Buka menu utama

Alphonsius Is Haryanto, lebih dikenal sebagai Is Haryanto (lahir di Tegal, 22 Agustus 1940 – meninggal di Jakarta, 26 Mei 2009 pada umur 68 tahun)[1] adalah pemusik dan penulis lagu Indonesia. Bersama dengan band Favourite's Group (sebagai pemain drum dan kadang-kadang pengisi vokal) ia menyemarakkan blantika musik Indonesia tahun 1970-1980-an. Selain dengan Favourite's, Is pernah membuat proyek bersama Harry Toos di bawah nama Two Faces[2].[3]

Is Haryanto
Latar belakang
Nama lahir Alphonsius Is Haryanto
Lahir (1940-08-22)22 Agustus 1940
Bendera Indonesia Tegal, Jawa Tengah, Indonesia
Meninggal 26 Mei 2009(2009-05-26) (umur 68)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Jenis musik Pop, Pop Jawa, Keroncong
Pekerjaan Penyanyi, Komposer, Penulis lagu
Instrumen Drum, Gitar, Piano, Organ, Vokal
Tahun aktif 1973 - 2009
Perusahaan rekaman PT Remaco, Indra Record, Musica Studio, Nada Sound
Dipengaruhi The Beatles, The Bee Gees
Hubungan Ida Rusdawati
Anak Vien Adiyanti (Vien), Alice Adiyanti, Anna Adiyanti, Lucy Adiyanti, Fris Adiyanto
Orang tua Harjono, Ny. Harjono
Agama Katolik Roma
Anggota
Favourite's Group

Daftar isi

BiografiSunting

Masa KecilSunting

Dilahirkan 22 Agustus 1943 di Tegal, Jawa Tengah. Alphonsius Is Haryanto adalah anak ke-4 dari 9 bersaudara. Ayahnya R. Harjono berasal dari Solo, Jawa Tengah dan ibunya dari Tegal. Ia masih bersaudara sepupu dengan maestro pemusik A. Riyanto dan Harry Toos yang kemudian pernah tergabung dalam sebuah band bersamanya Favourite Group.

KarierSunting

Favourite GroupSunting

Pada tahun 1973, Is Harianto diajak oleh sepupunya A. Riyanto untuk bergabung dalam band Favourite's Group yang baru saja kehilangan sebagian besar personelnya. Band itu masih menyisakan A. Riyanto (keyboardist) dan Mus Mulyadi (vocalist utama). Ia direkrut sebagai drummer bersamaan dengan saudara sepupunya Harry Santoso (Harry Toos) pemegang lead guitar untuk menggenapi formasi II band bentukan Is Haryanto (dan dan Mus Mulyadi ini. Mereka menyelesaikan pembuatan album vol. II yang memperoleh hasil yang cukup baik di pasaran sekitar tahun 1973. Pada pembuatan Album III yang mereka menambahkan seorang teman mereka Tommy WS sebagai pegenag bass guitar untuk memperkuat formasi band Favourite Group. Dengan tambahan itu Mus Mulyadi tak lagi merangkap pemain bass sepeninggal rekan-rekan mereka di formasi I. Memang sejak aal terbentyuknya Favourite's Group tidak berangkat dari nol, karena masing-masing pemain sudah punya modal, kata A. Riyanto seperti yang ditulis majalah Tempo edisi Februari 1972. Begitu pula dengan kehadiran Is Harianto dan rekan-rekannya ini yang memang sudah cakap memainkan alat musik yang mereka tempati. Juga mereka handal dalam mencipta lagu sehingga memberi kontribusi lagu bagi album mereka. Band ini siap berkompetisi dengan band-band yang telah lebih dulu meraup sukses di belantara musik pop saat itu, seperti Koes Plus, Panbers, The Mercy's, D'Lloyd, dan banyak lagi. Band ini akhirnya menjadi terkenal pada zamannya, pada tahun 1970-an.

Selama kariernya di industri musik Tanah Air, band ini banyak menghasilkan hits yang melegenda hingga saat ini. Mereka mengeluarkan belasan album dari berbagai genre musik seperti Pop, Keroncong, Pop Jawa dan Lagu Natal Semuanya laris manis di pasaran. Is Harianto selain sebagai drummer juga banyak menciptkan lagu. Lagunya dibawakan dengan baik oleh sang vocalist Mus Mulyadi, dan meuai hits misalnya Cari Kawan Lain, dsb. Dalam beberapa kesempatan ia juga membawakan sendiri lagu-lagu ciptaannya.

