Kerajaan Kandis: Perbedaan revisi

646 bita dihapus ,  4 tahun yang lalu
Membalikkan revisi 10215215 oleh Fosil73 (bicara)
(Membalikkan revisi 10215215 oleh Fosil73 (bicara))
{{unreferenced}}
{{Infobox Former Country
|native_name =
|conventional_long_name = Kerajaan Kandis ?
|common_name = Kerajaan Kandis ?
|continent = Asia
|region = [[Asia Tenggara]]
|p1 =
|p2 =
|s1 = [[Dharmasraya]] ?
|s2 = [[Kerajaan Koto Alang|Koto Alang]] ?
|flag_p1 =
|flag_p2 =
|flag_s1 =
|flag_s2 =
|year_start = 1 SM ?
|year_end = ?
|date_start =
|image_map =
|capital = Bukit Bakau
|common_languages = [[Bahasa Melayu|Melayu]] ?
|government_type = Monarki
|title_leader = Maharaja
 
== Sejarah ==
Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada 1 Sebelum Masehi , mendahului berdirinya kerajaan Moloyou atau [[Dharmasraya]] di Sumatera Tengah. Dua tokoh yang sering disebut sebagai raja kerajaan ini adalah [[Patih]] dan [[Tumenggung]] <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
Maharaja Diraja, pendiri kerajaan ini, sesampainya di Bukit Bakau membangun sebuah istana yang megah yang dinamakan dengan [[Istana Dhamna]] <sup>[butuh sumber]</sup>. Putra Maharaja Diraja bernama Darmaswara dengan gelar Mangkuto Maharaja Diraja (Putra Mahkota Maharaja Diraja) dan gelar lainnya adalah Datuk Rajo Tunggal (lebih akrab dipanggil) <sup>[butuh sumber]</sup>. Datuk Rajo Tunggal memiliki senjata kebesaran yaitu keris berhulu kepala burung garuda yang sampai saat ini masih dipegang oleh Danial gelar Datuk Mangkuto Maharajo Dirajo <sup>[butuh sumber]</sup>. Datuk Rajo Tunggal menikah dengan putri yang cantik jelita yang bernama Bunda Pertiwi <sup>[butuh sumber]</sup>. Bunda Pertiwi bersaudara dengan Bunda Darah Putih <sup>[butuh sumber]</sup>. Bunda Darah Putih yang tua dan Bunda Pertiwi yang bungsu <sup>[butuh sumber]</sup>. Setelah Maharaja Diraja wafat, Datuk Rajo tunggal menjadi raja di kerajaan Kandis <sup>[butuh sumber]</sup>. Bunda Darah Putih dipersunting oleh Datuk Bandaro Hitam <sup>[butuh sumber]</sup>. Lambang kerajaan Kandis adalah sepasang bunga raya berwarna merah dan putih <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
=== Ekonomi Kerajaan ===
Kehidupan ekonomi kerajaan Kandis ini adalah dari hasil hutan seperti [[damar]], [[rotan]], dan sarang burung layang-layang, dan dari hasil bumi seperti emas dan perak <sup>[butuh sumber]</sup>. Daerah kerajaan Kandis kaya akan emas, sehingga Rajo Tunggal memerintahkan untuk membuat tambang emas di kaki Bukit Bakar yang dikenal dengan tambang titah, artinya tambang emas yang dibuat berdasarkan titah raja <sup>[butuh sumber]</sup>. Sampai saat ini bekas peninggalan tambang ini masih dinamakan dengan tambang titah <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
Hasil hutan dan hasil bumi Kandis diperdagangkan ke Semenanjung Melayu oleh Mentri Perdagangan Dt. Bandaro Hitam dengan memakai ojung atau kapal kayu <sup>[butuh sumber]</sup>. Dari [[Malaka]] ke Kandis membawa barang-barang kebutuhan kerajaan dan masyarakat <sup>[butuh sumber]</sup>. Demikianlah hubungan perdagangan antara Kandis dan Malaka sampai Kandis mencapai puncak kejayaannya <sup>[butuh sumber]</sup>. Mentri perdagangan Kerajaan Kandis yang bolak-balik ke Semenanjung Malaka membawa barang dagangan dan menikah dengan orang Malaka <sup>[butuh sumber]</sup>. Sebagai orang pertama yang menjalin hubungan perdagangan dengan Malaka dan meninggalkan cerita Kerajaan Kandis dengan Istana Dhamna kepada anak istrinya di Semenanjung Melayu <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
