Kota Samarinda: Perbedaan revisi

1.474 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
(Menolak 4 perubahan teks terakhir dan mengembalikan revisi 10399260 oleh Ezagren Vandalisme)
== Sejarah ==
{{artikel|Sejarah Kota Samarinda}}
Samarinda yang dikenal sebagai kota seperti saat ini dulunya adalah salah satu wilayah [[Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura]]. Di wilayah tersebut belum ada sebuah desa pun berdiri, apalagi kota. Sampai pertengahan abad ke-17, wilayah Samarinda merupakan lahan persawahan dan perladangan beberapa penduduk. Lahan persawahan dan perladangan itu umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan sungai Karang Asam.
 
Pada abad ke-13 Masehi (tahun 1201 – 1300), sebelum dikenalnya nama Samarinda, sudah ada perkampungan penduduk di enam lokasi yaitu:
1) Pulau Atas;
2) Karang Asam;
3) Karamumus (Karang Mumus);
4) Luah Bakung (Loa Bakung);
5) Sembuyutan (Sambutan); dan
6) Mangkupelas (Mangkupalas).
Penyebutan enam kampung di atas tercantum dalam manuskrip surat Salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiul Awal 1265 H (24 Februari 1849 M) yang kemudian dikutip dalam buku cetakan Belanda berjudul "De Kroniek van Koetai" karya Constantinus Alting Mees.
 
Pada tahun 1565, terjadi migrasi suku Banjar dari Batang Banyu ke daratan Kalimantan bagian timur. Ketika itu rombongan Banjar dari Amuntai di bawah pimpinan Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) merintis berdirinya Kerajaan Sadurangas (Pasir Balengkong) di daerah Paser. Selanjutnya suku Banjar juga menyebar di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara, yang di dalamnya meliputi kawasan di daerah yang sekarang disebut Samarinda. Inilah yang melatarbelakangi terbentuknya bahasa Banjar sebagai bahasa dominan mayoritas masyarakat Samarinda di kemudian hari, walaupun telah ada beragam suku yang datang, seperti Bugis dan Jawa.
 
Sejarah bermukimnya suku Banjar di Kalimantan bagian timur pada masa otoritas Kerajaan Banjar juga dinyatakan oleh tim peneliti dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976): “Bermukimnya suku Banjar di daerah ini untuk pertama kali ialah pada waktu kerajaan Kutai Kertanegara tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Banjar.”
 
Sampai pertengahan abad ke-17, wilayah Samarinda merupakan lahan persawahan dan perladangan beberapa penduduk. Lahan persawahan dan perladangan itu umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan sungai Karang Asam.
 
Pada tahun [[1668]], rombongan orang-orang Bugis Wajo yang dipimpin [[La Mohang Daeng Mangkona]] (bergelar ''Pua Ado'') hijrah dari tanah [[Kesultanan Gowa]] ke [[Kesultanan Kutai]]. Mereka hijrah ke luar pulau hingga ke Kesultanan Kutai karena mereka tidak mau tunduk dan patuh terhadap [[Perjanjian Bongaya]] setelah [[Kesultanan Gowa]] kalah akibat diserang oleh pasukan [[Belanda]]. Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.<ref name="Pemkot Smd">[http://www.samarinda.go.id/sejarah Situs Pemkot Samarinda (2008) - Sejarah]</ref>
Pengguna anonim