Mundurnya Mus Mulyadi sebagai Vocalist Favourite's GroupSunting

Group ini sempat mengalami goncangan ketika vocalistnya Mus Mulyadi memilih mundur dan berkonsentrasi sebagai penyanyi solo pasca pembuatan album ke-lima Cinta Monyet (tahun 1975). A. Riyanto sebagai leader memetuskan untuk mereka tampil berempat saja dalam menyeleaikan beberapa kontrak album dan show yang telah menjadi kewajiban mereka. Hal ini merea lakoni dengan baik di mana para personel termasuk Is Haryanto ikut bernyanyi dalam beberapa lagu pada album yang mereka rilis ataupun dalam show-show di panggung.

Masa Vakum Favourite GroupSunting

Setelah sekian waktu mereka tampil berempat dengan formasi A. Riyanto, Is Haryanto, Harry Toos, dan Tommy WS, lalu mereka pun sempat mengalami kevakuman. Para personel disibukkan dengan kegiatan pribadi di luar band ini termasuk Is Harianto. Ia banyak menciptakan lagu yang dibawakan oleh para penyanyi solo. Lagu-lagunya banyak disukai penggemar dan umumnya memperoleh hasil yang baik di pasaran. Bahkan tidak sedikit penyanyi yang terangkat namanya atau menjadi populer setelah membawakan lagu ciptaan Is Harianto.

Two FacesSunting

Masa-masa kevakuman Favourite Group juga terjadi di sela pembuatan albumnya. Pada salah satu masa vakum, Is pernah membuat proyek grup duet bersama Harry Toos dengan nama Two Faces. Mereka sempat mengeluarkan sebuah album pada tahun 1973 berjudul Hidup Bersama Musik.[4]

Favourite Group Dengan Vocalist Baru Mamiek SlametSunting

Pada akhirnya mereka menemukan vocalist baru yaitu Mamiek Slamet. Saat itu Mamiek sedang melejit sebagai seorang penyanyi pendatang baru yang mengawali debut dengan sebuah hits “Liku-Liku Hidup” ciptaan Is Haryanto. Is Haryanto merekomendasikan pada rekan-rekannya di Favourite’s Group untuk menggandeng Mamiek mengisi kekosongan posisi vokalis. Usul Is ini diterima oleh A. Riyanto dan anggota lainnya.[5]

Dengan kehadiran Mamiek Slamet, mereka berhasil mengembalikan pamor group band ini yang sempat meredup tanpa vocalist utama. Album mereka sukses di pasaran. Pada album ini mereka menyebut diri sebagai New Favourite's 77. Kesuksesan album ini disusul dengan rilis album-album berikutnya yang juga memperoleh hasil baik di pasaran. Saat itu semua personel pun ikut menyumbangkan suaranya pada beberapa lagu sebagai vocalist untuk melengkapi lagu-lagu yang dibawakan oleh vocalist utama. Namun sangat disayangkan, Mamiek Slamet pun kemudian lebih berkonsentrasi dengan sejumlah album solonya, sehingga keberadaannya di Favourite’s Group tidak bertahan lama. Ia pun kemudian memilih mundur dari band ini.

Favourite Group Dengan Vocalist Baru RahmatSunting

Sepeninggal Mamiek yang mengundurkan diri, posisi vocal yang kosong kemudian diisi oleh Rahmat S. (Mat’s) salah seorang karyawan Bank. Konon, menurut rekan-rekan di Favourite’s Group saat itu keindahan suaranya adalah ‘reinkarnasi’ dari sosok Mus Mulyadi. Lagi-lagi kehadiran vokalis baru ini tidak dapat membagi waktu antara karier bernyanyi atau tetap menjadi karyawan Bank. Ia pun kemudian mundur dari band dan memilih menjalankan profesinya di perbankan.

Reuni Favourite's GroupSunting

Pada tahun 1978 group band yang beranggotakan penyanyi, musisi, dan pencipta yang sudah populer pada masa itu ‘rujuk’ lagi. Formasi mereka tidak berubah tetap seperti beberapa tahun lalu bedanya hanya mereka andil jadi vokalis “Mus Mulyadi (Rhythm/Vokal), Is Haryanto (Drum /Vokal), A. Riyanto (Keyboard/Vokal), Harry Toos (Gitar/Vokal) dan Tommy WS (Bass/Vokal)”. Tahun 1978, mereka mencoba memukau lewat kecantikan aransemennya dengan materi lagu yang berlirik puitis–romantis yang mereka suguhkan, antara lain: “Satu Kisah Lagi, Saat Yang Terindah, Melody Patah Hati, Kamar Bisu, & Engkau Yang Terakhir”. Lewat album ‘reuni’ mereka ini setelah berpisah sejak tahun 1975, sebagai pengobat rindu ‘menyapa’ para pencinta dan pengamat musik Indonesia.

