Fauzan Misra el-Muhammady

Drs. H. Fauzan Misra el-Muhammady, MA (lahir di Pitalah, Batipuh, Tanah Datar, 6 Juli 1939; umur 80 tahun) adalah seorang akademisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Presidium Rektor IAIN Imam Bonjol, Padang periode 19741976 dan Kakanwil Depag Sumbar periode 19921996.[1]

Lahir Setelah Ibu Baca Al Qur’anEdit

Drs. H. Fauzan Misra El Muhammady, dilantik menjadi Kepala Kanwil Departemen Agama Propinsi Sumatera Barat 12 Oktober 1992 menggantikan Drs. H. Bachtiar Ilyas yang memperoleh jabatan Sekretaris Ditjen Binbaga Islam Depag.[2]

Fauzan lahir di Tanjung Rumpanai, Pitalah Tanah Datar, Sumatera Barat, 6 Juli 1939. Orangtuanya Abdul Mun’im El Muhammady (ayah) Asra (Ibu) memberi nama Fauzan yang berarti kemenangan (dan memeang membawa keberuntungan) mempunyai latar historis pada saat-saat kelahirannya.[2]

Pada masa hamil tua ibunya, seperti biasa rajin membaca Alquran. Saat qira’at muratal ibu sampai pada lafal “Fauzan ‘azima” (mungkin pada salah satu ayat QS An-Nisa 4:73, atau QS Al Ahzab 33:71 atau QS Al Fath 47:5), rasa nyeri pertanda melahirkan, dirasakan ibu. Ditakdirkan dalam waktu relatif pendek, ibu melahirkan. Dengan dasar itu usulan ibu menamai anaknya dengan “Fauzan” disetujui ayah, demikian cerita tokoh ini didampingi keluarga tercinta Huda Hanum dengan senyum penuh arti.[2]

Sejak kecil, fauzan kecil disayangi kakek, H. Muhammady. Sebagai bukti cinta kasih kakek, namanya dilengkapi dengan Fauzan Misra El Muhammady . Misra terdiri dari potongan nama ayah “Mi” (mun’im ) dan Isra dari potongan nama ibu dari sra (Rasul) dari El Muhammady adalah nama kakeknya sendiri.[2]

Fauzan Misra El-Muhammady sejak kecil sudah terbiasa dalam lingkungan cinta belajar.

Tamat dari Diniyah Pitalah, fauzan melanjutkan pelajaran ke Thawalib di Padang Panjang. Ibunya menyarankan, bagaimana kalau melanjutkan PGA atau SGA saja, biar cepat jadi guru. Tokoh kita ini sudah jatuh pilihannya ke Thawalib dengan suatu motivasi ingin melanjutkan studi ke Al Azhar University di Cairo, Mesir.[2]

Yang lebih mendorong Fauzan memilih Thawalib ketika itu, justru ia sudah mempunyai keyakinan, bahwa lembaga inilah yang proses pencapaian cita-cita yang pernah ditanamnya. Apalagi ketika itu ia baru saja menerima keterangan dalam ceramah dari H. Moechtar Shalihi gurunya yang baru pulang dari Timur Tengah.[2]

Semangatnya sesudah itu semakin menggebu untuk melanjutkan sekolah ke Mesir. Ketika cita-cita ini diutarakan kepada ibunda, spontanitas mendapat sokongan penuh. Ibunda berkata “Orang Bunga Tanjung (H. Darwis Aminy) dan Batipuh (Drs. Zakaria Hakim) tamat dari Mesir, tapi orang Pitalah seorangpun belum ada, “Keinginan ke Mesir setelah itu semakin membara di dada. Untuk itu ia meningkatkan ketekunan belajar di Thawalib.[2]

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya bahwa untuk mengikuti ujian exteranai PGAAN. Mulai tahun 1957 harus memiliki ijazah PGAN. Untuk itu siswa KPGAA mengadakan rapat dan memutuskan, untuk mengirim surat kepada Menteri Agama RI minta dispensasi.[2]

