Jujutsu: Perbedaan revisi

1 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
k
Bot: Penggantian teks otomatis (-dimana +di mana); perubahan kosmetik
k (penggantian teks otomatis dengan menggunakan mesin AutoWikiBrowser, replaced: beliau → dia (3))
k (Bot: Penggantian teks otomatis (-dimana +di mana); perubahan kosmetik)
'''Jujutsu''' ([[bahasa Jepang]]: 柔術, ''jūjutsu''; juga '''jujitsu''', '''ju jutsu''', '''ju jitsu''', atau '''jiu jitsu''') adalah nama dari beberapa macam aliran beladiri dari [[Jepang]]. Tidaklah betul jika dikatakan bahwa Ju-Jitsu mengacu pada satu macam beladiri saja.
 
Jujutsu pada dasarnya adalah bentuk-bentuk pembelaan diri yang bersifat defensif dan memanfaatkan "Yawara-gi" atau teknik-teknik yang bersifat fleksibel, dimanadi mana serangan dari lawan tidak dihadapi dengan kekuatan, melainkan dengan cara "menipu" lawan agar daya serangan tersebut dapat digunakan untuk mengalahkan dirinya sendiri. Dari seni beladiri Jujutsu ini, lahirlah beberapa seni beladiri lainnya yang mempunyai konsep defensif serupa, yaitu [[Aikido]] dan [[Judo]], keduanya juga berasal dari Jepang.
 
Jujutsu terdiri atas bermacam-macam aliran (Ryuha), namun pada garis besarnya terbagi atas dua "gaya", yaitu tradisional dan modern. Gerakan dari kedua macam "gaya" Jujutsu ini adalah hampir sama, namun jurus-jurus Jujutsu modern sudah disesuaikan dengan situasi pembelaan diri pada zaman modern, sedangkan jurus-jurus Jujutsu tradisional biasanya mencerminkan situasi pembelaan diri di saat aliran Jujutsu yang bersangkutan diciptakan. Sebagai contoh, Jujutsu yang diciptakan pada zaman Sengoku Jidai (sebelum Shogun [[Tokugawa]] berkuasa) menekankan pada pertarungan di medan perang dengan memakai baju besi (disebut Yoroi Kumi Uchi), sedangkan yang diciptakan pada zaman [[Edo]] (sesudah Shogun Tokugawa berkuasa) menekankan pada beladiri dengan memakai pakaian sehari-hari (Suhada Jujutsu).
 
== Perguruan Jujutsu di Indonesia ==
Ada banyak organisasi Jiu-Jitsu (Jujutsu) di Indonesia, dimanadi mana yang tertua adalah '''Jiujitsu Club Indonesia (JCI)''' yang didirikan oleh alm. '''Bp. Ferry Soneville''' pada tahun '''1950'''. Bp. Soneville juga dibantu oleh '''Bp. M.A. Affendi''' dan beberapa ahli beladiri lainnya saat merintis perguruan dia. Perguruan ini sampai sekarang (2007) masih aktif dibawah pimpinan '''Bp. Prayitno''', seorang pebeladiri senior yang sempat tinggal lama di Australia dan belajar dibawah bimbingan '''Mr. Jan de Jong''', seorang murid langsung dari grandmaster '''Minoru Mochizuki'''.
 
Sebelum kemerdekaan Indonesia, yaitu pada masa penjajahan Belanda, tepatnya tahun '''1920'''an, di Jawa Tengah ada tercatat perguruan '''Tsutsumi Hozan-ryu Jujutsu''' yang diasuh oleh '''keluarga Saito''' (Mr. Jan de Jong tercatat sebagai anggota perguruan ini), dan perguruan Jujutsu jalan Kranggan Surabaya yang diasuh oleh '''Mr. Isuki Watanabe'''. Namun kedua perguruan ini tidak aktif lagi semenjak perang dunia ke II, walaupun masih ada murid-murid perguruan tersebut yang tetap setia mengajarkan Jujutsu di luar Indonesia.
Perguruan Jujutsu lainnya yang masih eksis di Indonesia adalah Take Sogo Budo yang dipimpin '''Hero Pranoto''', dan KYUURAI yang dipimpin oleh ''' Sensei Darmawan'''.Perguruan Kyuurai Jujitsu dirintis pertama kali di '''Gelanggang Generasi Muda Bandung''' tahun 2000. Berkembang di '''Universitas Katolik Parahyangan Bandung''' yang dirintis oleh '''Renshi Ichi-Dan Yosafat Tunjung''', '''Bulungan, Jakarta Selatan''', dirintis oleh '''Sempai Tagor Ricardo, Sempai Beverly Charles, dan Sempai Ira Hutabarat''' ,dikembangkan di '''Batamindo-Batam''' Kep.Riau dirintis oleh '''Dr. John Sulistiawan, bersama dengan Renshi Ichi-Dan Khufran Hakim Noor dan Rizka Billitania'''.Aliran Kyuurai menitik beratkan pada pemahaman dan filosofi gerak koshi no mawari yang langka.Dan sistem pengobatan yang berdasarkan pada '''Kokyu-ho dan pengaturan pola makanan dengan buah-buahan dan sayuran'''.
 
