Gelembung ekonomi

Gelembung ekonomi (economic bubble), gelembung spekulatif, atau gelembung keuangan adalah "perdagangan dalam volume besar dengan harga yang sangat berbeda dengan nilai intrinsiknya".[1][2] (Dalam kata lain: memperdagangkan produk atau aset dengan harga yang lebih tinggi daripada nilai fundamentalnya.)

President George W. Bush menyampaikan pidatonya pada 30 September 2008 mengenai rencana penyelamatan ekonomi. Pada tahun 2008, Amerika Serikat mengalami krisis finansial yang diakibatkan oleh gelembung perumahan.

Walaupun beberapa ahli ekonomi menyangkal adanya ekonomi gelembung,[3] penyebab gelembung tetap menjadi tantangan untuk diteliti bagi mereka yang yakin bahwa harga aset sangat sering menyimpang dari nilai intrinsiknya.

Meskipun ada banyak penjelasan tentang penyebab ekonomi, belakangan ini diketahui bahwa gelembung dapat muncul bahkan tanpa didahului ketidakpastian,[4] spekulasi,[5] atau rasionalitas terbatas.[6] Penjelasan lain mengatakan ekonomi gelembung mungkin akhirnya disebabkan oleh proses koordinasi harga[7] atau norma-norma sosial yang baru muncul.[6]

Pengamatan nilai intrinsik sering sulit dilakukan dalam keadaan nyata di pasar, sehingga gelembung sering hanya dapat dikenali dengan pasti secara retrospektif, ketika terjadi penurunan harga secara tiba-tiba. Keadaan anjloknya harga disebut keruntuhan (crash) atau "pecahnya gelembung". Fase "ledakan" ekonomi maupun resesi dalam suatu ekonomi gelembung adalah contoh-contoh dari mekanisme umpan balik positif yang membedakannya dari mekanisme umpan balik negatif yang menentukan harga keseimbangan dalam keadaan pasar normal. Harga-harga dalam gelembung ekonomi dapat berfluktuasi dengan tidak menentu, dan menjadi tidak mungkin untuk memprediksinya hanya berdasarkan penawaran dan permintaan saja.

Ahli ekonomi menggunakan istilah "gelembung" untuk peningkatan harga aset secara ekstrem berdasarkan harapan kenaikan harga pada masa depan dan tanpa dukungan fundamental ekonomi, dan lazimnya diikuti kenyataan yang bertolak belakang dari harapan, dan anjloknya harga-harga.[8] Tulip mania di Belanda (1646) dan gelembung saham South Sea Company (1719-1720) adalah contoh tipikal dari gelembung spekulasi. Di Jepang, penggelembungan harga aset terjadi pada akhir 1980-an.

SejarahSunting

 
Gelembung South Sea merupakan salah satu krisis finansial pertama di era modern.

Istilah "gelembung" yang dimaksud sebagai krisis finansial bermula pada sekitar tahun 1711-1720 di perusahaan South Sea, dimana perusahaan ini menginflasikan nilai sahamnya diatas nilai yang wajar,[9] sehingga istilah gelembung awalnya menjadi direferensikan ke perusahaan itu sendiri. Kejadian ini meruapakan salah satu contoh paling awal dari krisis finansial di era modern. Gelembung menjadi metafora dari harga saham yang sangat besar namun mudah runtuh, yang hanya berkembang akibat udara kosong dan sangat mudah meledak secara mendadak, seperti yang terjadi pada banyak kejadian gelembung ekonomi.

Beberapa ahli ekonomi memperluas metaforanya untuk menekankan kejadiannya yang tiba-tiba, seperti gelembung yang runtuh seluruhnya secara tiba-tiba. Walau beberapa teori lain berpendapat bahwa gelemung ekonomi tidak secara tiba-tiba runtuh, namun ekonomi menjalani beberapa fase mengembang lalu mengempis sesuai dengan kondisinya.[10]

Sampai saat ini, belum ada konsesus atas penjelasan yang menjelaskan gelembung ekonomi secara utuh.[11]

Kemungkinan penyebabSunting

Sampai saat ini, belum ada teori yang diterima secara luas untuk menjelaskan kemunculannya.[12] Salah satu pendapat utama atas penyebab gelembung ekonomi adalah kebijakan keuangan yang lemah dan likuiditas moneter yang berlebihan dalam sistem keuangan.[13] Ketika suku bunga turun, investor cenderung menghindari memasukkan modalnya ke dalam rekening tabungan. Selain itu, hutang yang berlebihan dapat menjadi faktor kunci yang menyebabkan gelembung keuangan.[14].

