Buka menu utama

Perubahan

3.923 bita ditambahkan, 3 tahun yang lalu
 
== Sejarah ==
[[Berkas:AceticAcid012.jpg|thumb|right|Kristal asamAsam asetat yang dibekukandikristalkan|left]]
[[Cuka]] telah dikenal manusia sejak dahulu kala. Cuka dihasilkan oleh berbagai [[bakteria]] penghasil asam asetat, dan asam asetat merupakan hasil samping dari pembuatan [[bir]] atau [[anggur (minuman)|anggur]].
 
Penggunaan asam asetat sebagai pereaksi kimia juga sudah dimulai sejak lama. Pada abat ke-3 Sebelum Masehi, [[Filsuf]] [[Yunani kuno]] [[Theophrastos]] menjelaskan bahwa cuka bereaksi dengan [[logam|logam-logam]] membentuk berbagai [[zat warna]], misalnya timbal putih ([[timbal karbonat]]), dan ''[[verdigris]]'', yaitu suatu zat hijau campuran dari [[garam (kimia)|garam-garam]] [[tembaga]] dan mengandung [[tembaga (II) asetat]]. Bangsa [[Romawi]] menghasilkan ''sapa'', sebuah [[sirup]] yang amat manis, dengan mendidihkan anggur yang sudah asam. ''Sapa'' mengandung timbal asetat, suatu zat manis yang disebut juga ''gula timbal'' dan ''gula [[Saturnus]]''. Akhirnya hal ini berlanjut kepada peracunan dengan [[timbal]] yang dilakukan oleh para pejabat Romawi.<ref name=":0">{{Cite|last = Martin|first = Geoffrey|year = 1917|title = Industrial and Manufacturing Chemistry|edition = Part 1, Organic|location = London|publisher = Crosby Lockwood|pages = 330–331}}</ref>
 
Pada abad ke-8, ilmuwan [[Persia]] [[Abu Musa Jabir bin Hayyan|Jabir ibn Hayyan]] menghasilkan asam asetat pekat dari cuka melalui [[distilasi]]. Pada masa [[renaisans]], asam asetat glasial dihasilkan dari [[distilasi kering]] logam asetat. Pada abad ke-16 ahli [[alkimia]] [[Jerman]] [[Andreas Libavius]] menjelaskan prosedur tersebut, dan membandingkan asam asetat glasial yang dihasilkan terhadap cuka. Ternyata asam asetat glasial memiliki banyak perbedaan sifat dengan [[larutan]] asam asetat dalam air, sehingga banyak ahli kimia yang mempercayai bahwa keduanya sebenarnya adalah dua zat yang berbeda. Ahli [[kimia]] [[Prancis]] [[Pierre Adet]] akhirnya membuktikan bahwa kedua zat ini sebenarnya sama.<ref name=":0" /><ref>{{Cite|author1 = P. A. Adet|year = 1798|title = Mémoire sur l'acide acétique (Memoir on acetic acid)|journal = Annales de Chemie|volume = 27|pages = 299–319}}</ref>
 
Pada [[1847]] kimiawan Jerman [[Hermann Kolbe]] [[sintesis|mensintesis]] asam asetat dari zat [[senyawa anorganik|anorganik]] untuk pertama kalinya. Reaksi kimia yang dilakukan adalah [[klorinasi]] [[karbon disulfida]] menjadi [[karbon tetraklorida]], diikuti dengan [[pirolisis]] menjadi [[tetrakloroetilena]] dan klorinasi dalam air menjadi [[asam trikloroasetat]], dan akhirnya [[reduksi]] melalui [[elektrolisis]] menjadi asam asetat.<ref>{{Cite|last = Goldwhite|first = Harold|date = September 2003|title = Short summary of the career of the German organic chemist, Hermann Kolbe|journal = New Haven Section Bulletin American Chemical Society|volume = 20|issue = 3}}</ref>
 
