Buka menu utama

Perubahan

Membalikkan revisi 10374413 oleh 36.73.66.242 (bicara)
Bercermin dari melebarnya perbedaan sosial di seluruh Indonesia pada 1950-an dan awal 1960-an, di pulau [[Bali]] meletus konflik antara para pendukung [[sistem kasta Bali|sistem kasta tradisional Bali]] melawan orang-orang yang menolak nilai-nilai tradisional itu. Jabatan pemerintahan, uang dan keuntungan bisnis beralih pada orang-orang komunis pada tahun-tahun akhir masa kepresidenan Soekarno.<ref>Taylor (2003), HLM. 358</ref> Sengketa atas tanah dan hak-hak penyewa berujung pada pengambilan lahan dan pembantaian, ketika PKI mempromosikan "aksi unilateral". Setelah Soeharto berkuasa di Jawa, gubernur-gubernur pilihan Soekarno dicopot dari jabatannya. Orang-orang komunis kemudian dituduh atas penghancuran budaya, agama, serta karakter pulau Bali. Rakyat Bali, seperti halnya rakyat Jawa, didorong untuk menghancurkan PKI.<ref>Taylor (2003), hlm. 358; Robinson.</ref>
 
Sebagai satu-satunya pulau yang didominasi [[Hindu]] di Indonesia, Bali tidak memiliki kekuatan Islam yang terlibat di Jawa, dan tuan tanah PNI menghasut pembasmian anggota PKI.<ref name="Ricklefs 1991, p. 288">Ricklefs (1991), hlm. 288.</ref> Pendeta tinggi Hindu melakukan ritual persembahan untuk menenangkan para roh yang marah akibat pelanggaran yang kelewatan dan gangguan sosial.<ref name="McDonald 1980, p. 53">McDonald (1980), hlm. 53.</ref> Pemimpin Hindu Bali, [[Ida Bagus Oka]], memberitahu umat Hindu: "Tidak ada keraguan [bahwa] musuh revolusi kita juga merupakan musuh terkejam dari agama, dan harus dimusnahkan dan dihancurkan sampai akar-akarnya."<ref>Robinson (1995), hlm. 299–302299????302.</ref>
 
Seperti halnya sebagian Jawa Timur, Bali mengalami keadaan nyaris terjadi perang saudara ketika orang-orang komunis berkumpul kembali.<ref name="Vickers_158"/> Keseimbangan kekuasaan beralih pada orang-orang Anti-komunis pada Desember 1965, ketika Angkatan Bersenjata Resimen Para-Komando dan unit Brawijaya tiba di Bali setelah melakukan pembantaian di Jawa. Komandan militer Jawa mengizinkan skuat Bali untuk membantai sampai dihentikan.<ref>Taylor (2003), hlm. 359.</ref><ref>Vickers (2005), hlm. 158.</ref> Berkebalikan dengan Jawa Tengah tempat angkatan bersenjata mendorong orang-orang untuk membantai "Gestapu", di Bali, keinginan untuk membantai justru sangat besar dan spontan setelah memperoleh persediaan logistik, sampai-sampai militer harus ikut campur untuk mencegah anarki.<ref name="Friend 2003, p. 113">Friend (2003), hlm. 113.</ref> Serangkaian pembantaian yang mirip dengan peristiwa di Jawa Tengah dan Jawa Timur dipimpin oleh para pemuda PNI berkaus hitam. Selama beberapa bulan, skuat maut milisi menyusuri desa-desa dan menangkap orang-orang yang diduga PKI.<ref name="Vickers_158"/> Antara Desember 1965 dan awal 1966, diperkirakan 80,000 orang Bali dibantai, sekitar 5&nbsp;persen dari populasi pulau Bali saat itu, dan lebih banyak dari daerah manapun di Indonesia.<ref>Friend (2003), hlm. 111.</ref><ref>Taylor (2003), hlm. 358</ref><ref name="Vickers 2005, hlm. 159">Vickers (2005), hlm. 159</ref><ref>Robinson (1995), hlm. bab 11.</ref>
Dalam waktu 20 tahun pertama setelah pembantaian, muncul tiga puluh sembilan perkiraan serius mengenai jumlah korban.<ref name="Friend 2003, p. 113"/> Sebelum pembantaian selesai, angkatan bersenjata memperkirakan sekitar 78.500 telah meninggal<ref>Crouch, ''Army and politics'', hlm. 155, dikutip dalam Cribb (1990). hlm. 7.</ref> sedangkan menurut orang-orang komunis yang trauma, perkiraan awalnya mencapai 2 juta korban jiwa.<ref name="Friend 2003, p. 113"/> Di kemudian hari, angkatan bersenjata memperkirakan jumlah yang dibantai dapat mencapai sekitar 1 juta orang.<ref name="Vickers 2005, p. 159"/> Pada 1966, [[Benedict Anderson]] memperkirakan jumlah korban meninggal sekitar 200.000 orang dan pada 1985 mengajukan perkiraan mulai dari 500,000 sampai 1 juta orang.<ref name="Friend 2003, p. 113"/> Sebagian besar sejarawan sepakat bahwa setidaknya setengah juta orang dibantai,<ref name="Ricklefs 1991, p. 288"/><ref name="Vickers 2005, hlm. 159"/><ref>Friend (2003), hlm. 113</ref><ref>{{cite journal |title=Unresolved Problems in the Indonesian Killings of 1965–1966 |author=Robert Cribb |journal=Asian Survey |volume=42 |issue=4 |year=2002 |pages=550–563 |doi=10.1525/as.2002.42.4.550}}</ref> lebih banyak dari peristiwa manapun dalam sejarah Indonesia.<ref name="Ricklefs 1991, p. 288"/> Suatu komando keamanan angkatan bersenjata memperkirakan antara 450.000 sampai 500.000 jiwa dibantai.<ref name="McDonald 1980, p. 53"/>
 
Para korban dibunuh dengan cara ditembak, dipenggal, dicekik, atau digorok oleh angkatan bersenjata, umat Hindu dan kelompok Islam. Pembantaian dilakukan dengan cara "tatap muka", tidak seperti proses pembantaian massal oleh [[Khmer Merah]] di [[Kamboja]] atau oleh [[Jerman Nazi]] di [[Eropa]].<ref name=SMH/>
 
== Penahanan ==