William Godwin: Perbedaan revisi

Tidak ada perubahan ukuran ,  5 tahun yang lalu
k
ejaan, replaced: nampaknya → tampaknya (2)
k (→‎Bagaimana sebenarnya kita belajar?: ejaan, replaced: sekedar → sekadar)
k (ejaan, replaced: nampaknya → tampaknya (2))
'''William Godwin''' ([[3 Maret]] [[1756]] – [[7 April]] [[1836]]) adalah seorang penulis ilmu [[politik]] dan juga seorang novelis asal [[Inggris]].
 
Tak ada yang bisa lebih menyedihkan... Hanya ada satu keberatan cukup besar yang nampaknyatampaknya menentang segala keutamaan ini [menentang suatu pendidikan libertarian]. Si pengajar ketakutan sejak awal, dan berkata: ''Bagaimana mungkin saya bisa membuat kerja literatur menjadi suatu obyek yang menyenangkan, lagi pula, bagaimana mungkin saya bisa menjaga kesenangan ini dengan segala daya kekuatannya kendati ada kemerosotan semangat yang akan terjadi setiap hari, dan kendati ada perubahan kualitas yang terjadi pada hampir segala gairah manusia, bahwa semangatnya sirna seiring surutnya kebaruan obyek itu?''
 
Tak ada yang bisa lebih menyedihkan daripada kondisi guru dalam corak-corak pendidikan masa kini. Dia adalah yang terburuk dari para budak. Dia diasingkan ke pemenjaraan yang paling buruk... Seperti orang malang yang ditimpa nasib sial di sebuah kota yang hancur-lebur, dia dihancurkan agar yang lain bisa hidup... Dia dipandang sebagai seorang tiran oleh orang-orang yang berada di bawah wilayah hukumnya, dan dia memang seorang tiran. Dia merusak kesenangan-kesenangan mereka. Dia memberi kepada masing-masing siswa sebagian dari kerjanya yang tidak dia senangi. Dia memantau ketidakberesan dan kesalahan mereka. Dia terbiasa berbicara kepada mereka dengan nada mendikte dan mengecam. Dia adalah sang pesuruh untuk menghukum kebodohan mereka. Dia hidup sendirian di tengah kumpulan banyak orang. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)
Yang pertama dari kelas-kelas motif ini tak ragu lagi adalah yang terbaik. Digerakkan oleh motif seperti itu adalah kondisi yang murni dan sejati dari seorang mahluk rasional. Dengan mempraktikkannya, niscaya memperkuat penilaian/pertimbangan. Ia mengangkat kita dengan suatu rasa kemandirian. Ia menyebabkan orang bisa berdiri di atas kaki sendiri, dan merupakan satu-satunya metode yang dengan itu orang bisa dibuat benar-benar menjadi seorang individu, mahluk, bukan dari keyakinan yang implisit, melainkan dari pemahamannya sendiri. (“Tentang Komunikasi Pengetahuan”, Enquirer, IX.)
 
...Pendidikan publik selama ini selalu mencurahkan energinya dalam mendukung prasangka; ia bukan mengajarkan kepada murid-muridnya kegigihan yang akan membawa setiap dalil kepada pembuktiannya, melainkan mengajarkan seni untuk mensucikan ajaran-ajaran seperti itu karena berpeluang untuk dimapankan. Kita mempelajari Aristoteles, atau Thomas Aquinas, atau Bellarmine, atau hakim ketua Coke, bukan agar kita bisa mendeteksi kesalahan-kesalahan mereka, tetapi agar pikiran kita bisa dipenuhi dengan absurditas-absurditas mereka. Ciri ini nampaktampak di setiap spesies kemapanan publik... pelajaran-pelajaran utama yang diajarkan adalah pemujaan yang bersifat tahayul kepada gereja Inggris, dan membungkuk hormat kepada setiap orang yang mengenakan jas necis. Semua ini bertentangan dengan kepentingan umat manusia yang sesungguhnya. (Keadilan Politik, VI, viii.)
 
Milton telah menulis sebuah puisi sublim tentang cerita konyol perihal memakan sebuah apel, dan tentang dendam abadi yang dideklarasikan oleh Sang Maha Kuasa terhadap seluruh umat manusia, karena nenek moyang mereka bersalah atas pelanggaran yang kelam dan menjijikkan ini. Tujuan puisi ini, sebagaimana dikatakan Milton kepada kita, adalah untuk menjustifikasi cara-cara Tuhan kepada manusia. (B. I, ver. 25). Namun, salah satu hal paling mengesankan yang dengan sendirinya terlihat dari topik ini ialah, bahwa moral yang sesungguhnya dan kesimpulan jelas dari sebuah karangan seringkali tersembunyi selama berabad-abad dari para pembacanya yang paling giat. Kitab-kitab telah diturunkan dari generasi ke generasi sebagai guru sejati yang suci dan perwujudan cinta Tuhan, yang mewakili dia sebagai sesosok ''despot''[1] yang bersifat tirani dan tanpa belas kasihan, sehingga apabila kitab tersebut dipertimbangkan dengan cara-cara selain lewat medium prasangka, maka kitab tersebut tidak bisa mengilhamkan apapun selain kebencian. Nampak bahwa kesan yang kita peroleh dari sebuah buku bergantung kurang-lebih pada isi sebenarnya, ketimbang pada situasi pikiran dan persiapan yang dengan itu kita membacanya. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
Kalau kita menginginkan anak-anak kita untuk terus-terang dan tulus dalam perilakunya, kita harus menjaga agar keterus-terangan dan ketulusan tidak menjadi sumber keburukan bagi mereka... penghukuman tidak akan mendapat tempat dalam sebuah sistem pendidikan yang benar-benar bagus; bahkan raut marah dan kata-kata omelan akan sepenuhnya dijauhkan. (“Tentang Penipuan dan Keterus-terangan”, Enquirer, XII.)
 
Telah ditunjukkan bahwa kesan yang kita peroleh dari sebuah buku, sedikit-banyak tergantung pada isi sesungguhnya dari buku itu ketimbang pada sifat pikiran dan persiapan yang dengan itu kita membacanya. Karena itu, nampaknyatampaknya ini harus dilanjutkan dengan prinsip bahwa, seorang pengajar yang terampil tidak perlu terlalu cemas untuk menghargai buku-buku yang akan dipilih muridnya sebagai bahan bacaan. Dalam hal ini, ungkapan terkenal dari rasul Paulus dapat diakui kebenarannya: Bagi orang yang murni, segala sesuatu itu murni. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
 
Percayakanlah [siswa itu] sampai tingkat tertentu pada dirinya sendiri. Perkenankan dia dalam beberapa hal untuk memilih bahan bacaannya sendiri. Akan ada bahaya kalau harus ada sesuatu yang harus dipelajari dan monoton dalam pemilihan yang harus kita lakukan bagi siswa itu. Perkenankan dia untuk menjelajahi rimba literatur. (“Tentang Pilihan dalam Membaca”, Enquirer, XV.)
6.353

suntingan