Kemudian mereka kembali hadir tahun 1982, dengan nomor-nomor lainnya, seperti “Nusantara Jaya, Terima Kasih Musik, Bunga Yang Terindah, Hai Pemuda, dan Selamat Jalan” dengan perusahaan rekaman Mahkota Records. Melalui kehadiran album ini, Favourite’s Group mencoba menawarkan ragam tema musik yang selama ini belum terjamah oleh pemusik negeri ini. Mereka juga menunjukkan bahwa Favourite’s Group masih “solid” dengan kumpul bareng di setiap kesempatan latihan maupun tampil lengkap di pertunjukan show di dalam maupun luar daerah Jakarta.

Sampai awal tahun 1989, Favourite's Group secara resmi masih berdiri, tetapi dengan anggota berbeda. Pada penampilannya tahun 1988, anggotanya terdiri dari A. Riyanto pada keyboard, Is Haryanto beralih pada pada gitar, Tommy W.S. pada bass gitar, Mus Mulyadi sebagai vokalis. Y. Rizal masuk mengisi posisi drum, plus Bartje van Houten yang juga punggawa group D'Lloyd pada melodi gitar sebagai additional member. Harry Toos telah memutuskan mengundurkan diri dari dunia musik saat itu dan berkonsentrasi pada keluarganya.[6]

Favourite's Group Kehilangan Satu Persatu AnggotanyaSunting

Pada 17 Juni 1995 A Riyanto sang “Legenda” menghembuskan napas terakhirnya, dengan penyakit komplikasi Ginjal & Kencing Manis yag sudah lama dideritanya. Is Haryanto yang masih memiliki hubungan saudara dengan almarhum lebih berjiwa besar untuk melanjutkan cita-cita A. Riyanto untuk tetap membawa Favourite's Group menjadi bagian dari sejarah musik pop di Indonesia, pada saat memberi nama Favourite’s untuk bandnya.

Tahun 2008 ditandai dengan era kebangkitan Kembali beberapa group band era '60 dan 70-an yang masih bertahan ataupun memutuskan ‘comeback’, antara lain Panbers, Noor Bersaudara, The Singers, Ayodhia, & The Steps, dan tak ketinggalan Favourite’s Group. Semuanya kembali meramaikan dunia rekaman dan panggung musik nasional dengan segala upayanya. Meskipun tertatih, Favourite’s Group terus melangkah di beberapa panggung hiburan. Bersama tiga personel yang tersisa yaitu Is Haryanto, Mus Mulyadi, dan Tommy WS mereka mencoba hadir memenuhi kerinduan penggemar terhadap lagu-lagu hits grup ini. Dibantu oleh beberapa additional player seperti Yul Cristal, Pius, Denny Sammy dan Raharjo mereka kerap tampil di beberapa acara televisi yang menghadirkan lagu-lagu nostalgia.

Salah satu amanah dari Alm. A. Riyanto adalah penunjukan B. Hariadi alias “Harry Lelur” adik kandung Alm. A. Ariyanto sebagai pemain keyboardnya. Ia resmi bergabung ke dalam kelompok Favorite's Group yang diawaki Is Haryanto, Mus Mulyadi, Tommy W.S., dan Harry Toos. Namun ia pun juga tidak bertahan lama dalam band ini, karena kemudian terserang penyakit stroke. Pada hari Minggu 30 November 2008 ia pun berpulang untuk selamanya setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit St. Caroulous Jakarta.[7]

Sepeninggal B. Hariadi, posisinya formasi Keyboardist Favorite's Group yang kembali kosong kemudian digantikan oleh “Denny Sami”. Tak lama berselang, Tommy W.S. pun mengalami sakit stroke berat, hingga ia tak bisa mengikuti aktivitas bermusik bersama favourite Group. Mereka lalu mengajak “Nana Sumarna” untuk kembali mengisi posisi Bassist Favourite’s Group. Ia adalah bassist formasi I band ini yang telah keluar sekitar 4 dekade sebelumnya.