Kebetulan ada momentum, Menteri Agama RI KH. Ilyas berkunjung ke Sumteng. Menteri acara resminya di Bukittinggi. Di sinilah kesempatan terbuka, teman-teman dan guru menyarankan supaya menemui menteri minta dispensasi. Kesempatan yang baik itu dimanfaatkan. Mewakili teman-teman yang berjumlah 250 orang itu ialah Fauzan dan Ratnawilis, terakhir dosen Fak. Ushuluddin menemui Menteri di Gedung Agung Bukittinggi. Di Gedung Agung, nyaris saya terlambung tergelenjek ketika mencecahkan kaki (karena bersepatu) di karpet yang empuk, karena di rumah menginjak tikar biasa saja mesti sepatu dibuka, kisah Fauzan.[2]

Di Gedung Agung itu Fauzan dan Ratnawilis dapat berdialog langsung. Dispensasi diminta, untuk bisa mengikuti ujian PGAA. Menteri dengan segala kemurahan hatinya memberikan keringan, boleh mengikuti ujian ujian exteranai PGAAN, dengan syarat, kalau telah lulus nanti, ijazah tidak dikeluarkan sebelum memiliki ijazah PGAP Negeri. Ternyata dengan dispensasi itu mereka mengikuti ujian PGAAN, dan dari 250 orang yang ujian lulus 13 orang, dan untuk selanjutnya mengikuti ujian PGA (P) Negeri.[2]

Cita-cita ke Mesir semakin menjadi. Untuk mewujudkan dilkukan kerja keras dan tekun belajar. Bayangkan, belajar di Kulliyatul Ulum pagi hari, sorenya mengikuti KPGAA (Kursus Pendidikan Guru Agama Atas) di Bukittinggi. Sehari penuh, hanya memenuhi tuntutan belajar. Siang pergi sekolah menaiki bus, pulang malam dengan kereta api. Mengapa dengan kereta api? Didalam kereta api agak tenteram dan bisa menghafal. Dan memang Fauzan di dalam kereta api terus mengulang pelajaran, dengan bantuan penerangan dengan membakar lilin yang sudah dipersiapkan di dalam tasnya.[2]

Membaca buku berbahasa Arab dan mendengar radio siaran langsung dari Timur Tengah dalam bahasa Arab resmi. Ini dilakukan dengan mengintip guru yang sedang mengajar di tingkat/kelas yang lebih tinggi dari kelasnya dari luar. Kemauan seperti inilah terus menerus yang membakar semangat belajarnya.

Tamat dari Ulum dan PGAA, Fauzan melanjutkan pelajaran Universitas Darul Hikmah. Di Universitas, Fauzan memilih Fakultas Lughatul Arabiyah wat Tarbiyah.[2]

Ke Mesir sudah lama menjadi cita-cita. Usaha mewujudkan masih saja dicari. Kebetulan tahun 1957 atase Kebudayaan dari Kedutaan Besar Republik Arab Mesir ketika itu di Sumteng, Fauzan sempat berdialog dengan atase Kebudayaan itu, meski dalam bahasa Arab yang kurang fasih. Rupanya atase yang bernama Prof. Dr. Taufiq El Thawil itu tertarik tatkala akan menemui Taufiq El-Thawil, pak Nasharuddin Thaha wakil presiden Universitas Darul Hikmah bertanya, mengapa ente kesini. mungkin pak Nashruddin (Nasar) menganggap saya tidak berbahasa Arab, kata Fauzan.[2]

Dan ini pulalah kesempatan untuk mengutarakan keinginannya pergi belajar ke Mesir. Kemudian terjadi komunikasi dengan atase itu. Yang menarik lagi bagi atase, karena Fauzan berbakat belajar filsafat, ketika itu sulit orang mau menggandrunginya. Sementara Fauzan sudah membaca buku-buku besar dalam filsafat. Sehingga pada gilirannya setelah atase di Jakarta, terjadi murasalah (koresponden). Guru-guru tercengang mengapa Fauzan mendapat kiriman majalah Arab, dan buku-buku istimewa dari Prof. Dr. Athtawil, sedangkan Fakultas Lughatul Arabiyah saja tidak. Ia diberi kesempatan untuk belajar ke Mesir. Diuji di Jakarta, ternyata ia dapat lolos. Fauzan belajarlah di Mesir, mulai tahun 1959.[2]

Di Mesir, Fauzan mengambil Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar]] jurusan Filsafat, tamat tahun 1965. Selama di Mesir mempunyai kesempatan menunaikan rukun Islam ke lima yakni “haji ilalbait”.[2]

