Parahyangan: Perbedaan revisi

4 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
k
ejaan, replaced: Propinsi → Provinsi, bagaimana pun → bagaimanapun
k (ejaan, replaced: Propinsi → Provinsi, bagaimana pun → bagaimanapun)
 
== Geografi ==
Priangan saat ini merupakan salah satu wilayah PropinsiProvinsi Jawa Barat yang mencakup Kabupaten [[Cianjur]], [[Bandung]], [[Sumedang]], [[Garut]], [[Tasikmalaya]], dan [[Ciamis]], yang luasnya mencapai sekitar seperenam [[pulau Jawa]] (kurang lebih 21.524  km persegi). Bagian utara Priangan berbatasan dengan [[Karawang]], [[Purwakarta]], [[Subang]] dan [[Indramayu]]; sebelah selatan dengan [[Majalengka]], [[Kuningan]]; dengan [[Jawa Tengah]] di sebelah timur dibatasi oleh sungai [[Citanduy]]; di barat berbatasan dengan [[Bogor]] dan [[Sukabumi]], sedangkan di selatan berhadapan dengan [[Samudera Indonesia]].
 
Relief tanah daerah Priangan dibentuk oleh dataran rendah, bukit-bukit dan rangkaian gunung: [[Gunung Gede]], [[Gunung Ciremai]] (termasuk dalam wilayah administratif Majalengka, [[Kuningan]], dan Ciamis), [[Gunung Kancana]], [[Masigit|Gunung Masigit]] (Cianjur), [[Gunung Salak]], [[Gunung Halimun]] (termasuk dalam wilayah administratif Bogor dan Sukabumi); [[Gunung Tangkuban Perahu]], [[Gunung Burangrang]], [[Malabar|Gunung Malabar]], [[Gunung Bukit Tunggul]] (Bandung); [[Gunung Tampomas]], [[Gunung Calancang]], [[Gunung Cakra Buana]] (Sumedang); [[Gunung Guntur]], [[Gunung Haruman]], [[Gunung Talagabodas]], [[Gunung Karacak]], [[Gunung Galunggung]] (Tasikmalaya); [[Gunung Cupu]], [[Gunung Cula Badak]], [[Gunung Bongkok]] (Tasikmalaya); [[Gunung Syawal]] (Ciamis). Dikelilingi oleh rangkaian pegunungan dan banyak sungai, Priangan adalah wilayah yang sangat subur.
Mendengar kabar itu, Dipati Ukur yang sedang berperang memutuskan untuk menghentikan perang dan kembali ke Pabuntelan (Paseurdayeuh Tatar Ukur, atau Baleendah - Dayeuhkolot sekarang). Dipati Ukur yang marah dengan kelakuan para utusan Mataram itu sesampainya di Pabuntelan langsung menghabisi para utusan Mataram itu. Sayangnya, dari semua utusan itu ada satu orang yang lolos dari kematian dan kemudian melapor kepada Sultan Agung perihal apa yang dilakukan oleh Dipati Ukur terhadap teman-temannya.
 
Dalam ‘Negara Kerta Bumi’ disebutkan bahwa salah satu watak Sultan Agung adalah jika memberi tugas kepada bawahannya itu tidaklah boleh gagal. Jika gagal maka sudah dipastikan bahwa yang bersangkutan akan dihukum mati. Maka, panglima Mataram yang lolos ini pun agar terhindar dari hukuman mati mengaranglah ia tentang kenapa pasukan Mataram bisa gagal menaklukan VOC. Semua kesalahan itu ditimpakan ke pundak Dipati Ukur. Sultan Agung pun murka karena bagaimana punbagaimanapun juga mundurnya Dipati Ukur dari medan perang merupakan kerugian besar bagi Mataram. Intinya, penyebab kalahnya Mataram adalah karena mundurnya Dipati Ukur. Oleh karenanya, Dipati Ukur dicap penghianat dan mau memberontak kepada Mataram. Jadi, karena Dipati Ukur dianggap memberontak maka Dipati Ukur pun oleh Sultan Agung pantas dihukum mati. Akhirnya Sultan Agung pun menyuruh Cirebon untuk menangkap Dipati Ukur hidup atau mati. Penumpasan Dipati Ukur itu dipimpin langsung oleh Tumenggung Narapaksa dari Mataram.
 
Dari kenyatan itu, Dipati Ukur kemudian sadar bahwa dirinya sejak sekarang harus menghadapi Mataram. Kekuatan pun di susun. Dipati Ukur mulai melobi beberapa bupati untuk juga melawan Mataram dan menjadi Kabupaten yang mandiri. Ajakan ini menimbulkan pro dan kontra. Sebagian ada yang setuju seperti Bupati Karawang, Ciasem, Sagalaherang, Taraju, Sumedang, Pamanukan, Limbangan, Malangbong dan sebagainya. Dan sebagian laginya tidak setuju. Di antara yang tidak setuju itu adalah Ki Somahita dari Sindangkasih, Ki Astamanggala dari Cihaurbeuti, dan Ki Wirawangsa dari Sukakerta.
6.353

suntingan