Ernest Douwes Dekker: Perbedaan revisi

1.389 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
yutdthf
(yutdthf)
Tag: VisualEditor menghilangkan referensi
{{ref improve|date=Januari 2014}}
{{tentang|tokoh pergerakan nasional Indonesia E.F.E. Douwes Dekker yang dikenal pula dengan nama Danudirja Setiabudi|penulis Belanda yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli|Eduard Douwes Dekker}}
{{kegunaanlain|Douwes Dekker|Douwes Dekker}}
{{Infobox Person
|name=Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker
|image= Douwes.jpg
|birth_date= {{birth date|1879|10|8|mf=y}}
|birth_place= {{flagicon|Hindia Belanda}} [[Kota Pasuruan|Pasuruan]], [[Hindia Belanda]]
|dead=dead
|death_date= {{death date and age|1950|8|28|1879|10|8|mf=y}}
|death_place= {{flagicon|Indonesia}} [[Kota Bandung|Bandung]], [[Jawa Barat]], [[Indonesia]]
|occupation= [[Politikus]], [[Wartawan]], [[Aktivis]], [[Penulis]]
|spouse= Clara Charlotte Deije<br />Johanna P. Mossel<br />Haroemi Wanasita (Nelly Kruymel)
}}
'''Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker''' (umumnya dikenal dengan nama '''Douwes Dekker''' atau '''Danudirja Setiabudi'''; {{lahirmati|[[Kota Pasuruan|Pasuruan]], [[Hindia Belanda]]|8|10|1879|[[Kota Bandung|Bandung]], [[Jawa Barat]]|28|8|1950}}) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan [[Daftar pahlawan nasional Indonesia|pahlawan nasional]] [[Indonesia]].
 
Ia adalah salah seorang peletak dasar [[nasionalisme]] Indonesia di awal [[abad ke-20]], [[penulis]] yang kritis terhadap kebijakan pemerintah penjajahan [[Hindia Belanda]], [[wartawan]], [[aktivis]] [[politik]], serta penggagas nama "[[Nusantara]]" sebagai nama untuk Hindia Belanda yang merdeka. Setiabudi adalah salah satu dari "[[Indische Partij|Tiga Serangkai]]" pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia, selain dr. [[Tjipto Mangoenkoesoemo]] dan [[Ki Hadjar Dewantara|Suwardi Suryaningrat]].
 
Douwes Dekker terlahir di [[Pasuruan]], [[Jawa Timur]], pada tanggal 8 Oktober 1879, sebagaimana yang dia tulis pada riwayat hidup singkat saat mendaftar di [[Universitas Zurich]], September 1913. Ayahnya, Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker, adalah seorang agen di bank kelas kakap ''[[Nederlandsch Indisch Escomptobank]]''. Auguste ayahnya, memiliki darah Belanda dari ayahnya, Jan (adik [[Eduard Douwes Dekker]]) dan dari ibunya, Louise Bousquet. Sementara itu, ibu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di [[Pekalongan]], [[Jawa Tengah]], dari pasangan Jerman-Jawa.{{sfn|Setiadi & Arvian|2012|pp=66{{spaced ndash}}70}} Dia terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara, dan keluarganya pun sering berpindah-pindah. Saudaranya yang perempuan dan laki-laki, yakni Adeline (1876) dan Julius (1878) terlahir sewaktu keluarga Dekker berada di [[Surabaya]], dan adik laki-lakinya lahir di [[Meester Cornelis]], [[Batavia]] (sekarang [[Jatinegara]], [[Jakarta Timur]] pada tahun 1883. Dari situ, keluarga Dekker berpindah lagi ke [[Pegangsaan]], [[Jakarta Pusat]].{{sfn|Setiadi & Arvian|2012|pp=66{{spaced ndash}}70}}
== Kehidupan pribadi ==
Douwes Dekker terlahir di [[Pasuruan]], [[Jawa Timur]], pada tanggal 8 Oktober 1879, sebagaimana yang dia tulis pada riwayat hidup singkat saat mendaftar di [[Universitas Zurich]], September 1913. Ayahnya, Auguste Henri Edoeard Douwes Dekker, adalah seorang agen di bank kelas kakap ''[[Nederlandsch Indisch Escomptobank]]''. Auguste ayahnya, memiliki darah Belanda dari ayahnya, Jan (adik [[Eduard Douwes Dekker]]) dan dari ibunya, Louise Bousquet. Sementara itu, ibu Douwes Dekker, Louisa Neumann, lahir di [[Pekalongan]], [[Jawa Tengah]], dari pasangan Jerman-Jawa.{{sfn|Setiadi & Arvian|2012|pp=66{{spaced ndash}}70}} Dia terlahir sebagai anak ke-3 dari 4 bersaudara, dan keluarganya pun sering berpindah-pindah. Saudaranya yang perempuan dan laki-laki, yakni Adeline (1876) dan Julius (1878) terlahir sewaktu keluarga Dekker berada di [[Surabaya]], dan adik laki-lakinya lahir di [[Meester Cornelis]], [[Batavia]] (sekarang [[Jatinegara]], [[Jakarta Timur]] pada tahun 1883. Dari situ, keluarga Dekker berpindah lagi ke [[Pegangsaan]], [[Jakarta Pusat]].{{sfn|Setiadi & Arvian|2012|pp=66{{spaced ndash}}70}}
 
