Lengayang, Pesisir Selatan: Perbedaan revisi

k
Robot: Perubahan kosmetika
k (clean up, replaced: Beliau → Dia, removed stub tag)
k (Robot: Perubahan kosmetika)
 
==== Perjalanan Rombongan Pertama ====
Rombongan pertama, Niniek Kurang Aso Anam Puluah, yang terdiri suku Kampai, Panai, dan Tigo lareh, barangkat dari Alam Surambi Sungai Pagu. Mendaki Bukit Pasikayan, manuruni Bukit Pungguang Ladiang, maniti Pamatang Bangko, Turun ke Pamatang Bukik Sarai, hingga Ke Gunuang Tigo.Di gunung Tigo lah pertama kali rombongan menetap namun kemudian ditinggalkan. Rombongan menuju Rantau Hilalang, terus ke Lubuak Sambuang, Lubuak Durian, Lubuak Ransam, Lubuak Batu Rimau, Lubuak Panjang, Lubuak Parahu Pacah, Talaok, Lubuak Sarongkok, Lubuak Jantan, Lubuak Limau Kambiang, Kayu Alang, Lubuak Marunggai, Lubuak Bujang Juaro, sampai ke Pasie Laweh.
 
Pasie Laweh adalah tempat pemukiman tetap pertama yang masih berlanjut sampai sekarang sebelum daerah Batu Hampar, kampung Akad, Gantiang Kubang, Lubuak Sariak, dan Koto Marapak.
 
Pada masa Koto Marapak berkembang, datang lah rombongan yang disebut orang Rupik. Rajanya bernama Sitotok Sitarahan dengan dubalang Sianja Sipilihan. Orang Rupik berbuat sewenang-wenang merusak kerukunan dan kenyamanan masyarakat waktu itu. Sari Dano dari suku kampai dikirim ke Sungai Pagu guna mengadukan kondisi mengenaskan yang terjadi Pasie Laweh dan sekitarnya di paska kedatangan orang Rupik.
Pucuk/Ikek/Pemimpin dari datuak suku Malayu ampek niniak adalah '''Datuk Tan Nan Sati''', dikenal juga dengan himbauan Datuk Sati
 
Jumlah suku yang 14 di kepalai oleh Datuak yang disebut DATUAK NAN AMPEK BALEH
Jumlah Datuk masing-masing suku di pimpim oleh 4 Pucuk/ikek yang disebut IKEK NAN AMPEK
 
Sampai di sebuah bukit yang bernama Bukit Sitinjau Laut, sebelum Bukit Pasikayan, Rombongan berpisah menjadi tiga bagian, Rombongan pertama menuju wilayah Pasie Laweh, Koto marapak dan sekitarnya, dipimpin oleh Bagindo Sati. Rombongan kedua kearah selatan menuju Air Haji, dipimpin oleh Sutan Rajo Hitam. Rombongan ketiga ke arah utara ke Hulu Bayang, di pimpin oleh Malin Sirah. Sebelum berpisah di adakan jamuan makan dengan memotong kerbau. Kerbau ini di sebut KABAU TANGAH DUO. Kerbau bunting yang sudah anak di dalam kandungannya, jantung kerbau dibagi tiga masing-masing untuk kepala rombongan.
 
Setelah berpisah, dari Puncak bukit, Bagindo Sati memandang ke arah laut, (Lauik nan sadidiah, Pasie nan gumilang), terlihat wilayah yang menguncup kearah hulu, dan mengembang luas ke arah lautan. Di sinilah Sang Raja yang didatangkan dari Sungai Pagu ini memanggil daerah ini dengan Sebutan “ KAMBANG “.
 
Bagindo Sati di terima di Koto Marapak oleh masyarakat Kambang di wakili oleh Ikek nan Ampek. Setelah memperlihatkan tanda-tanda kebesaran dan pakaian kebesaran Raja, Bagindo Sati di terima secara sepakat dan dinobatkan menjadi Raja dengan perhelatan selama 14 hari lamanya. Bagindo Sati kemudian membuka tempat baru dan mendirikan kediaman raja di daerah tersebut. Tempat baru tersebut di namakan Dusun Baru atau sekarang terkenal dengan sebutan “Sunbaru/Sumbaru”.
Alat-Alat Kebesaran dan Pakaian Raja di simpan dalam kamar khusus dalam rumah raja. kemudian di kenal dengan sebutan “ Biliak Dalam”. Sampai saat ini, Jorong Sumbaru di sebut juga Biliak Dalam.
Sewaktu Bagindo Sati menjadi Raja, Tuangku Malin Sirah yang di telah sampai ke Hulu Bayang, kembali menuju Kambang melalui jalur pantai dan menetap di Talang Gadang, Hulu Batang Kambang. Disitulah Malin Sirah menetap. Malin Sirah juga mendapat alat kebesaran dan pakaian raja.
 
Bagindo Sati menjadi Raja Kambang beberapa generasi. Setelah itu melalui kesepakatan datuk-datuk suku Kampai dan Pucuk/ikek masing-masing suku menobatkan Pancang Tuo menjadi Raja dengan gelar SUTAN KALIFAH. Suran Kalifah berdiam di Lubuak Sariak. Lubuak Sariak di kenal dengan nama Rumah Dalam. (Kampuang Bingkahan Tanah pucuak suku Kampai )
 
Setelah Sutan Kalifah mangkat, melalui hasil kesepakatan Kampai nan empat Paruik dan ikek suku Malayu, ikek suku Panai, dan ikek suku tigo lareh, menunjuk turunan dari Tuanku Malin Sirah, '''Sutan Bagindo Rajo Bukik''' menjadi Raja. Sutan Bagindo Rajo Bukik berdiam di Medan baik. Medan baiak kemudian di kenal dengan nama Kampuang Dalam.
“Adat nan bapucuak Bulek, Syarak nan Bapayuang Panji".
 
1. Raja
Payuang Panji dalam Nagari berasal dari suku kampai bagian dari
- Bagindo Sati di Sumbaru
110.443

suntingan