Hal yang membingungkan bagi sebagian orang adalah fakta bawha gelembung terjadi bahkan di pasar eksperimental yang sangat dapat diprediksi, di mana ketidakpastian dihilangkan.[15] Namun demikian, gelembung telah diamati berulang kali di pasar yang sifatnya eksperimental, bahkan dengan peserta seperti mahasiswa bisnis, manajer, dan pedagang profesional yang dapat secara rasional menghitung nilai intrinsik dari suatu aset.[16]

 
Gelembung ekonomi merupakan kenaikan penilaian suatu aset jauh diatas harga aslinya. Grafik ini menunjukkan kenaikan harga nikel pada Perang Vietnam yang merupakan contoh dari gelembung ekonomi, karena kenaikan nilainya melampaui nilai asli produksinya.

Tidak ada kesepakatan yang jelas tentang apa yang menyebabkan gelembung.[17] Namun sejauh ini bukti menunjukkan bahwa gelembung tidak disebabkan oleh rasionalitas terbatas atau irasionalitas orang lain.[18] Selain itu, bukti lainnya menunjukkan bahwa gelembung muncul bahkan ketika pelaku pasar mampu menentukan harga aset dengan benar. Bukti yang lain menunjukkan bahwa spekulasi bukan merupakan suatu faktor yang diperlukan untuk menyebabkan terjadinya gelembung. [19]

Teori-teori yang lebih baru tentang pembentukan gelembung aset menunjukkan bahwa mereka kemungkinan merupakan peristiwa yang didorong secara sosiologis, sehingga teori yang hanya melibatkan faktor-faktor fundamental atau potongan-potongan perilaku manusia tidaklah dapat menjelaskan kejadian gelembung secara lengkap. Misalnya, peneliti kualitatif Preston Teeter berpendapat bahwa spekulasi pasar didorong oleh norma serta budaya yang tertanam dalam suatu masyarakat dan didukung oleh institusi yang berlaku saat itu.[20] Mereka mengutip faktor-faktor penyebab pembentukan gelembung seperti kredit mudah, peraturan longgar, dan investasi internasional.[20]

LikuiditasSunting

Salah satu kemungkinan penyebab gelembung adalah likuiditas moneter yang berlebihan dalam sistem keuangan, yang menyebabkan standar pinjaman yang longgar atau tidak sesuai yang membuat pasar rentan terhadap inflasi harga aset yang bergejolak yang disebabkan oleh spekulasi jangka pendek.[21] Axel A. Weber, mantan presiden Deutsche Bundesbank, berpendapat bahwa "Masa lalu telah menunjukkan bahwa penyediaan likuiditas yang terlalu besar di pasar keuangan global yang diikuti dengan tingkat suku bunga yang sangat rendah mendorong pembentukan gelembung finansial." [22]

Menurut penjelasan ini, likuiditas moneter yang berlebihan (kredit yang mudah, pendapatan disposabel besar, dan hal-hal lainnya) berpotensi terjadi ketika bank menerapkan kebijakan moneter ekspansif (yaitu menurunkan suku bunga dan menyiram sistem keuangan dengan uang beredar).[23] Detail tertentu dari penjelasan ini mungkin berbeda tergantung dari pandangan filsafat ekonomi seseorang. Mereka yang percaya bahwa jumlah uang beredar dikendalikan secara eksogen oleh bank sentral dapat mengaitkan penyebab 'kebijakan moneter ekspansif' oleh bank tersebut dan (jika ada) badan atau institusi yang mengatur.[24] Orang lain yang percaya bahwa jumlah uang beredar diciptakan secara endogen oleh sektor perbankan dapat mengaitkan 'kebijakan' tersebut dengan perilaku sektor keuangan itu sendiri.[25] Perilaku-perilaku ini contohnya rasionalisme terbatas, spekulatif, dan usaha untuk membuat keuntungan dalam waktu yang singkat dengan mengorbankan konsekuensi negatif jangka panjang.[25] Mereka memandang negara sebagai faktor pasif atau reaktif.

