Gus Fuad Plered

KH. Muhammad Fuad Riyadi atau Gus Fuad Plered lahir di “Kampung SantriWonokromo, Yogyakarta pada 8 Oktober 1970. Dikenal sebagai seorang kyai, pelukis, penyair, musisi, dan pendidik aktif dari Pleret, Bantul. Putra kedua pasangan H. Ahmad Abdul Bakdi dan Hj. Siti Muyassarotul Maqosid.

Gus Fuad Plered bersama putra ke-4 saat menjadi bintang tamu disalah satu SMAN di Jogja

BiografiSunting

KelahiranSunting

Ketika dalam kandungan, beliau sudah didakwa oleh KH. Dimyathi al-Bantani akan menjadi seorang Kiai atau Ulama'. Nama beliau, "Fuad" juga adalah pemberian dari KH. Dimyathi al-Bantani.

KeluargaSunting

Putra ke-2 dari H. Ahmad Abdul Bakdi, seorang keturunan Kiai Abdurrouf Wonokromo yang adalah trah Sunan Ampel dari garis putranya Sunan Bonang dan Hj. Siti Muyassarotul Maqosid, keturunan dari Kiai Sangidu yang memiliki silsilah garis laki-laki sampai Kiai Nur Iman putra Amangkurat IV dan saudara Hamengkubuwono I serta garis perempuan dari ibu dari seorang bernama Kiai Kholil Wonokromo yang menurunkan banyak Kiai daerah itu.

PendidikanSunting

Gus Fuad mengaji dengan banyak guru. Berikut diantaranya dari daerah Wonokromo dan Jejeran, Bantul.

  1. KH. Abdul Basith
  2. KH. Muhammad Busyro

Kemudian beliau juga berguru pada beberapa ulama besar.

  1. Abuya KH. Muhammad Dimyathi al-Bantani, Pandeglang, Banten. Yang mendakwakan beliau akan menjadi Kiai dan Ulama pengasuh Pesantren.
  2. Tuan Guru Sekumpul KH. Muhammad Zaini Abdul Ghani al-Banjari, Martapura. Guru beliau dalam Mahabbah.
  3. as-Sayyidul al-Habib Muhammad Anis bin Alwi bin Ali al-Habsyi, Solo. Cucu penyusun Maulid Shimrudduror. Kepada Gus Fuad, Habib Anis mengijazahkan Maulid Shimrudduror secara khusus. Setelah wafatnya, keluarga Habib Anis memberikan kesaksian bahwa hanya 2 orang yang diberikan ijazah mengampu Maulid Shimrudduror secara khusus, yakni KH. Zaini Abdul Ghani dan Gus Fuad sendiri.


Semasa mudanya, Gus Fuad sempat meneliti lintas agama seperti kristen, katolik, buddha, konghucu, hingga ateis. Semua itu dilakukannya untuk memuaskan pergolakan hati dan pemikirannya tentang pencarian Tuhan.

Mendirikan PesantrenSunting

Nenek Gus Fuad, Nyai Sangidu, sangat telaten menjemput takdirnya sebagai Kyai. Bertahun-tahun beliau mengasuh Gus Fuad, menyisipkan pembelajaran ilmu, hikmah dan sejarah Kyai Sangidu. Tiada putus sang nenek menyemai doa pengharapan dan setia menantikannya 'pulang' dari terdampar. Akhirnya, cucu emas Nyai Sangidu itu benar-benar direnggut takdir menjadi kyai/ulama; mengasuh pesantren dan melanjutkan kiprah Kyai Sangidu Wonokromo.

Pada masanya, Kyai Sangidu sangat dihormati sebagai figur ulama besar. Menempa belasan santri meraih derajat ulama mumpuni. Dapat disebut di sini diantaranya, K.H. AR Fachrudin (Ketua PP Muhammadiyah), K.H. Matori al Huda (PDHI), K.H. Ja'far (ayahanda K.H. Hamam Ja'far Pabelan), K.H. Hisyam Syafi'i (Ponpes Ibnul Qayyim), K.H. Ma'mun dan lain-lain. Gaung besar keulamaan K.H. Sangidu juga terdengar sampai Lampung, Sumatera.

Beliau merintis dan mendirikan Pondok Pesantren Raudhatul Fatihah dimana beliau berdakwah di kawasan Plered, Bantul.

Gus Fuad berikut pesantrennya teguh menjaga disiplin ilmu tradisional, yakni rumpun disiplin ilmu-ilmu Islam yang memberi penekanan kombinasi fiqih, tafsir Qur'an, Sunah Nabi saw dengan tasawuf. Kitab yang dikaji berbasis kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang mu'tabar dan dianggit para ulama salaf yang otoritas ilmu, wara', dan memancarkan kedalaman taqwa, seperti; Imam al Ghazali, Imam Nawawi, Syaikh Nawawi al Bantani, Ibnu Hajar al 'Asqalani, Habib 'Aliy al Habsy, Syaikh 'Utsman bin Husain, dan lain-lain. Kitab yang dikaji berbasis kitab-kitab klasik (kitab kuning) yang mu'tabar dan dianggit para ulama salaf yang otoritas ilmu, wara', dan memancarkan kedalaman taqwa, seperti; Imam al Ghazali, Imam Nawawi, Syaikh Nawawi al Bantani, Ibnu Hajar al 'Asqalani, Habib 'Aliy al Habsy, Syaikh 'Utsman bin Husain, dan lain-lain. Pesantren Kyai Fuad juga sangat apresiatif terhadap kemajuan dunia IT. Kajiannya bisa diikuti secara online melalui kanal YouTube Gus Fuad Channel.

