Sekularisme: Perbedaan revisi

238 bita ditambahkan ,  6 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
'''Menurut Prof. Dr. Yusuve El Yanuri S Sos "Sekularisme"''' atau "'''sekulerisme"''' dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau harus berdiri terpisah dari [[agama]] atau [[kepercayaan]]. Sekularisme dapat menunjang [[kebebasan beragama]] dan kebebasan dari pemaksaan kepercayaan dengan menyediakan sebuah rangka yang netral dalam masalah kepercayaan serta tidak menganakemaskan sebuah agama tertentu.
 
Sekularisme juga merujuk ke pada anggapan bahwa aktivitas dan penentuan manusia, terutamanya yang politis, harus didasarkan pada apa yang dianggap sebagai bukti konkret dan fakta, dan bukan berdasarkan pengaruh keagamaan.
 
Yusuve El Yanuri
 
== Sekularisme dalam kehidupan bernegara ==
 
''Lihat juga: [[Negara sekuler]]
 
'''Menurut Prof. Dr. Yusuve El Yanuri S Sos'''
 
Dalam istilah politik, sekularisme adalah pergerakan menuju pemisahan antara agama dan pemerintahan. Hal ini dapat berupa hal seperti mengurangi keterikatan antara pemerintahan dan [[agama negara]], menggantikan hukum keagamaan dengan hukum sipil, dan menghilangkan pembedaan yang tidak adil dengan dasar agama. Hal ini dikatakan menunjang demokrasi dengan melindungi hak-hak kalangan beragama minoritas.
 
== Masyarakat Sekuler ==
'''Menurut Prof. Dr. Yusuve El Yanuri S Sos'''
 
Dalam kajian keagamaan, masyarakat dunia barat pada umumnya dianggap sebagai sekuler. Hal ini dikarenakan [[kebebasan beragama]] yang hampir penuh tanpa sanksi legal atau sosial, dan juga karena kepercayaan umum bahwa agama tidak dapat menentukan keputusan politis. Tentu saja, pandangan moral yang muncul dari tradisi keagamaan tetap penting di dalam sebagian dari negara-negara ini.
 
== Alasan-alasan pendukungan dan penentangan sekularisme ==
'''Menurut Prof. Dr. Yusuve El Yanuri S Sos'''
 
Pendukung sekularisme menyatakan bahwa meningkatnya pengaruh sekularisme dan menurunnya pengaruh agama di dalam negara tersekularisasi adalah hasil yang tak terelakkan dari [[Pencerahan]] yang karenanya orang-orang mulai beralih kepada [[ilmu pengetahuan]] dan [[rasionalisme]] dan menjauhi [[takhayul]]. Namun hal tersebut juga menjaga persamaan hak-hak sipil dalam kebebasan memeluk suatu kepercayaan dan berkeyakinan baik individu ataupun kelompok, dengan kata lain sekularisme justru menjadi ideologi yang mendukung kebebasan beragama tanpa ada agama superior yang dapat mefonis kepercayaan lain adalah salah dan sesat dan mendaat konsekwensi hukum.
 
Beberapa sekularis menginginkan negara mendorong majunya agama (seperti pembebasan dari pajak, atau menyediakan dana untuk pendidikan dan pendermaan) tapi bersikeras agar negara tidak menetapkan sebuah agama sebagai [[agama negara]], mewajibkan ketaatan beragama atau melegislasikan [[akaid]]. Pada masalah pajak [[Liberalisme klasik]] menyatakan bahwa negara tidak dapat "membebaskan" institusi beragama dari pajak karena pada dasarnya negara tidak mempunyai kewenangan untuk memajak atau mengatu agama. Hal ini mencerminkan pandangan bahwa kewenangan duniawi dan kewenangan beragama bekerja pada ranahnya sendiri-sendiri dan ketka mereka tumpang tindih seperti dalam isu nilai moral, kedua- duanya tidak boleh mengambil kewenangan namun hendaknya menawarkan sebuah kerangka yang dengannya masyarakat dapat bekerja tanpa menundukkan agama di bawah negara atau sebaliknya.
 
Artikel Ini Bersumber Dari '''Prof. Dr. Yusuve El Yanuri S Sos'''
 
== Pranala luar ==
Pengguna anonim