Sederhananya, gelembung ekonomi terjadi ketika terlalu banyak uang namun terlalu sedikit aset, menyebabkan aset terapresiasi secara berlebihan di luar fundamentalnya ke tingkat yang sangat tinggi dan tidak berkelanjutan.[26] Setelah gelembung pecah, penurunan harga menyebabkan runtuhnya skema investasi yang tidak berkelanjutan (terutama investasi spekulatif dan/atau Ponzi), yang mengarah pada krisis kepercayaan konsumen (dan investor) yang dapat mengakibatkan kepanikan finansial.[27] Jika ada otoritas moneter seperti bank sentral, ia mungkin mengambil langkah-langkah untuk menyerap likuiditas dalam sistem keuangan dalam upaya untuk mencegah jatuhnya mata uang.[28] Langkah ini mungkin melibatkan kebijakan seperti bailout sistem keuangan, ini dilakukan untuk memitigasi kehilangan kaiptal dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.[29]

Selain itu, beberapa contoh dari kebijakan moneter ini termasuk menaikkan suku bunga, yang cenderung membuat investor menjadi lebih menghindari risiko dan dengan demikian menghindari spekulasi karena biaya pinjaman mungkin menjadi terlalu mahal sehingga mendorong mereka lebih banyak menabung.[30] Kebijakan lainnya mungkin berupa tindakan pencegahan yang diambil selama periode pertumbuhan ekonomi yang kuat, seperti meningkatkan cadangan modal, menerapkan peraturan yang memeriksa dan/atau mencegah proses yang mengarah pada ekspansi berlebihan dan pemanfaatan utang yang berlebihan dan kebijakan lainnya.[31]

Beberapa ahli yang menekankan peran kredit dalam perekonomian sering menyebut gelembung sebagai "gelembung kredit", dan melihat ukuran seperti rasio utang terhadap PDB untuk mengidentifikasi gelembung.[32] Biasanya runtuhnya setiap gelembung ekonomi menghasilkan kontraksi ekonomi yang disebut (jika kurang parah) resesi atau (jika lebih parah) depresi.[33] kebijakan ekonomi apa yang harus diikuti sebagai reaksi terhadap kontraksi semacam itu adalah topik ekonomi politik yang terus diperdebatkan.

Faktor sosial dan psikologiSunting

Teori kebodohan yang lebih besarSunting

 
Contoh ekstrapolasi, walaupun data hanya memperlihatkan tren dari tahun pertama sampai tahun kelima, beberapa investor mungkin akan menggunakan data tersebut untuk memperkirakan apa yang terjadi pada tahun ke tujuh. Melupakan berbagai faktor lainnya yang menjadi valuasi nyata dari suatu perusahaan. Hal ini dapat mengakibatkan gelembung aset.

Teori kebodohan yang lebih besar menyatakan bahwa gelembung didorong oleh perilaku para pelaku pasar yang selalu optimistis (orang bodoh) dalam membeli aset yang dinilai terlalu tinggi untuk menjualnya kepada spekulan lain (orang bodoh yang lebih besar) dengan harga yang jauh lebih tinggi.[34] Menurut penjelasan ini, gelembung berlanjut selama orang bodoh dapat menemukan orang bodoh yang lebih besar untuk membeli aset nilainya terlalu tinggi. Gelembung akan berakhir hanya ketika si bodoh yang lebih besar menjadi si bodoh terbesar yang membayar harga tertinggi untuk aset yang dinilai terlalu tinggi dan tidak dapat lagi menemukan pembeli lain untuk membayarnya dengan harga yang lebih tinggi.[35] Teori ini populer di kalangan awam tetapi belum banyak dikonfirmasi oleh penelitian empiris,[36] penelitian di China memnunjukkan bahwa teori ini mungkin saja menjadi landasan dari gelembung yang pernah terjadi disana.[36]

EkstrapolasiSunting

Ekstrapolasi adalah memproyeksikan data historis ke masa depan dengan asumsi yang sama. Misalnya, jika harga telah naik pada tingkat tertentu di masa lalu, mereka akan terus naik pada tingkat itu di masa yang akan datang.[37] Ekstrapolasi seperti ini membuat investor cenderung mengharapkan keuntungan luar biasa yang terjadi di masa lalu atas investasi aset tertentu ke masa depan,[38] hal ini menyebabkan mereka menawar lebih tinggi aset yang mungkin lebih berisiko tersebut daripada harga sebeneranya untuk mencoba terus menangkap tingkat pengembalian yang sama.

Penawaran berlebihan ini pada titik tertentu akan menghasilkan tingkat keuntungan yang tidak ekonomis bagi investor. Investor merasa bahwa mereka tidak lagi diberi kompensasi yang baik untuk memegang aset berisiko tersebut. Pada titik inilah baru kemudian deflasi harga aset akan dimulai.

