H. Hasnawi Karim, B.A.[1] (lahir di Batipuh Baruah, Batipuh, Tanah Datar, Sumatra Barat, 24 Desember 1924 – meninggal di Padang, 4 April 2011 pada umur 86 tahun)[2] adalah seorang akademisi dan pejuang Indonesia. Ia pernah menjadi caretaker Rektor IAIN Imam Bonjol Padang pada 1971 dan Kakanwil Depag Sumbar pada 1984.[3]

Ulama Pejuang Kemerdekaan RISunting

Garis perjuangannya cukup lengkap. Berbagai profesi dan pekerjaan pernah digelutinya. Dia memulai dari guru, pejuang, perwira hingga pemimpin dan ulama. Bahkan juga menjadi pemain dalam kancah politik. Dialah Haji Hasnawi Karim. Lahir di Batipuh Baruh, Tanah Datar 1924 dari pasangan keluarga Abd. Karim Datuk Rangkayo Marajo dengan Hajjah Nurqamar Amin.[4]

Setelah menyelesaikan SR Gouvernement dan Tsanawiyah Muhammadiyah serta Kulliyatul Muballigien (Almuballigien College) 1943, Hasnawi ditugaskan Muhammadiyah Padang Panjang ke Gunung Rajo Tanah Datar. Di daerah perkampungan yang belum memiliki sekolah ini, Hasnawi bersama mamaknya, Alwi Amin Malin Sampono menjadi guru dan sekaligus mendirikan sekolah Muhammadiyah. Diawali mendirikan Ibtidaiyah. [4]

Di tengah perjuangannya mendirikan sekolah, Hasnawi dipilih oleh Jepang menjadi Seinendan (pemuda pilihan) Residensi Sumatera Barat. Dari 100 orang yang dipilih, kemudian diseleksi lagi mencari lima besar. Hasnawi masuk dalam kelompok lima besar yang mendapat tugas menjadi pelatih camat dan bupati. Jepang memang dikenal sangat disiplin. Pelanggaran disiplin mendapat tamparan. “Saya tidak pernah sampai ditampar tentara Jepang karena senantiasa menjadi disiplin,” ujar Hasnawi Karim yang menutur sejarah perjuangannya kepada Penuntun di rumah kediamannya, jalan Tan Malaka No. 12 Padang.[4]

Dalam sejarah hidupnya, Hasnawi pernah pula menjadi kepala pendidikan dan latihan Pemuda Republik Indonesia (PRI) Batipuh X Koto Padang Panjang. Di tahun 1945 sudag memerankan diri berjuang memperoleh kemerdekaan. Dia ikut mengumpulkan bahan makanan dalam pembentukan BKR, TKR Batalyon Merapi yang dirampas dari gudang perbekalan Jepang di Batipuh.[4]

Dalam waktu bersamaan ikut pula mempersiapkan pembentukan Laskar Hizbullah di Kauman Padang Pajang. Kemudian diminta oleh Majelis Islam Tinggi Sumatera Tengah menggerakkan dan memimpin barisan Sabilillah di Batipuh X Koto Padang Panjang. Akhirnya Hasnawi Karim menjadi Kepala Staf Divisi Sabilillah Sumatera Tengah (Divisi 7 November). Di tahun 1945 itulah difatwakan oleh ulama, meninggal dunia dalam perjuangan kemerdekaan adalah mati syahid. Fatwa itu dikeluarkan oleh ulamadalam mengerahkan dan menggerakkan umat Islam membela Proklamasi Kemerdekaan.[4]

Kepada pemuda-pemuda diserukan memasuki barisan perjuangan, bagi ibu dan yang tua-tua disarankan berjuang dengan harta benda. Sedangkan remaja putri memasuki Sabil Muslimat atau Sabilillah Muslimat. Disaat itu pulalah menjadikan mesjid dan mushala sebagai markas perjuangan dan pusat penerangan dan informasi perjuangan.

Di saat Sabilillah digabungkan dengan TNI (Tentara Nasional Indonesia) oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta, penyatuan Sabilillah dan masuk ke Resimen IV. Yang tidak ditampung di TNI, dikordinir langsung oleh Hasnawi Karim dengan memberi berbagai keterampilan yang dipusatkan di Dangung-dangung 50 Kota.[4]

Barisan Sabilillah ini kemudian berjuang lagi mempertahankan kemerdekaan pada Agresi Militer Belanda II. Pada Agresi Belanda II ini pula Hasnawi Karim ke Tarutung mencari persenjataan, tapi tak sampai ke tempat tujuan. Di Tarutung, Sumatera Utara Hasnawi harus menyerahkan mobilnya kepada tugas disana untuk menyusun perjuangan yang sangat disegerakan. Akhirnya Hasnawi harus jalan kaki kembali ke Padang Panjang dengan menempuh perjalanan 18 hari siang malam. “Telapak sepatu ABRI yang saya pakai dalam perjalanan 18 hari itu habis,” kata Hasnawi mengisahkan penderitaannya dalam perjuangan.[4]

