Kitab Pengkhotbah: Perbedaan revisi

110 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
k
clean up, replaced: {{Books of Ketuvim}} → {{Kitab-kitab Ketuvim}} using AWB
k (Bot: Penggantian teks otomatis (- di masa + pada masa , -Di masa +Pada masa , - di Masa + pada Masa ))
k (clean up, replaced: {{Books of Ketuvim}} → {{Kitab-kitab Ketuvim}} using AWB)
Sang Pengkhotbah secara harafiah adalah seseorang yang berkhotbah kepada pertemuan ini. Dalam [[bahasa Inggris]], kitab ini disebut ''Ecclesiastes'' yang berasal dari [[bahasa Yunani]] dalam kitab [[Septuaginta]] (LXX): Εκκλησιαστής. Kata ini berasal dari kata Yunani: Εκκλησία ([[Gereja]]/jemaat). Artinya sama saja, yaitu "seseorang yang ber[[khotbah]] pada sebuah pertemuan."
 
Kitab '''Pengkhotbah''' berisi buah pikiran dari 'Sang Pemikir'. Ia merenungkan secara dalam-dalam betapa singkatnya hidup [[manusia]] ini, yang penuh pertentangan, ketidakadilan dan hal-hal yang sulit dimengerti.
 
Maka disimpulkannya bahwa "hidup itu sia-sia". Ia tak dapat memahami tindakan Tuhan dalam menentukan nasib manusia. Tetapi meskipun demikian, dinasehatinya orang-orang untuk bekerja dengan giat, dan untuk sebanyak mungkin dan selama mungkin menikmati pemberian-pemberian Tuhan.
 
Kebanyakan dari buah pikiran Sang Pemikir itu bernada sumbang, bahkan putus asa. Tetapi kenyataan bahwa buku ini termasuk dalam Alkitab, menunjukkan bahwa iman yang mendasarkan Alkitab cukup luas untuk mempertimbangkan juga keragu-raguan dan keputusasaan semacam itu.
 
Banyak orang yang telah membaca kitab ini merasa terhibur, karena mereka seolah-olah melihat sifat-sifat mereka berdiri di dalam kitab Pengkhotbah ini. Mereka pun sadar bahwa Alkitab yang mencerminkan pemikiran-pemikiran yang sumbang itu, juga memberi harapan tentang Tuhan, harapan yang memberi arti kehidupan yang sebenarnya.<ref>Pengantar Alkitab [[Lembaga Alkitab Indonesia]], 2002.</ref>
 
== Pengkhotbah di dalam Kanon ==
Kitab Pengkhotbah merupakan satu dari lima gulungan (Megillot) yang dibaca pada hari raya [[Sukkot|Pondok Daun]].<ref name="Fohrer">{{en}}Georg Fohrer. 1968. ''Introduction to Old Testament''. Nashville: Abingdon Press. Hal. 334.</ref> Di dalam kanon [[Alkitab Ibrani]], kitab ini termasuk dalam bagian tulisan-tulisan (Yahudi: [[Ketuvim]]) dan berada pada urutan ke-6 dari bagian tersebut.<ref>{{en}}Norman K. Gottwald. 1985. ''The Hebrew Bible: A Socio-Literary Introduction.'' Philadelphia: Fortress Press. Hal. 884.</ref> Kemudian di dalam kanon lainnya, seperti [[Septuaginta]] dan [[Vulgata]] (bahasa Latin; kanon Katolik Roma saat ini), terdapat pengelompokan tulisan-tulisan yang dianggap berasal dari [[Daud]] dan [[Salomo]].<ref name="Lasor">< /ref> Dengan demikian urutannya adalah [[Kitab Mazmur|Mazmur]], [[Kitab Amsal|Amsal]], [[Kitab Pengkhotbah|Pengkhotbah]], [[Kidung Agung]], Kebijaksanaan Salomo (dalam kanon Protestan kitab Kebijaksanaan Salomo dianggap [[Apokrif]]a).<ref name="Lasor"/> Alasan penempatan ini adalah acuan tak langsung pada Salomo dan adanya tulisan-tulisan hikmat yang dikaitkan dengan nama Salomo.<ref name="Lasor"/> Kelompok ini ditempatkan setelah Mazmur karena tulisan yang dianggap berasal dari Salomo harus ditempatkan setelah tulisan-tulisan yang berasal dari Daud, ayahnya.<ref name="Lasor">W.S. Lasor. 2005. ''Pengantar Perjanjian Lama 2''. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Hal. 145.</ref>
 
Sebenarnya kitab Pengkhotbah ini memiliki kontradiksi-kontradiksi dengan ortodoksi Yahudi saat itu.<ref name="Fohrer">< /ref> Karena itulah ada tafsiran yang mengatakan bahwa pasal 12:12-14 merupakan tambahan yang bertujuan mengarahkan kitab ini ke arah ortodoksi, yaitu penerapan hukum Yudaisme.<ref name="Fohrer">< /ref> Nampaknya kitab ini berhasil masuk kanon Yahudi karena dianggap berasal dari Salomo.<ref name="Fohrer">< /ref>
 
