Kekhalifahan Umayyah: Perbedaan revisi

4 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
k
clean up, replaced: dibawah → di bawah, beliau → dia, diantara → di antara, dimana → di mana (6)
k (clean up, replaced: dibawah → di bawah, beliau → dia, diantara → di antara, dimana → di mana (6))
== Masa Keemasan ==
[[Berkas:Dome of the Rock1.jpg|thumb|280px|right|[[Kubah Batu]] di Kompleks [[Masjidil Aqsa]] yang dibangun Bani Ummayyah]]
Masa ke-Khilafahan Bani Umayyah hanya berumur 90 tahun yaitu dimulai pada masa kekuasaan [[Muawiyah bin Abu Sufyan]], yaitu setelah terbunuhnya [[Ali bin Abi Thalib]], dan kemudian orang-orang [[Madinah]] membaiat [[Hasan bin Ali]] namun Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan dalam rangka mendamaikan kaum muslimin yang pada masa itu sedang dilanda bermacam fitnah yang dimulai sejak terbunuhnya [[Utsman bin Affan]], [[pertempuran Shiffin]], [[perang Jamal]], terbunuhnya Ali bin Abi Thalib, serta penghianatan dari orang-orang [[Khawarij]]<ref>Ibnu Katsir berkata (10/643), “Al-Haitsam bin Adi menyebutkan bahwa setelah Ali memerangi kaum Khawarij membangkang pula seorang lelaki penduduk Bashrah dari Bani Najiyah bernama al-Harits bin Rasyid. Dalam ''Tarikh ath-Thabari'', 5/113 disebutkan namanya al-Khariit bin Rasyid an-Naji, lalu beliaudia menyebutkan perfndan kisah ini dari jalur Abu Mikhnaf.</ref> dan [[Syi'ah]].<ref>[[Muhammad bin Ali]] bin Abi Thalib menasehatinya agar tidak pergi ke Kufah dengan berkata, “Saudaraku, engkau telah mengetahui bahwa penduduk Kufah mengkhianati Ayahmu dan Saudaramu. Saya takut keadaanmu akan seperti keadaan orang-orang yang telah berlalu (pergi ke Kufah).” (''Al-Luhuf'', Ibnu Thawus hlm 39, dan ''Asyura, Al-Ihsa'', hlm. 110).</ref><ref>Pengkhianatan-Pengkhianatan Syiah, karya DR. Imad Ali Abdus Sami, No ISBN: 978-979-592-3374.</ref><ref>Kitab ''Taarikh Abil Fida’ Al Musamma Al-Mukhtashar fi Akhbaril Basyar'', Juz 1 hlm. 265. Kronologis terbunuhnya Husain bin Ali, oleh kaum Syiah sendiri yang dipimpin oleh Ubaidillah bin Ziyad yang sebelumnya merupakan tentara di pasukan Ali bin Abi Thalib (148 H – 193 H/786 M – 842 M).</ref><ref>Ibnu Katsir berkata: “Nashir Lidinillah memiliki perilaku buruk terhadap rakyatnya dan mendhaliminya. Ia menghancurkan dan memisahkan keluarganya ketika berada di Irak. Ia berbuat sesuatu dan kebalikannya. Ia menganut madzhab Syiah. Dikatakan bahwa antara dirinya dengan Tatar terjadi surat menyurat agar ia tertarik ke negaranya. Ini adalah bencana kecil, baginya setiap dosa besar terjadi.” (''Al-Bidayah wan Nihayah'', Ibnu Katsir, Juz 13 hlm. 106 – 107).</ref>
 
Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan perluasan wilayah yang terhenti pada masa khalifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib dilanjutkan kembali, dimulai dengan menaklukan [[Tunisia]], kemudian ekspansi ke sebelah timur, dengan menguasai daerah [[Khurasan]] sampai ke sungai [[Oxus]] dan [[Afganistan]] sampai ke [[Kabul]],. Sedangkan angkatan lautnya telah mulai melakukan serangan-serangan ke ibu kota [[Bizantium]], [[Konstantinopel]]. Sedangkan ekspansi ke timur ini kemudian terus dilanjutkan kembali pada masa khalifah [[Abdul Malik bin Marwan]]. Abdul Malik bin Marwan mengirim tentara menyeberangi sungai [[Oxus]] dan berhasil menundukkan [[Balkanabad]], [[Bukhara]], [[Khwarezmia]], [[Lembah Ferghana|Ferghana]] dan [[Samarkand]]. Tentaranya bahkan sampai ke [[India]] dan menguasai [[Balochistan (region)|Balukhistan]], [[Sind]] dan daerah [[Punjab]] sampai ke [[Multan]].
Dengan keberhasilan ekspansi ke beberapa daerah, baik di timur maupun barat, wilayah kekuasaan Islam masa Bani Umayyah ini betul-betul sangat luas. Daerah-daerah itu meliputi [[Spanyol]], [[Afrika Utara]], [[Syria]], [[Palestina]], [[Jazirah Arab]], [[Irak]], sebagian [[Asia Kecil]], [[Persia]], [[Afganistan]], daerah yang sekarang disebut [[Pakistan]], [[Turkmenistan]], [[Uzbekistan]], dan [[Kirgistan]] di [[Asia Tengah]].
 