H. Fauzan belajar di Mesir ini pada angkatan ini sekitar 25 orang dari Indonesia. Ini adalah satu-satunya dari Sumatera Barat.[2]

Tahun 1966 memasuki spesialisasi dalam Aqidah. Kemudian spesialisasi pada tadris di Ma’had Ali daatt wat taujih.[2]

Jenjang karir H. Fauzan dimulai menjadi guru SD No. 28 di Padang. Di sini Fauzan mengajar pelajaran Agama dari tahun 1958-1959. Bekerja sebagai pegawai di Kandepag Kodya Padang tahun 1959. Tahun ini juga pada organisasi keagamaan Sumbar duduk pula sebagai sekretaris PHBI Sumatera Barat.[2]

Di Mesir sempat pula mengajar tahun 1966 di SMP Arab. Mengajar pula di SMA Indonesia untuk anak-anak Diplomatik dimulai tahun 1965. Bekerja pada perusahaan Garuda sebagai Asisten Station Manager di Cairro, Mesir 1965-1968.[2]

Sebelum kembali ke Indonesia tahun 1968, sempat mengadakan perjalanan keliling Timur Tengah, ke Baghdad, Syiria, Libanon, Saudi Arabia, Pakistan, India, Thailand, Singapura, dll. Sampai di Indonesia kembali ke Staf Penerangan Agama. Tahun 1970 pindah ke IAIN Imam Bonjol. Lebih lanjut tahun 1969-1972 menjadi Dekan Fakultas Dirasat Islamiyah di Padang Panjang.[2]

Akhir tahun 1971 ditunjuk sebagai Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol, menggantikan Baharuddin Syarif yang meninggal dalam kecelakaan jatuhnya pesawat di Pulau Nyamuk 10 Nopember 1971. H. Baharuddin Syarif tamatan Al Azhar University 1963, Fauzan 1964. Tahun 1972 diangkat pula menjadi Ketua Jurusan Perbandingan Agama dan Filsafat, merangkap Dekan Fakultas Ushuluddin, Mei 1972 diangkat sebagai Wakil Rektor IAIN Imam Bonjol merangkap Dekan Fakultas Ushuluddin. Tahun 1974 terpilih sebagai anggota Presidium Rektor IAIN Imam Bonjol, dan pada gilirannya kemudian tahun itu juga sampai tahun 1976 terpilih menjadi ketua presidium Rektor IAIN Imam Bonjol Padang.[2]

Pengabdiannya dalam pembinaan masyarakat bangsa, banyak pula bergerak dalam berbagai lapangan dan wadah yang ada. Tahun 1972-1975 menjadi asisten III Bappemdam (Bappeda-kini) yang ketuanya ketika itu Drs. Mawardi Yunus. Tahun 1976-1978 menjadi Wakil Rektor IAIN Imam Bonjol merangkap Dekan Fakultas Ushuluddin. Tahun 1978 melepaskan jabatan Wakil Rektor I, dan kembali sebagai anggota DPRD Tk. I yang dipegangnya sejak tahun 1977 sampai 1987. Sementara tahun 1971 ikut membentuk Kokar IAIN Imam Bonjol bersama Drs. Kamaruttaman, Drs. Aguslir Nutr, Drs. Ruslan Lathief, dan ia terpilih sebagai wakil ketua. Kokar IAIN Imam Bonjol selanjutnya pada tahun 1972 ditunjuk menjadi anggota DPD Golkar Tk. I Sumatera Barat sampai sekarang. Tahun 1973 sampai 1980 memangku jabatan wakil ketua KORPRI Sumatera Baratdan Wakil Ketua KORPSI unit IAIN Imam Bonjol. Tahun 1975 unsur pimpinan (ketua) Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat sampai sekarang. Tahun 1978 Wakil Ketua Majelis Dakwah Islamiyah Sumatera Barat. Tahun 1976- 1980 Ketua GUPPI Sumatera Barat. Tahun 1976-1983 Ketua PAI (Pecinta Anggrek Indonesia) Padang. Tahun 1976 mewakili Sumatera Barat The Scond Asean Orched Congres. Tahun 1975-1982 unsur pimpinan LKAAM Sumbar, kini sebagai Anggota Dewan Pertimbangan LKAAM Sumatera Barat.[2]