== Perdebatan mengenai Pengarang ==
Secara tradisional pengarang Kitab Pengkhotbah diyakini adalah [[Salomo]], anak [[Daud]], yang dikenal memiliki hikmat Ilahi.<ref name="Singgih">< /ref> Para penafsir Yahudi tradisional membaca secara harafiah ayat {{Alkitab|Pengkhotbah 1:1}} dan menerjemahkannya sebagai hasil karangan Salomo.<ref name="Singgih">Emanuel Gerrit Singgih. 2001. ''Hidup di Bawah Bayang-Bayang Maut: Sebuah Tafsir Kitab Pengkhotbah''. Jakarta: BPK Gunung Mulia.</ref> Penafsiran tradisional ini bertahan hingga munculnya metode-metode yang bersifat kritis, baik historis maupun literer, yang melihat inkonsistensi pada beberapa bagian.<ref name="Singgih">< /ref> Ada beberapa alasan yang mengarah kepada dugaan bahwa penulis kitab ini bukanlah Salomo:
 
=== Alasan Isi ===
Pertama-tama, memang nama Salomo tidak pernah dikatakan secara eksplisit dalam seluruh kitab ini dan juga dalam [[Pengkhotbah 1#Ayat 16|pasal 1:16]] dikatakan bahwa ada orang-orang yang memerintah Yerusalem sebelum ''Pengkhotbah'', padahal hanya ada satu orang yang pernah memerintah Yerusalem sebelum Salomo, yaitu Daud.<ref name="Singgih"/> Hal ini dibantah dengan fakta bahwa memang sebelum Salomo, hanya [[Daud]] sebagai raja Kerajaan Israel yang memerintah di Yerusalem, tetapi sebelum itu sudah ada sejumlah raja di Yerusalem ketika masih dikuasai oleh orang Kanaan, antara lain [[Melkisedek]] ({{Alkitab|Kejadian 14:18}}), [[Adoni-Zedek]] ({{Alkitab|Yosua 10:1}}), dan Abdi-Khepa (disebut di Surat-surat Amarna), dan selanjutnya tidak ada raja yang sebijaksana Salomo di Yerusalem.<ref name="TNstudy">The Nelson Study Bible. Thomas Nelson, Inc. 1997</ref>
 
Ada pula kesan bahwa raja atau tokoh kerajaan yang berbicara hanya ada pada pasal 1-2, sedangkan sisanya kesan yang muncul adalah seorang tua yang merenung dan memberi nasihat.<ref name="Singgih">< /ref> Ditambah lagi pada pasal 8:2-8 disinggung mengenai perilaku seorang abdi di depan raja, sehingga bagian itu tentulah pemikiran seorang abdi, bukan raja.<ref name="Singgih"/>
 
=== Alasan Bahasa ===
Bahasa senantiasa mengalami perkembangan.<ref name="Singgih">< /ref> Di dalam kitab ini banyak ungkapan yang dipengaruhi oleh bahasa Aram, misalnya ''sye'' dari ''asyer'' dan ''illu'' dari ''im lo''.<ref name="Singgih">< /ref> Padahal pengaruh bahasa Aram terhadap bahasa Ibrani dianggap baru dimulai menjelang pembuangan (587/6 SM) hingga menjadi dominan pada masa sesudah pembuangan (538 SM), dan akhirnya dipakai bersama bahasa Ibrani sebagai bahasa pergaulan untuk penduduk Palestina pada zaman Yesus.<ref name="Singgih">< /ref> Selain itu, ungkapan-ungkapan kitab ini juga memiliki banyak kemiripan dengan ungkapan dalam Mishna, yaitu kumpulan hukum lisan Yahudi, dan penulisan Mishna tidak mungkin berdekatan dengan masa Salomo.<ref name="Singgih">< /ref>
 
=== Alasan Pemikiran ===
Dalam kitab ini terdapat pengaruh pemikiran Yunani, meskipun tidak perlu menganggap bahwa pengarangnya menganut sebuah pemikiran filsafat Yunani tertentu.<ref name="Singgih">< /ref> Pengaruh pemikiran Yunani mulai tersebar di daerah sekitar Laut Tengah pada zaman Alexander Agung dan sesudahnya.<ref name="Singgih">< /ref>
 
=== Alasan Gaya Bahasa ===
Secara kritis-literer, dapat diketahui bahwa ada perubahan narator dalam kitab ini, yaitu pada pasal 1-2 narator seolah mengidentikkan diri dengan Salomo, namun setelah itu narator seolah menjadi tokoh tua yang dikatakan sebelumnya.<ref name="Singgih">< /ref> Kemudian secara kritis-historis juga dapat ditemukan bahwa gaya menokohkan tokoh kerajaan yang terkenal, merupakan peniruan terhadap seni sastra Mesir kuno yang selalu merujuk kata-kata bijaksana ke seorang raja termashyur pada masa lalu.<ref name="Singgih">< /ref>
 
