tampaknya
Buddhisme yang menyebar di nusantara pada awalnya adalah sebuah keyakinan [[intelektual]], dan hanya sedikit berkaitan dengan [[supranatural]]. Namun dalam prosesnya, kebutuhan [[politik]], dan keinginan emosional pribadi untuk terlindung dari bahaya-bahaya di dunia oleh sosok dewa yang kuat, telah menyebabkan modifikasi dalam agama Buddha. Dalam banyak hal, Buddhisme adalah sangat individualistis, yaitu semua individu, baik pria maupun wanita bertanggung jawab untuk [[spiritual]]itas mereka sendiri. Siapapun bisa bermeditasi sendirian; [[candi]] tidak diperlukan, dan tidak ada [[pendeta]] yang diperlukan untuk bertindak sebagai perantara. Masyarakat menyediakan [[pagoda]] dan [[kuil]]-kuil hanya untuk menginspirasi kerangka pikiran yang tepat untuk membantu umat dalam pengabdian dan [[kesadaran diri]] mereka.
 
Meskipun di Indonesia berbagai aliran melakukan pendekatan pada ajaran Buddha dengan cara-cara yang berbeda, fitur utama dari agama Buddha di Indonesia adalah pengakuan dari "[[Empat Kebenaran Mulia]]" dan "[[Jalan Utama Berunsur Delapan]]". Empat Kebenaran Mulia melibatkan pengakuan bahwa semua [[keberadaan]] dipenuhi [[penderitaan]]; asal mula penderitaan adalah keinginan untuk obyekobjek [[duniawi]]; penderitaan dihentikan pada saat keinginan berhenti; dan Jalan Utama Berunsur Delapan mengarah ke pencerahan. Jalan Utama Berunsur Delapan mendatangkan pandangan, penyelesaian, ucapan, perilaku, mata pencaharian, usaha, perhatian, dan konsentrasi yang sempurna.
 
== Masa Kerajaan Hindu-Buddha ==
[[Berkas:Stupa Borobudur.jpg|thumb|250px|[[Stupa]] Buddha di [[Candi Borobudur]] yang dibangun [[Dinasti Syailendra]].]]
Sriwijaya merupakan sebuah kerajaan maritim yang berada di [[Sumatera]], namun kekuasaannya mencapai [[Jawa]], [[Kalimantan]], [[Sulawesi]], [[Semenanjung Malaya]], [[Thailand]], [[Kamboja]] dan lainnya. Sriwijaya berasal dari [[bahasa Sanskerta]], ''sri'' adalah "bercahaya" dan ''vijaya'' adalah "kemenangan". Kerajaan Sriwijaya mula-mula berdiri sekitar tahun [[600]] dan bertahan hingga tahun [[1377]].
Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan yang sempat terlupakan, yang kemudian dikenalkan kembali oleh sarjana Perancis, bernama [[George Cœdès]] pada tahun 1920-an<ref name="Kerajaan Sriwijaya">[http://melayuonline.com/ind/history/dig/330 Kerajaan Sriwijaya], diakses 8 April 2011 21.28 WIB</ref><ref name="TAYLOR_26">{{cite book |last=Taylor|first=Jean Gelman|title=Indonesia: Peoples and Histories|publisher=Yale University Press|year=2003 |location= New Haven and London|url= |doi= |pages=8–9|isbn= 0-300-10518-5}}</ref>. George Cœdès memperkenalkan kembali sriwijaya berdasarkan penemuannya dari prasasti dan berita dari [[Tiongkok]]. Penemuan George Coedes kemudian dimuat dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia<ref name="TAYLOR_26">{{cite book |last=Taylor|first=Jean Gelman|title=Indonesia: Peoples and Histories|publisher=Yale University Press|year=2003 |location= New Haven and London|url= |doi= |pages=8–9|isbn= 0-300-10518-5}}</ref>. Dan sejak saat itu kerajaan sriwijaya mulai dikenal kembali oleh masyarakat.
Hilangnya kabar mengenai keberadaan Sriwijaya diakibatkan oleh sedikitnya jumlah peninggalan yang ditinggalkan oleh kerajaan sriwijaya sebelum runtuh. Beberapa penyebab runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, yaitu:
* Serangan dari [[Dinasti Chola]] dari [[Koromandel]], India Selatan ([[1017]]&[[1025]])<ref>[http://melayuonline.com/ind/history/dig/330 name="Kerajaan Sriwijaya], diakses 8 April 2011 21.28 WIB<"/ref>
Serangan ini berhasil menawan raja Sriwijaya dan kemudian Dinasti Chola menjadi berkuasa atas kerajaan Sriwijaya. Akibat dari serangan ini, kedudukan kerajaan Sriwijaya di nusantara mulai melemah.
* Muncul kerajaan Melayu, [[Dharmasraya]]<ref>[http://melayuonline.com/ind/history/dig/330 name="Kerajaan Sriwijaya], diakses 8 April 2011 21.28 WIB<"/ref>
Setelah melemahnya kekuasaan Dinasti Chola, kemudian muncul kerajaan Dharmasraya yang mengambil alih Semenanjung Malaya dan juga menekan keberadaan kerajaan Sriwijaya.
* Kekalahan perang dari kerajaan lain<ref>[http://melayuonline.com/ind/history/dig/330 name="Kerajaan Sriwijaya], diakses 8 April 2011 21.28 WIB<"/ref>
Alasan lain yang menyebabkan runtuhnya Sriwijaya yaitu perang dengan kerajaan lain seperti [[Singosari]], [[Majapahit]] serta [[Dharmasraya]]. Selain sebagai penyebab runtuhnya Sriwijaya, perang ini juga menyebabkan banyak peninggalan sriwijya yang rusak atau hilang, sehingga keberadaan Kerajaan Sriwijaya terlupakan selama beberapa abad.
 
