Buka menu utama

Gong Si Bolong merupakan kesenian gamelan yang muncul di antara sebagian orang di pinggiran Depok, yaitu di kalangan warga Tanah Baru, Depok.[1] Kesenian Gong si bolong juga merupakan paduan antara seni musik dan tari Tayub, yakni sebuah tarian yang menceritakan suasana panen dengan gerakan bernuansa silat.[2] Konon, nama Gong Si Bolong ini dikarenakan sedemikian tuanya kesenian dan perangkat musiknya sehingga kemudian mengalami kerusakan, terutama pada gong besarnya yang sudah bolong (berlubang).[1] Gong yang telah tua itu sendiri tidak bisa digunakan lagi, sehingga benda itu dijadikan pusaka oleh pemiliknya dan menamakan kesenian ini Gong Si Bolong.[1] Permainan gamelan ini sendiri masih memiliki kemiripan dengan gaya permainan gamelan asli Bali, dengan ciri entakan cepat dan keras pada perkusinya.[1] Sebagian besar warga Depok mengetahui sebuah tugu yang berada di daerah Tanah Baru, Depok.[3] Tugu itu terletak di sebuah persimpangan jalan, sehingga tugu itu dijadikan patokan untuk menunjukan wilayah Tanah Baru.[3] Tugu tersebut merupakan Tugu Gong Si Bolong, karena di atas tugu itu terdapat replika Gong Si Bolong.[3]

Penemuan Gong Si BolongSunting

Adapun seorang Jimin menemukan Gong si Bolong pada tahun 1549, saat Kelurahan Tanah Baru masih berbatasan langsung dengan Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan.[4]. Seorang warga yang bernama Jimin itu ialah seorang Bapak yang tinggal di dekat sungai Krukut, Tanah Baru Depok.[4] Secara geografis, Tanah Baru saat itu masih dipenuhi hutan-hutan kecil dan rawa-rawa.[1] Saat itu hanya sedikit masyarakat yang mendiami wilayah hutan, rawa, lahan pertanian, serta kolam-kolam ikan.[4] Akan tetapi, untuk menjaga kelangsungan hidupnya masyarakat mengandalkan lahan pertanian.[1] Lama kelamaan, seiring berjalannya waktu hutan mulai dibuka menjadi lahan pertanian.[1] Sawah tadah hujan, perkebunan dan kolam-kolam perikanan mulai membelah wilayah itu.[5] Pak Jimin, mendengar adanya suara yang nyaring dan indah itu berasal dari sungai Krukut, sehingga ia mengajak tetangganya untuk menelusuri suara itu.[4] Akhirnya, mereka menemukan seperangkat alat musik gamelan dan yang mencolok adalah Gong Si Bolong, karena ukurannya yang besar dan tampak bolong.[1] Gong Si Bolong menjadi seperangkat gamelan yang bisa dimainkan ketika berada di tangan Bapak Tua Galung (Pak Jerah).[5] Pak jerah melengkapinya dengan satu set gendang, dua set saron, satu set kromong, satu set kedemung, satu set kenong, terompet, bende serta gong besar.[5]

Gong Si Bolong Masa KiniSunting

Gong Si Bolong masa kini lebih dikenal di dalam suatu Sanggar kesenian di wilayah Tanah Baru, Depok.[5] Derasnya arus Globalisasi membuat keberadaan Gong Si Bolong tertutup, karena tidak sebagian besar masyarakat Depok kini ingin membangkitkan keberadaannya.[5] Komposisi alat musik yang mempermegah Gong Si Bolong adalah Gong, Gendang, Bende, Rebab, Terompet, Keromong, serta Saron.[5] Para pemainnya berjumlah 12 anggota yang masing-masingnya memainkan alat-alat musik tersebut.[5] Namun sekarang, kesenian Gong si Bolong sudah mulai kurang diminati oleh masyarakat Kota Depok.[5] Undangan pentas kepada Sanggar sudah semakin kurang, bagi pengelola Sanggar itu hal ini dikarenakan generasi penerus kurang peka terhadap keberadaan Gong Si Bolong.[5] Kelompok kesenian ini juga pernah memenangkan juara 1 dalam pagelaran kesenian Jawa Barat Travel Exchange pada tahun 2008.[3]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h Jonathans, Yano. 2011. Depok Tempo Doeloe: Potret kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Jakarta: Libri.
  2. ^ "Budaya Gong Si Bolong". 
  3. ^ a b c d "Depok Info". 
  4. ^ a b c d "Gong Si Bolong Ditemukan Misterius di Ciganjur". 
  5. ^ a b c d e f g h i "Gong Si Bolong yang Mulai Terpinggirkan".