Karir SeniSunting

Kepenulisan dan SyairSunting

Kyai sekaligus penyair ini mengenal puisi pertama kali dari M. Nasrudin Anshorie CH, kemudian belajar lebih lanjut kepada Ragil Suwarno Pragolopati, Imam Budhi Santosa, Suryanto Sastro Atmojo, Suminto A. Sayuti, W. Poer, Sri Harjanto Sahid, M. Jihad Gunawan, dan sastrawan-sastrawan Jogja lainnya.

Menulis di media massa sejak kelas 2 SLTP. Pernah menjadi wartawan tetap Harian Yogya Post (1995), Tulisannya berupa cerpen, puisi, esai sastra budaya, artikel pendidikan-keagamaan, resensi buku, ulasan musik-film,televisi-teknologi, tersebar di berbagai media cetak. Beberapa buku karyanya seperti; Kampung Santri-Tatanan dari Tepi Sejarah (2001), Cara Idiot Menjadi Kyai (2001), Lidah Kyai Kampung-Islam itu Gampang (2010), dan Sungkem SMS Cinta Muhammad S.A.W (2013)

Pada bulan maret 2015, Ponpes Roudlatul Fatihah dijadikan tempat diselenggarakannya (MUNAS HIPSI) Musyawarah Nasional Himpunan Penulis Sastra Indonesia yang dihadiri oleh Cecep Syamsul Hari, Aguk Irawan (novelis), Wangsitalaja Aminudin Rifai, Evi Idawati, Mathori A Elwa, dll. Kegiatan tersebut diisi dengan sesi baca puisi dan cerpen, kemudian diakhiri dengan Majelis Maulid Simtutduror yang dipimpin oleh Gus Fuad Plered.

Seni LukisSunting

Kyai multi talenta ini mulai tertarik dengan dunia seni lukis sejak masih kecil dan baru intens berkarya serta berpameran pada tahun 2009. Baginya melukis bukan saja perkara melakukan tindak kreatif pada sebidang kanvas atau menjual karya untuk kepentingan berbagai hal, namun lebih dari itu: melukis adalah bagian dalam syiar Islam yang diembannya.

Melukis adalah media silaturahmi sesama manusia, dengan melukis menjadi lebih dekat dengan berbagai elemen masyarakat tertentu yang memiliki keberagaman pemikiran dan kepribadian. Meskipun demikian, ketertarikan dunia seni tidak dimulai dengan melukis, tetapi melalui dunia sastra. Diskusi agama berbaur dengan diskusi seni; baik lukisan, musik, olahraga, dan sastra. Pesantren menjadi ruang pertemuan bagi para aktivis dunia seni lukis, sastra, dan musik.

Pameran tunggalnya antara lain: Aura Dzikir, Bentara Budaya Yogyakarta (2009),Aura Dzikir Putih, Jogja Nasional Museum (2010), Locospiritual, Jogja Gallery (2011), Alif-Risalah Rajah Sosrokartono, Museum Kereta Api Bandung (2011), Kitab Lailatul Qodar, Taman Budaya Yogyakarta (2013), dan Rerajah, ISI Yogyakarta (2016). Pameran bersama antara lain: Sisi Lain, Gallery ISI Surakarta (2010) - yang dihadiri oleh Sujiwo Tejo, Butet, Muji Sutrisno, Sam Bimbo, Jaduk Feriyanto, K.H Muhammad Fuad Riyadi, dll -, dan Pameran bersama Bursa Amal, Hotel Bandara ASRI (2013).

Pesantrennya sering dikunjungi oleh para seniman dari berbagi kultur dan agama, seperti: Nasirun, Yusron Mudhakir, I Gede Arya Sucitra (dosen dan pedande), Oe Hong Djien (kolektor lukisan), dll. Di tangan Kyai Fuad, seni mampu menjadi jalan damai membangun toleransi keberagaman suku, bangsa, dan agama.

Seni MusikSunting

 
Gus Fuad Plered saat menjadi bintang tamu di alun-alun Wates

Setelah berdakwah melalui seni sastra dan lukis, Gus Fuad mulai bergelanggang di dunia musik.  ROFA merupakan nama group musik yang didirikan dan dipimpin langsung oleh Gus Fuad Plered. Lirik lagu yang disenandungkan bertemakan cinta Kanjeng Nabi SAW kepada seluruh makhluk Tuhan.

Gus Fuad Plered berperan aktif sebagai songwriter & vokalis utama. 100 lagu cinta yang akan dirilisnya semua berbicara tentang kalam agung maulana Sekumpul R.A tentang Rasululullah SAW

Digarap dengan berbagai genre dan lirik yang mudah dipahami dan diterima publik, dengan misi mengenalkan pada masyakarakat, khususnya anak-anak muda tentang agungnya cinta dan kasih sayang (yang bersifat universal) dari sosok Nabi Muhammad SAW

ROFA merupakan komunitas musik untuk semua musisi yang ingin terlibat dalam misi menebarkan cinta-kasih & kegembiraan dihati semua orang. Adapun lagu-lagu ROFA bisa didengarkan melalui kanal spotify, amazon, I-Tunes, Resso, dan YouTube ROFA Enterprise

 
Gus Fuad Plered & Katon Bagaskara bersama-sama menjadi bintang tamu dalam acara doa bangsa di Wates, Kulon Progo

ReferensiSunting

1.        

Lidah Wali (2010), Lidah Kyai Kampung, halaman 172

2.        

Taman Pembuka Jiwa (2013), Sungkem SMS Cinta Muhammad S.A.W, halaman 116

3.

Kiai muda pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah ini bercita-cita membuat 100 lagu tentang Nabi Muhammad SAW. www.brilio.net. 2021-11-7. Diakses tanggal 2021-11-07.