Oleh Kolonel Dahlan Djambek, Hasnawi diminta menjadi Imam Tentara Dinas Agama Tentara Staf A Territorium Sumatera tengah, daerah Tanah Datar. Tugas utama adalah membina ketaatan beragama, menanamkan iman dan ketakwaan serta budi pekerti luhur prajurit. Kemudian Hasnawi di pindahkan ke Langsa Aceh Timur menjadu Imam Tentara Batalion 107, Resimen I, Territorium I Bukitbarisan. Hasnawi sempat bertugas di Aceh. Kemudian ke Medan dengan tugas Wakil Kepala CPRAD Islam Territorium I Bukitbarisan merangkap kepala pengajaran dan ibadah tentara di Medan.[4]

Pejuang UlamaSunting

Dari Medan, Haji Hasnawi Karim hijrah ke Jakarta dengan tugas belajar di ADIA (Akademi Dinas Ilmu Agama) Ciputat, cikal bakal IAIN Ciputat, Jakarta. Dalam masa belajar tahun 1959 sampai 1963, di Ciputat, Hasnawai Karim sempat menjadi Senat Mahasiswa sebelum menyelesaikan studinya tingkat Sarjana Muda, karena pada waktu itu belum ada doktoral.[4]

Setamatnya dari ADIA, Hasnawi mendapat tugas sebagai Pembantu Kepala Rohani Karra I Cadduad merangkap Karoh Islam Caduad (Cadangan Umum Angkatan Daerah) sekarang bersama Kostrad, Jakarta. Hasnawi pun dalam bulan Agustus 1962, dipindah tugaskan ke angkatan Darat Mandala di Ambon dalam perjuangan merebut kembali Irian Barat.[4]

Pemangku tugas Kepala Rohani Islam Angkatan Daerah Mandala Indonesia Bahagian Timur di Makasar. Pama Roh Islam AD, Kontingen Indonesia Irian Barat di Kotabaru (Jayapura). Waka/Pgs Ka Roh Islam Kodam 17 Irian Barat di Jaya Pura. Pernah pula bertugas menjadi Kepala Roh. Senif Rawatan Rahani Pusat Kesenjataan Infantri, Bandung. Pamen Rusroh Islam Angkatan Darat 1965. Setelah berlang-lang buana di Irian Jaya, Jakarta, Bandung, Medan dan Aceh, akhirnya Hasnawi dipindahkan ke Kodam III/17 Agustus di Padang dengan jabatan Karohis Dam.[4]

Di Sumbar Hasnawi Karim tidak hanya disibuki dengan tugas-tugasnya di Kodam. Dia pun disibuki dengan tugas-tugas sosial kemasyarakatan lainnya. Di antara jabatan yang sangat penting adalah Ketua Umum BKPUI (Badan Kontak Perjuangan Umat Islam) guna menghimpun seluruh potensi umat Islam menghadapi perjuangan umat masa datang. Dia mendapat tugas membina hubungan masyarakat dengan ABRI. Memupuk kerja-sama yang baik ulama dengan ABRI.[4]

Mengantisipasi adanya perbedaan pendapat ulama dengan ABRI serta ulama dengan ulama maupun mengantisipasi adanya pertentangan antara organisai-organisasi Islam lainnya. Hasnawi juga berperan membentengi umat dari pengaruh ideologi komunis dan aliran yang merusak akidah Islamiyah. Yang cukup mengesankan dari karya besar Hasnawi Karim menjaga hubungan ABRI dengan ulama adalah menyelenggarakan refreshing course dua hari yang diakhiri dengan peresmian Mushala Taqwa Kodam III/17 Agustus yang diimami Buya H.M. Daud Datuk Palimo Kayo.[4]

Selama pertemuan itu, semua ulama menyampaikan isi hatinya baik tertulis maupun secara lisan. Semuanya dijawab oleh Panglima Kodam 17 Agustus waktu itu. Sejak itu terjadilah hubungan mesra ulama dengan ABRI di Sumatera Barat. Ini semuanya dilakukan Hasnawi dalam upaya membina teritorial ABRI.

“Bagaimana membina kalau teritorial kalau tidak mengetahui hati rakyat,” kata Hasnawi kepada penguasa Kodam 17 Agustus.

Dia pulalah yang merintis berdirinya RS Islam Ibnu Sina di Bukittinggi. Perjuangannya ini dilakukan bersama Buya H. Mansur Daud Datuk Palimo Kayo di bawah skenario Hasnawi Karim. Ceritanya, pada suatu hari, Buya tidak mau hadir diundang ke Istana Negara, pertemuan MUI dengan Presiden Soeharto. Tapi ketika disampaikan bahwa di Jakarta aka disampaikan kepada Pak Harto tentang usaha pemindahan rumah sakit kristen itu, Buya lantas menyatakan kesediaannya, maka berangkatlah menghadiri pertemuan MUI dengan Pak Harto.[4]