Favourite's Group Tanpa Is HariantoSunting

Is Haryanto masih bermain dalam band ini selama setahun kemudian, hingga kepergiannya untuk selamanya pada tahun 2009. Sepeninggal Is, band Favorite's Group masih terus dikibarkan oleh Mus Mulyadi dan Tommy WS dengan personel tambahan untuk melanjutkan cita-cita alm. A. Riyanto dan Is Harianto agar band ini tetap eksis dalam blantika musik nasional saat itu. Kematian Tommy WS pada pada hari Minggu 21 April 2013, menjadikan pukukan berikutnya bagi band ini. Mus Mulyadi sebagai palang pintu terakhir masih berusaha untuk meneruskan kiprah bermusik para rekan-rekannya yang sudah mendahuluinya. Meski sejak tahun 2009 sudah mengalami sakit diabetes parah yang berakibat kebutaannya. Ia masih berusaha tampil semampunya dengan bantuan Mamiek Slamet dan Nana S serta para additional player lainnya.

Mencipta laguSunting

Vakumnya kelompok musik Favourite Grup dari blantika musik nasional pada sejak akhir tahun 1970-an membuat Is Harianto menyibukkan diri dengan menciptakan lagu. Lagu-lagunya tersebut dinyanyikan oleh banyak penyanyi terkenal pada masanya sejak periode 1970-an sampai 2000-an. Umumnya lagu-lagu yang dibawakan oleh penyanyi-penyanyi tersebut berhasil di pasaran, menjadi hits, dan semakin mendongkrak popularitas penyanyinya. Sepanjang Jalan Kenangan, dan Setulus Hatiku Semurni Cintamu dibawakan Tetty Kadi, Setulus Hatimu oleh Arie Koesmiran, Jangan Pernah Berkata Benci dipupulerkan Bob Tutupoly, Kau S'makin Terpesona dibawakan oleh Rafika Duri, Sepanjang Lorong Gelap oleh D'Lloyd, dan Rek Ayo Rek oleh Mus Mulyadi merupakan contoh kemahiran dia dalam berolah lagu.

Is Haryanto mencipta tidak kurang dari 3000 lagu [8], baik berbahasa Indonesia maupun bahasa Jawa. Karya-karyanya yang dikenal orang sebagai "lagu abadi" misalnya Rèk Ayo Rèk, Sipaté Manungsa, Råndhå Ngarep Omah, Kapan Kowe Percoyo, Sepanjang Jalan Kenangan, Sebelum kau Pergi, Tanpamu, Hilang Permataku, dll.

Lagu yang diciptakan Haryanto beragam. Mulai langgam Jawa hingga pop. Bahkan, lagu Rek Ayo Rek yang identik dengan masyarakat Surabaya pun lahir dari kepiawaiannya mencipta lagu. Beberapa orang sempat mengira tembang yang dipopulerkan Mus Mulyadi itu diciptakan oleh arek Suroboyo asli. Ternyata, lagu itu justru diciptakan cah Solo yang pintar memainkan diksi khas daerah setempat. Dalam lagu Rek Ayo Rek, Is Haryanto menggunakan kata-kata berbau Surabaya yang khas. Misalnya, Tunjungan (salah satu tempat perbelanjaan di Surabaya), Rujak Cingur (makanan khas), dan kata Rek sebagai sapaan akrab untuk pemuda Surabaya. Sangat pas dinyanyikan oleh Mus Mulyadi yang kental logat Surabayanya.[9]

Is Haryanto dikenal sebagai pencipta lagu yang nyentrik. Dia tampak lekat dengan kacamata hitam. Setiap kali tampil di depan publik, dia selalu mengenakan kacamata hitam. Bahkan, menemui tamu di ruang tamu saja dia enggan mencopot kacamatanya. Begitu pula berfoto dengan keluarga, dia juga mengenakan kacamata hitam. Ada rahasia di balik kacamata itu.

Mempopulerkan Artis BaruSunting

Is Haryanto juga sukses memoles artis-artis baru di bawah naungan label Remaco. Bersama band pengiring yang dibentuknya yaitu De Meicy, Is Haryanto pun berhasil mengangkat nama-nama baru dalam jagad pop musik Indonesia melalui lagu-lagu karya ciptanya.[10]

Mempopulerkan Anak KandungnyaSunting

Pada akhir tahun 1970-an ia sempat mengorbitkan anak kandungnya yang sulung Vien Is Haryanto (Vien) menjadi penyanyi cilik. Sempat tenar bersama penyanyi cilik lainnya yang seangkatan, Adi Bing Slamet dan Chicha Koeswoyo. Salah satu lagu hitsnya sempat terkenal dulu adalah Bebek-Bebekku Ciptan Is Haryanto. Anak bungsunya Boy Is Haryanto juga sempat menjadi penyanyi cilik yang berduet dengan Vien dalam beberapa album. Anak keempatnya Lucy juga sempat menggeluti dunia musik, tetapi tidak sampai menjadi penyanyi.[11]