Douwes Dekker menikah dengan [[Clara Charlotte Deije]] (1885-1968), anak dokter campuran [[Jerman]]-Belanda pada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi (keduanya laki-laki). Yang bertahan hidup semuanya perempuan. Perkawinan ini kandas pada tahun 1919 dan keduanya bercerai.
 
Walaupun mencintai anak-anaknya, Douwes Dekker tampaknya terlalu berfokus pada perjuangan idealismenya sehingga perhatian pada keluarga agak kurang dalam. Ia pernah berkata kepada kakak perempuannya, Adelin, kalau yang ia perjuangkan adalah untuk memberi masa depan yang baik kepada anak-anaknya di Hindia kelak yang merdeka. Pada kenyataannya, semua anaknya meninggalkan Indonesia menuju ke Belanda ketika Jepang masuk. Demikian pula semua saudaranya, tidak ada yang memilih menjadi warga negara Indonesia.
 
== Riwayat hidup ==
=== Masa muda ===
Pendidikan dasar ditempuh Nes di Pasuruan. Sekolah lanjutan pertama-tama diteruskan ke [[Hogere Burger School|HBS]] di [[Kota Surabaya|Surabaya]], lalu pindah ke ''Gymnasium [[Koning Willem III School]]'', sekolah elit setingkat [[HBS]] di [[Batavia]]. Selepas lulus sekolah ia bekerja di [[perkebunan]] [[kopi]] "Soember Doeren" di [[Kabupaten Malang|Malang]], [[Jawa Timur]]. Di sana ia menyaksikan perlakuan semena-mena yang dialami pekerja kebun, dan sering kali membela mereka. Tindakannya itu membuat ia kurang disukai rekan-rekan kerja, namun disukai pegawai-pegawai bawahannya. Akibat konflik dengan manajernya, ia dipindah ke perkebunan [[tebu]] "Padjarakan" di [[Kraksaan, Probolinggo|Kraksaan]] sebagai [[laboratorium|laboran]].<ref name = "Douwes" /> Sekali lagi, dia terlibat konflik dengan manajemen karena urusan pembagian [[irigasi]] untuk tebu perkebunan dan padi petani. Akibatnya, ia dipecat.
 
=== Perang Boer ===
Menganggur dan kematian mendadak ibunya, membuat Nes memutuskan berangkat ke [[Afrika Selatan]] pada tahun 1899 untuk ikut dalam [[Perang Boer Kedua]] melawan [[Inggris]].<ref name = "Setiabuddhi" /> Ia bahkan menjadi warga negara [[Republik Transvaal]].<ref name = "Douwes" /> Beberapa bulan kemudian kedua saudara laki-lakinya, Julius dan Guido, menyusul. Nes tertangkap lalu dipenjara di suatu kamp di [[Ceylon]]. Di sana ia mulai berkenalan dengan sastera [[India]], dan perlahan-lahan pemikirannya mulai terbuka akan perlakuan tidak adil pemerintah kolonial Hindia Belanda terhadap warganya.
 
