Buka menu utama

Gending karesmen (disebut juga rinengga sari, opera sunda, atau dramaswara) adalah kesenian drama khas Sunda yang dialog-dialognya dinyanyikan disertai iringan karawitan (tergantung kebutuhan teks dan ceritanya).[1] Jenis karawitan yang digunakan antara lain karawitan gamelan, cianjuran, dan degung.[2] Menurut M. Atje Salmun, orang yang pertama kali memakai istilah gending karesmen adalah R. Machyar Angga Kusumadinata. Istilah itu muncul pertama kali pada Kongres Bahasa Sunda ke-2 tahun 1927 yang dilaksanakan di Societeit Ons Genoegen (sekarang Yayasan Pusat Kebudayaan) (YPK) Bandung.[3]

Pada masa lalu, gending Karesmen sering ditampilkan di taman-taman untuk memeriahkan pesta kebun. Saat ini, seni pentas gending karesmen dapat disaksikan antara lain di Saung Angklung Udjo, Bandung dan di desa budaya Manglangyang, Bandung.[4]

RujukanSunting

  1. ^ Rahimakumulloh, Sanjani (Oktober 2015). "Pendidikan Karakter dalam Naskah Gending Karesmen Si Kabayan Jeung Raja Jimbul Karya Wahyu Wibisana (Kajian Struktur dan Psikosastra)". Lokabasa. 6 (2): 186. Diakses tanggal 30 November 2017. 
  2. ^ Heryanto, John (1 Juni 2017). "Gending Karesmen: Opera Sunda yang Terlupakan". LPM Daun Jati. Diakses tanggal 30 November 2017. 
  3. ^ Abdullah, Tatang; Hidayat, I. Syarief; Hardjasaputra, A. Sobana; Sumardjo, Jakob. "Gending Karesmen: Teater Tradisional Ménak di Priangan 1904-1942". Panggung. 23 (3): 302. Diakses tanggal 30 November 2017. 
  4. ^ Mutayasaroh, Mutayasaroh (6 Desember 2014). "Menikmati Alunan Gending Karesmen Sunda". Panduan Wisata. Diakses tanggal 30 November 2017. 

Pranala luarSunting