Dt. Rajo Tunggal memerintah dengan adil dan bijaksana <sup>[butuh sumber]</sup>. Pada puncak kejayaannya terjadilah perebutan kekuasaan oleh bawahan Raja yang ingin berkuasa sehingga terjadi fitnah dan hasutan <sup>[butuh sumber]</sup>. Orang-orang yang merasa mampu dan berpengaruh berangsur-angsur pindah dari Bukit Bakar ke tempat lain di antaranya ke Bukit Selasih dan akhirnya berdirilah kerajaan Kancil Putih di Bukit Selasih tersebut <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
== Berdirinya Kerajaan Kancil Putih dan Kerajaan Koto Alang ==
Air laut semakin surut sehingga daerah Kuantan makin banyak yang timbul. Kemudian berdiri pula kerajaan Koto Alang di Botung (Desa Sangau sekarang) dengan Raja Aur Kuning sebagai Rajanya. Penyebaran penduduk Kandis ini ke berbagai tempat yang telah timbul dari permukaan laut, sehingga berdiri juga Kerajaan Puti Pinang Masak/Pinang Merah di daerah Pantai (Lubuk Ramo sekarang). Kemudian juga berdiri Kerajaan Dang Tuanku di Singingi dan kerajaan Imbang Jayo di Koto Baru (Singingi Hilir sekarang) <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
Dengan berdirinya kerajaan-kerajaan baru, maka mulailah terjadi perebutan wilayah kekuasaan yang akhirnya timbul peperangan antar kerajaan. Kerajaan Koto Alang memerangi [[kerajaan Kancil Putih]], setelah itu kerajaan Kandis memerangi kerajaan Koto Alang dan dikalahkan oleh Kandis. Kerajaan Koto Alang tidak mau diperintah oleh Kandis, sehingga Raja Aur Kuning pindah ke daerah Jambi, sedangkan Patih dan Temenggung pindah ke Merapi <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
Kepindahan Raja Aur Kuning ke daerah Jambi menyebabkan Sungai yang mengalir di samping [[kerajaan Koto Alang]] diberi nama Sungai Salo, artinya Raja Bukak Selo (buka sila) karena kalah dalam peperangan. Sedangkan Patih dan Temenggung lari ke [[Gunung Marapi]] ([[Sumatera Barat]]) di mana keduanya mengukir sejarah Sumatra Barat, dengan berganti nama Patih menjadi [[Dt. Perpatih nan Sabatang]] dan Temenggung berganti nama menjadi [[Dt. Ketemenggungan]] <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
Tidak lama kemudian, pembesar-pembesar kerajaan Kandis mati terbunuh diserang oleh Raja Sintong dari Cina belakang, dengan ekspedisinya dikenal dengan ekspedisi Sintong. Tempat berlabuhnya kapal Raja Sintong, dinamakan dengan Sintonga. Setelah mengalahkan Kandis, Raja Sintong beserta prajuritnya melanjutkan perjalanan ke Jambi. Setelah kalah perang pemuka kerajaan Kandis berkumpul di Bukit Bakar, kecemasan akan serangan musuh, maka mereka sepakat untuk menyembunyikan Istana Dhamna dengan melakukan sumpah. Sejak itulah Istana Dhamna hilang, dan mereka memindahkan pusat kerajaan Kandis ke Dusun Tuo (Teluk Kuantan sekarang) <sup>[butuh sumber]</sup>.
 
== Referensi ==
7.257

suntingan