AkibatSunting

Gelembung secara tidak langsung mempengaruhi perekonomian karena pelaku ekonomi mengubah perilaku mereka sebagai respons terhadap perubahan sinyal harga.[39] Misalnya, ketika harga saham perusahaan naik, seseorang mungkin merespons dengan meningkatkan pengeluaran investasi modal fisiknya dengan jumlah lebih tinggi daripada yang seharusnya.[40] Demikian juga, ketika harga rumah naik, pengembang dapat merespons dengan meningkatkan stok perumahan lebih dari yang dapat didukung pasar secara menguntungkan dalam jangka panjang.[41]

 
Seorang pria sedang tertidur diatas trotoar disaat Depresi Besar di Amerika Serikat yang diakibatkan oleh gelembung ekonomi.

Gelembung juga dapat menyebabkan misalokasi sumber daya yang mengarah pada inefisiensi dalam perekonomian. Misalnya, "gelembung dot-com" tahun 1990-an menyebabkan perusahaan di bidang teknologi mengeluarkan investasi yang terlalu banyak dibandingkan dengan bidang perekonomian lainnya. Beberapa dari investasi ini mungkin tidak pernah menghasilkan output yang sebanding dengan biayanya.[42] Akibatnya, beberapa industri mungkin akan runtuh, namun secara keseluruhan, misalokasi ini tampaknya tidak terlalu merugikan perekonomian karena sektor dot-com terlalu kecil untuk memiliki pengaruh besar pada perekonomian secara keseluruhan. Namun, Jepang bisa dibilang memberikan contoh di mana masalah misalokasi dapat merukak untuk ekonomi secara keseluruhan yang berkontribusi pada stagnasi ekonomi yang terus-menerus setelah gelembung pecah.

Dari sudut pandang pembuat kebijakan, nasib industri tertentu mungkin kurang penting dibanding kemampuan ekonomi secara keseluruhan untuk menghasilkan lapangan kerja. Gelembut dot-com misalnya, menyebabkanbeberapa perusahaan runtuh, tapi beberapa lainnya berkonsolidasi dan menginvestasikan kembali uangnya di bidang infrastuktur.[43] Oleh karena itu, dampak dari rusaknya gelembung akan sangat bergantung pada seberapa merusaknya terhadap kesehatan ekonomi secara keseluruhan. Jika ekonomi dapat menghindari gelembung yang pecah dan terus berkembang dengan lancar, maka mencegah gelembung mungkin tidak akan menjadi prioritas kebijakan. Sebagai alternatif, jika gelembung menyebabkan resesi atau krisis keuangan ketika mereka meledak, maka pembuat kebijakan memiliki insentif yang kuat untuk menghentikan gelembung sebelum mereka mulai.[39]

Gelembung dapat menyebabkan kesulitan dalam sistem keuangan jika menyebabkan perusahaan besar atau sejumlah perusahaan mengalami kebangkrutan. Contohnya, jika ada perusahaan yang tidak dapat menghormati kewajibannya ke perusahaan lain, masalah bisa meluas ke perusahaan lain yang berurusan dengannya, seperti yang terjadi ketika suatu perusahaan menjadi bangkrut dan tidak bisa membayar hutangnya ke perusahaan keuangan. Jika masalahnya menjadi cukup serius dan meluas, hal itu dapat mencegah kelancaran fungsi intermediasi keuangan, menyebabkan perusahaan non-keuangan kesulitan dalam membiayai operasi mereka sendiri, ini akan menyebabkan rusaknya ekonomi secara umum.[44] Krisis di sektor perbankan inilah yang membuat Depresi Besar berlangsung lama dan dalam.[45] Sejak itu, ketika kerusuhan keuangan mengancam, Bank sentral dapat turun tangan untuk mencegah masalah keuangan menjadi lebih umum (Lender of the last resort).[46]

Jenis-jenis gelembungSunting

Jorda, Schularick, dan Taylor membagi gelembung menjadi empat kelompok, yang dibagi menjadi dua garis.[47] Cara luas pertama untuk mengkategorikan gelembung adalah berdasarkan jenis asetnya. Gelembung mungkin terjadi dalam ekuitas, seperti gelembung saham berteknologi tinggi di Amerika Serikat selama akhir 1990-an. Atau gelembung bisa terjadi di sektor perumahan, yang tentu saja meruntuhkan ekonomi AS dan kemudian ekonomi terkemuka lainnya di seluruh dunia hanya delapan tahun yang lalu. Cara kedua untuk mengkategorikan gelembung adalah dengan melihat apakah gelembung itu terjadi bersamaan dengan peningkatan kredit yang besar. Dengan kata lain, apakah gelembung dibiayai dengan utang? Jadi kita berakhir dengan empat jenis gelembung: gelembung ekuitas tanpa gelembung kredit, gelembung ekuitas yang didorong oleh kredit, gelembung perumahan dengan pertumbuhan kredit rata-rata, dan gelembung perumahan yang diungkit.[48]

