Buka menu utama

Institut Studi Arus Informasi (disingkat ISAI) adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang berbasis di Jakarta, Indonesia. ISAI memiliki kepedulian utama pada kebebasan berekspresi, kebebasan pers dan kebebasan berpikir. Organisasi di bidang media ini didirikan oleh beberapa tokoh senior media, ilmuwan, wartawan-wartawan muda yang sangat prihatin terhadap kondisi sosial-politik Indonesia, terutama kondisi kebebasan pers pada masa kediktatoran pemerintah Soeharto. Tokoh-tokoh tersebut antara lain adalah Goenawan Mohamad, Aristides Katoppo, Zulkifli Lubis, Fikri Joefri, Mochtar Pabottingi, Ashadi Siregar, Mohammad Sunjaya, serta sederetan jurnalis muda yang melakukan perlawanan terhadap organisasi wartawan yang direstui pemerintah, PWI, seperti Toriq Hadad, Stanley, Bina Bektiati dan Andreas Harsono.

Daftar isi

KegiatanSunting

Sejak lahirnya pada akhir tahun 1994, ISAI aktif dalam beberapa kegiatan strategis seperti penerbitan buku alternatif, pengorganisasian diskusi-diskusi politik di berbagai kota yang menyangkut isu kebebasan pers dan berekspresi, riset media, penyelenggaraan pelatihan jurnalistik untuk media kampus dan ornop pro-demokrasi, penyelenggaraan ISAI Award sebuah kompetisi jurnalistik bagi media cetak kampus dan organisasi non-pemerintah. Ia didirikan sesudah rezim Presiden Soeharto membredel mingguan Detik, Editor dan Tempo pada Juni 1994. Goenawan Mohamad, pemimpin redaksi Tempo, mengajak beberapa rekannya mendirikan ISAI. Mereka termasuk Zulkifly Lubis, Ashadi Siregar, Toriq Hadad, Andreas Harsono, Muhammad Sunjaya, Fikri Jufri, Yusril Djalinus dan Moctar Pabottingi. USAID mendukung pendirian ISAI dengan pertama kali memberikan hibah US$300,000 pada 1995-1998. Kegiatan lain yang signifikan adalah penerbitan media alternatif yang memanfaatkan jaringan internet sebagai upaya counter-hegemony berita-berita yang dimuat di media mainstream saat itu yang menyuarakan kepentingan penguasa.

Kantor berita radioSunting

Adanya kebebasan pers sebagai hasil konkret Reformasi 1998, serta menyadari pentingnya radio yang selama lebih dari 30 tahun berada di bawah kontrol penguasa Orde Baru, ISAI membangun sebuah unit kerja baru di bidang penyiaran berita radio. KBR-68H (Kantor Berita Radio 68H), yang sampai artikel ini ditulis sudah memiliki anggota jaringan hampir mencapai 900 stasiun radio swasta di seluruh Indonesia, menyelenggarakan pertukaran berita radio. Dengan didirikannya KBR-68H ini, ISAI berharap tidak ada lagi ketimpangan informasi antara daerah satu dengan daerah yang lain pada masa depan. KBR-68 kini memisahkan diri dari ISAI sebagai entitas legal yang bersifat komersial.

Jaringan Islam LiberalSunting

Munculnya gejala komunalisme yang kemudian berkedok sebagai kegiatan keagamaan telah mengancam kehidupan berdemokrasi khususnya kebebasan pers, kebebasan berekspresi dan toleransi beragama. Gejala ini mendorong ISAI membentuk unit kerja baru (yang kemudian memisahkan diri dari ISAI karena luasnya kegiatan), yakni Jaringan Islam Liberal.

Sekolah Media PenyiaranSunting

Rendahnya kualitas jurnalis penyiaran Indonesia, yang umumnya diambil dari para jurnalis cetak, terutama setelah adanya booming stasiun radio dan televisi baru, mendorong ISAI untuk mendirikan sebuah sekolah di bidang media penyiaran. Atas bantuan finansial Uni Eropa dan bantuan administratif Bappenas dan UNDP serta bantuan teknis dari BBC London, pada awal 2006 didirikanlah Sekolah Media Penyiaran atau School for Broadcast Media (SBM). Sekolah yang memiliki fasilitas pelatihan sangat modern ini, telah menghasilkan 361 pekerja media penyiaran, baik jurnalis radio, jurnalis televisi, juru-kamera dan editor video dari berbagai penjuru Indonesia.

Pranala luarSunting