Kehidupan PribadiSunting

Alphonsius Is Haryanto menikah secara berbeda keyakinan dengan Ida Rusdawati yang tetap beragama Islam. Perkawinan tersebut dikaruniai lima orang anak. Vien Adiyanti (Vien), Alice Adiyanti, Anna Adiyanti, Lucy Adiyanti, dan Fris Adiyanto (Boy Is Haryanto). Anak yang sulung, Vien, adalah penyanyi cilik pada tahun 1970-an akhir. Ia telah menjadi Mualaf sekitar tahun 1980 mengikuti keyakinan ibunya. Tampak jelas Is Harianto memiliki toleransi yang besar kepada pilihan keluarganya.

Is Haryanto adalah sosok yang mencintai pekerjaannya. Meski dalam kondisi sakit, ia tetap menyanyi dan mengarang lagu. Terakhir, meski dalam kondisi sakit parah, ia masih sempat membuat lagu pesanan orang.

Meninggal DuniaSunting

Alphonsius Is Haryanto wafat pada hari Selasa, 26 Mei 2009 sekitar pukul 23.00 WIB di Jakarta. Pria kelahiran 22 Agustus 1940 ini meninggal dalam usia 69 tahun, di kediaman pribadi di kawasan Cipete, Jakarta Selatan setelah tak kuat melawan penyakit yang diderita, yakni Kanker Rectum. Mendiang mengidap kanker rectum sejak setahun sebelumnya, tetapi kanker itu telah menunjukkan tanda-tandanya sejak empat tahun lalu. Saat itu Haryanto mengeluhkan sakit yang melilit perutnya. Namun, Haryanto tak pernah mau disebut sedang sakit, ia selalu mengatakan kalau dirinya sehat-sehat saja.[9] Jauh sebelum vonis kanker terdeteksi, ia diketahui menderita tumor. Setelah empat tahun kemudian menjadi kanker.[12] Sebelum meninggal, Is Haryanto sempat dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina]] (RSPP). Terakhir Is Haryanto kembali masuk RSPP pada Rabu (20/5). Namun sejak Senin 25 Mei 2009, pencipta lagu Rek Ayo Rek dan Sepanjang Jalan Kenangan itu memaksa pulang sehingga akhirnya dibawa pulang. Di rumah sempat tertidur, sebelum kemudian koma. Malam itu kondisinya makin kritis dan akhirnya meninggal esok harinya. Saat mengembuskan napasnya, semua keluarga kumpul, termasuk ibunya, Ny. Haryono.[12] Vien Adiyanti, putri sulung Is Haryanto memimpin keluarga ikhlas melepas kepergian ayah tercinta. Jenazah Is Haryanto dikebumikan di perkuburan umum Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan.[13] Dunia musik Indonesia kembali harus kehilangan salah satu pencipta lagu terbaiknya.

Keinginan TerakhirSunting

Ada keinginan almarhum yang belum sempat dilakukan semasa hidupnya, yakni keinginan menikahkan anak yang kedua, Alice Adiyanti yang saat itu belum menemukan jodohnya.

Wasiat Pengurusan Royalti LaguSunting

Dua minggu sebelum meninggal Is Haryanto juga sempat memberi wasiat kepada keluarga. Is mengumpulkan keluarga untuk menyampaikan banyak pesan. Salah satu pesannya kepada Alice Adiyanti (anak kedua) untuk mengurusi lagu-lagu yang ditinggalkan almarhum.[14] Semasa hidup, Is Harianto memang mengalami masalah soal royalti. Ia tidak pernah menjual lepas lagunya, semuanya dengan royalti yang harus dibayar tiap lagu digunakan. Meski begitu kontribusi yang dia dapat dari penggunaan lagu-lagunya tidak optimal, sebab orang-orang yang mengurusi royalti sering bertindak tidak profesional. Pendapatan yang diterima oleh pencipta lagu tidak sesuai dengan yang diharapkan. Lagu-lagu Is Harianto digunakan di mana-mana, tak semuanya memberi kontribusi kepada keluarganya. Untuk mengatur royalti itu, keluarga Haryanto akan dibantu begawan musik Bens Leo.[9]

Wasiat Melanjutkan label SIIS RecordSunting

Is Haryanto juga sempat berwasiat kepada anak-anaknya untuk merealisasikan atau melanjutkan label SIIS Records. Label tersebut dibangun oleh Is Haryanto sejak tahun 1980-an.[15]

RujukanSunting