=== Sebagai wartawan yang kritis dan aktivitas awal ===
DD dipulangkan ke Hindia Belanda pada tahun 1902, dan bekerja sebagai agen pengiriman KPM, perusahaan pengiriman milik negara. Penghasilannya yang lumayan membuatnya berani menyunting Clara Charlotte Deije, putri seorang dokter asal Jerman yang tinggal di Hindia Belanda, pada tahun 1903.
 
Kemampuannya menulis laporan pengalaman peperangannya di surat kabar terkemuka membuat ia ditawari menjadi reporter koran [[Semarang]] terkemuka, ''[[De Locomotief]]''. Di sinilah ia mulai merintis kemampuannya dalam berorganisasi. Tugas-tugas jurnalistiknya, seperti ke perkebunan di Lebak dan kasus kelaparan di Indramayu, membuatnya mulai kritis terhadap kebijakan kolonial. Ketika ia menjadi staf redaksi ''[[Bataviaasch Nieuwsblad]]'', 1907, tulisan-tulisannya menjadi semakin pro kaum Indo dan pribumi. Dua seri artikel yang tajam dibuatnya pada tahun 1908. Seri pertama artikel dimuat Februari 1908 di surat kabar Belanda ''Nieuwe Arnhemsche Courant'' setelah versi bahasa Jermannya dimuat di koran Jerman ''Das Freie Wort'', "Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie" ("Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda") kemudian pindah di ''Bataviaasche Nieuwsblad''. Sekitar tujuh bulan kemudian (akhir Agustus) seri tulisan panas berikutnya muncul di surat kabar yang sama, "Hoe kan Holland het spoedigst zijn koloniën verliezen?" ("Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?", versi Jermannya berjudul "Hollands kolonialer Untergang"). Kembali kebijakan [[politik etis]] dikritiknya. Tulisan-tulisan ini membuatnya mulai masuk dalam radar intelijen penguasa.<ref name = "Movements">{{cite book |title=Indonesia, Early Political Movements|publisher=Library of Congress Country Studies |accessdate=2006-01-08}}</ref>
 
Rumah DD, pada saat yang sama, yang terletak di dekat [[Stovia]] menjadi tempat berkumpul para perintis gerakan [[kebangkitan nasional]] Indonesia, seperti [[Sutomo]] dan [[Cipto Mangunkusumo]], untuk belajar dan berdiskusi. [[Budi Utomo]] (BO), organisasi yang diklaim sebagai organisasi nasional pertama, lahir atas bantuannya. Ia bahkan menghadiri kongres pertama BO di [[Yogyakarta]].
Berangkat dari organisasi kaum [[Indo]], ''[[Indische Bond]]'' dan ''[[Insulinde]]'', ia menyampaikan gagasan suatu "Indië" (Hindia) baru yang dipimpin oleh warganya sendiri, bukan oleh pendatang. Ironisnya, di kalangan Indo ia mendapat sambutan hangat hanya di kalangan kecil saja, karena sebagian besar dari mereka lebih suka dengan ''status quo'', meskipun kaum Indo direndahkan oleh kelompok orang Eropa "murni" toh mereka masih dapat dilayani oleh pribumi.
 
