Kwan Im: Perbedaan revisi

693 bita ditambahkan ,  5 tahun yang lalu
k
Saya mengubah beberapa hal yang tidak sesuai dengan sejarah. Semoga kontribusi sedikit ini bisa membantu orang banyak.
k (Saya mengubah beberapa hal yang tidak sesuai dengan sejarah. Semoga kontribusi sedikit ini bisa membantu orang banyak.)
 
<!-- [[Berkas:Putuoshan_guanyin.JPG|thumb|right|Patung Kwan Im di dekat [[Shanghai]]]] untuk sementara disembunyikan -->
'''Kwan Im''' ([[Hanzi]]:觀音; [[Pinyin]]: ''Guān Yīn'') adalah penjelmaantranslasi dari Avalakotesvara [[Bodhisatwa]] Welas Asih di [[Asia Timur]]Tiongkok. Kwan Im sendiri adalah dialek [[Hokkian]] dan [[hakka]] yang dipergunakan mayoritas komunitas [[Tionghoa]] di [[Indonesia]]. Nama lengkap dari Kwan Im adalah ''Kwan She Im Phosat'' (Hanzi: 觀世音菩薩, pinyin: ''Guan Shi Yin Pu Sa'') yang merupakan terjemahan dari nama aslinya dalam [[bahasa Sanskerta]], ''Avalokiteśvara''.
 
Dalam [[bahasa Jepang]], Kwan Im disebut ''Kannon''' (観音) atau secara resmi ''Kanzeon'' (観世音). Dalam [[bahasa Korea]] disebut ''Gwan-eum'' atau ''Gwanse-eum'', dan dalam [[bahasa Vietnam]] ''Quán Âm'' atau ''Quan Thế Âm Bồ Tát''.
 
''[[Awalokiteswara]]'' sendiri asalnya digambarkan berwujud laki-laki di [[India]], begitu pula pada masa menjelang dan selama [[Dinasti Tang]] (tahun [[618]]-[[907]]). Namun pada awal [[Dinasti Song]] ([[960]]-[[1279]]), berkisar pada abad ke 11, beberapa dari pengikut melihatnya sebagai sosok wanita yang kemudian digambarkan dalam para seniman. Perwujudan Kwan Im sebagai sosok wanita lebih jelas pada masa [[Dinasti Yuan]] ([[1206]]-[[1368]]). Sejak masa [[Dinasti Ming]], atau berkisar pada abad ke 15, Kwan Im secara menyeluruh dikenal sebagai wanita. <ref> Kuan-Yin : ''the Chinese transformation of Avalokiteśvara'', ditulis oleh Chun-fang, Yu tahun 1938, Penerbit : Columbia University Press, ISBN 0-231-12028-1 </ref>
 
== Sejarah ==
'''Kwan Im''' pertama diperkenalkan ke [[Cina]] pada abad pertama SM, bersamaan dengan masuknya [[agama Buddha]]. Pada [[abad ke-7]], Kwan Im mulai dikenal di [[Korea]] dan [[Jepang]] karena pengaruh [[Dinasti Tang]]. Pada masa yang sama, [[Tibet]] juga mulai mengenal Kwan Im dan menyebutnya dengan nama ''Chenrezig''. [[Dalai Lama]] sering dianggap sebagai reinkarnasi dari Kwan Im di dunia.
 
Istiilah Avalokitesvara diterjemahkan oleh Kumarajiva menjadi Guanshiyin<ref>{{Cite web}}</ref>. Kemudian di singkat menjadi Guanyin karena kata shi 世 sama dengan kata shi 世 dari nama Li Shimin 李世民 ( 598-649 CE ) atau kaisar Tang Taizong 唐太宗. Persamaan ini tabu bagi kaisar.
Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir [[Dinasti Han]], ''Kwan Im Pho Sat'' telah dikenal di [[Tiongkok]] purba dengan sebutan ''Pek Ie Tai Su'' yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih ("Dewi Welas Asih"). Di kemudian hari, Dewi Kwan Im identik dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara.
 
Pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam [[bahasa Sanskerta]] adalah:
* "Avalokita" (''Kwan'' / ''Guan'' / ''Kwan Si'' / ''Guan Shi'') yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah (“Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam ([[bahasa Sanskerta|Sanskerta]]:''lokita'')).
[[Berkas:Daienin Kannon.JPG|thumb|right|200px|Patung Kannon di Daienin{{br}}[[Gunung Koya]]]]
 
Ketika agama Buddha memasuki Tiongkok (Masa [[Dinasti Han]]), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisattva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu,. dan pengaruhMenjelang ajaran [[Taoisme]] serta [[Kong Hu Cu]], menjelang era [[Dinasti Tang]], profil Avalokitesvara Bodhisattva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita. Ada beberapa teori mengenai perubahan ini. Pertama pengaruh budaya maternalistik Tiongkok purba. Kedua dipengaruhi oleh figur Wu Zetian ( 624-705 ), kaisar wanita yang beragama Buddha. Ketiga tekanan budaya paternalistik sehingga kaum perempuan memerlukan satu figur dewi perempuan yang bisa melindungi dan mengayomi mereka.
 
Rakyat jelata Tiongkok atau yang mayoritas memeluk kepercayaan rakyat sering menyebut dengan sebutan ''niang-niang'' 娘娘 atau ''ma'' 嫲 ( jaman sekarang ini digunakan kata ''ma'' 媽<ref>http://web.budaya-tionghoa.net/index.php/item/13-dewa-dewi-pantheon-tiongkok<nowiki/>{{Cite web}}</ref>.
 
Taoisme kemudian menyebut Guanyin adalah Cihang dashi 慈航大士 atau Cihang zhenren 慈航真人, Salah satu sumber tentang ini adalah ''Lidai shenxian tongjian'' 历代神仙通鉴 ( catatan seksama dewa-dewi dalam sejarah ) atau yang dikenal dengan nama lain ''Sanjiao Tongyuanlu''三教同原录 ( Catatan tiga ajaran/agama bersumber yang sama ). Buku itu ditulis oleh Xudao 徐道 dan Cheng Yuqi 程毓奇 pada akhir dinasti Ming ( 1368-1644 ) dan awal dinasti Qing ( 1644-1912 ) .
Dari pengaruh ajaran [[Taoisme|Tao]], probabilita perubahan ini terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal Avalokitesvara Bodhisattva, kaum Taois telah memuja Dewi Tao yang disebut “Niang-Niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang). Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut “Guan Yin Niang Niang”, sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisattva pria.
 
Lambat laun tokoh Avalokitesvara Bodhisattva pria dilupakan orang dan tokoh Guan Yin Niang-Niang menggantikan posisinya dengan sebutan ''Guan Yin Phu Sa''. Dari pengaruh ajaran [[Kong Hu Cu]], mereka menilai kurang layak apabila kaum wanita memohon anak pada seorang Dewa. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sesuai dengan keinginan Kwan Im sendiri untuk mewujudkan dirinya sebagai seorang wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolongan.
 
Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisattva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisattva memiliki tempat suci di gunung [[Potalaka]], [[Tibet]], sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung [[Pu Tao Shan]] di kepulauan [[Zhou Shan]], [[Cina]]. Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat.
== Legenda Kwan Im ==
[[Berkas:Kwan Im bersama Shancai dalam lukisan tradisional China.jpg|thumb|right|200px|Kwan Im Pu Sa bersama dengan Shancai dilukiskan dalam lukisan tradisional China]]
Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab ''Hong Sin Yan Gi'' / ''Hong Sin Phang'' / ''Fengshenbang'' 封神榜 atau disebut juga ''Fengshen Yanyi'' 封神演義 (“Penganugerahan Dewa”Roman penganugrahan dewa ) disebutkan bahwa sebelum ia dikenal dengan sebagai Dewi Kwan Im, ia dikenal dengan nama [[Chu Hang]]. Ia merupakan salah satu murid dari [[Cap Ji Bun Jin]] (12 Murid Cian Kauw Yang Sakti).
 
=== Miao Shan ===
11

suntingan