Di Istana, pada saat jamuan minum bersama, Buya menghampiri Pak Harto dan menyampaikan berbagai kemajuan yang dicapai Pak Harto membangun republik dan dirasakan oleh masyarakat Minangkabau. Selain itu juga disampaikan persoalan yang merisaukan umat Islam menyangkut rumah sakit dimaksud. Mendengar keluhan Buya H. M. D. Palimo Kayo itu, Pak Harto langsung memanggil Sudharmono yang ketika itu Sekretaris Negara. Kepadanya Pak Harto menyampaikan supaya cepat menyelesaikan masalah rumah sakit dengan berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan dan Menteri Agama H. Alamsyah Ratuperwiranegara. Akhirnya rumah sakit itu dipindahkan ke Lampung.[4]

Dalam bakti berdimensi sosial lain, dia juga yang merintis pembentukan Yayasan Dana Sosial Islam (YDSI) di Sumatera Barat.Dan yang sangat monumental, peran Haji Hasnawi Karim merintis terbentuknya Majelis Ulama Indonesia di Sumatera Barat. Dengan terbentuknya MUI, maka Haji Hasnawi Karim meleburkan Badan Kontak Perjuangan Umat Islam ke MUI dan mengundurkan diri dari kepengurusan. Ini dilakukannnya supaya jangan sampai terjadi dualisme kepemimpinan potensi umat Islam di Sumatera Barat.[4]

Ulama Pemimpin tanpa Mengenal ‘Lelah’Sunting

Hasnawi yang energik sejak muda itu pernah pula menjadi Anggota DPRD-GR, DPRD Tk. I Sumbar atas nama atau mewakili kalangan karyawan ulama. Ketika di dewan inilah Hasnawi memerankan diri memasukkan ide lambang masjid pada lambang daerah Sumatera Barat yang dikenal tuah sakato.[4]

“Ini sangat melegakan diri saya, sebagai daerah Minang memang sangat pantas lambang daerah itu terdiri dari lambang masjid,” kata Hasnawi.

Di tahun 1967 Hasnawi Karim membantu rektor dalam bidang kehumasan, dan tahun 1973 sampai 1975 menjadi Pembantu Rektor III IAIN bidang kemahasiswaan. Kariernya di [[IAIN Imam Bonjol][ mencapai puncak pada tahun 1973, disamping menjadi Caracter Rektor merangkap Rektor. Jabatan ini dua kali di embannya, terkahir 1983 ketika menggantikan Drs. M. Sanusi Latief. Pada tahun 1974 beliau menerima tawaran dari Gubernur Harun Zein menjadi Kepala Perwakilan Agama di Sumbar atau Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama yang disetujui langsung oleh Menteri Agama Mukti Ali. Jabatan penting ini dipangku selama 14 tahun lebih yang berakhir pada tahun 1984. Hasnawi Karim memangku tiga jabataan penting sekaligus saat itu, Rektor IAIN, Kepala Kanwil Depag dan Karohisdam.[4]

Membangun Fisik dan MentalSunting

Selama memangku jabatannya sebagai Kepala Perwakilan Agama Sumbar, Hasnawi Karim banyak melakukan pembangunan-pembangunan, baik dibidang fisik maupun mental. Untuk menjalankan fungsi sebuah lembaga yang mengurus bidang agama, Hasnawi betul-betul memulainya dari awal. Pegawai mulai dibenahi dengan membuat baju seragama. Aturan-aturan mulai dibuat.

Secara pelan-pelan tapi dengan cara-caranya (strategi Haska-pen) ke pusat dan berbagai pihak mulai dibangun kantor Perwakilan Agama Sumbar. Akhirnya, siapapun paham di zaman Hasnawi gedung permanen Kantor Agama Sumbar berdiri. Dan di zaman beliau pula, tidak kurang 14 kantor Departemen Agama Tk. II di Sumbar dibangun serta di 74 Kecamatan dia dirikan Kantor KUA.[4]

Kehidupan pribadiSunting

Dari pernikahannya dengan Husaini Nurdin, Hasnawi Karim dikaruniai 5 putra. Putra pertama; Dra. Hj. Huda Hanum istri Drs. H. Fauzan, MA (Setditjen Binbaga Islam Depag), Dr. Ir. H. Nadirman Haska (ahli peneliti pada BPP Teknologi, Jakarta), Letkol. Inf. Nabris Haska (Pamen pada Dinas Penerebangan Angkatan Darat), M. Furqan Haska, S.E. (Staf PT. Andalas Tuah Sakato), dan Dra. Zikra (Dosen di IKIP Padang).[4]

ReferensiSunting

  1. ^ https://majalah.tempo.co/read/48612/munaqasah-tertutup-khas-padang
  2. ^ https://sumbar.kemenag.go.id/v2/post/8352/mantan-kakanwil-depag-sumbar-h-hasnawi-karim-meninggal.html
  3. ^ Amar, Raichul (2016). IAIN Imam Bonjol 1966–2016. Imam Bonjol Press. hlm. 133. 
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t "Kakanwil Sumbar dari Masa ke Masa". Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Sumatera Barat. Diakses tanggal 13 Januari 2020.