Lengayang, Pesisir Selatan: Perbedaan revisi

902 bita ditambahkan ,  4 tahun yang lalu
==== Perjalanan Rombongan Kedua ====
 
Peristiwa kekalahan orang Rupik di sampaikan kepada Daulat Yang Dipatuan Bagindo Sutan Basa Tuanku Rajo Disambah, Syamsudi Sadewano, Tuanku merasa senang sekali. Namun kedatangan masyarakat dari wilayah baru ini ke Sungai Pagu juga membawa maksud lain, yaitu memohon kepada Tuanku, untuk masyarakat di Pasie Laweh dan sekitarnya mendirikan adat secara resmi. Permohonan ini di kabulkan oleh Tuanku dengan memberikan 4 tanda kebesaran adat untuk masing-masing suku yakni, Suku Kampai, Suku Panai, Suku Tigo Lareh, dan Suku Malayu dan 3 tanda kebesaran Syara’.
Penduduk yang pindah dari alam surambi Sungai Pagu dan tergabung dalam rombongan kedua dimaksudkan untuk mencari rombongan pertama yang dulu pernah pindah.
 
Perhelatan pemakaian adat di adakan di Koto Marapak. Tempat perhelatan di sebut Galanggang Tigo. Dinamakan galanggang Tigo karena memang pada saat itu baru tiga suku yang ada, Kampai, Panai, dan Tigo Lareh. Suku Malayu pada saat itu belum datang.
 
Khusus buat suku Malayu walaupun belum berpindah ke wilayah baru tersebut, tapi tanda kebesarannya telah di serahkan oleh Tuanku pada masa itu. Sampai kedatangan Kaum Malayu tanda kebesaran tersebut disimpan baik oleh Pemuka adat dari Suku Kampai.
 
Rombongan ke dua adalah suku Malayu dari Sungai Pagu melalui Koto Pulai, terus Koto Kandih, koto Marapak dan ke Lubuk Sariak. Lubuk Sariak lah tempat menetap pertama kaum suku Malayu. Pertambahan anggota keluarga, membuat suku Malayu menambah lokasi pemukiman baru. Perpindahnya ke daerah Koto Baru dan Medan Baik.
 
Suku Malayu disambut hangat oleh kaum suku nan batigo. Upacara penyambutan dilakukan sekaligus penyerahan pakaian kebesaran suku Malayu dan mengangkat satu Penghulu Pucuk dari Suku Malayu. Galanggang Tiga tempat Upacara di Koto Marapak di rubah menjadi Galanggang Empat.
 
 
==== Berdirinya Adat dan Raja Kambang ====
4

suntingan