Tahap-tahap gelembungSunting

Ekonom Hyman P. Minsky meruapakan salah-satu ekonom yang menjelaskan ketidakstabilan finansial dan interaksinya terhadap ekonomi. Bukunya yang berjudul Stabilizing an Unstable Economy (1986) merupakan salah satu pionir dari bidang ini.[49]

 
Gelembung dot com merupakan gelembung yang terjadi akibat maraknya spekulasi di era awal teknologi. Hal ini menyebabkan banyak perusahaan mengalami over valuasi sebelum akhirnya runtuh.

Minsky mengidentifikasi lima tahapan terjadinya gelembung.[50] Walaupun terdapat beberapa pendapat yang berbeda, pola dari gelembung tetap sama. Tahapan-tahapan tersebut adalah: [49]

  1. Displacement: Displacement terjadi ketika investor berpindah (displace) ke paradigma baru, seperti teknologi baru yang inovatif atau suku bunga yang rendah. Contoh klasik displacement adalah penurunan suku bunga dana federal dari 6,5% pada Mei 2000 menjadi 1% pada Juni 2003. Selama periode tiga tahun ini, suku bunga tetap 30 tahun menjadi 5,21%, terendah sepanjang sejarah.
  2. Boom: Harga naik perlahan pada awalnya, mengikuti semakin maraknya perpindahan, tetapi kemudian kenaikan harga semakin tinggi karena semakin banyak peserta memasuki pasar. Selama fase ini, aset yang dimaksud mendapat liputan media secara luas. Banyak orang yang merasa takut ketinggalan kesempatan sekali seumur hidup memicu lebih banyak spekulasi
  3. Euforia: Selama fase ini, harga suatu acet akhirna mencapai tingkat ekstrim. Misalnya, pada puncak gelembung real estat Jepang pada tahun 1989, tanah di Tokyo terjual sebanyak $139.000 per kaki persegi (0,3 meter persegi), atau lebih dari 350 kali lipatnya nilai properti di Manhattan, Amerika Serikat. Setelah gelembung pecah, real estat kehilangan sekitar 80% dari nilainya, sementara harga saham turun 70%. Demikian pula, pada puncak gelembung Internet pada Maret 2000, nilai gabungan semua saham teknologi di Nasdaq lebih tinggi daripada PDB sebagian besar negara.
  4. Pengambilan Untung: Pada saat ini, beberapa orang - dengan memerhatikan tanda-tanda peringatan - umumnya menjual asetnya dan mengambil keuntungan sebelum gelembung runtuh. Tetapi memperkirakan waktu yang tepat ketika gelembung akan runtuh bisa menjadi sulit dan sangat berbahaya bagi kesehatan keuangan seseorang, Hal ini terjadi karena hanya diperlukan peristiwa yang relatif kecil untuk dapat memecahkan gelembung, tetapi setelah tertusuk, gelembung tidak dapat "mengembang" lagi.
  5. Panik: Pada tahap panik, harga aset berbalik arah dan turun secepat mereka naik. Investor dan spekulan, yang dihadapkan pada margin call dan penurunan nilai kepemilikan mereka, sekarang ingin melikuidasi mereka dengan harga berapa pun. Karena pasokan menguasai permintaan, harga aset merosot tajam.Salah satu contoh paling nyata dari kepanikan global di pasar keuangan terjadi pada Oktober 2008, beberapa minggu setelah Lehman Brothers menyatakan kebangkrutan dan Fannie Mae , Freddie Mac dan AIG hampir runtuh. S&P 500 anjlok hampir 17% bulan itu, kinerja bulanan terburuk kesembilan. Dalam satu bulan itu, pasar ekuitas global kehilangan $9,3 triliun yang merupakan sejumlah 22% dari nilai gabungan pasar mereka.

