Fuad Muhammad Syafruddin: Perbedaan revisi

245 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
}}
'''Fuad Muhammad Syafruddin''' yang akrab dipanggil '''Udin''' ({{lahirmati|[[Bantul]], [[Yogyakarta]]|18|2|1964|[[Yogyakarta]]|16|8|1996}}) adalah wartawan [[Bernas]], Yogyakarta, yang dianiaya oleh orang tidak dikenal, dan kemudian meninggal dunia.
Sebelum kejadian ini, Udin kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah [[Orde Baru]]{{fact}} dan militer{{fact}}. Ia menjadi wartawan di [[Bernas]] sejak 1986.
 
Selasa malam, pukul 23.30 WIB, [[13 Agustus]] [[1996]], ia dianiaya pria tak dikenal di depan rumah kontrakannya, di dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis Km 13 Yogyakarta. Udin, yang sejak malam penganiayaan itu, terus berada dalam keadaannya koma dan dirawat di [[RS Bethesda]], Yogyakarta. Esok paginya, Udin menjalani operasi otak di rumah sakit tersebut. Namun, dikarenakan parahnya sakit yang diderita akibat pukulan batang besi di bagian kepala itu, akhirnya Udin meninggal dunia pada Jumat, [[16 Agustus]] [[1996]], pukul 16.50 WIB.
Kasus Udin menjadi ramai ketika Kanit Reserse Umum Polres Bantul [[Edy Wuryanto]], saat itu berpangkat Sersan Kepala (Serka), di Yogyakarta, dilaporkan telah 'membuang barang bukti', yakni [[melarung]] sampel darah dan juga mengambil buku catatan Udin, dengan dalih melakukan penyelidikan dan penyidikan.
 
Edy Wuryanto kemudian dimutasikan dari tempat dinasnya di Yogyakarta ke Mabes Polri di Jakarta. Dalam sidang, ia dinyatakan bersalah<ref>{{cite web |url=http://news.liputan6.com/read/102321/aiptu-edy-wuryanto-divonis-bersalah |title=Aiptu Edy Wuryanto Divonis Bersalah |date=27 Mei 2005}}</ref> karena menghilangkan buku catatan Udin sebagai bukti yang dapat membantu untuk mengungkap sebuah kasus kejahatan. Buku catatan tersebut diduga berisi data-data sejumlah kasus penyimpangan yang akan ditulis korban. Edy Wuryanto akhirnya divonis hukuman penjara satu tahun delapan bulan walau sebelumnya pengadilan ini sempat dihalang-halangi oleh Mabes Polri karena dianggap bahwa sidang tersebut menyalahi azas ''nebis in idem'' sebab terdakwa sudah pernah diadili dalam kasus yang sama sebelumnya.<ref>{{cite web |url=http://news.liputan6.com/read/90619/mabes-polri-menolak-menghadirkan-edy-wuryanto?id=90619 |title=Mabes Polri Menolak Menghadirkan Edy Wuryanto |date=26 November 2004}}</ref>
 
== Kambing hitam ==
=== Tri Sumaryani ===
Ada pihak-pihak tertentu yang tampaknya mencoba mengalihkan kasus ini. Seorang perempuan, Tri Sumaryani, mengaku akan diberi apapun yang dia minta oleh Kuncoro, kemenakan Bupati Bantul, sebagai imbalan membuat pengakuan bahwa Udin melakukan hubungan gelap dengannya. Tri Sumaryani menyangkal itu karena ia hanya pernah menjadi pacar Fauzan, adik Udin, tapi saat itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Fauzan juga tidak pernah cekcok dengan Udin karena ia tahu Udin tidak pernah berpacaran dengan Tri Sumaryani.<ref>{{cite web |url=http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1996/09/30/0008.html |title=Munculnya Gadis Hitam Manis |date=28 September 1996}}</ref>
 