Selain itu tidak boleh dilupakan bahwa aliran '''Kushin Ryu Jujutsu''' yang diajarkan oleh Mahaguru Horyu Matsuzaki juga diajarkan sebagai bagian dari silabus perguruan '''Kushin Ryu M Karatedo Indonesia''', oleh murid-murid dia yang berkebangsaan Indonesia, yaitu '''(alm) Bp. Alibasyah''' ayahhanda '''Bp. H. Sofyan Hambally dari Dojo Kopo Bandung'''. Sepeninggalnya Bp. Alibasyah, praktis tongkat pengembangan Kushin Ryu dilakukan oleh Shihan Sofyan Hambally. Saat ini, mantan Ketua Dewan Guru PP-KKI itu mengembangkan dan memfokuskan pelatihan jujitsu melalui wadah komunitas ''' KUSHIN RYU JUJITSU INDONESIA (KJI)" bersama Sensei Arman Hidayat, Ketua Dewan Guru KKI Jawa Barat.
 
Dari tinjauan di atas dapat kita lihat bahwa di Indonesia ada cukup banyak perguruan seni beladiri Jujutsu dengan berbagai alirannya.
 
Seni beladiri Jujutsu di Indonesia belum mencapai kemajuan yang pesat dan mencapai popularitas seperti dialami oleh beladiri lainnya, karena '''di Indonesia belum ada wadah yang dapat menjadi ajang silaturahmi dan kerjasama semua perguruan Jujutsu yang ada''', tidak seperti Pencak Silat yang dapat bersatu lewat IPSI nya dan Karatedo yang dapat bersatu lewat FORKI. Jika perguruan-perguruan Jujutsu yang berbeda-beda aliran di Indonesia dapat mencapai kata sepakat untuk membentuk suatu wadah persatuan dan kerjasama, dimanadi mana semua perguruan bisa duduk sebagai mitra yang sejajar dan saling menghormati, maka perkembangan beladiri Jujutsu di Indonesia tentu tidak akan kalah kemajuannya dengan olahraga beladiri Jepang lainnya.
 
Salah satu perguruan Jujutsu di Indonesia yang cukup sukses dan berhasil memiliki anggota dalam jumlah besar adalah dari aliran '''Kyushin Ryu'''. Jiu-Jitsu aliran "Kyushin Ryu" yang kabarnya masuk ke Indonesia pada masa pergolakan Perang Dunia II (1942) di bawa oleh seorang tentara Jepang yang bernama '''Ishikawa'''. Karena itu '''Jiu-jitsu Indonesia (skrg. IJI-Institut Jiu-Jitsu Indonesia)''' dikenal dengan aliran '''I Kyushin Ryu'''.
 
Ishikawa kemudian mewariskan ilmunya kepada R. Sutopo (seorang ahli Silat dari BANTAR ANGIN Ponorogo) yang kemudian diturunkan kepada kelima muridnya yaitu Drs. Firman
Sitompul(Dan X),Prof. Irjen(Pol)Drs. DPM Sitompul, SH, MH(Dan X), Drs. Heru Nurcahyo (Dan VIII), Drs. Bambang Supriyanto (Dan VI), dan Drs. Heru Winoto (Dan V). Kelima murid inilah yang menjadi cikal bakal tumbuh dan berkembangnya Jiu-Jitsu aliran IJI di Indonesia. Salah satu penerusnya adalah Drg. Poul DH Sitompul, M.M (Dan IV) yang langsung belajar dari kedua pamannya (Drs. Firman Sitompul, Dan X dan Prof. Irjen. Drs DPM Sitompul, SH., MH., Dan X)Perguruan IJI hanya mengajarkan aliran Ju-Jitsu hasil karya Raden Sutopo dan tidak mengajarkan aliran Ju-Jitsu lainnya. Sedangkan ilmu warisan dari Master Ishikawa yang sesuai bentuk aslinya diajarkan di perguruan PORBIKAWA yang sekarang masih eksis di Surabaya.
 
* [[Tonfa]]
* [[Wado]]
{{olahraga-stub}}
 
[[Kategori:Jujutsu| ]]
 
 
{{olahraga-stub}}
110.443

suntingan