Ciri-ciri aset gelembungSunting

Gelembung ekonomi atau aset sering ditandai dengan satu atau lebih hal berikut:

  • Perubahan yang tidak biasa dalam ukuran tunggal, atau hubungan antara ukuran (misalnya, rasio) relatif terhadap tingkat historisnya. Misalnya, dalam gelembung perumahan tahun 2000-an, harga perumahan sangat tinggi dibandingkan dengan pendapatan.[51] Untuk saham, rasio harga terhadap pendapatan memberikan ukuran harga saham relatif terhadap pendapatan perusahaan; rasio yang lebih tinggi menunjukkan investor membayar lebih untuk setiap dolar pendapatan
  • Peningkatan penggunaan utang (leverage) untuk membeli aset, seperti membeli saham dengan margin atau rumah dengan uang muka yang lebih rendah.[52]

Contoh gelembung ekonomiSunting

ReferensiSunting

  1. ^ King, Ronald R. (1993). "The Robustness of Bubbles and Crashes in Experimental Stock Markets". Dalam R. H. Day and P. Chen. Nonlinear Dynamics and Evolutionary Economics. New York: Oxford University Press. ISBN 0195078594. 
  2. ^ Lahart, Justin (2008-05-16). "Bernanke's Bubble Laboratory, Princeton Protégés of Fed Chief Study the Economics of Manias". The Wall Street Journal. hlm. A1. 
  3. ^ Garber, Peter (2001). Famous First Bubbles: The Fundamentals of Early Manias. Cambridge, MA: MIT Press. ISBN 0262571536. 
  4. ^ Smith, Vernon L. (1988). "Bubbles, Crashes, and Endogenous Expectations in Experimental Spot Asset Markets". Econometrica. 56: 1119–1151. 
  5. ^ Lei, Vivian (2001). "Nonspeculative Bubbles in Experimental Asset Markets: Lack of Common Knowledge of Rationality Vs. Actual Irrationality". Econometrica. 69: 831. 
  6. ^ a b Levine, Sheen S. (2007-06-27). "The Institutional Nature of Price Bubbles".
  7. ^ Hommes, Cars (2005). "Coordination of Expectations in Asset Pricing Experiments". Review of Financial Studies. 18: 955–980. 
  8. ^ {{cite book |title=Reconcilable differences?: United States-Japan economic conflict |last=Bergsten |first=C. Fred |authorlink= |coauthors=Marcus Noland, Institute for International Economics |year=1993 |publisher=Peterson Institute |location= |isbn=0-8813-2129-X |page=46 |pages=
  9. ^ "The South Sea Bubble of 1720". Historic UK (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-28. 
  10. ^ John Shiller, Robert (19 Jul 2013). "Do all economic bubbles burst?". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-28. One problem with the word bubble is that it creates a mental picture of an expanding soap bubble, which is destined to pop suddenly and irrevocably. But speculative bubbles are not so easily ended; indeed, they may deflate somewhat, as the story changes, and then reflate. 
  11. ^ Joebges, Heike; Dullien, Sebastian; Márquez-Velázquez, Alejandro (2015). "What causes housing bubbles?" (PDF). Competence Centre on Money, Trade, Finance and Development. 1: 24. there is no consensus in the literature concerning the definition of a housing bubble 
  12. ^ Girdzijauskas, Stasys; Štreimikienė, Dalia; Čepinskis, Jonas; Moskaliova, Vera; Jurkonytė, Edita; Mackevičius, Ramūnas (2009-06-30). "Formation of economic bubbles: Causes and possible preventions". Technological and Economic Development of Economy (dalam bahasa Inggris). 15 (2): 267. doi:10.3846/1392-8619.2009.15.267-280. ISSN 2029-4921. 
  13. ^ Topol, Richard (1991). "Bubbles and Volatility of Stock Prices: Effect of Mimetic Contagion". The Economic Journal. 101 (407): 789. doi:10.2307/2233855. ISSN 0013-0133. The main idea behind the creation of economic bubbles is a weak financial policy and excessive monetary liquidity in the financial system 
  14. ^ Baily, Martin Neil (2008). The Origins of the Financial Crisis (PDF) (dalam bahasa Inggris). Washington: Initiative on Business and Public Policy at Brookings. hlm. 8. ...over-leveraged banks found themselves exposed to falling asset prices with very little capital... 
  15. ^ Smith, Vernon L.; Suchanek, Gerry L.; Williams, Arlington W. (1988). "Bubbles, crashes, and endogenous expectations in experimental spot asset markets". Econometrica. 56 (5): 1119–1153. doi:10.2307/1911361. 