=== Iwik ===
Dwi Sumaji alias Iwik, seorang sopir perusahaan iklan, juga mengaku dikorbankan oleh polisi untuk membuat pengakuan bahwa ia telah membunuh Udin. Iwik dipaksa meminum bir berbotol-botol dan kemudian ditawari uang, pekerjaan, dan seorang pelacur.<ref>{{cite web |url=http://tempo.co.id/ang/min/02/38/nas2.htm |title=Wawancara Iwik:Kapolda Minta Belas Kasihan Pada Saya |date=22 November 1997}}</ref> Namun di pengadilan, pada [[5 Agustus]] [[1997]] Iwik mengatakan, "Saya telah dikorbankan untuk bisnis politik dan melindungi mafia politik."<ref>{{cite web |url=http://tempo.co.id/ang/min/02/23/nas1.htm | title = Iwik Korban Rekayasa Bisnis Politik |date=[[7 Agustus]] [[1997]]}}</ref> Iwik akhirnya divonis bebas berdasarkan keputusan hakim Pengadilan Negeri Bantul Nomor 16/pid.B/1997/PN.Btl karena tidak ada dua alat bukti sah yang diperoleh penyidik.<ref name=Iwik>{{cite web |url=http://nasional.tempo.co/read/news/2014/02/27/063558038/iwik-mantan-terdakwa-pembunuh-udin-gugat-polisi |title=Iwik, Mantan Terdakwa Pembunuh Udin Gugat Polisi |date=[[27 Februari]] [[2014]]}}</ref>
 
Namun dalam surat yang dikirim polisi ke Ombudsman RI bernomor B/208/II/2013/Ditreskrimum tanggal 20 Februari 2013, pada poin 4 menyatakan [[Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta|Polda DIY]] hingga saat ini masih berkeyakinan bahwa Dwi Sumaji alias Iwik adalah pelaku utama atas meninggalnya Fuad Muhammad Syafruddin.<ref name=Iwik/> Bahkan polisi tidak merehabilitasi nama baik Dwi Sumaji yang direkayasa sebagai pelaku utama pembunuhan Udin. Untuk itu, Dwi Sumaji alias Iwik, menggugat Kepala Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis, 27 Februari 2014. Gugatan itu disidangkan di Pengadilan Negeri Sleman.
* [[29 Juli]]: Iwik mulai disidangkan dengan acara pemeriksaan terdakwa dan pembacaan surat dakwaan. Dakwaan primair, Iwik didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap Udin dengan motif perselingkuhan. Iwik diancam dengan hukuman mati.
 
* [[5 Agustus]]: Iwik dan penasehat hukumnya membacakan eksepsi. Dalam eksepsinya, Iwik mengungkapkan dirinya hanya korban rekayasa orang bernama Franki alias Serma Pol Edy Wuryanto (Kanitserse Polres Bantul) untuk kepentingan bisnis politik dan melindungi Bupati Bantul.<ref>{{cite web |url=http://tempo.co.id/ang/min/02/23/nas1_2.htm |title=Sidang Iwik dan Perkembangan Kasus Udin |date=7 Agustus 1997}}</ref>
 
* [[19 Agustus]]: Eksepsi terdakwa dan penasehat hukumnya ditolak Majelis Hakim. Sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan pokok perkara.
 
== Penghargaan ==
* Udin dianugerahi penghargaan [[Suardi Tasrif Award]] oleh [[Aliansi Jurnalis Independen]] untuk perjuangannya bagi kebebasan pers, pada [[22 Juni]] [[1997]].{{fact}}
* Semenjak itu setiap tahun AJI menganugerahkan [[Udin Award]] kepada jurnalis atau sekelompok jurnalis yang menjadi korban kekerasan karena komitmen dan konsistensinya dalam menegakan pers, demi kebenaran dan keadilan.<ref>{{cite web |url=http://aji.or.id/read/berita/204/tasrif-award-dan-udin-award-2013.html |title=Tasrif Award dan Udin Award 2013}}</ref>
 
Pengguna anonim