Foto Kotak dan Jendela

film Indonesia

Foto Kotak dan Jendela adalah film drama Indonesia yang diproduksi pada tahun 2006. Film yang disutradari oleh Angga Dwimas Sasongko dan ditulis oleh Ginatri S. Noer ini dibintangi antara lain oleh Vino G. Bastian, Christian Sugiono dan Noveleta Dinar.

Foto Kotak dan Jendela
Foto Kotak dan Jendela.jpg
Poster film
SutradaraAngga Dwimas Sasongko
ProduserSalman Aristo
Angga Dwimas Sasongko
PenulisGinatri S. Noer
PemeranVino G. Bastian
Christian Sugiono
Noveleta Dinar
MusikAdhika Satya Winasis
SinematografiAmsal Fadli
PenyuntingRamantyo Wicaksono
Perusahaan
produksi
SinemArt Pictures
Spidol Hitam Production
Tanggal rilis
2006
Durasi
90 menit
NegaraIndonesia
BahasaBahasa Indonesia

SinopsisSunting

Produser televisi Dimas Airlangga (Christian Sugiono) dan sahabatnya, editor majalah, Nur Larasati (Noveleta Dinar) bingung mencari pemandu acara yang murah untuk TV show yang sedang mereka kerjakan. Suatu hari datang tetangga baru di rumah susun mereka, seorang artis tanggung bernama Reno Barata (Vino G Bastian). Reno sedang kesulitan ekonomi sehingga ia bersedia menerima tawaran untuk terlibat menjadi pemandu acara pada proyek tv show tersebut. Ketika proyek ini mulai berjalan dan mereka sedikit demi sedikit mulai berteman, mereka menyadari satu kesamaan antarmereka bahwa mereka tak bisa melupakan bekas pacar mereka masing-masing. Akhirnya proyek mereka mengerjakan program tv ini menjadi proyek mereka sendiri-sendiri untuk melepaskan diri dari masa lalu mereka itu.

PemeranSunting

TriviaSunting

Foto, Kotak dan Jendela (FKJ) adalah sebuh film sidestream. film yang dibuat untuk distribusi non-komersial, dengan kata lain film ini tidak di distribusikan melalui gedung-gedung bioskop yang ada. FKJ sudah pernah diputar di beberapa festival film berskala internasional yang pernah diadakan di Indonesia, seperti: Jakarta International Film Festival dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival. saat itu respon dari penonton sangat bagus.

Gaya tutur yang sederhana namun digarap dengan pendekatan realistik yang tinggi, seperti akting, artistik dan penulisan skenario. Film ini dihantar dengan pace yang cukup lambat tanpa emosi berlebihan dan nyaris tanpa konflik. Sebuah pendekatan filmmaking yang mungkin kita pikir tidak audience-friendly. Namun nyatanya apresiasi yang didapat ketika pemutaran di festival-festival tersebut dan beberapa kampus seperti Universitas Indonesia dan universitas Pelita Harapan sangat positif. seakan-akan tema yang diangkat oleh film ini begitu 'bunyi' dikalangan anak-anak muda.

Dialog-dialog sederhana dengan pola akting yang implisif ternyata malah mampu menghadirkan senyum dan tawa penonton. Gaya tutur ini ternyata malah membuat penonton menjadi begitu dekat dengan mereka. mungkin ini yang menjadi semangat film ini. Langsung hadir menjadi bagian dari penonton, tanpa perlu waktu mengidentifikasi dan membuka diri.

Pranala luarSunting