  16. ^ Noussair, Charles N. (2017). "The Discovery of Bubbles and Crashes in Experimental Asset Markets and the Contribution of Vernon Smith to Experimental Finance". Southern Economic Journal. 83 (3): 644. ISSN 0038-4038. ..the results have turned to be highly replicable...the dividend process is common information to participants, so there is an uambigous fundamental value" 
  17. ^ Case, Karl E; Shiller, Robert J (2003). "Is There a Bubble in the Housing Market?". Brookings Papers on Economic Activity. 2003 (2): 310. doi:10.1353/eca.2004.0004. ISSN 1533-4465. … There is very little agreement about housing bubbles. 
  18. ^ Levine, Sheen S.; Zajac, Edward J. (2007-06-20). "The Institutional Nature of Price Bubbles". SSRN Electronic Journal (dalam bahasa Inggris). Rochester, NY. doi:10.2139/ssrn.960178. If bubbles are indeed caused by bounded rationality...we would expect that average asset prices will be farther from intrinsic values ex ante and move closer to intrinsic values ex post 
  19. ^ Lei, Vivian; Noussair, Charles; Plott, Charles (2001). "Nonspeculative Bubbles in Experimental Asset Markets: Lack of Common Knowledge of Rationality vs. Actual Irrationality" (PDF). Econometrica. 69 (4): 834. doi:10.1111/1468-0262.00222. 
  20. ^ a b Teeter, Preston; Sandberg, Jörgen (2017-02-01). "Cracking the enigma of asset bubbles with narratives". Strategic Organization (dalam bahasa Inggris). 15 (1): Abstrak. doi:10.1177/1476127016629880. ISSN 1476-1270. 
  21. ^ Hendricks, Vincent F. "From the art world to fashion to Twitter, we're all living in bubbles". The Conversation (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-28. 
  22. ^ Porras, E. (2016-06-29). Bubbles and Contagion in Financial Markets, Volume 1: An Integrative View (dalam bahasa Inggris). London: Palgrave Macmillan. hlm. 33. ISBN 978-1-137-35876-9. 
  23. ^ Liu, Xinhua; Wray, L. Randall (2010-10-01). "Excessive Liquidity and Bank Lending in China". International Journal of Political Economy. 39 (3): 45. doi:10.2753/IJP0891-1916390303. ISSN 0891-1916. The conventional view is that such a bubble is highly dangerous and is largely caused by great sums of "excess liquidity," which, in turn, induced banks to lend funds. 
  24. ^ Curran, Enda (25 Januari 2021). "Pandemic-Era Central Banking Is Creating Bubbles Everywhere". Bloomberg. Diakses tanggal 29 November 2021. 
  25. ^ a b Brzezicka, Justyna; Wisniewski, Radosław (2014-03-01). "Price Bubble In The Real Estate Market - Behavioral Aspects". Real Estate Management and Valuation (dalam bahasa Inggris). 22 (1): 77–90. doi:10.2478/remav-2014-0010. ISSN 1733-2478. 
  26. ^ Yang, Xiaozhong; Peng, Mingshu; Hu, Jiping; Jiang, Xiaoxia (2009-11-15). "Bubbling phenomenon in a discrete economic model for the interaction of demand and supply". Chaos, Solitons & Fractals (dalam bahasa Inggris). 42 (3): 1434. doi:10.1016/j.chaos.2009.03.058. ISSN 0960-0779. too much money is chasing too few assets, causing both good assets and bad assets to appreciate excessively beyond their fundamentals to an unsustainable level 
  27. ^ Inquiry Comission, Financial Crisis (Januari 2011). The Financial Crisis Inquiry Report (PDF). Washington: U.S Government Printing Office. hlm. xxii. ISBN 978-0-16-087983-8. 
  28. ^ Smets, Frank (2018-08-24). "Financial Stability and Monetary Policy: How Closely Interlinked?". 35th issue (June 2014) of the International Journal of Central Banking (dalam bahasa Inggris). 10 (2): 265. In a crisis situation, liquidity policies by the central bank may avoid a collapse of the banking sector 
  29. ^ Motohashi, Atsushi (2020-12). "Effectiveness of Bailout Policies for Asset Bubbles in a Small Open Economy". KIER Working Papers (dalam bahasa Inggris) (1048): Abstrak. When bubbles burst, the bailout policy mitigates capital losses caused by the burst and accelerates economic growth and workers’ wages compared to the no-bailout case 
  30. ^ "What Is the Relationship Between Inflation and Interest Rates?". Investopedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-28. 
  31. ^ Biagio, Bossone (2012). Strengthening Financial Systems in Developing Countries : The Case for Incentives-Based Financial Sector Reforms. Washington, DC: World Bank. hlm. 17–36. 