Fauzan (juga sarjana jurusan Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol tahun 1982) disamping sebagai Wakil Rektor I IAIN Imam Bonjol juga sebagai dosen senior yang memiliki bidang pengetahuan dengan disiplin Ilmu Filsafat dan Perbandingan Agama.[2]

Kini Ketua MDI Sumbar, Wakil Ketua LKAAM Sumbar serta beberapa jabatan lainnya. Pernah mengikuti beberapa seminar berskala nasional dan internasional seperti Malaysia dan Singapura seperti Seminar 100 Tahun Parlemen Agama di Dunia, Muktamar dakwah Asia Pasifik.[2]

Terakhir peserta seminar alumni Sespa di Jakarta Desember 1995.[2]

Kehidupan pribadiEdit

Fauzan yang berpangkat IV/D (Pembina Utama Madya/Lettor Kepala) sejak Oktober 1993, menikah dengan Dra. Huda Hanum Dosen IAIN Imam Bonjol, Putri H. Hasnawi Karim mantan Kepala Kanwil Departemen Agama Sumbar.[2]

Dari perkawinannya dengan Huda Hanum 12 Juni 1968, kini sudah dikaruniai enam anak; Fawas Fauzan lahir 9 Agustus 1969 alumni Teknik Sipil Unand yang bekerja pada salah satu konsultan Prancis. Fauziah Fauzan lahir 5 Januari 1971 Kuliah di Unpad.[2]

Faizah Fauzan lahir 28 November 1972, kuliah di IPB. Fauzanah lahir 5 Desember 1973, kuliah di Antropologi Unand. Tiga putrinya ke Perguruan Tinggi umum tapi telah menamatkan pendidikan Diniyah Putri Padang Panjang.[2]

Dua lainnya, Fauzi lahir 5 Oktober 1976 dan Faiz lahir 16 Juni 1972 belajar di Pesantren Darunnjanah, Jakarta. [2]

KontroversiEdit

Badan Pelaksana Kegiatan Mahasiswa (BP KM) IAIN Imam Bonjol Padang mempertanyakan keabsahan sidang tertutup munaqasah/ujian skripsi doktorandus H. Fauzan pada jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol, 17 September 1982. Sidang dilakukan tertutup tanpa diketahui mahasiswa lainnya. Timbul kecurigaan berkaitan dengan jabatannya sebagai Pembantu Rektor I IAIN Imam Bonjol Padang. Fauzan juga mendapat dispensasi untuk tidak menghadiri kuliah. Ujian skripsi hanya didasarkan pada paper yang harus dibuatnya sebelum menempuh ujian.[3]

Sejak kedatangannya di Padang (1969) dari Kairo, Fauzan mengaku dirinya lulus dari Universitas Al-Azhar dengan gelar Master of Arts (MA). Zaman Menteri Agama Mukti Ali, gelar MA dari Universitas Al-Azhar itu diteliti. Ternyata MA itu berasal dari kepanjangan nama orang tuanya Misra Al-Muhammady. Namun, ia menjadi penasaran. MA yang katanya diraih sambil bekerja pada kantor perwakilan penerbangan Garuda di Kairo tidak diakui pemerintah. Maka ia menemui Rektor IAIN ketika itu Drs. M. Sanusi Latief dan mendaftarkan diri untuk kuliah pada Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab. Tapi karena kesibukannya, ia meninta keringanan untuk tidak mengikuti kuliah secara penuh. Rektor waktu itu (1979) mengizinkan wakil rakyat itu menempuh 60% mata kuliah, namun ia mesti menutupi kekurangannya dengan membuat paper sebelum menempuh ujian mata kuliah masing-masing.[3]

ReferensiEdit

  1. ^ Amar, Raichul (2016). IAIN Imam Bonjol 1966–2016: Tonggak Bersejarah Kebangkitan Perguruan Tinggi Islam di Sumatra Barat. Padang: Imam Bonjol Press. hlm. 168. ISBN 978-979-1389-95-2. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac "Kakanwil Sumbar dari Masa ke Masa". Kantor Wilayah Kementerian Agama RI Provinsi Sumatera Barat. Diakses tanggal 13 Januari 2020. 
  3. ^ a b https://majalah.tempo.co/read/48612/munaqasah-tertutup-khas-padang