Sejak [[1910]] kebanyakan asam asetat dihasilkan dari ''cairan piroligneous'' yang diperoleh dari distilasi [[kayu]]. Cairan ini direaksikan dengan [[kalsium hidroksida]] menghasilkan [[kalsium asetat]] yang kemudian diasamkan dengan [[asam sulfat]] menghasilkan asam asetat. Pada saat itu, Jerman memproduksi 10.000 [[ton]] asam asetat glasial, sekitar 30% dari yang digunakan untuk produksi [[Zat Warna Indigo|zat warna indigo]].<ref name=":0" /><ref>{{Cite|last = Schweppe|first = Helmut|year = 1979|title = Identification of dyes on old textiles|journal = Journal of the American Institute for Conservation|volume = 19|issue = 1/3|pages = 14–23|doi = 10.2307/3179569|jstor = 3179569}}</ref>
 
Oleh karena baik [[metanol]] dan [[karbon monoksida]] merupakan bahan baku komoditas umum, karbonilasi metanol merupakan daya tarik tersendiri sebagai prekursor asam asetat. [[Henri Dreyfus]] di [[British Celanese]] mengembangkan pabrik pilot karbonilasi metanol di awal tahun 1925.<ref>{{Cite|last = Wagner|first = Frank S.|year = 1978|title = Acetic acid|journal = Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology|edition = 3rd|location = New York|publisher = [[John Wiley & Sons]]|editor = Grayson, Martin}}</ref> Namun, kurangnya bahan praktis yang diperlukan dapat menampung campuran reaksi korosif pada [[tekanan]] tinggi (200 [[Atmosfer (satuan)|atm]] atau lebih) mematahkan komersialisasi proses ini. Proses karbonilasi metanol komersial pertama, menggunakan [[kobalt]] sebagai katalis, dikembangkan oleh perusahaan kimia Jerman [[BASF]] pada tahun 1963. Pada tahun 1968, katalis berbasis [[rodium]] (''cis''−[Rh(CO)<sub>2</sub>I<sub>2</sub>]<sup>−</sup>) ditemukan yang dapat beroperasi secara efisien pada tekanan rendah dengan hampir tanpa produk sampingan. Perusahaan kimia Amerika Serikat [[Monsanto Company]] membangun pabrik pertamanya menggunakan katalis ini pada tahun 1970, dan karbonilasi metanol dengan katalis rodium menjadi metode dominan pada produksi asam asetat (lihat [[proses Monsanto]]). Pada akhir 1990an, perusahaan kimia [[BP Chemicals]] mengkomersialkan katalis [[Proses Cativa|Cativa]] ([Ir(CO)<sub>2</sub>I<sub>2</sub>]<sup>−</sup>), dengan prekursor [[iridium]]<ref>{{Cite|author1 = Harold A. Wittcoff|author2 = Bryan G. Reuben|author3 = Jeffery S. Plotkin|title = Industrial Organic Chemicals|url = https://books.google.com.br/books?id=4KHzc-nYPNsC&dq=Cativa+BP&source=gbs_navlinks_s|edition = 2nd|publisher = John Wiley & Sons|year = 2004|isbn = 9780471443858}}</ref> untuk efisiensi yang lebih besar. Proses Cativa berkatalis [[iridium]] lebih [[Kimia hijau|ramah lingkungan]] dan lebih efisien<ref name=":1" /> dan telah menggantikan proses Monsanto.
 