== Waktu Penulisan ==
Mengenai waktu penulisan, ada berbagai pendapat yang berbeda.<ref name="Lasor">< /ref> Jika diterima bahwa penulisnya adalah Salomo, maka kitab ini ditulis pada [[abad ke-9 SM]], akan tetapi ada konsensus di antara sejumlah ahli bahwa waktu penulisan Kitab Pengkhotbah adalah di antara tahun 400-200 SM.<ref name="Lasor" /><ref>S. Wismoady Wahono.1986. ''Di Sini Kutemukan''. Jakarta: BPK Gunung Mulia.</ref><ref name="Lasor"></ref> Alasannya, kitab ini ditulis setelah pembuangan dan juga setelah mendapat pengaruh filsafat Yunani sehingga diperkirakan ditulis setelah tahun 400 SM.<ref name="Lasor">< /ref> Sedangkan alasan mengapa tidak mungkin melewati tahun 200 adalah adanya acuan terhadap kitab ini dari [[Kitab Sirakh]] (ditulis kira-kira 180 SM.)<ref name="Lasor">< /ref>, serta ditemukannya bagian dari kitab ini di antara [[Gulungan Laut Mati]] yang umurnya diperkirakan berasal dari pertengahan abad ke-2 SM.<ref name="Fohrer">< /ref>
 
== Referensi ==
<!--
The word Qoheleth has found several translations into English, including "the [[Preacher]]" (translating [[Jerome]]'s ''ecclesiastes'' and [[Luther]]'s ''der Prediger''). Since ''preacher'' implies a religious function, and the contents of the book do not reflect such a function, this translation has largely been rejected by modern translations and scholars. A better alternative is ''teacher'', although this also fails to capture the fundamental idea behind the [[Hebrew language|Hebrew]].
[[Berkas:Ecclesiastes.png|thumb|165px|left|Ecclesiastes]]
 
==Author==
In the two opening chapters the author describes himself as the son of David, and king over Israel in Jerusalem, presenting himself as a philosopher at the center of a brilliant court. This could apply only to king [[Solomon]], for his successors in Jerusalem were kings over Judah only. Consequently, the traditional Rabbinic and early Christian view attributed ''Ecclesiastes'' to king [[Solomon]].
 
Yet many modern conservative scholars today also recognize that [[Solomon]] is an unlikely author. Since this work is found within the [[Ketuvim]], there must be some room for poetical treatment. There are two voices in the book, the frame-narrator (1.1-11; 12.8-14) and Qoheleth (1.12-12.8). Though this is not considered to be indicative of two authors, it does encourage the reader to place himself within the frame and see the pursuit of Wisdom from the perspective of [[Solomon]]. Thus, the author is probably a Hebrew poet who is using the life of [[Solomon]] as a vista for the Hebrews' pursuit of Wisdom (Ecc 1.13, 7.25 8.16; Job 28.12). This would place the book in the latter days of the canonical writings (see [[Josephus]]' claim for a closed cannon in the early post exilic age Against Apion 1.38-42) when wisdom seemed out of reach to the Hebrews (Ecc 1.17, 7.23; Pro 30.1-3)
==Dating ''Ecclesiastes''==
Dominic Rudman, ''Determinism in the Book of Ecclesiastes'' (JSOTSup. 316; Sheffield: Sheffield Academic Press, 2001, p. 13) cites the modern commentaries supporting this dating.
* Dominic Rudman. "A Note on Dating of Ecclesiastes". ''Catholic Biblical Quarterly'' vol. 61 no. 1 (1999) pp. 47-53 contains a discussion with C. L. Seow, "Linguistic Evidence and the Dating of Qohelet." in ''JBL'' vol. 115 (1996), pp. 653-54 - Seow supports a 4th century dating.
 
"Most current commentators e.g., R. N. Whybray, Ecclesiastes [NCB Commentary; Grand Rapids: Eerdmans; London: Marshall, Morgan & Scott, 1989] 4-12) argue for a mid-to-late-third-century date. Others, among them N. Lohfink (Kohelet [NEchtB; Wurzburg: Echter Verlag, 1980] 7) and C. E Whitley (Koheleth: His Language and Thought [BZAW 148; Berlin/ New York: de Gruyter, 1979] 132-46), have suggested an early- or mid-second-century background."
==Pranala luar==
Terjemahan [[Yahudi]]:
** [http://www.chabad.org/library/archive/LibraryArchive2.asp?AID=15779 Kohelet - Ecclesiastes - Job (Judaica Press)] translation with [[Rashi]]'s commentary at Chabad.org
 
Terjemahan [[Kristen]] ([[bahasa Inggris]]):
{{Pengkhotbah}}
{{Kitab-kitab Alkitab}}
{{Books ofKitab-kitab Ketuvim}}
 
[[Kategori:Kitab Perjanjian Lama|Pengkhotbah]]
65.282

suntingan