Disamping ekspansi kekuasaan Islam, Bani Umayyah juga banyak berjasa dalam pembangunan di berbagai bidang. Muawiyah bin Abu Sufyan mendirikan dinas pos dan tempat-tempat tertentu dengan menyediakan kuda yang lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan. Dia juga berusaha menertibkan angkatan bersenjata dan mencetak mata uang. Pada masanya, jabatan khusus seorang hakim (qadhi) mulai berkembang menjadi profesi tersendiri, Qadhi adalah seorang spesialis dibidangnya. Abdul Malik bin Marwan mengubah mata uang [[Bizantium]] dan [[Persia]] yang dipakai di daerah-daerah yang dikuasai Islam. Untuk itu, dia mencetak uang tersendiri pada tahun 659 M dengan memakai kata-kata dan [[Alfabet Arab|tulisan Arab]]. Khalifah Abdul Malik bin Marwan juga berhasil melakukan pembenahan-pembenahan administrasi pemerintahan dan memberlakukan [[bahasa Arab]] sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan Islam. Keberhasilan ini dilanjutkan oleh puteranya Al-Walid bin Abdul-Malik (705-715 M) meningkatkan pembangunan, diantaranyadi antaranya membangun panti-panti untuk orang cacat, dan pekerjanya digaji oleh negara secara tetap. Serta membangun jalan-jalan raya yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lainnya, pabrik-pabrik, gedung-gedung pemerintahan dan masjid-masjid yang megah.
 
Meskipun keberhasilan banyak dicapai daulah ini, namun tidak berarti bahwa politik dalam negeri dapat dianggap stabil. Pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan inilah suksesi kekuasaan bersifat ''monarchiheridetis'' (kepemimpinan secara turun temurun) mulai diperkenalkan, dimanadi mana ketika dia mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, yaitu [[Yazid bin Muawiyah]]. Muawiyah bin Abu Sufyan dipengaruhi oleh sistem monarki yang ada di [[Persia]] dan [[Bizantium]], istilah [[khalifah]] tetap digunakan, namun Muawiyah bin Abu Sufyan memberikan interprestasi sendiri dari kata-kata tersebut dimanadi mana ''khalifah Allah'' dalam pengertian ''penguasa'' yang diangkat oleh [[Allah]] padahal tidak ada satu dalil pun dari al-Qur'an dan hadits nabi yang mendukung pendapatnya.
 
Dan kemudian [[Muawiyah bin Abu Sufyan]] dianggap tidak mentaati isi perjanjiannya dengan [[Hasan bin Ali]] ketika dia naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan penggantian kepemimpinan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Deklarasi pengangkatan anaknya [[Yazid bin Muawiyah]] sebagai putera mahkota menyebabkan munculnya gerakan-gerakan oposisi di kalangan rakyat yang mengakibatkan terjadinya perang saudara beberapa kali dan berkelanjutan.
Perlawanan Abdullah bin Zubair baru dapat dihancurkan pada masa kekhalifahan [[Abdul Malik bin Marwan]], yang kemudian kembali mengirimkan pasukan Bani Umayyah yang dipimpin oleh [[Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi]] dan berhasil membunuh Abdullah bin Zubair pada tahun 73 H/692 M.
 
Setelah itu, gerakan-gerakan lain yang dilancarkan oleh kelompok [[Khawarij]] dan [[Syi'ah]] juga dapat diredakan. Keberhasilan ini membuat orientasi pemerintahan Bani Umayyah mulai dapat diarahkan kepada pengamanan daerah-daerah kekuasaan di wilayah timur (meliputi kota-kota di sekitar [[Asia Tengah]]) dan wilayah [[Afrika]] bagian utara, bahkan membuka jalan untuk menaklukkan [[Spanyol]] ([[Al-Andalus]]). Selanjutnya hubungan pemerintah dengan golongan oposisi membaik pada masa pemerintahan Khalifah [[Umar bin Abdul-Aziz]] (717-720 M), di mana sewaktu diangkat sebagai khalifah, menyatakan akan memperbaiki dan meningkatkan negeri-negeri yang berada dalam wilayah [[Islam]] agar menjadi lebih baik daripada menambah perluasannya, dimanadi mana pembangunan dalam negeri menjadi prioritas utamanya, meringankan zakat, kedudukan [[mawali]] disejajarkan dengan [[Arab]]. Meskipun masa pemerintahannya sangat singkat, namun berhasil menyadarkan golongan [[Syi'ah]], serta memberi kebebasan kepada penganut agama lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya.
 