Perkembangan agama Buddha selama masa Sriwijaya dapat diketahui berdasarkan laporan I-Tsing. Sebelum melakukan studi ke [[Nalanda|Universitas Nalanda]] di India, I-Tsing melakukan kunjungan ke kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan catatan I-tsing, Sriwijaya merupakan rumah bagi sarjana Buddha, dan menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Hal ini membuktikan bahwa selama masa kerajaan Sriwijaya, agama Buddhis berkembang sangat pesat. Selain itu I-tsing juga melaporkan bahwa di Sriwijaya terdapat aliran Buddha [[Theravada]] (kadang disebut [[Hinayana]]) dan [[Mahayana]]. Dan kemudian semakin lama buddhisme di Sriwijaya mendapat pengaruh dari aliran [[Vajrayana]] dari India.<ref>[http://bhagavant.com/home.php?link=sejarah&tipe=sejarah_buddhisme_Indonesia_2 Sejarah Perkembangan Agama Buddhis di Indonesia], diakses 8 April 2011 - 21.00 WIB</ref> Pesatnya perkembangan agama Buddhis di Sriwijaya juga didukung oleh seorang Mahaguru Buddhis di Sriwijaya, yaitu [[Sakyakirti]], nama Sakyakirti ini berasal dari I-tsing yang berkenalan saat singgah di sriwijaya.<ref name="viharakhantibhumi.blogspot.com">[http://viharakhantibhumi.blogspot.com/2010/01/tokoh-tokoh-sejarah-pada-masa-buddha.html Tokoh-tokoh Sejarah pada Masa Buddha], diakses 8 April 2011 - 21.25 WIB</ref> Selain Mahaguru Buddhis, I-tsing juga melaporkan ada perguruan buddhis yang memiliki hubungan baik dengan Universitas Nalanda, India, sehingga ada cukup banyak orang yang mempelajari Buddhisme di kerajaan ini.<ref>[http:// name="viharakhantibhumi.blogspot.com"/2010/01/tokoh-tokoh-sejarah-pada-masa-buddha.html Tokoh-tokoh Sejarah pada Masa Buddha], diakses 8 April 2011 - 21.25 WIB</ref> Dalam catatannya, I-tsing juga menulis ada lebih dari 1000 pendeta yang belajar buddhis di Sriwijaya.
 
=== Kerajaan Majapahit ===
Pembaruan [[agama Siwa-Buddha]] pada zaman Majapahit, antara lain, terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada dua candi yang berbeda sifat keagamaannya. Hal ini dapat dilihat pada raja pertama Majapahit, yaitu [[Kertarajasa]], yang didharmakan di [[Candi Sumberjati]] (Simping) sebagai wujud Siwa (Siwawimbha) dan di [[Antahpura]] sebagai Buddha; atau raja kedua Majapahit, yaitu [[Raja Jayabaya]] yang didharmakan di [[Shila Ptak]] (red. Sila Petak) sebagai Wisnu dan di [[Sukhalila]] sebagai Buddha. Hal ini memperlihatkan bahwa kepercayaan di mana Kenyataan Tertinggi dalam agama Siwa maupun Buddha tidak berbeda.
 
Meskipun Buddhisme dan Hinduisme telah menyebar di Jawa Timur, nampaknyatampaknya kepercayaan leluhur masih memerankan peranannya dalam kehidupan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan struktur candi yang di dalamnya terdapat tempat pemujaan nenek moyang, yang berwujud batu [[megalit]], yang ditempatkan di teras tertinggi dari tempat suci itu.
 
