Buka menu utama

Prof. Dr. Ismail Suny S.H., MCL (lahir di Labuhan Haji, Aceh Selatan, Aceh, 7 Agustus 1929 – meninggal di Jakarta, 20 April 2009 pada umur 79 tahun) adalah seorang ahli hukum tata negara dan diplomat asal Indonesia.

Ismail Suny
Ismail Suny.jpg
Lahir7 Agustus 1929 (umur 89)
Bendera Belanda Labuhan Haji, Aceh Selatan, Aceh, Hindia Belanda
Meninggal20 April 2009(2009-04-20) (umur 79)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
KebangsaanIndonesia
PekerjaanAhli hukum

Daftar isi

KehidupanSunting

Ismail Suny merupakan putra dari pasangan Haji Mohammad Suny dan Cut Nyak Sawani. Ia anak ketiga dari 18 bersaudara. Ayahnya merupakan keturunan perantau Minangkabau dan seorang saudagar kaya di kawasan Aceh Selatan, sedangkan ibunya berasal dari Aceh.

Pada tahun 1948, ia hadir mewakili ayahnya menemui Bung Karno untuk menyerahkan uang dan perhiasan emas dari para saudagar Aceh. Emas yang dikumpulkan ini kemudian dibelikan pesawat Seulawah oleh pemerintah Indonesia.

Lulus dari Sekolah Menengah Islam di Aceh, ia melanjutkan studi di SMA Budi Utomo, Jakarta. Setelah itu ia menyelesaikan pendidikan sarjananya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1957). Tiga tahun kemudian ia memperoleh gelar Masters in Civil Law di McGill University, Montreal, Kanada, serta gelar doktor dari Universitas Indonesia (1963)

Sepulang dari Kanada, ia mendirikan Universitas Cendrawasih di Jayapura. Tahun 1965, ia memperoleh gelar guru besar dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sejak itu ia menjadi salah satu cendekiawan yang diperhitungkan. Ia menjadi anggota DPRGR/MPRS dari tahun 1967 hingga tahun 1969. Pada saat itu, ia ikut menolat pidato pertanggungjawaban Presiden Soekarno.

Pada tahun 1973 ia menjadi rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta.[1] Tahun 1978 ia diberhentikan dari jabatannya, sekaligus dipenjara tanpa proses pengadilan terlebih dahulu. Kritiknya terhadap kekuasaan Soeharto yang cenderung diktator, membuatnya dijebloskan ke Rumah Tahanan Nirbaya, Jakarta.[2]

Setahun di penjara, Suny kembali mengajar. Pada tahun 1992 hingga tahun 1997, ia menjabat Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi.

Tahun 2006, Ismail Suny memperoleh titel guru besar emiritus Hukum Tata Negara dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia.[3]. Ia meninggal di Rumah Sakit Medistra, Jakarta pada 20 April 2009.[4]

KaryaSunting

  • The Executive in Indonesia: a Comparative Study, 1960
  • Pembahagian Kekuasaan Negara: Suatu Penjelidikan Perbandingan dalam Hukum Tata Negara Inggeris, Amerika Serikat, Uni Sovjet dan Indonesia, 1962
  • Hukum Tata Negara, 1963
  • Undang-undang Penanaman Modal Asing dan Kredit Luar Negeri, 1968
  • Prasaran Mengenai Mekanisme Demokrasi Pantjasila, 1968
  • Bahan Wajib Hukum Tata Negara: Suatu Kumpulan Tulisan, 1973
  • Bunga Rampai Tentang Aceh, 1980
  • Mencari Keadilan: Sebuah Otobiografi, 1982
  • Pergeseran Kekuasaan Eksekutif: Suatu Penyelidikan dalam Hukum Tata Negara, 1986
  • The Organization of the Islamic Conference, 2000
  • Pakar Hukum Menyatakan Akbar Tandjung Tidak Layak Jadi Terdakwa, 2002
  • Hak Asasi Manusia, 2004
  • Jejak-jejak Hukum Islam dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia:

Sebuah Bunga Rampai, 2005

ReferensiSunting

  1. ^ Arskal Salim, Azyumardi Azra (ed), Shari'a and Politics in Modern Indonesia, Institute of Southeast Asian Studies, 2003
  2. ^ Majalah Tempo, Wawancara Ismail Suny: "Sekretariat Negara Pernah Maha Berkuasa", 6-12 September 1999
  3. ^ Profesor Ismail Suny Wafat
  4. ^ Profesor Ismail Suny Wafat, diakses 10 Januari 2011.

Pranala luarSunting