== Penurunan ==
Sepeninggal [[Umar bin Abdul-Aziz]], kekuasaan Bani Umayyah dilanjutkan oleh [[Yazid bin Abdul-Malik]] (720- 724 M). Masyarakat yang sebelumnya hidup dalam ketenteraman dan kedamaian, pada masa itu berubah menjadi kacau. Dengan latar belakang dan kepentingan etnis politis, masyarakat menyatakan konfrontasi terhadap pemerintahan Yazid bin Abdul-Malik cendrung kepada kemewahan dan kurang memperhatikan kehidupan rakyat. Kerusuhan terus berlanjut hingga masa pemerintahan khalifah berikutnya, [[Hisyam bin Abdul-Malik]] (724-743 M). Bahkan pada masa ini muncul satu kekuatan baru dikemudian hari menjadi tantangan berat bagi pemerintahan Bani Umayyah. Kekuatan itu berasal dari kalangan [[Bani Hasyim]] yang didukung oleh golongan mawali. Walaupun sebenarnya Hisyam bin Abdul-Malik adalah seorang khalifah yang kuat dan terampil. Akan tetapi, karena gerakan oposisi ini semakin kuat, sehingga tidak berhasil dipadamkannya.
 
Setelah [[Hisyam bin Abdul-Malik]] wafat, khalifah-khalifah Bani Umayyah yang tampil berikutnya bukan hanya lemah tetapi juga bermoral buruk. Hal ini semakin memperkuat golongan oposisi. Dan akhirnya, pada tahun 750 M, Daulah Umayyah digulingkan oleh [[Bani Abbasiyah]] yang merupakan bahagian dari Bani Hasyim itu sendiri, dimanadi mana [[Marwan bin Muhammad]], khalifah terakhir Bani Umayyah, walaupun berhasil melarikan diri ke Mesir, namun kemudian berhasil ditangkap dan terbunuh di sana. Kematian Marwan bin Muhammad menandai berakhirnya kekuasaan Bani Umayyah di timur (Damaskus) yang digantikan oleh Daulah Abbasiyah, dan dimulailah era baru Bani Umayyah di Al-Andalus.
 
== Bani Umayyah di Andalus ==
{{utama|Bani Umayyah Al-Andalus}}
 
[[Al-Andalus]] atau (kawasan [[Spanyol]] dan [[Portugis]] sekarang) mulai ditaklukan oleh umat [[Islam]] pada zaman khalifah Bani Umayyah, [[Al-Walid bin Abdul-Malik]] (705-715 M), dimanadi mana tentara Islam yang sebelumnya telah menguasai [[Afrika Utara]] dan menjadikannya sebagai salah satu propinsi dari dinasti Bani Umayyah.
 
Dalam proses penaklukan ini dimulai dengan kemenangan pertama yang dicapai oleh [[Tariq bin Ziyad]] membuat jalan untuk penaklukan wilayah yang lebih luas lagi. Kemudian pasukan Islam dibawahdi bawah pimpinan [[Musa bin Nushair]] juga berhasil menaklukkan [[Sidonia]], [[Karmona]], [[Seville]], dan [[Merida]] serta mengalahkan penguasa kerajaan [[Goth]], [[Theodomir]] di [[Orihuela]], ia bergabung dengan Thariq di [[Toledo]]. Selanjutnya, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya, mulai dari [[Zaragoza]] sampai [[Navarre]].
 
Gelombang perluasan wilayah berikutnya muncul pada masa pemerintahan Khalifah [[Umar bin Abdul-Aziz]] tahun 99 H/717 M, dimanadi mana sasaran ditujukan untuk menguasai daerah sekitar pegunungan [[Pirenia]] dan [[Perancis Selatan]]. Pimpinan pasukan dipercayakan kepada [[Al-Samah]], tetapi usahanya itu gagal dan ia sendiri terbunuh pada tahun 102 H. Selanjutnya, pimpinan pasukan diserahkan kepada [[Abdurrahman bin Abdullah al-Ghafiqi]]. Dengan pasukannya, ia menyerang kota [[Bordeaux]], [[Poitiers]] dan dari sini ia mencoba menyerang kota [[Tours]], di kota ini ia ditahan oleh [[Charles Martel]], yang kemudian dikenal dengan [[Pertempuran Tours]], al-Ghafiqi terbunuh sehingga penyerangan ke [[Perancis]] gagal dan tentara muslim mundur kembali ke [[Spanyol]].
 
Pada masa penaklukan Spanyol oleh orang-orang [[Islam]], kondisi sosial, politik, dan ekonomi negeri ini berada dalam keadaan menyedihkan. Secara politik, wilayah Spanyol terkoyak-koyak dan terbagi-bagi ke dalam beberapa negeri kecil. Bersamaan dengan itu penguasa Goth bersikap tidak toleran terhadap aliran agama yang dianut oleh penguasa, yaitu aliran Monofisit, apalagi terhadap penganut agama lain, Yahudi. Penganut agama [[Yahudi]] yang merupakan bagian terbesar dari penduduk Spanyol dipaksa dibaptis menurut agama [[Kristen]]. Yang tidak bersedia disiksa, dan dibunuh secara brutal.
110.443

suntingan