Setelah Kerajaan Majapahit mengalami kemunduran pada masa akhir pemerintahan [[Brawijaya|Raja Brawijaya V]] ([[1468]]-[[1478]]) dan runtuh pada tahun 1478, maka berangsur-angsur Agama Buddha dan Hindu digeser kedudukannya oleh agama Islam.
== Masa Indonesia modern ==
=== Masa pra dan pasca kemerdekaan Indonesia ===
Setelah [[kemerdekaan Indonesia]], muncul orang-orang yang peduli dan melestarikan agama Buddha di Indonesia, dimulai dengan seorang [[bhikkhu]] dari [[Ceylon]] (sekarang [[Sri Lanka]]) bernama [[Narada Maha Thera]]. Pada tahun [[1934]] ia mengunjungi [[Hindia Belanda]] (sekarang [[Indonesia]]) sebagai bhikkhu [[Theravada]] pertama yang datang untuk menyebarkan ajaran Buddha setelah lebih dari 450 tahun jatuhnya kerajaan Hindu-Buddha terakhir di kepulauan [[nusantara]]. <ref>Martin Ramstedt. ''Hinduism in modern Indonesia: a minority religion between local, national, and global interests.'' Routledge, 2004. Pages 49ff.</ref> Kedatangannya mulai menumbuhkan kembali minat untuk mempelajari Buddhisme di Hindia Belanda. Animo ini kemudian diperkuat oleh seorang bhikku dari Indonesia yang [[Penahbisan|ditahbiskan]] di [[Birma]] (sekarang [[Myanmar]]) yang bernama bhikkhu [[Ashin Jinarakkhita]], dan dimulailah kembali perkembangan agama Buddha di Indonesia, dimana perlahan-lahan agama Buddha mulai dikenal kembali.
 
=== Pasca Gerakan 30 September ===
Berdasarkan data tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang menganut agama Buddha bertolak belakang dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia.
 
Agama Buddha di Indonesia paling banyak dianut oleh masyarakat [[Tionghoa Indonesia|Tionghoa]] dan beberapa kelompok asli Indonesia, dengan persentase jumlah 1% (Buddhisme saja) sampai 2,3% (termasuk [[Taoisme]] dan [[Konfusianisme]]) penduduk Indonesia yang termasuk umat Buddha. <ref> http://www.depag.go.id/index.php?menu=page&pageid=17</ref><ref>http://religiousfreedom.lib.virginia.edu/nationprofiles/Indonesia/rbodies.html</ref>
 
== Perkembangan aliran Buddha di Indonesia ==
{{utama|Candi Borobudur}}
[[Berkas:Borobudur-Nothwest-view.jpg|thumb|400px|[[Candi Borobudur]], monumen [[Dinasti Syailendra]] yang dibangun di [[Magelang]], [[Jawa Tengah]].]]
''[[Sutra Lalitavistara]]'' banyak dikenal oleh para tukang batu ''[[Mantranaya]]'' dari [[Borobudur]], lihat: [[Kelahiran Buddha (Lalitavistara)]]. Istilah ''Mantranaya'' bukan kesalahan ejaan dari ''Mantrayana'' meskipun sebagian besar adalah sama. Mantranaya adalah istilah untuk tradisi esoteris [[mantra]], turunan tertentu dari [[Vajrayana]] dan [[Tantra]] di [[Indonesia]]. Istilah dalam bahasa Sanskerta ''Mantranaya'' dengan jelas telah terbukti dalam literatur tantra [[Basa Jawa Kuna]], khususnya yang didokumentasikan dalam teks tantra Buddha esoterik tertua di Jawa Kuna, ''Sang Kyang Kamahayanan Mantranaya'', lihat Kazuko Ishii (1992). <ref>Ishii, Kazuko (1992). "The Correlation of Verses of the 'Sang Kyang Kamahayanan Mantranaya' with Vajrabodhi's 'Japa-sutra'". ''Area and Culture Studies'' Vol. 44. Source: [http://www.google.com.au/url?sa=t&source=web&ct=res&cd=1&ved=0CAkQFjAA&url=http%3A%2F%2Frepository.tufs.ac.jp%2Fbitstream%2F10108%2F23547%2F1%2Facs044014.pdf&ei=dpRmS-StG8GTkAXHpvzrDw&usg=AFQjCNE-YC97-mqMMBl-U_Dd6U1_8gxyaA&sig2=ahAARM05cm-VQ9oR4zdkbg] (accessed: Monday February 1, 2010)</ref>
 
== Faktor-faktor berkurangnya umat Buddha di Indonesia ==
{{Topik Asia|Agama Buddha di}}
{{Topik Buddhisme}}
 
{{buddha-stub}}
 
[[Kategori:Buddhisme di Indonesia| {{PAGENAME}}]]
[[Kategori:Agama di Indonesia]]
 
 
{{buddha-stub}}
6.353

suntingan