Flu spanyol di Indonesia

Flu spanyol di Indonesia adalah bagian dari pandemi influenza yang disebabkan virus influenza A subtipe H1N1. Meskipun namanya menyiratkan asal dari Spanyol, penyakit ini pertama kali diamati di Kansas, Amerika Serikat pada awal Maret 1918. Pada bulan Juni, flu spanyol sudah mencapai Indonesia.[1] Wabah flu spanyol ini diperkirakan memakan korban sebanyak 1,5 juta orang tewas di Indonesia.[2][1] Perkiraan terbaru malah menyatakan bahwa jumlah korban jauh lebih banyak, mencapai 4,26-4,37 juta di Jawa dan Madura saja.[3] Meskipun memakan korban jiwa cukup banyak, pandemi flu spanyol di Indonesia ini tidak banyak mendapatkan perhatian.

Flu spanyol menyerang Indonesia dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan terjadi antara Juli sampai dengan September 1918 dengan kasus berkategori ringan. Kasus pertama terdeteksi di wilayah perkebunan Pangkatan pada Juni 1918 dan diduga merupakan area penyebaran pertama. Virus kemungkinan terbawa para kuli kontrak yang berasal dari Singapura. Selama lima minggu, wilayah yang terjangkit semakin meluas, antara lain Tanjung Pandan (Belitung), Pulau Laut (Kalimantan), dan Weltervreden (Batavia). Sekitar lima persen penduduk Surabaya dinyatakan terinfeksi. Gelombang kedua dengan skala yang lebih besar terjadi antara Oktober hingga Desember 1918. Di beberapa daerah di Indonesia bagian timur, pandemi dilaporkan terus terjadi hingga April 1919. Tingginya angka kematian terutama disebabkan oleh kekeliruan diagnosa, keterlambatan penanganan, serta tenaga medis dan masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan terkait penyakit ini.[4]

Upaya penangananSunting

Pemerintah kolonial melalui Dewan Rakyat (Volksraad) saat itu dipandang tidak tanggap dalam menanggapi ancaman pandemi meski telah mendapatkan peringatan sebelumnya berupa telegram dari konsulat Belanda di Hong Kong dan Singapura. Sehingga, walaupun telah terjadi penularan di beberapa wilayah, statusnya masih dipandang tidak berbahaya (ongevaarlijke ziekte). Hal ini juga diperparah dengan misinformasi yang berkembang, pemerintah sempat menganggap penyakit ini merupakan influenza biasa, bahkan sempat mengiranya sebagai penyakit kolera. Akibatnya, terjadi salah penanganan berupa vaksinasi kolera kepada penduduk Jawa dan Sumatra. Lambatnya upaya penanganan menyumbang pada besarnya tingkat kematian di banyak daerah.[4]

Berdasarkan arsip catatan rapat Dewan selama 1918 hingga 1920, mereka terbukti kurang memiliki keseriusan untuk menangani pandemi. Hal ini terlihat dari tidak adanya dokumen mengenai strategi spesifik untuk menekan laju penyebaran dan mengurangi angka kematian. Hanya sedikit bukti mengenai upaya mereka melawan pandemi, di antaranya dengan membentuk Komisi Influenza (Influenza-Commissie) melalui Dinas Kesehatan Belanda (Burgerlijken Geneeskundigen Dienst) atau disingkat BGD pada 16 November 1918. Pembentukan ini dinilai terlambat karena pandemi tengah berada di puncak gelombang kedua. Upaya yang lain adalah pengesahan Peraturan Influenza (Influenza-Ordonnantie) pada 29 Oktober 1920. Langkah ini juga terlambat karena pandemi di beberapa wilayah Indonesia kolonial saat itu sudah mulai mereda.[4]

ReferensiSunting

  1. ^ a b Patterson, K. David; Pyle, Gerald F. (1991). "The Geography and Mortality of the 1918 Influenza Pandemic". Bulletin of the History of Medicine. The Johns Hopkins University Press. 65 (1): 4–21. 
  2. ^ Ridhoi, Muhammad Ahsan (2020). "Belajar dari Kesalahan Hindia Belanda Tangani Flu Spanyol untuk Corona". Katadata. Diakses tanggal 15 Juli 2021. 
  3. ^ Chandra, Siddharth (2013). "Mortality from the influenza pandemic of 1918-19 in Indonesia". Population Studies: A Journal of Demography. 67 (2): 185–193. doi:10.1080/00324728.2012.754486. 
  4. ^ a b c Ravando (2020). Perang melawan influenza: pandemi flu spanyol di Indonesia masa kolonial, 1918-1919. Jakarta: Kompas. ISBN 9786232415546.