Epigrafi: Perbedaan antara revisi

3 bita dihapus ,  6 tahun yang lalu
k
ejaan, replaced: dari pada → daripada
Tidak ada ringkasan suntingan
k (ejaan, replaced: dari pada → daripada)
'''Epigrafi''' (dari bahasa {{lang-el|ἐπιγραφή ''epi-graphē''}}, berarti "tulisan", {{nowrap|"prasasti"<ref>{{cite encyclopedia|title=Epigraph|encyclopedia=Online Etymology Dictionary|url=http://www.etymonline.com/index.php?term=epigraph}}</ref>)}} adalah suatu cabang [[arkeologi]] yang berusaha meneliti benda-benda bertulis yang berasal dari masa lampau. Salah satu contohnya adalah [[prasasti]]. Prasasti merupakan sumber bukti tertulis (berupa [[tulisan]] ataupun gambar) pada masa lampau yang dapat memberikan informasi mengenai peristiwa dimasa lampau, asal usul seorang [[raja]] atau [[tokoh]] atau [[genealogi]] maupun penanggalan.
 
== Tujuan Epigrafi ==
Epigrafi bertujuan agar prasasti yang ditemukan dalam ekskavasi dapat dibaca. Selanjutnya, tujuan epigrafi ini tidak dapat dilepaskan dengan tujuan arkeologi. Tujuan [[arkeologi]] adalah merekonstruksi sejarah masa lampau berdasarkan apa yang dapat ditemukan kembali dengan ketrampilan dan penguasaan metode [[ekskavasi]] pada benda-benda masa lampau. Jika benda tinggalan tersebut berupa [[prasasti]] maka ahli epigrafi akan mengelolanya agar dapat diketahui kapan terjadinya, siapa tokoh pemerintahannya serta apa isi yang terkandung pada [[prasasti]] tersebut.
 
== Tugas seorang Epigraf ==
* R.H. [[Theodore Friederich]]: Ia merupakan peletak dasar bagi sistematika penelitian epigrafi. Sistematika yang diberikan oleh Friederich ini kelak digunakan oleh para epigraf berikutnya, misalnya Kern dan Cohen.
* [[Johan Hendrik Caspar Kern]]: Ia meneliti huruf [[Kawi]] dan membandingkannya dengan huruf-huruf yang ada di Indonesia. Ia menyimpulkan, bahwa huruf Jawa, Sunda, Madura dan Bali adalah perkembangan yang langsung dari huruf Kawi.
* [[Karel Frederik Holle]]: usaha besar yang dilakukan K.F.Holle adalah menyusun suatu daftar abjad/huruf-huruf yang terdapat di Indonesia sebagai suatu pengantar kearah Palaeografi Indonesia. Dalam daftarnya itu ia mengerjakan huruf-huruf yang terdapat pada prasasti-prasasti, huruf-huruf yang masih dipakai di daerah-daerah Indonesia, serta mencoba mencari bentuk asal dari padadaripada huruf-huruf itu dalam beberapa abjad yang ada di India. Ia menggolongkan berdasarkan bentuk-bentuk huruf. Dasar pengelompokkan yang digunakan Holle tidak jauh berbeda dengan Kern. Kelompok pertama Kern (Kawi-Kamboja-Pali) oleh Holle disebut corak Kamboja, kelompok kedua Kern (Wenggi-Cera) oleh Holle disebut corak Calukya atau Wenggi, kecuali itu masih ada satu corak lagi, yaitu corak Nagari.
* A. B. [[Cohen Stuart]]: awalnya ia melakukan penelitian terhadap naskah-naskah susastra Kawi dan menuliskan hasil penelitiannya itu, kemudian barulah ia tertarik pada prasasti. Bersama J.J.van Limburg Brouwer ia mulai meneliti empat prasasti, yaitu prasasti Wukiran (Pereng), Kandangan, Wayuku (Dieng) dan Kinewu. Keempat prasasti ini diterbitkan hanya dalam bentuk pengantar tafsiran kata-kata tanpa terjemahan isi prasasti. Usaha yang dilakukannya yaitu perbaikan terhadap penerbitan prasasti yang telah ada, pendaftaran kembali prasasti yang pernah ditemukan berserta daftar acuan kertasnya, usul untuk menerbitkan prasasti-prasasti secara lengkap dan menyeluruh unttuk kepentingan yang lebih seksama. Akhirnya, ia menerbitkan buku yang berisi kumpulan prasasti-prasasti dalam bentuk facsimile dan transkripsi.
* [[Jan Laurens Andries Brandes]]: Hasil penelitian epigrafinya yang pertama adalah prasasti Kalasan dan prasasti Guntur. Dari kedua prasasti tersebut ia mengambil kesimpulan bahwa ketika orang-orang India tersebut datang ke Indonesia, mereka menemukan suatu masyarakat yang telah memiliki kebudayaan yang tinggi dan juga susunan pemerintahan yang berlandaskan hukum sudah mulai teratur di Indonesia, proses hukum dan pengambilan keputusan seperti itu tidak ada di India.
6.353

suntingan