  32. ^ Roxburgh, Charles; Lund, Susan; Amar, Eric; Atkins, Charles; Richard, Dobbs (1 Januari 2020). ‎Debt and Deleveraging: The Great Global Credit Bubble and Its Economic Consequences (PDF) (dalam bahasa Inggris). London: McKinsey Global Institute. hlm. 14. ...the growth and nature of leverage may serve as a good proxy and could inform monetary policy 
  33. ^ Media, Kompas Cyber (2020-09-22). "Mengenal Apa Itu Resesi dan Bedanya dengan Depresi". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2021-11-29. 
  34. ^ Bogan, Vicki (2021-03-22). "The Greater Fool Theory: What Is It?". Hartford Funds (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-29. 
  35. ^ Black, Ken (8 Februari 2014). "What is the Greater Fool Theory? (with pictures)". Smart Capital Mind (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-29. 
  36. ^ a b Zou, Xuan (2018) : Can the greater fool theory explain bubbles? Evidence from China, Kertas Kerja, No. 2018-04, Rutgers University, Department of Economics, New Brunswick, NJ
  37. ^ Porras, E. (2016-06-29). Bubbles and Contagion in Financial Markets, Volume 1: An Integrative View (dalam bahasa Inggris). London: Palgrave Macmillan. hlm. 163. ISBN 978-1-137-35876-9. 
  38. ^ Barberis, Nicholas; Greenwood, Robin; Jin, Lawrence; Shleifer, Andrei (2018-08-01). "Extrapolation and bubbles" (PDF). Journal of Financial Economics (dalam bahasa Inggris). 129 (2): Abstrak. doi:10.1016/j.jfineco.2018.04.007. ISSN 0304-405X. 
  39. ^ a b Labonte, Mark (25 September 2007). "Asset Bubbles: Economic Effects and Policy Options for the Federal Reserve". www.everycrsreport.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-29. 
  40. ^ Gilchrist, Simon; Himmelberg, Charles P.; Huberman, Gur (2004-06). "Do Stock Price Bubbles Influence Corporate Investment?". 
  41. ^ Gilchrist, Simon; Himmelberg, Charles P.; Huberman, Gur (2005-05-01). "Do stock price bubbles influence corporate investment?". Journal of Monetary Economics. SNB (dalam bahasa Inggris). 52 (4): 821. doi:10.1016/j.jmoneco.2005.03.003. ISSN 0304-3932. increases in dispersion cause increases in new equity issuance 
  42. ^ Kraay, Aart; Ventura, Jaume (2007-11-01). 11 The Dot-Com Bubble, the Bush Deficits, and the U.S. Current Account (PDF) (dalam bahasa Inggris). University of Chicago Press. hlm. 4. doi:10.7208/9780226107288-013/html. ISBN 978-0-226-10728-8. 
  43. ^ Mitic, I. (25 Desember 2019). "Biggest Economic Bubbles in History (2020 Infographic)". Fortunly (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-29. 
  44. ^ Hunter, William (2003). Asset Price Bubbles (PDF). Cambridge: MIT Press. hlm. 91. ISBN 0-262-08314-0. 
  45. ^ "Causes of the Great Depression | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-29. 
  46. ^ "What It Means to Be a Lender of Last Resort". Investopedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-29. 
  47. ^ Jordà, Òscar; Schularick, Moritz; Taylor, Alan M. (2015-08). "Leveraged Bubbles". Journal of Monetary Economics. 76: 1. doi:10.3386/w21486. 
  48. ^ "The 4 kinds of financial bubble". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-29. 
  49. ^ a b "Five Steps Of A Bubble". Forbes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-11-28. 
  50. ^ Richau, Lukas; Follert, Florian; Frenger, Monika; Emrich, Eike (2021-08-01). "The sky is the limit?! Evaluating the existence of a speculative bubble in European football". Journal of Business Economics (dalam bahasa Inggris). 91 (6): 768. doi:10.1007/s11573-020-01015-8. ISSN 1861-8928. PMC 7584485 . ....The Kindleberger–Minsky model takes a conceptual approach by separating the rise and burst of a speculative bubble into five phases, which characterize the typical pattern of such events... 
  51. ^ Ritholtz, Barry (6 Desember 2013). "How Do You Define a Bubble? (And Are We in One Now?)". Bloomberg. Diakses tanggal 2021-11-29. 
  52. ^ Jordà, Òscar; Schularick, Moritz; Taylor, Alan M. (2015-09-01). "Leveraged bubbles". VoxEU.org. Diakses tanggal 2021-11-29. 

Pranala luarSunting