== Sifat-sifat kimia ==
 
;=== Keasaman ===
Atom [[hidrogen]] (H) pada [[gugus fungsional|gugus]] [[gugus karboksil|karboksil]] (−COOH) dalam [[asam karboksilat]] seperti asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion H<sup>+</sup> ([[proton]]), sehingga memberikan sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah [[asam monoprotik|monoprotik]] dengan nilai pK<sub>a</sub>=4.8. Basa konjugasinya adalah [[asetat]] (CH<sub>3</sub>COO<sup>−</sup>). Sebuah larutan 1.0&nbsp;[[Molar|M]] asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah) memiliki [[pH]] sekitar 2.4.
Atom [[hidrogen]] (H) pada [[gugus fungsional|gugus]] [[gugus karboksil|karboksil]] (−COOH) dalam [[asam karboksilat]] seperti asam asetat dapat dilepaskan sebagai ion H<sup>+</sup> ([[proton]]), melalui peroses ionisasi sebagai berikut:<blockquote>CH<sub>3</sub>CO<sub>2</sub>H → CH<sub>3</sub>CO<sub>2</sub><sup>−</sup> + H<sup>+</sup></blockquote>Oleh karena itu, asam asetat mempunyai sifat asam. Asam asetat adalah asam lemah [[asam monoprotik|monoprotik]] dengan nilai [[Konstanta disosiasi asam|pK<sub>a</sub>]]=4,76.<ref>{{Cite|last1 = Goldberg|first1 = R.|last2 = Kishore|first2 = N.|last3 = Lennen|first3 = R.|year = 2002|title = Thermodynamic Quantities for the Ionization Reactions of Buffers|journal = Journal of Physical and Chemical Reference Data|volume = 31|issue = 2|pages = 231–370|bibcode = 1999JPCRD..31..231G|doi = 10.1063/1.1416902|url = http://www.nist.gov/data/PDFfiles/jpcrd615.pdf}}</ref> Basa konjugasinya adalah [[asetat]] (CH<sub>3</sub>COO<sup>−</sup>). [[Asam konjugat|Basa konjugatnya]] adalah asetat (CH<sub>3</sub>COO<sup>−</sup>). Sebuah larutan 1.0&nbsp;[[Molar|M]] asam asetat (kira-kira sama dengan konsentrasi pada cuka rumah) memiliki [[pH]] sekitar 2,4; menandakan bahwa sekitar 0,4% molekul asam asetat terdisosiasi.<ref group="n">[H<sub>3</sub>O<sup>+</sup>] = 10<sup>−2.4</sup> = 0.4 %</ref>
 
[[Berkas:Acetic acid deprotonation.png|375px|Reaksi kesetimbangan asam asetat dalam air]]
 
; Dimer siklis
Struktur [[kristal]] asam asetat menunjukkan bahwa [[molekul|molekul-molekul]] asam asetat berpasangan membentuk [[dimer]] yang dihubungkan oleh [[ikatan hidrogen]].<ref>Jones, R.E.; Templeton, D.H. (1958). "The crystal structure of acetic acid". ''Acta Crystallogr.'' '''11'''(7), 484–87.</ref> Dimer juga dapat dideteksi pada [[uap]] [[temperatur|bersuhu]] 120&nbsp;[[Derajat Celsius|°C]]. Dimer juga terjadi pada larutan encer di dalam pelarut tak-berikatan-hidrogen, dan kadang-kadang pada cairan asam asetat murni.<ref>James M. Briggs; Toan B. Nguyen; William L. Jorgensen. Monte Carlo simulations of liquid acetic acid and methyl acetate with the OPLS potential functions. ''J. Phys. Chem.'' '''1991''', ''95'', 3315-3322.</ref> Dimer dirusak dengan adanya pelarut berikatan hidrogen (misalnya [[air]]). Entalpi disosiasi dimer tersebut diperkirakan 65.0–66.0 kJ/mol, entropi disosiasi sekitar 154–157 J mol<sup>−1</sup> K<sup>−1</sup>.<ref>James B. Togeas. Acetic Acid Vapor: 2. A Statistical Mechanical Critique of Vapor Density Experiments. ''J. Phys. Chem. A'' '''2005''', ''109'', 5438-5444. {{doi|10.1021/jp058004j}}</ref> Sifat dimerisasi ini juga dimiliki oleh asam karboksilat sederhana lainnya.[[Berkas:Acetic acid cyclic dimer.png|160px|thumb|Dimer siklis dari asam asetat, garis putus-putus melambangkan ikatan hidrogen.|left]]
[[Berkas:Acetic acid cyclic dimer.png|160px|thumb|Dimer siklis dari asam asetat, garis putus-putus melambangkan ikatan hidrogen.]]
Struktur [[kristal]] asam asetat menunjukkan bahwa [[molekul|molekul-molekul]] asam asetat berpasangan membentuk [[dimer]] yang dihubungkan oleh [[ikatan hidrogen]].<ref>Jones, R.E.; Templeton, D.H. (1958). "The crystal structure of acetic acid". ''Acta Crystallogr.'' '''11'''(7), 484–87.</ref> Dimer juga dapat dideteksi pada [[uap]] [[temperatur|bersuhu]] 120&nbsp;[[Derajat Celsius|°C]]. Dimer juga terjadi pada larutan encer di dalam pelarut tak-berikatan-hidrogen, dan kadang-kadang pada cairan asam asetat murni.<ref>James M. Briggs; Toan B. Nguyen; William L. Jorgensen. Monte Carlo simulations of liquid acetic acid and methyl acetate with the OPLS potential functions. ''J. Phys. Chem.'' '''1991''', ''95'', 3315-3322.</ref> Dimer dirusak dengan adanya pelarut berikatan hidrogen (misalnya [[air]]). Entalpi disosiasi dimer tersebut diperkirakan 65.0–66.0 kJ/mol, entropi disosiasi sekitar 154–157 J mol<sup>−1</sup> K<sup>−1</sup>.<ref>James B. Togeas. Acetic Acid Vapor: 2. A Statistical Mechanical Critique of Vapor Density Experiments. ''J. Phys. Chem. A'' '''2005''', ''109'', 5438-5444. {{doi|10.1021/jp058004j}}</ref> Sifat dimerisasi ini juga dimiliki oleh asam karboksilat sederhana lainnya.
 