Tidak puas karena Indische Bond dan Insulinde tidak bisa bersatu, pada tahun [[1912]] Nes bersama-sama dengan [[Cipto Mangunkusumo]] dan [[Suwardi Suryaningrat]] mendirikan partai berhaluan nasionalis inklusif bernama ''[[Indische Partij]]'' ("Partai Hindia").<ref nameKampanye =ke "Douwes"beberapa /><ref>{{citekota webmenghasilkan |url=http://countrystudiesanggota berjumlah sekitar 5000 orang dalam waktu singkat.us/indonesia/14 Semarang mencatat jumlah anggota terbesar, diikuti Bandung.htm |title=ThePartai Growthini ofsangat Nationalpopuler Consciousnessdi kalangan orang Indo, dan diterima baik oleh kelompok Tionghoa dan pribumi, meskipun tetap dicurigai pula karena gagasannya yang radikal. Partai yang anti-kolonial dan bertujuan akhir [[Proklamasi Indonesia|publisher=Federalkemerdekaan ResearchIndonesia]] Divisionini ofdibubarkan theoleh pemerintah kolonial [[LibraryHindia ofBelanda]] Congresssetahun kemudian, [[1913]] karena dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah.
|accessdate=2006-01-08}}</ref> Kampanye ke beberapa kota menghasilkan anggota berjumlah sekitar 5000 orang dalam waktu singkat. Semarang mencatat jumlah anggota terbesar, diikuti Bandung. Partai ini sangat populer di kalangan orang Indo, dan diterima baik oleh kelompok Tionghoa dan pribumi, meskipun tetap dicurigai pula karena gagasannya yang radikal. Partai yang anti-kolonial dan bertujuan akhir [[Proklamasi Indonesia|kemerdekaan Indonesia]] ini dibubarkan oleh pemerintah kolonial [[Hindia Belanda]] setahun kemudian, [[1913]] karena dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah.
 
Akibat munculnya tulisan terkenal Suwardi di ''De Expres'', "Als Ik Een Nederlander Was" (Seandainya Aku Seorang Belanda), ketiganya lalu diasingkan ke Belanda, karena DD dan Cipto mendukung Suwardi.
 
=== Dalam pembuangan di Eropa ===
[[Berkas:Zürich - Universität Zürich IMG 1204.JPG|thumb|200px|Universitas Zurich, tempat Ernest Douwes Dekker menempuh pendidikan tingginya.]]
Masa di Eropa dimanfaatkan oleh Nes untuk mengambil program doktor di [[Universitas Zürich]], [[Swiss]], dalam bidang ekonomi. Di sini ia tinggal bersama-sama keluarganya. Gelar doktor diperoleh secara agak kontroversial dan dengan nilai "serendah-rendahnya", menurut istilah salah satu pengujinya. Karena di Swis ia terlibat konspirasi dengan kaum revolusioner India, ia ditangkap di Hong Kong dan diadili, kemudian ia ditahan di Singapura (1918). Setelah dua tahun dipenjara, ia pulang ke Hindia Belanda 1920.
 
 
=== Pengasingan di Suriname ===
DD ditangkap dan dibuang ke [[Suriname]] pada tahun 1941 melalui Belanda. Di sana ia ditempatkan di suatu kamp jauh di pedalaman [[Sungai Suriname]] yang bernama [[Jodensavanne]] ("Padang Yahudi").<ref name = "Setiabuddhi" /> Tempat itu pada abad ke-17 hingga ke-19 pernah menjadi tempat permukiman orang [[Yahudi]] yang kemudian ditinggalkan karena kemudian banyak pendatang yang membuat keonaran.
 
Kondisi kehidupan di kamp sangat memprihatinkan. Sampai-sampai DD, yang waktu itu sudah memasuki usia 60-an, sempat kehilangan kemampuan melihat. Di sini kehidupannya sangat tertekan karena ia sangat merindukan keluarganya. Surat-menyurat dilakukannya melalui [[Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah|Palang Merah Internasional]] dan harus melalui [[sensor]].
Ernest Douwes Dekker wafat dini hari tanggal [[28 Agustus]] [[1950]] (tertulis di [[batu nisan]]nya; [[29 Agustus]] [[1950]] versi van der Veur, 2006) dan dimakamkan di [[Taman Makam Pahlawan Cikutra|TMP Cikutra]], Bandung.
 
== Penghargaan ==
Jasa DD dalam perintisan kemerdekaan diekspresikan dalam banyak hal. Di setiap kota besar dapat dijumpai jalan yang dinamakan menurut namanya: Setiabudi. Jalan Lembang di Bandung utara, tempat rumahnya berdiri, sekarang bernama Jalan Setiabudi. Di Jakarta bahkan namanya dipakai sebagai nama suatu [[kecamatan]], yakni Kecamatan [[Setiabudi, Jakarta Selatan|Setiabudi]] di [[Jakarta Selatan]].
 
Pengguna anonim