; Sebagai Pelarut
Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti [[air]] dan [[etanol]]. Asam asetat memiliki [[konstanta dielektrik]] yang sedang yaitu 6.2, sehingga ia bisa melarutkan baik [[senyawa kimia|senyawa]] polar seperi [[garam (kimia)|garam]] [[kimia anorganik|anorganik]] dan [[gula]] maupun senyawa non-polar seperti minyak dan [[unsur kimia|unsur-unsur]] seperti [[sulfur]] dan [[iodin]]. Asam asetat bercambur dengan mudah dengan [[pelarut]] polar atau nonpolar lainnya seperti air, [[kloroform]] dan [[heksana]]. Sifat kelarutan dan kemudahan bercampur dari asam asetat ini membuatnya digunakan secara luas dalam industri kimia.
: (3) CH<sub>3</sub>COI + H<sub>2</sub>O → CH<sub>3</sub>COOH + HI
 
Jika kondisi reaksi diatas diatur sedemikian rupa, proses tersebut juga dapat menghasilkan [[anhidrida asetat]] sebagai hasil tambahan. Karbonilasi metanol sejak lama merupakan metode paling menjanjikan dalam produksi asam asetat karena baik metanol maupun karbon monoksida merupakan [[bahan mentah]] komoditi. [[Henry Dreyfus]] mengembangkan cikal bakal pabrik karbonilasi metanol pada perusahaan [[Celanese]] pada tahun 1925.<ref>Wagner, Frank S. (1978) "Acetic acid." In: Grayson, Martin (Ed.) ''Kirk-Othmer Encyclopedia of Chemical Technology'', 3rd edition, New York: John Wiley & Sons.</ref> Namun, kurangnya bahan-bahan praktis yang dapat diisi bahan-bahan [[korosi]]f dari reaksi ini pada [[tekanan]] yang dibutuhkan yaitu 200 atm menyebabkan metoda ini ditinggalkan untuk tujuan komersial. Baru pada 1963 pabrik komersial pertama yang menggunakan karbonilasi metanol didirikan oleh perusahaan kimia [[Jerman]], BASF dengan katalis [[kobalt]] (Co). Pada 1968, ditemukan katalis kompleks [[Rhodium]], ''cis''−[Rh(CO)<sub>2</sub>I<sub>2</sub>]<sup>−</sup> yang dapat beroperasi dengan optimal pada tekanan rendah tanpa produk sampingan. Pabrik pertama yang menggunakan katalis tersebut adalah perusahan kimia [[Amerika Serikat|AS]] Monsanto pada 1970, dan metode karbonilasi metanol berkatalis Rhodium dinamakan [[proses Monsanto]] dan menjadi metode produksi asam asetat paling dominan. Pada akhir 1990'an, perusahan petrokimia [[BP|British Petroleum]] mengkomersialisasi katalis Cativa ([Ir(CO)<sub>2</sub>I<sub>2</sub>]<sup>−</sup>) yang didukung oleh [[ruthenium]]. Proses berbasis [[iridium]] ini lebih efisien dan lebih "hijau" dari metode sebelumnya<ref name=":1">Lancaster, Mike (2002) ''Green Chemistry, an Introductory Text'', Cambridge: Royal Society of Chemistry, pp. 262–266. ISBN 0-85404-620-8.</ref>, sehingga menggantikan proses Monsanto.
 
=== Oksidasi asetaldehida ===
* [[Asetat]]
* ''[[Acetobacter]]''
 
== Catatan kaki ==
{{Reflist}}
 
== Referensi ==